Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 17 : Makan Bersama


__ADS_3

Di ruang makan kami semua makan bersama, di depanku aku melihat Nyonya Stun dan Tuan Stun sedang bersendau gurau dengan kedua anakku sambil menyuapi kedua anakku, melihat Tuan dan Nyonya Stun yang sangat bahagia dengan kedua anakku membuatku senang melihatnya.


"Oh ya Hasasi..." gumam Tuan Stun serius.


"Ya ayah?"


"Kami akan merawat mereka berdua mulai sekarang, benarkan Han dan Sasa?" ucap Tuan Stun mengedipkan mata kirinya dan kedua anakku mengangguk senang.


"No, nanti ayah dan ibu terlalu memanjakan mereka!" gerutu Hasasi dingin.


"Bolehlah ayah, please!" ucap Han dan Sasa memohon.


"Tidak ya tidak!"


"Kamu sedang sibuk mengurusi perusahaan ditambah Mafia Hasasi, kalau kamu lengah tidak hanya istrimu tapi kedua anakmu juga terluka bagaimana?" ucap Nyonya Stun serius.


"Ayolah ayah, izinkan kami dengan kakek dan nenek!" ucap Han dan Sasa terus memohon.


"Haish, tanyakan kepada ibumu!" gerutu Hasasi kesal.


"Hmmm baiklah, tapi ada syaratnya!"


"Apa syaratnya ibu?" tanya Han serius.


"Kalian harus mendapatkan juara setiap ujian, harus bisa masuk sekolah terbaik, harus mau berlatih dengan teman ayah, harus membantu kakek dan nenek, dan..."


"Tidak boleh lemah, ayah tidak ingin kedua anak ayah manja dan cengeng apa kalian mengerti!" gerutu Hasasi memotong pembicaraanku.


"Tapi kan niat kami seperti itu..." desah Han pelan.


"Kalau begitu kalian harus ikut ayah dan ibu jadi bisa dibilang..."


"Kalian tidak bisa bersenang-senang hahaha!" tawa Dennis kencang.


"Eeehhh ba...baik ayah ibu kami berjanji akan kuat dan menjadi banggaan ayah dan ibu!" ucap Han Dan Sasa mengangkat tangan kanannya tapi Hasasi hanya terdiam sambil memakan makanannya.


Han dan Sasa memang lebih suka tinggal dengan Tuan Stun dan Nyonya Stun, jika mereka tinggal dengan kami pasti Hasasi akan mengawasi ketat mereka setiap gerak gerik Han dan Sasa selalu diawasi. Walaupun Hasasi terkadang mengajak bercanda dan terlihat lembut tapi jika disiplinnya kambuh bisa-bisa Han dan Sasa harus belajar dan latihan selama seharian.


"Hahaha mirip seperti Hasasi kecil!" tawa Steven kencang.


"Ya benar, selalu mengajak Lisa untuk pergi ke rumah nenek dan kakeknya jika tidak mau berlatih hahaha!" tawa Tuan Stun kencang.


"Apaan sih!" gerutu Hasasi kesal, aku mengusap bahunya lembut dan Hasasi hanya terdiam sambil terus melahap makanannya.


"Baiklah, kalau begitu setiap minggu ibu ingin Han dan Sasa melaporkan kegiatan apa yang sudah kalian lakukan dan hasil seluruh belajar dan latihan kalian, jika sekali saja terlihat kalian malas maka ayah dan ibu akan menghukum kalian!" ucapku serius.


"Eeeh...ba...baik ibu..."


"Kamu sudah ada kemajuan Fifiyan, baguslah..." desah Nyonya Stun senang dan aku hanya terdiam menganggukkan kepalaku pelan.


"Kalau begitu ayah dan ibu tinggal saja disini jadi aku bisa mengawasi Han dan Sasa agar mereka disiplin, untuk rumah lama biar di pakai Lisa sendiri."

__ADS_1


"Apa kamu yakin Lisa tinggal sendiri?"


"Dia sudah dewasa ayah, jangan terlalu memanjakan Lisa juga!"


"Kalau Lisa berbuat aneh-aneh bagaimana?"


"Dia sudah dewasa, seharusnya dia tahu mana yang benar mana yang salah. Kalau dia melakukan kesalahan ayah tinggal meneleponku biar aku hukum dia!"


"Haish kamu masih saja keras kepada adikmu Hasasi."


"Biarlah, dia sangat manja dan keras kepala kalau tidak dilatih pasti dia akan menjadi beban saja."


"Tapi kan...hmmm baiklah nanti ayah dan ibu akan memberitahukan dia, lalu kamu akan kemana?" tanya Tuan Stun serius.


"Aku akan ke rumah Steven, ada sesuatu yang harus aku selesaikan sesegera mungkin."


"Lalu Fifiyan?"


"Dia istriku jadi dia harus ikut denganku."


"Oh baiklah, terserah kamu saja Hasasi. Oh ya setelah Lisa tidak jadi dengan pria yang kemarin, dia memiliki pacar baru." ucap Nyonya Stun serius.


"Siapa?"


"Tidak tahu, dia tidak pernah bercerita kepada ibu. Ibu kira kalian mengetahuinya."


"Kalau Lisa tidak datang dia tidak bercerita kepada istriku. Ibu tahu sendiri kan Lisa tidak pernah mengabari kami berdua, selama ini dia langsung datang tanpa memberitahukanku." ucap Hasasi dingin.


"Iya lah, aku tidak mau pria lain berhubungan dengan istriku di belakangku."


"Aku juga tidak akan melakukannya Hasasi." gumamku pelan.


"Ya aku percaya padamu istriku..." gumam Hasasi merangkulku erat.


"Oh ya kamu sudah tahu kan apa yang akan kamu lakukan nantinya?" tanya Steven serius.


"Ya aku tahu, itulah kenapa aku dan Fifiyan akan tinggal denganmu."


"Oh...tidak masalah, masih ada kamar untuk kalian berdua. Aku ingin serumah dengan adikku lagi sudah lama tidak serumah dengannya..." gumam Steven mengacak rambutku.


"Untung kau kakak kandungnya kalau bukan pasti kamu juga akan merebut Fifiyan dariku!"


"Ya benar, wanita yang dulunya gemuk sekarang menjadi kurus dan cantik siapa yang tidak tertarik memilikinya coba, ya untungnya dia adik kandungku sendiri hahaha!!"


"Memang seleramu ternyata tinggi juga ya Hasasi, sampai kakak kandungnya saja mengatakan seperti itu."


"Fifiyan memang wanita yang sangat cantik, itulah kenapa aku takut dia diambil pria lain!" gerutu Hasasi kesal.


"Aku tetap milikmu Hasasi, jangan khawatir..." gumamku menatap Hasasi serius.


"Yaah aku tahu istriku..." desah Hasasi mencium keningku lembut.

__ADS_1


"Baiklah, tolong jaga Han dan Sasa ya ayah. Sebentar lagi kami akan pergi."


"Ya tenang saja, kami akan menjaga Han dan Sasa..."


"Kalau ada apa-apa kalian kabari aku atau Fifiyan. Nanti kami akan langsung datang ke rumah." gumam Hasasi beranjak dari tempat duduk.


"Ya kami tahu..."


"Sayang mau kemana?" tanyaku pelan.


"Mau istirahat, mau ikut?"


"Ya...ee...ayah ibu mmm Fifiyan ke kamar dulu ya." ucapku menundukkan badanku dan berjalan mengikuti Hasasi.


"Ya silahkan."


Aku menggenggam tangan Hasasi dan Hasasi hanya tersenyum manis ke arahku, wajah tampan Hasasi benar-benar masih terlihat di kulitnya yang sedikit keriput itu.


"Kenapa kamu menatapku terus sayang?" tanya Hasasi menatapku bingung.


"Tidak ada, hanya menatap wajahmu yang tampan Hasasi. Padahal kamu sudah mulai berkeriput loh tapi kenapa kamu bisa masih setampan dulu ya.."


"Eeehh mmm ya aku sudah tua sayang, selisih kita jauh. Aku hanya takut saat aku sudah tua dan tidak bisa apa-apa kamu meninggalkanku, apalagi umurmu masih muda." gumam Hasasi berbaring di tempat tidur sambil menatapku sedih.


"Suamiku, aku tidak akan melakukan itu. Aku akan menemanimu dan setia kepadamu sampai kita berdua mati. Lagi pula aku juga sudah tua Hasasi, nih aku juga sudah punya keriput tahu!" gumamku menatap Hasasi sambil menunjukkan lipatan di samping kedua mataku.


"Tapi kamu masih sangat cantik seperti umur 20 tahun tahu, kalau kamu tidak cantik tidak mungkin ada pria yang masih ingin memilikimu."


"Sayang, aku mencintaimu dan benar-benar mencintaimu bukan karena tampan dan jabatanmu tahu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu kalau kamu sudah tua renta ataupun tidak menjadi ketua mafia lagi, aku tidak mungkin melakukan itu!"


"Ya aku tahu, aku hanya khawatir saja."


"Jangan khawatir sayang, dimanapun kamu aku akan ikut denganmu seperti saat sebelum menikah dulu. Anak-anak dengan ayah dan ibu sedikit meringankan bebanku mengurus mereka. Ya mungkin ayah dan ibu tidak ingin kalau aku jauh darimu."


"Ya...mungkin saja sih. Pasti sangat melelahkan ya mengurus Han dan Sasa?"


"Ya lumayan sih, tapi namanya juga seorang ibu harus bisa melakukannya dan juga aku harus bisa mengurusmu yang sangat perhitungan juga suamiku..." gumamku berbaring di sebelah Hasasi.


"Ya, pasti akan lebih susah kan? Tapi terimakasih kamu sabar mengurusku dan kedua anak kita sayang..." gumam Hasasi memelukku erat.


"Tidak masalah kok suamiku, itu tanggung jawabku juga."


"Ya sudah, aku sangat mengantuk. Temani aku ya."


"Baiklah..." desahku menatap Hasasi yang sedang tertidur di sampingku.


Aku mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Hasasi, wajahnya terlihat sangat lelah mungkin setengah hari rapat ditambah menahan emosi membuatnya benar-benar lelah.


"Aku mencintaimu Hasasi, aku tidak mungkin meninggalkanmu demi kak Fiyoni. Aku hanya ingin bersamamu sampai kapanpun..." bisikku mencium kening Hasasi dan tertidur di sebelah Hasasi.


Walaupun aku tahu kekhawatiran Hasasi sama dengan yang aku khawatirkan tapi aku harus berusaha menenangkannya dan meyakinkannya. Walau dia terlihat dingin dan menyebalkan tapi dia benar-benar manja seperti anak kecil kalau aku marah atau kesal dengan Hasasi. Ya mungkin karena kami sudah bertahun-tahun bersama dan melewati semua pahitnya hubungan bersama jadi aku ataupun Hasasi juga sudah mengerti satu sama lain, walaupun terkadang konflik tapi kepercayaan dan kejujuran yang tetap menjadi kunci keromantisan hubunganku dengan Hasasi sampai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2