
Matahari terbit dari timur, sinarnya bersinar mengenai mataku yang sedang terpejam. Pagi ini udara Negara Jepang sangat dingin apalagi hari ini memasuki musim dingin. Aku membuka mataku dan aku melihat Hasasi yang sedang tertidur pulas di sebelahku
"Hasasi..." ucapku pelan
"Mmm..."
"Bangun... udah pagi nih"
"Ntar dulu aah masih ngantuk" gumam Hasasi menarikku sehingga aku terbaring kembali
"Hasasi banguuun" gumamku mencubit hidung Hasasi yang mancung
"Ntar.."
"Sekarang bangun!!" gumamku menggoyang - goyangkan badan Hasasi
"Mmmm... kamu mengganggu aku lah Fifiyan... tidurlah lagi"
"Udah pagi Hasasi nanti orang tuamu marah gimana coba kalau kamu belum bangun"
"Emang aku anak kecil apa!!" protes Hasasi
"Ya kan kamu tinggal di rumah orang tuamu Hasasi bukan di rumahmu sendiri"
"Hmmm iya deh iya" gumam Hasasi membuka matanya
"Aku mandi dulu, jangan tidur lagi tau!!" gumamku mengambil pakaianku dan pergi ke kamar mandi
"Iya ya bawel" gumam Hasasi memeluk guling
Aku segera mandi pagi karena aku tidak mau sampai dimarahin oleh calon mertua jadi mau tidak mau aku harus bangun pagi dan membantu pekerjaan rumah setidaknya tidak menyusahkan calon mertua
Saat aku menghandukkan badanku, dari jendela aku melihat Nyonya Stun yang sedang berkebun di belakang rumah. Banyak bunga yang bemerkaran dan berwarna warni.
__ADS_1
Aku segera berganti baju dan keluar dari kamar mandi. Di dalam kamar aku melihat Hasasi yang sedang tidur kembali, mungkin dia kecapekan jadi aku biarkan dia tidur dan aku pelan - pelan keluar kamar dan berjalan menuju ke taman belakang rumah
"Pagi Nyonya Stun" ucapku dengan ramah sambil berjalan mendekati nyonya Stun
"Pagi juga nak"
"Nyonya sedang melakukan apa?" tanyaku dengan ramah
"Ini sedang merawat bunga - bungaku ini"
"Ada yang bisa aku bantu Nyonya?"
"Oh boleh, ini siram bunga - bunga ini dengan air yang sudah aku campur dengan pupuk" ucap Nyonya Stun menyerahkan botol semprot kepadaku
"Baik Nyonya" gumamku menerima botol semprot itu dan menyemprotkan nya ke bunga - bunga miliknya
"Jangan panggil aku nyonya, panggil aku ibu saja"
"Baik buk" gumamku sambil terus menyemprot
"Iya buk"
"Apa kamu mencintai Hasasi?"
"Iya saya mencintai Hasasi"
"Oh baguslah kalau begitu"
"Ada apa ibuk bertanya seperti itu?" tanyaku penasaran
"Tidak ada... aku hanya ingin memastikannya saja, apalagi Hasasi tipe orang yang tidak percaya wanita semenjak putus dengan Sari Lie" gumam Nyonya Stun dan aku hanya diam
"Dan aku menilaimu sebagai anak yang baik, kamu juga sopan dan menyayangi Hasasi dengan tulus... dan hal itu membuatku lega"
__ADS_1
"Terimakasih ibuk"
"Ya semoga kamu bisa terus menyayanginya nak, apalagi Hasasi dibenci oleh semua orang dan dia ketua perkumpulan"
"Iya buk saya akan berusaha untuk menjaga Hasasi semampu saya"
"Baguslah kalau begitu nak... Kamu lembut ya seperti ibumu"
"Emang ibuk saya seperti apa orangnya?"
"Ya dia adalah teman baikku, menurutku dia sangat baik, lembut, dan dermawan bahkan saat menikah dengan Tuan Shinju yang kaya dia tidak pernah sombong sama sekali dan membantu ayahnya Hasasi saat kami hampir bangkrut dulu"
"Tuan Sinju pernah bangkrut buk?"
"Ya karena waktu itu krisis moneter jadi lebih banyak pengeluaran dari pada pemasukan sehingga hampir saja bangkrut tapi berkat keluargamu kami bisa bangkit sampai sekarang"
"Syukur kalau begitu buk" gumamku senang
"Mmm ibuk ... kenapa ibuk dan ayah menjodohkan Hasasi dengan saya?" tanyaku menatap nyonya Stun
"Ya ada satu alasan yang pasti ... karena hubungan kami diantara dua keluarga yang baik dulunya sehingga kami sepakat untuk menjaga hubungan baik ini dengan menjodohkan Hasasi dengan kamu"
"Apakah ada alasan yang lain?"
"Tidak ada... itu alasannya, emang kenapa kamu bertanya?"
"Tidak ada ibuk... saya hanya penasaran saja, apalagi saya dan kakak sudah yatim piatu sejak kecil dan belum pernah merasakan kehangatan keluarga saat menginjak dewasa apalagi permasalahan keluarga yang saya belum tahu dengan jelas" gumamku
"Nak... saya mewakili keluarga Stun minta maaf kepadamu dan kakakmu karena kesalahan kami menyepakati perjanjian itu membuat kamu harus yatim piatu sejak kecil" ucap Nyonya Stun merangkul bahuku dengan lembut
"Iya ibuk.. itu sudah takdir, saya sudah tidak menyalahkan keluarga Stun" ucapku lembut
"Karena kami keluarga Stun masih merasa bersalah kepadamu, kami menyetujui kamu menikah dengan Hasasi"
__ADS_1
"Terimakasih ibuk" gumamku senang dan kami berdua saling senyum
Aku tidak menyangka ternyata Nyonya Stun sangat baik dan ramah tidak seperti ekspektasiku selama ini, dan aku menganggap keluarga Stun sebagai keluargaku sendiri