
Hasasi terus terdiam dan menyembunyikan wajahnya di gaunku, Hasasi menggenggam erat tanganku dengan tangan bergemetar seperti orang ketakutan. Aku mengelus lembut rambut Hasasi sambil terus mencoba menenangkan Hasasi di bawahku.
"Apa yang kamu pikirkan Hasasi?" gumamku pelan tapi Hasasi hanya terdiam.
"Apa kamu takut aku marah Hasasi?" gumamku pelan dan Hasasi mengangguk pelan.
"Hmmm.. Aku tidak akan marah Hasasi..." desahku pelan. Hasasi mengangkat wajahnya sambil menatapku, kedua mata yang berkaca - kaca membuatku tidak tega melihatnya.
"Aku mengatakan yang sesungguhnya sayang, aku tidak akan marah..." desahku mengusap lembut rambut Hasasi pelan.
"Kenapa kamu tidak marah?" desah Hasasi pelan.
"Kamu milikku Hasasi dan kamu suamiku jadi apa yang membuatku marah?"
"Tapi kan..."
"Aku tahu Hasasi, aku tidak menyalahkanmu atau perasaanmu kok. Kamu bisa bertahan denganku selama 20 tahun itu sudah membuktikan kalau kamu sudah berusaha melupakannya sayang."
"Tapi sayang..."
"Tapi apa sayang?"
"Tapi aku masih merasa belum bisa menjadi suamimu yang baik!"
"Aku tidak merasa begitu, kamu bisa selalu ada untukku dan selalu ada untuk anak - anak saja sudah membuatku senang sayang..." desahku tersenyum
"Hmmm aku takut kamu marah sayang, aku takut kehilanganmu..."
"Apa benar kamu takut kehilanganku Hasasi?" gumamku mengerutkan dahiku dan Hasasi hanya mengangguk pelan.
"Buktikan kalau kamu takut kehilanganku Hasasi..." bisikku ditelinga Hasasi.
"Apa kamu serius sayang?"
"Ya aku serius sayang, buktikan kalau kamu takut kehilanganku. Kalau kamu bisa menyelesaikan ini semua dan mempertahankan organisasimu maka aku akan memberikanmu Hadiah.."
"Hadiah apa? Apa hadiah itu spesial?"
"Yups, spesial..."
"A... Aku mau.." teriak Hasasi terduduk di sampingku
"Kalau begitu kamu harus serius menyelesaikan ini..."
"Ya aku akan melakukannya demi kamu Fifiyan.." gumam Hasasi serius.
"Tapi apa hadiah itu boleh aku yang meminta isinya sayang?" bisik Hasasi di telingaku.
"Boleh, kamu mau apa?"
"Ada deh... Kamu harus memberikanku Fifiyan, aku gak mau tahu!!"
"Iya iya Hasasi, yang penting kamu selesaikan ini aku akan memberikanmu hadiah sesuai permintaanmu. Tapi apa permintaanmu itu?"
"Kamu akan tahu sendiri sayang... Oh ya, jangan lupa kamu harus membawa ini dimanapun dan kapanpun..." gumam Hasasi memberikanku sebuah senjata
"Kenapa kamu berikan aku ini?"
"Ya kamu harus melindungi dirimu sendiri dan juga melindungiku juga Fifiyan, jadi disaat aku tidak bisa melindungimu atau aku terluka kamu bisa menjaga dirimu sendiri."
"Oh baiklah Hasasi..." desahku menyimpan senjata itu di gaunku.
"Hati - hati dengan pelurunya, ini senjata yang memiliki racun di dalamnya dan selalu ingat tetap waspada jangan mudah percaya orang lain."
"Baik Hasasi aku akan ingat perkataanmu itu."
__ADS_1
"Hmmm... Istriku kamu tidak ingin makan?"
"Apa kamu lapar Hasasi?"
"Sedikit sih sayang"
"Ya udah aku buatkan makan siang ya.." desahku beranjak dari tempat tidur.
"Aku bantu Fifiyan.."
"Tidak perlu sayang, kamu istirahatlah. Kalau sudah selesai aku bangunin."
"Sayang kenapa melarangku? Apa sayang sedang marah kepadaku?" gumam Hasasi menundukkan kepalanya.
"Haish aku tidak marah suamiku sayang, kamu kan tadi belum istirahat aku takut kamu capek"
"Tapi - tapi aku mau membantumu memasak!!"
"Hmmm baik - baik, tolong ya suamiku yang tampan..." gumamku mencubit pipi Hasasi, setelah menikah dia sangat manja bahkan sering bertingkah laku kekanak - kanakan seperti sekarang ini.
"Apa yang akan kamu masak istriku?"
"Kamu mau makan apa?"
"Mmmm aku ingin makan ramen dan steak daging sayang."
"Baiklah, aku buatkan..." desahku membuka lemari dapur yang ada di dalam kamar ini.
"Aku bantu buatkan Steaknya ya sayang." gumam Hasasi mengambil potongan daging dari kulkas.
"Oh baiklah Hasasi."
Aku dan Hasasi masak bersama - sama di dapur ini, mungkin karena banyak musuh di luar maka Hasasi memilih masak sendiri di dalam kamar. Memang kamar ini sangat terlihat kalau sudah dimodifikasi sedemikian rupa yang membuatnya seperti markas kecil yang nyaman, diatas langit - langit aku melihat ada kamera pengawas model terbaru yang bisa merekam objek dengan jelas dan juga dipintu dan jendela terpasang kunci khusus yang harus menggunakan sidik jari untuk membukanya.
"Aroma makanan yang sangat enak.." gumam Wulan terduduk di meja makan.
"Jangan bilang kalian ingin ngikut makan bersama kami.." gerutu Hasasi kesal.
"Loh benar sekali, kamu tahu kan Hasasi aku tidak pandai masak!!" gumam Dennis tertawa keras.
"Kan kamu punya istri, suruh istrimu masak lah.."
"Aku dan istriku tidak pandai memasak Hasasi dan kau tahu itu kan.."
"Makanya belajar .." gerutu Hasasi kesal.
"Sudahlah, tidak apa Hasasi, aku masak ramen banyak kok." gumamku menenangkan Hasasi yang terlihat sangat kesal.
"Hmmmm baiklah, kalau ini permintaan istriku aku tidak masalah." gumam Hasasi mengalah.
"Sekali - kali lebih baiklah kepada orang seperti istrimu jangan jadi orang yang menyebalkan..." sindir Dennis dingin.
"Dasar kamu Dennis!!" gerutu Hasasi kesal.
"Sudah - sudah jangan bertengkar mulu, ini makanannya sudah siap." gumamku meletakkan sepanci ramen di atas meja.
"Waaah makan.." teriak Dennis memakan ramen buatanku.
"Makasih nona, maaf kalau kami mengganggu.." gumam Wulan sedikit membungkukkan badannya.
"Eeeh tidak apa... Makan saja.." gumamku tersenyum.
"Mmm baiklah..." desah Wulan mengambil ramen dan memakannya dengan lahap.
"Hasasi mari makan..."
__ADS_1
"Iya sayang..." desah Hasasi meletakkan empat steak sapi di atas meja.
"Waaah steak... Memang cocok untuk makan siang ini." gumam Dennis terus mengunyah makanannya
"Hilih kau selalu mencari gratisan Dennis.."
"Tidak apa, aku suka yang gratisan.. Hahaha!!!" tawa Dennis kencang.
"Hmm untung kau wakil ketuaku..." desah Hasasi memakan makanannya.
"Oh ya Hasasi, bagaimana dengan rencananya, apa akan tetap melakukan rencana itu?" tanya Dennis serius.
"Ya... Lagi pula kita harus menghemat tenaga dan persediaan kita.." desah Hasasi pelan.
"Hmmm benar katamu Hasasi, kedepannya musuh ada banyak jadi jangan menghabiskan persediaan kita."
"Emang acaranya kapan?" tanyaku penasaran
"Besok malam, tapi sore harinya kita ada pesta makan malam dan pengumuman, jadi besok kamu jangan pakai gaun ya..." gumam Hasasi menatapku serius.
"Ya nanti pilihkanlah pakaian yang cocok untukku Hasasi!" gumamku pelan dan Hasasi menganggukan kepalanya.
"Oh ya Hasasi kamu harus hati - hati dengan Lucas, Vion, dan Kenz."
"Lucas? Vion? Kenz? Emang kenapa?"
"Ya mereka kan mafia terkuat di negara sebelah... Jadi kita harus hati - hati."
"Ya aku tahu, aku akan hati - hati lagi kedepannya.." desah Hasasi pelan.
"Apalagi mereka baru saja menghabisi nyawa satu keluarga besar di Korea..." gumam Hasasi pelan.
"Benar, ketua mafia mereka yang sangat menakutkan Hasasi, bahkan mungkin sama - sama menakutkannya denganmu..." desah Dennis pelan.
"Tapi kan nona Fifiyan ini ada disini, bagaimana bisa tuan Hasasi akan melakukannya dengan kejam." gumam Wulan serius.
"Tenang saja, aku sudah pernah lihat Hasasi melakukannya di depan mataku jadi aku tidak terlalu kaget apalagi Hasasi adalah suamiku jadi apapun resikonya aku akan menanggungnya..." gumamku santai.
"Hmmm aku sangat iri dengan nona bisa menerima dengan lapang dada bahkan menikah dengan ketua mafia terkejam bahkan bisa dikatakan mafia tuan Hasasi ini membunuh keluarga besar nona."
"Itu sudah masa lalu, sekarang dia suamiku dan orang tua kita menjodohkan kami dan kami sudah saling mencintai sejak 20 tahun yang lalu jadi ya aku akan menerima Hasasi apa adanya apalagi Hasasi suamiku sekarang." gumamku tersenyum.
"Mereka sudah saling mengenal bahkan lebih lama yang kamu kira Wulan..." desah Dennis pelan.
"Mereka sudah melalui pahit manisnya kehidupan mereka yang sangat aneh dan rumit bahkan mereka sudah tinggal bersama selama 20 tahun yang lalu..." jelas Denis santai.
"Ohh mmmm pantas saja..." desah Wulan melahap makanannya.
"Ya begitulah, mempertahankan wanitaku satu ini tidak semudah yang orang bilang, sudah berapa kali dia menghilang tanpa kabar bahkan sudah berapa kali aku menyakitinya tapi dia tetap mencintaiku..." desah Hasasi menggenggam tanganku erat.
"Tuan Hasasi menyakiti nona Fifiyan? Padahal kan Tuan Hasasi sangat anti terhadap wanita!" tanya Wulan terkejut.
"Heei Hasasi itu buaya loh, padahal dia sudah punya Fifiyan tapi tetap saja dengan wanita lain..." gumam Dennis melahap makanannya.
"Ya memang tapi di hatiku hanya ada istriku saja."
"Benarkah lalu wanita - wanita yang kamu bilang wanita rendahan itu?"
"Sudah ku buang jauh - jauh mereka sekarang. Aku sudah berjanji kepada Fifiyan sebelum kami menikah dan aku akan menepati janjiku untuk terus mencintai Fifiyan dan melupakan masa lalu." gumam Hasasi serius.
"Pffttt... Ya aku doakan saja kamu berhasil melakukannya Hasasi, jangan sampai kamu bertemu dengan mereka kamu kembali menciut. Ingat perkataan Hansol dan laki - laki lain yang ingin merebut istrimu dari genggamanmu." gumam Dennis dingin.
"Ya aku tahu itu, itulah kenapa aku ingin menikahinya. Aku tidak mau kehilangan wanita yang berharga di hidupku..." desah Hasasi mencium pipiku lembut yang membuat Dennis dan Wulan tertawa terbahak - bahak.
Aku melihat mereka bertiga berbincang secara akrab layaknya keluarga, bahkan mereka nampak biasa saja tidak takut apa yang akan mereka hadapi esok hari dimana kami harus berhatan hidup di tempat yang tidak aku ketahui.
__ADS_1