
Kriiiinngggg
Terdengar suara handphone Hasasi yang berdering keras dan dia langsung meletakkan alat makannya lalu mengangkat telpon itu
"Hallo..."
"Mmm... Iya, nanti habis makan"
"Oke" gumam Hasasi menutup teleponnya
"Siapa?" tanya Tuan Stun menatap Hasasi
"Biasa, ada rapat malam ini"
"Rapat?"
"Iya ayah, biasalah bisnis" gumam Hasasi santai
"Hmmm kamu selalu sibuk kalau sedang bersama keluarga Hasasi"
"Ya mau bagaimana lagi ayah"
"Nanti kalau berkeluarga jangan seperti ini ke istrimu tahu"
"Ya kan Fifiyan selalu aku bawa kemanapun yah"
"Hmmm iya untungnya dia bisa menjadi sekretaris pribadimu beda dengan ibumu ini"
"Aku jadi sekretaris pribadi, heh gak mau" gerutu Nyonya Stun
"Iya, iya sayangku" gumam Tuan Stun manja
"Kamu mau berangkat kapan?"
"Sebentar lagi"
"Oh baiklah" desah Tuan Stun
"Oh ya kak, kak Kwan Liang temanmu itu masih cinta Kak Fifiiyan ya?" tanya Lisa polos
"Iya, kenapa?"
"Pantas ..." gumam Lisa memberikan handphone miliknya dan Hasasi membaca sebuah postingan di media sosial milik Kwan Liang
"Haah kayak anak kecil" desah Hasasi kesal dan aku membaca postingan itu. "FIfiyan, aku ingin menikah denganmu kembalilah kepadaku" gumamku dalam hati
"Udah gitu aja kesal" gumamku menatap Hasasi
"Ya gmana gak kesal, wanita masih banyak tahu kenapa pas ngejar kamu sih!!!"
"Kak Sari Lie aja kakak bunuh gimana dia gak mengejar Kak Fifiyan"
"Ya salah siapa dia melukai istriku" gerutu Hasasi kesal
"Hmmm dulu aja kamu kebalikannya Hasasi, ya untunglah kamu bisa berubah" desah Tuan Stun senang
"Ya walaupun aku menolak dan melakukan apapun agak bisa jauh dari Fifiyan malah hal itu membuatku semakin dekat dengan dia" desah Hasasi sedih
"Jadi kamu ingin menjauh dariku? Ya udah jauhlah" gerutuku kesal
"Bu... Bukannya begitu, itu kan dulu sayang" gumam Hasasi
"Ya emang kakak dulu melakukan segala macam cara, tapi selalu saja dipertemukan dengan kak Fifiyan terus"
"Ya namanya jodoh mau berlari seberapapun jauh tetap saja akan sia - sia" gumam Tuan Stun mengunyah makanannya
"Ya benar, ibu dulu juga gak mau menikah dengan ayahmu. Seberapa jauh ibu ingin meninggalkannya ayahmu malah membuat ibumu ini terjatuh di pelukan ayahmu" desah Nyonya Stun menatap Hasasi
"Hahaha ayahmu sama, dulu ayahmu tidak mau menikah dengan ibumu tapi malah ayah jatuh cinta beneran dengan ibumu" tawa Tuan Stun
"Ya begitulah namanya hidup nak, jadi nikmatilah kamu akan terjerumus kedalam sesuatu yang kamu benci" gumam Nyonya Stun tersenyum kearahku
"Hmmm baiklah aku dan Fifiyan pergi dulu" gumam Hasasi berdiri dan segera menggandeng tanganku
"Baiklah, hati - hati dijalan" gumam Tuan Stun dan Nyonya Stun melambaikan kearah kami
Aku dan Hasasi berjalan keluar restoran dan menaiki mobil Hasasi, Hasasi terlihat begitu kesal saat di dalam mobil yang membuatku bingung
"Kenapa wajahmu kesal?"
__ADS_1
"Ya biasalah orang tuaku selalu bahas masa lalu membuatku kesal aja"
"Ya gak apa - apa, itu kan cerita mereka "
"Tapi kan itu memojokanmu tahu, kalau kamu gak terima kamu bakal ninggalin aku. Jadi aku gak mau" gerutu Hasasi kesal
"Hasasi, udah berapa orang coba yang menceritakan masa lalu kamu sangat membenciku tapi kan buktinya sampai sekarang aku masih bersamamu"
"Hmmm iya sih, tapi seneng aja tahu punya kamu"
"Oh ya? Buktinya?"
"Ya buktinya aku bisa membunuh orang lagi setelah sekian tahun, hahaha"
"Kamu ya suka banget mmebunuh orang gitu mengejek Tuan Hansol yang suka membunuh orang"
"Ya kami berdua sama cuma bedanya kalau hobi membunuh orang itu memang hobi Hansol"
"Ya sih dari perilaku Tuan Hansol sangat menakutkan"
"Emang hanya Hansol saja? Aku tidak?"
"Mmm tidak kalau dengan aku tapi kalau dengan orang lain lebih mengerikan kamu"
"Begitukah? Padahal menurutku biasa aja tahu"
"Ya kan menurutmu sendiri"
"Iya deh sayangku" gumam Hasasi mengelus rambutku
"Eehhh ... Mmm.. Emang kita akan rapat dengan siapa?"
"Dengan seorang petinggi, cuma memperpanjang kontrak saja"
"Cuma itu aja?"
"Iya, aku juga ingin membahas beberapa permasalahan dengan dia"
"Oh baiklah" gumamku menatap keluar jendela
Kendaraan - kendaraan yang berlalu lalang di kiri kanan kami, Lampu kota berkelip menghiasi kota ini, mobil terus melaju sampai mobil Hasasi berhenti di depan sebuah gedung besar dan tinggi menjulang membelah langit
"Ya cuma gedungnya aja" gumam Hasasi membuka pintu mobil dan menggandengku berjalan menuju ke lobi gedung tersebut
Di depan kami berdiri seorang laki - laki tampan berjas hitam dan ditamni seorang laki - laki tampan di sebelahnya. Mereka tersenyum manis kearahku
"Kenapa senyumin istri orang!!" protes Hasasi menatap mereka berdua
"Cuma tersenyum aja apa salahnya sih" gerutu laki - laki itu kesal
"Gak boleh" gumam Hasasi dingin
"Iya deh iya"
"Oh ya nona, perkenalkan aku Candra teman kuliah Hasasi dan dia bawahanku"
"Salam kenal juga tuan, saya Fifiyan" gumamku sedikit membungkukkan badanku
"Aduh manis banget sih kamu, jadi pengen peluk" gumam Candra manja
"Peluk - peluk, tuh bawahanmu aja peluk sana"gerutu Hasasi kesal
"Halah kamu selalu pelit Hasasi, ya udah mari silahkan masuk" gumam Candra berjalan mendahului kami
Aku dan Hasasi mengikuti langkah kaki Candra sampai ke sebuah ruangan besar yang ada di depan kami, Bawahan Candra membuka pintu itu dan kami memasuki ruangan besar itu
"Nah silah duduk" ucap Candra ramah
"Baiklah mana kontrak perjanjianmu biar istriku menandatanganinya"
"Hei harusnya kan kamu kenapa istrimu?"
"Ya dia sekretaris pribadiku"
"Oh begitu ya, tolong kontrak perjanjiannya" gumam Candra menatap bawahannya dan bawahannya memberikan sebuah map kepada Hasasi dan bertumpuk proposal kepadaku
"Silahkan nona" ucap bawahan Candra dengan sopan
"Terimakasih" gumamku dan mulai membuka semua proposal itu
__ADS_1
"Jadi apa yang akan kamu bahas denganku Hasasi?"
"Aku butuh bantuanmu"
"Permasalahan yang dulu?"
"Iya benar"
"Apa yang aku bisa bantu?"
"Bantu saat hari H"
"Serius? Udah lama aku tidak melakukannya"
"Ya kamu kan hebat dulu"
"Ya kan dulu, beda dengan skarang"
"Ayolah Candra, kau kan kawan baikku"
"Hmmm baiklah tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya?"
"Nikahkan aku dengan adikmu"
"What's?
"Kenapa syaratnya seperti itu?" protes Hasasi
"Ya emang gak boleh aku mencintai adikmu"
"Adikku akan aku nikahkan dengan orang lain tahu, ada syarat lain tidak?" gumam Hasasi
"Ya ada, atau wanitamu ini buatku saja, itu lebih baik" gumam Candra tertawa
"Gak, mau aku penggal kamu!!" protes Hasasi kesal
"Hahaha baik - baik... Ya udah turuti syaratku, enak kan syaratku, dan tidak ribet juga. Apalagi musuhmu kali ini melebihi keluarga Shinju dulu"
"Shinju?" desahku dingin
"Eehhh maksudnya keluarga Shin itu" gumam Candra kaget
"Oh" desahku kembali mengerjakan proposal itu
"Kamu nih membahas itu!!!" protes Hasasi pelan
"Ya aku lupa dia anak Tuan Shinju hehehe"
"Kamu membahas itu sama saja kamu ingin membunuhku" gumam Hasasi kesal
"Ya ya maaf, jadi bagaimana?"
"Hmmm aku akan pikirkan lagi" desah Hasasi mengalah
"Baiklah, kabari aku kembali keputusanmu"
"Iya santai saja" desah Hasasi
"Sudah aku liat semua" gumamku menyerahkan kepada Hasasi
"Baguslah, ini tanda tangani sekalian" gumam Hasasi menyerahkan map itu dan aku langsung menandatanganinya
"Ini udah selesai" desahku menyerahkan kembali map itu
"Baiklah Candra, ini udah diteliti dan udah ditandatangani sekretarisku" gumam Hasasi menyerahkan kembali proposal itu kepada Candra
"Baiklah terimakasih Hasasi"
"Ya udah, aku mau pulang. Game ku menanti" desah Hasasi berdiri dari tempat duduknya
"Kamu ini selalu saja game"
"Ya emang udah hobiku dari dulu" gumam Hasasi menggandeng tanganku keluar dari ruangan itu
"Okey hati - hati di jalan" gumam Candra melambaikan tangan ke arah kami
Aku dan Hasasi keluar dari gedung itu dan masuk ke dalam mobil, tidak lama kemudian mobil itu berangkat kembali meninggalkan gedung itu menuju ke rumah orang tua Hasasi
__ADS_1