
Aku merasa seluruh tubuhku terasa sangat sakit dan kedua tanganku tidak bisa digerakkan sama sekali, aku membuka mataku dan melihat wajah Ridhwan di depanku dengan tersenyum
"Sudah bangun?" gumam Ridhwan tersenyum
"Ka ... Kamu!!!" teriakku kaget, aku bajuku yang sedikit robek serta ada bercak darah di bajuku dan juga banyak luka cambukkan di tubuhku, aku juga melihat tanganku terikat dengan kuat yang membuatku tidak bisa melakukan apapun dan wanita yang bersamaku tadi juga di ikat kuat di sebelahku
"Tanpa aku cari kamu datang sendiri ya? Bagus sekali" gumam Ridhwan senang
"Iiihh siapa juga yang datang kepadamu" gumamku sinis
"Benarkah? Kamu datang kemari itu sama artinya menyerahkan dirimu, paham" gumam Ridhwan dingin sambil memegang kedua pipiku dengan tangan kanannya
"Heeeh aku datang kemari utuk menyelamatkan wanita itu saja dan aku tidak punya niatan mendatangimu" gumamku sinis
"Benarkah? Asal kamu tahu, kamu adalah wanitaku"
"Heeh wanitamu? Aku sampai kapanpun tidak sudi menjadi wanitamu" gumamku sinis namun tiba - tiba Ridhwan menamparku dengan keras
Plaaaakkkk
"Berani - beraninya kamu menolakku, emang benar wanita Shinju itu harus disiksa dulu agar menurut"
"Heeh menurut wanita marga Shinju seperti itu? Maaf tapi aku tidak" gumamku sinis dan Ridhwan menampark lagi
Plaaaaakkk
"Jangan buat aku kesal Fifiyan, aku bunuh kamu nanti!!"
"Bunuhlah aku kalau mau!! Aku lebih baik mati dari pada menjadi wanitamu" protesku menatap Ridhwan kesal
"Jangan menyakiti wnaita kamu Ridhwan!!" protes wanita itu kesal, namun Ridhwan menampar wanita itu dengan lebih keras
Plllaaaakkkk
"Heii wanita ******, ini bukan urusanmu jadi kamu diam saja" gumam Ridhwan kesal
"Peilakumu seperti sampah ya ternyata seperti keluarga Hann yang lainnya semua SAMPAH!" teriakku dan Ridhwan menjadi sangat kesal. Dia mengambil cambuk dan mencambuk tubuhkku dengan keras
"Hahaha inilah balasannya karena orang tuamu menjodohkanmu dengan keluarga Stun yang biadap itu!!" teriak Ridhwan bangga sambil terus mencambuk tubuhkku
"Hentikan Ridhwan!! Kamu membunuhnya nanti!" teriak wanita itu dengan panik
"Diam kamu!!" teriak Ridhwan menikmati pemandangan aku dicambuk oleh Ridhwan. Ya walaupun rasanya sesakit apapun rasa cambukannya tapi aku berusaha tetap kuat karena ini juga kesalahanku
Beberapa menit mencambuk tubuhku sampai bajuku robek dan kulitku memerah bahkan berdarahpun Ridhwan tidak tidak menghentikan cambukannya, namun tidak lama kemudian datang seorang laki - laki berbadan besar membisikkan sesuatu di telinga mereka
"Permisi tuan ..." bisik laki - laki itu di telinga Ridhwan
"Baiklah" gumam Ridhwan melempar cambuknya dan pergi meninggalkan kami keluar ruangan
"Nona Shinju, kamu tidak apa - apa?" gumam wanita itu khawatir
"Aku ti ... Tidak apa - apa kok, tenang saja" gumamku tersenyum sambil menahan sakit
"Nona Shinju maafkan aku, gara - gara aku ..." desah wanita itu menundukkan kepalanya
"Ini bukan kesalahan nona kok, emang aku sendiri yang ingin menyelamatkanmu" gumamku tersenyum
"Nona Shinju..." desah wanita itu sedih
"Jangan sedih aku tidak apa - apa kok serius"
"Hmmm maaf kan aku nona" desah wanita itu terus menerus sedih
"Tenanglah nona, aku tidak apa - apa sungguh ini masih tidak seberapa" gumamku menenangkan wanita disebelahku
"Bukan begitu nona, aku terharu kamu bisa mempunyai hati yang sangat baik"
"Kan kita sama - sama wanita, oh ya ngomong - ngomong kamu sudah makan?"
__ADS_1
"Belum nona, Kita tiga hari tidak dapat makanan dari Ridhwan nona" desah wanita itu sedih
"Tunggu sebentar... Kita sudah tiga hari disini, jadi aku tidur selama tiga hari?"
"Iya nona, aku sudah membangunkanmu berulang kali tapi kamu tidak bangung nona"
"Hmmm kok bisa ya? Kecapekan mungkin jadi aku pingsan selama itu" desahku menyandarkan tubuhku di dinding
"Aku tidak tahu nona, aku malah mengiranya nona meninggal tapi syukurlah nona sudah bangun"
"Apa yang dilakukan Ridhwan kepadaku?"
"Ridhwan hanya menyambuk nona dengan kejam walaupun nona pingsan tidak berdaya"
"Dia tidak melakukan yang aneh - aneh kan?"
"Dia pernah hampir menyetubuhi nona tapi selalu gagal"
"Kenapa?"
"Aku juga tidak tahu nona, cuma Ridhwan selalu gagal dan membuatnya kesal karena itu"
"Ohh begitu ya ... hmmm Syukurlah" desahku, aku tidak tahu kenapa tubuhku terasa lemas
"Nona tidak apa - apa?"
"Tidak apa - apa kok" desahku menahan sakit
"Ohh sudah tengah malam ya? Apa yang dilakukan Hasasi ya?" desahku menatap jam yang menunjuk ke arah 12 malam
"Pasti Hasasi sedang mencarimu"
"Oh begitukah, aku hanya bisa berdoa dan berharap demikian" gumamku memejamkan mataku
"Nona tidak pingsan lagi kan?"
"Tidak kok nona, aku baik - baik saja" gumamku berbohong
"Aku juga wanita, jadi aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya wanita - wanita yang diculik, di jual, di suruh menjadi penari tiang, dan di lelang seperti itu..." desahku
"Dan juga aku ingin tahu siapa yang ada di balik ini semua" desahku menatap wanita itu
"Aku juga tidak menduga kalau Ridhwan yang ada di balik ini semua, padahal dia sangat baik banget"
"Oh ya? Tapi aku tidak berfikir demikian" desahku
"Ya dulu dia sangat baik makanya kami dulu berteman baik, tapi semenjak aku bilang kepada Ridhwan aku mencintai Hansol. Dia sangat marah dan sangat kesal. Mungkin Ridhwan mencambuk nona seperti itu karena kesal kepadaku, jadi aku sangat bersalah kepada nona"
"Aku tidak berfikir seperti itu... Dia mungkin kesal karena seharusnya kami keluarga Shinju diharuskan menikah dengan keluarga Hann, tapi ayahku tidak menetujuinya dan menjodohkanku dengan Hasasi dengan alasan pernikahan bisnis" gumamku sambil terus memejamkan mataku
"Oh begitu ya, hmmm mungkin dendam lama Ridhwan " gumam wanita itu menatapku
"Ya mungkin saja, ya aku harap Hasasi datang menyelamatkanku" desahku
"Kalau Hasasi tidak datang menyelamatkanmu bagaimana nona?"
"Ya biarkan aku mati disini saja dari pada harus menjadi wanita keluarga Hann, aku juga tidak mau mengecewakan orang tuaku" desahku pasrah
Duuuuaaaarrrr ... Duuuaaarrrr ... Dduuuaaaarrr
Tiba - tiba terdengar suara tembakan yang sangat keras terdengar diluar ruangan yang membuat kami berdua terkejut
"Suara apa itu nona?" gumam wanita itu panik
"Mmm aku juga tidak tahu" desahku menahan ketakutanku
"Dimana kamu menyembunyikan istriku!!!!" teriak Hasasi dengan penuh emosi dari luar
"Hahaha aku tidak akan memberitahukanmu" ucap Ridhwan dengan tertawa
__ADS_1
"Kalian semua cari Fifiyan!!" teriak Hasasi emosi
"Baik tuan" ucap bawahan Hasasi yang dengar melangkahkan kaki mereka dengan cepat
"Nona, Tuan Hasasi datang menyelamatkanmu" gumam wanita itu senang
"Benarkah? Baguslah itu" gumamku lemah
Duuuaaakkk
Tiba - tiba pintu ruangan terbuka dan aku melihat tubuh dan wajah Hasasi yang berlumuran darah sambil memegang rambut Ridhwan dengan yangan kirinya
"Fifiyan..." teriak Hasasi melepaskan rambut Ridhwan dan berlari ke arahku
"Hansol, pegang tawanan itu" gumam Hasasi melepaskan ikatanku dan memelukku dengan lembut
"Hai Hasasi, sudah lama tidak bertemu kamu. Akhirnya aku bertemu denganmu untuk terakhir kalinya.. Hasasi" gumamku tersenyum
"Kamu tidak apa - apa sayang??" gumam Hasasi khawatir
"Aku tidak apa - apa kok" gumamku pelan
"Kamu kenapa terluka seperti ini? Siapa yang membuatmu terluka?" tanya Haasi khawatir
"Aku tidak apa - apa kok Hasasi kamu tenang saja"
"Hahaha itulah akibatnya kalau menikah dengan Hasasi" tawa Ridhwan keras
"Oh kamu ya yang membuat istriku seperti ini" gumam Hasasi emosi
"Ya aku yang membuatnya seperti itu, seharusnya aku menyiksanya lebih parah biar dia tau penderitaanku" ucap Ridhwan tertawa senang, tiba - tiba Hasasi mengambil pistol disampingnya dan mengarahkannya kearah Ridhwan
Duuuaaaarrr
Suara tembakan yang terdengar sangat keras, tanpa merasa bersalah Hasasi menembak kepala Ridhwan dengan pistolnya sendiri dan Ridhwan terjatuh ke lantai
"Mulai sekarang bunuh semua keluarga Hann ... tanpa terkecuali" ucap Hasasi kesal sambil memelukku erat
"Baik tuan" gumam Leo dan bawahannya meninggalkan ruangan
"Baiklah, perintahmu kali ini aku sangat suka" gumam Hansol keluar dari ruangan
"Kecuali kamu Hansol, kamu tetap disini biar Leo dan yang lainnya yang membunuh mereka semua"
"Halah padahal aku sudah sangat bersemangat" gerutu Hansol
"Urus wanitamu itu" gumam Hasasi menggendongku dan meninggalkan ruangan
"Apa aku harus mengurus dia?" gumam Hansol kesal
"Udah lakuin aja" gumam Hasasi terus menggendongku
"Tunggu Hasasi" ucap wanita itu yang membuat langkah Hasasi terhenti
"Ada apa?" ucap Hasasi dingin
"Aku belum sempat berkenalan dengan dia, aku Angel Shin. Salam kenal Nona Fifiyan Shinju. Kami keluarga Shin berutang budi kepada mu" gumam wanita itu ramah
"Tidak masalah, aku juga tidak melakukan apapun kok" gumamku pelan dan Hasasi melanjutkan langkah kakinya
Aku menatap wajah Hasasi yang terlihat sangat emosi namun dia memendamnya saat bersamaku seakan rasa kesalnya tidak ada lagi tapi dari sudut matanya terlihat Hasasi sangat dendam
"Hasasi, wajahmu sangat jelek kalau seperti itu" gumamku pelan menatap Hasasi
"Benarkah? Aku tidak peduli dengan wajahku Fifiyan yang aku pedulikan sekarang hanya kamu. Aku ... Aku merasa gagal melindungimu berulang kali" gumam Hasasi dengan wajah sedih
"Kamu kan sekarang sedang melindungiku Hasasi, dan aku juga bersyukur bisa menatapmu untuk yang terakhir... kalinya" desahku menutup mataku
"Fifiyan ... Fifiyan... Bangun Fifiyan" teriak Hasasi menggerak - gerakkan tubuhku
__ADS_1
Tidak tahu kenapa tubuhku terasa lemah dan untuk membuka mataku saja begitu terasa sulit. Kalau memang aku sudah mati, aku harap aku bisa bertemu denganmu dan menikah denganmu ... Hasasi