
Aku menemani Hasasi di kamar sambil menunggu dokter datang, aku terus mengompres kaki Hasasi dengan air hangat yang aku ambil dari kamar mandi. Aku melihat Hasasi yang dari tadi merintih terus menerus
“Sakit kah? Dari tadi merintih terus” gumamku
“Bukan sakit cuma kepanasan tahu”
“Oh maaf, bentar aku tambah air dingin dulu” gumamku dan pergi mengambil air dingin di kamar mandi dan kembali lagi
“Segini masih kepanasan?” Tanyaku dan Tangan Hasasi dicelupkan ke dalam baskom
“Tidak... “ gumam Hasasi mengelap tangannya dengan tisu dan aku langsung mengompresnya kembali. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di luar kamar
Toookkk... ttoookkkk
“Siapa?” Teriak Hasasi
“Saya Nining tuan”
“Ada apa?” Tanya Hasasi
“Dokter sudah datang tuan”
“Masuklah” gumam Hasasi dan pembantu itu masuk bersama dengan dokter laki - laki yang tampan
“Sore tuan dan nyonya” gumam Dokter ramah sambil membungkukkan badannya
“Sore juga”
“Ada keluhan apa tuan?”
"Ini tadi biasalah mengejar seseorang dan terjatuh di tangga" gumam Hasasi dan dokter sersebut langsung memeriksa kaki Hasasi
"Ini tidak apa - apa tuan, tulang anda masih aman, cuma agak sedikit kegeser" ucap dokter itu sambil memegang kaki Hasasi
"Hmmm syukurlah kalau begitu"
"Saya coba perbaiki dulu tuan" gumam dokter itu dan langsung menggerak - gerakan kaki Hasasi dengan cepat
"Aaauuu" rintih Hasasi menahan sakit
"Sudah tuan, coba tuan gerak - gerakkan apakah masih sakit?"
"Hmmm sudah enggak" gumam Hasasi menggerak - gerakan kakinya dan melompat - lompat di sebelah tempat tidur
"Hati - hati nanti jatuh lagi" protesku menghentikan Hasasi
"Iya - iya"
"Oh ya terimakasih dokter" gumamku membungkukkan badanku
"Baiklah, saya permisi dulu tuan dan nyonya" gumam dokter itu keluar dari kamar disusul oleh pembantunya
"Berapa dok... ter?" gumamku mengambil dompetku
"Udah tenang aja, udah aku bayar"
"Kapan kamu bayarnya?"
"Ya aku bayar dia bulanan jafi dokter pribadi keluargaku, tapi kamu kok tahu kalau dia dokter keluargaku?"
"Tuuhh" gumamku menunjukkan nomor dokter Bram di selembar kertas
"Oh panteslah kamu udah mengabari dia"
"Udah baikan?" gumamku membereskan baskom
"Udah.."
"Jadi mau ke pesta sekarang?"
__ADS_1
"Iya... sekarang aja"
"Ntar dulu lah" gumamku duduk di sofa
"Apa lagi?"
"Kamu belum cerita"
"Oh ... baiklah sambil jalan aja ya" ucap Hasasi menggandeng tanganku keluar kamar
"Hmmm baiklah" gumamku mengikuti Hasasi keluar kamar menuju mobil pribadinya
"Jadi?" gumamku menatap Hasasi yang sedang duduk di depanku
"Aku, Kwan Liang dan Mark itu dulu teman baik waktu sekolah, kami dulu sekelas bahkan kemanapun kami bersama. Aku dulu tidak tahu bagaimana keluarga Mark dan hanya tahu keluarga dari Kwan Liang saja "
"... Suatu ketika... saat aku mengajak Kwan Liang dan Mark menginap rumahku yang kebetulan ayah dan ibuku ada, tiba - tiba saat kami mabuk wine, Mark mengambil pisau di dapur menuju ke kamar orang tuaku... untung saat itu aku tidak terlalu mabuk dan aku memergoki Mark pada saat aku mau ke kamar mandi"
"Kenapa dia datang ke kamar orang tuamu?"
"Dia ingin membunuh orang tuaku"
"Membunuh orang tuamu?... kenapa dia melakukan itu?" gumamku
"Ya dia ingin merebut posisi perusahaan keluargaku... jadi seperti yang aku katakan sebelumnya, kalau dia berhasil membunuh ayahku untuk merebut posisi itu dia sama saja merusak keseimbangan saham seluruh perusahaan"
"Lalu saling bunuh membunuh itu bukannya hal biasa ya dalam persaingan" gumamku menatap keluar mobil
"Ya memang, tapi kalau hal tersebut terjadi nanti menjadi gejolak ekonomi seperti pada saat kematian orang tuamu dulu"
"Kenapa bisa begitu?"
"Yaa misalkan kalau peringkat pertama bangkrut hal tersebut menyebabkan pemasukan di rangking bawahnya juga turun... jadi kalau bisa bertahan ya bisa bertahan kalau gak bisa ya bangkrut"
"Oh begitu ya... jadi Mark langsung kamu tahan gitu?"
"Iyalah... dia minta maaf berkali - kali tapi aku tolak"
"Ya karena nanti dia tidak ada rasa penyesalannya"
"Apa kamu marah saat ada orang lain ingin membunuh keluargamu?" gumamku
"Ya pastilah marah"
"Oh begitu ya... bagaimana rasanya marah kepada orang itu?" gumamku
"Ya kalau ada yang mau membunuh orang tuaku rasanya pengen mencabik - cabik tubuhnya" ucap Hasasi kesal
"Oh baguslah"
"Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Hasasi
"Tidak ada..." desahku dan Hasasi menatapku serius
"Tapi... Ya seperti itulah rasanya saat orang yang disayangi meninggal ditangan pembunuh tanpa salah apapun kepada sang pembunuh tapi tetap saja dibunuh" gumamku
"Apa kamu selama ini merasa seperti itu Fifiyan?"
"Yeah ... begitulah rasanya, rasa dendam ingin mencabik - cabik tubuh si pembunuh biar dia tahu rasanya sakit seperti apa... tapi"
"Tapi apa?"
"Tapi sayangnya malah sekarang keluarga si pembunuh itu menjadi calon keluargaku daaan... anaknya akan menjadi calon suami" desahku
"Kamu masih kesal?"
"Tidak... itu masa lalu buat apa aku kesal" gumamku
"Kalau tidak kesal lalu apa?"
__ADS_1
"Tidak ada"
"Hmmm maafkan keluargaku ya Fiifyan" gumam Hasasi memegang tanganku dengan lembut
"Maaf untuk apa?"
"Maaf untuk segalanya" gumam Hasasi mengelus tanganku
"Oh oke... no problem kalian tidak salah kok... itu hanya ... takdir" desahku
"Terkadang... aku juga merasa bersalah Fifiyan"
"Bersalah karena apa?"
"Karena keluargaku membunuh keluargamu menyebabkan kamu selama hidupmu sendirian dan menderita" desah Hasasi menatapku
"Tidak perlu di kasihani Hasasi... sudah takdir dari Tuhan, kalau sudah takdir manusia tidak bisa berbuat apapun" gumamku
"Ya aku tahu... tapi... rasanya tuh merasa bersalah terus... apalagi kamu selalu menjaga aku walaupun kamu tahu aku itu anak dari orang yang membunuh keluargamu... padahal kamu bisa membunuhku saat aku tidak berdaya untuk menebus kesalahan keluargaku" gumam Hasasi dengan mata berkaca - kaca dan aku memandang Hasasi dengan lekat
"Sedendam apapun aku... aku tidak akan membunuh orang Hasasi, aku tidak punya kewenangan untuk itu... itu sudah masa lalu Hasasi gak perlu di bahas" gumamku memalingkan wajahku keluar jendela
"Ya melihat kamu terlihat sedih seperti itu aku merasa bersalah Fifiyan"
"Tidak... aku tidak sedih kok" gumamku
"Kenapa kamu tidak sedih? padahal kamu kan belum pernah melihat wajah orang tuamu saat ini"
"Emang... tapi orang tuaku selalu berkunjung di mimpiku dengan wajah tersenyum itupun aku sudah senang Hasasi... rasa rinduku hilang"
"Hmmm..." desah Hasasi
"Mmm ada apa?"
"Tidak ada" desah Hasasi dan aku menatap keluar jendela lagi
"Mmm kenapa kamu selalu menjaga aku saat aku tidak berdaya Fifiyan?" tanya Hasasi menatapku
"Ya hanya itu yang bisa aku lakukan... apalagi kamu tunanganku, ya aku hanya bisa menjagamu dan mendukungmu" gumamku
"Padahal kan..."
"Padahal apa?.. kenapa aku tidak membunuhmu?... Kalau niatan itu memang ada dari dulu Hasasi tapi aku tidak bisa..." protesku dan Hasasi hanya terdiam menatapku
"Kenapa tidak bisa?"
"Hatiku tidak bersedia membunuhmu" gumamku
"Apakah hatimu selalu berkata seperti itu?"
"Ya..."
"Hmmm baiklah... Terimakasih banyak Fifiyan kamu selalu menjaga aku... aku sangat berterimakasih dari lubuk hatiku yang paling dalam, bahkan kamu bisa membuka pintu hatiku dan merubahku dari yang dingin seperti es dan kejam ini menjadi sehangat ini" gumam Hasasi tersenyum kepadaku
"Ya ... terimakasih juga untuk keluargamu karena bersedia memberikan aku dan kakakku kesempatan untuk hidup"
"Tidak hanya keluargaku sayang... akupun akan memberikanmu kesempatan hidup yang lebih baik lagi untuk kedepannya sehingga kamu akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya" gumam Hasasi serius
"Terimakasih Hasasi" desahku mencoba tersenyum
"Fifiyan... aku janji akan menjagamu" ucap Hasasi mencium tanganku yang sedari tadi digenggamnya dan aku hanya diam menatap Hasasi
"Baiklah kita turun dulu... kita sudah sampai" gumam Hasasi membuka pintu mobil
"Hasasi..." gumamku
"Iya sayang"
"Lain kali gak perlu membahas masa lalu apalagi tentang keluargaku" gumamku
__ADS_1
"Iya sayang aku tidak akan membahasnya lagi... ayo kita turun" ucap Hasasi senang sambil menggandeng tanganku
Ya tidak tahu menurut orang lain aku bodoh atau tidak karena aku tidak bisa membalaskan dendamku itu ... tapi aku sendiri tidak bisa melakukan itu apalagi membalaskan dendam ke jodohku sendiri. Aku sudah tidak mau hidup sendiri lagi, sekarang aku sudah punya keluarga baru walaupun dulu keluarga ini telah menghancurkan hidupku