Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 30 : Cerita Lauren


__ADS_3

Aku menatap langit-langit kamar dan sesekali menatap jarum infus di tanganku sambil sesekali menahan sakit di kepalaku ini, tidak lama aku melihat Dennis yang masuk ke dalam kamar bersama dengan istrinya.


"Hai Fifiyan kamu sudah sadar ya..." gumam Dennis masuk ke dalam kamar.


"Ya tuan, aku bersyukur bisa sadar kembali."


"Tidak aku sangka loh kalau Lisa akan mengakhiri hidupnya dan memberikan organ dalam untukmu."


"Itu yang membuatku penasaran, apa tuan Dennis tahu apa yang terjadi sebelumnya?"


"Apa Steven tidak menceritakannya padamu?"


"Kakak menceritakannya tapi tidak menjelaskan secara rincinya padaku."


"Kalau alasannya Lisa menceritakannya kepada istriku."


"Mmm i...ini istri yang mana?" Tanyaku bingung.


"Istri yang pernah bertemu denganmu saat di pantai dan di pernikahanmu dengan Hasasi."


"Oohh yang namanya..."


"Nama asli Lauren Stun nona muda, saya keponakan dari Hasasi." Ucap wanita itu menundukkan badannya kearahku.


"Oohh jadi kamu saudara Hasasi?"


"Benar, jadi Lisa sering menceritakan apapun kepadaku nona muda."


"Masalah kehamilannya?"


"Benar nona muda."


"Bisa kamu ceritakan padaku bagaimana yang terjadi saat Hasasi di operasi?" Tanyaku pelan, Lauren terduduk di sebelahku dan menatapku dengan tatapan sedih.


"Setelah Hasasi tersadar dari masa kritisnya, Hasasi memanggil namamu terus menerus memanggil namamu tapi karena saat itu hanya ada Lisa dan tuan Stun sedang membelikan makanan dengan Nyonya Stun. Di saat Hasasi tahu bangun pertamanya dia hanya melihat Lisa dan kau tahu kan Hasasi sangat membenci Lisa setelah kejadian itu."


"Lalu?"


"Lalu Hasasi mengusir Lisa tapi Lisa terus meminta maaf dan meminta agar Hasasi menerima bayinya itu tapi Hasasi menolak dan terus mencarimu Fifiyan."


"Mmm lalu?"


"Karena ada keributan di ruang perawatan itu Tuan Stun dan Nyonya Stun menenangkan Hasasi tapi Hasasi terus menanyakan tentangmu, awalnya Hasasi tidak percaya dengan ucapan mereka tapi akhirnya Hasasi percaya tidak menanyakanmu lagi..." desah Lauren pelan dan menatapku serius.


"Beberapa minggu setelahnya, dokter pribadi Hasasi mengatakan kepada Steven dan Lisa kalau hidupmu hanya tinggal 20 persen atau mungkin 7 hari lagi kamu akan benar-benar mati yang membuat Steven benar-benar stres mendengarnya. Entah karena perasaan akan kehilanganmu Hasasi kembalu mencarimu dan mengamuk tidak jelas di dalam kamar, kami berusaha menenangkan Hasasi tapi Stevwn yang telah stres malah membuat suasana menjadi ricuh dan menegangkan."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Lisa?"


"Lisa selama tiga hari tidak tidur dan kehamilannya sudah menginjak usia tua di tambah tidak ada yang memperdulikannya membuat Lisa sangat depresi. Malam sebelum kematiannya, Lisa mengatakan ingin memberikan organ dalamnya padamu untuk ucapan terimakasih padamu karena akan merepotkanmu mengurus anaknya. Aku sudah melarangnya dan dia mengatakan kalau itu hanya idenya saja tapi saat dia tidak sengaja mengatakan kalau kamu kritis setelah jamu memberikan organ dalammu untuk Hasasi membuat Hasasi melepas infusnya dan pergi mencarimu di setiap kamar..."


"...melihat kegilaan Hasasi dan mencoba bunuh diri setelah mengetahui kamu hampir mati membuat Lisa langsung pergi menghilang dan saat Steven menemukannya ternyata dia sudah mati dengan surat di sebelah bayinya itu."


"Benarkah? Lalu?"


"Yaah setelah dokter berhasil melakukan donor organ dalam Steven dan Hasasi sama sekali tidak tidur dan menunggumu sampai sadar tanpa makan dan minum."


"Kenapa mereka melakukan itu?"


"Kamu orang yang berharga untuk Hasasi dan Steven jadi wajar mereka melakukan itu."


"Hmmm padahal tidak perlu Lisa melakukan itu."


"Jika kau mati pasti akan ada kehancuran di dunia mafia Fifiyan!" Ucap Dennis serius.


"Oohh mmm benarkah? Bagaimana bisa seperti itu?" Tanyaku pelan.


"Tumpuan dunia mafia saat ini di Steven dan Hasasi, jika mereka menjadi gila maka akan banyak yang mati kau tahu!"


"Oh begitu ya..."


"Oh hmmm aku sangat bersalah kepada Lisa..." desahku memejamkan kedua mataku.


"Untuk apa kau bersalah kepada Lisa?" Ucap Nyonya Stun serius.


"Eehh ibu..." gumamku pelan dan berudaha terduduk tapi Lauren menahan tubuhku dan aku tetap berbaring.


"Kamu tidak perlu bersalah kepada Lisa, Lisa melakukan itu hanya untuk menebus kesalahannya."


"Tapi ibu..."


"Walaupun memang juga sama dengan Hasasi terjekut karena kehamilan Lisa tapi aku pribadi tidak menyalahkan Lisa seratus persen. Seandainya Lisa tidak melakukan kesalahan disaat penyakit Hasasi kambuh mungkin tidak ada kejadian seperti ini..."


"... Setiap hari Hasasi selalu berfikir jika penyakit Hasasi kambuh apakah kamu akan meninggalkannya? Itu yang selalu Hasasi pikirkan bahkan di setiap detik ketakutan itu selalu menghantui pikirannya yang membuat dia sangat depresi ditambah beban masalah mafia dan masalah pria lain ingin memilikimu benar-benar membuat Hasasi sangat terbebani. Hasasi pernah berkata padaku, jika tidak dia kamu mungkin dia sudah bunuh diri setelah didiagnosa penyakitnya itu tapi dengan adanya kamu di sampingnya membuat Hasasi semangat untuk hidup Fifiyan..." gumam Nyonya Stun pelan yang membuatku menghela nafas pelan dan tiba-tiba Hasasi masuk ke dalam kamar lalu menggenggam erat tanganku dengan wajah sedihnya.


"Aku sangat mencintai Hasasi ibu, sudah banyak hal yang kami lalui bersama. Mungkin tanpa Hasasi menemukanku di tengah badai saat itu pasti aku juga sudah mati ibu, aku memberikan organ tubuhku hanya ingin Hasasi terus hidup karena aku sendiri tidak bisa melihat Hasasi mati di depanku ibu..." gumamku pelan.


"Aku juga mencintaimu Fifiyan, aku tidak bisa hidup tanpamu Fifiyan!" Ucap Hasasi pelan dan menciumku lembut.


"Ohh kamu sudah kembali Hasasi?" Tanya Nyonya Stun terkejut.


"Aku mengkhawatirkan istriku jadi Steven yang menggantikanku."

__ADS_1


"Padahal aku tidak kemanapun Hasasi."


"Aku tahu tapi kamu baru sadar jadi aku sangat khawatir denganmu."


"Hmmm..." desahku menggenggam erat tangan Hasasi.


"Hasasi dimana ayah?" Tanya Nyonya Stun serius.


"Ayah sedang bersama Han dan Sasa."


"Oh kemana mereka?"


"Katanya ingin membeli makanan."


"Haish padshal ibu sudah membuatkan makanan untuknya!" Gerutu Nyonya Stun kesal.


"Memang apa yang ibu masakkan?"


"Makanan sehat tentunya, ibu tidak ingin penyakit karena makanan berlemak muncul di tubuh ayahmu!"


"Biarlah ibu, gitu aja kedua anakku sangat senang..." gumam Hasasi pelan.


"Oohh baiklah terserah kau sajalah!" Gerutu Nyonya Stun memainkan handphone miliknya.


"Sayang makan ya..." guman Hasasi membawakan bubur untukku.


"Tapi tadi sudah makan Hasasi!"


"Tadi kamu hanya makan sedikit jadi sekarang kamu harus makan!" Ucap Hasasi menyuapiku beberapa bubur itu.


"Oh ya Hasasi bagaimana peetemyan tadi? Apa kamu mendapatkan informasi?" Tanya Dennis serius.


"Ada nanti saja aku menyuapi istriku dulu..." gumam Hasasi terus menyuapiku sampai semangkok bubur habis tanpa tersisa.


"Kamu mau lagi sayang?" Tanya Hasasi pelan.


"Tidak, aku kenyang..." gumamku pelan.


"Baiklah, sebentar ya sayang aku ingin berbicara dengan Dennis dulu..." gumam Hasasi menarik tangan dennis menuju ke arah balkon dan Lauren terduduk di sebelahku sambil menggenggam erat tanganku.


"Kenapa wajahmu terlihat khawatir Fifiyan?" Tanya Lauren serius, aku menghela nafas dan menggelengkan kepalaku.


"Tidak ada, hanya aku memang sedikit khawatir dengan Hasasi..." gumamku pelan dan Lauren mengelus rambutku.


"Tenang saja jangan khawatir..." gumam Lauren pelan dan aku hanya menganggukkan kepalaku dan memejamkan kedua mataku. Aku tahu banyak beban yang dipikul Hasasi tapi aku sendiri juga tidak tahu bagaiamna caraku untuk meringankan beban yang dipikul Hasasi tapi dengan adanya kehadiranku di sisinya mungkin bisa membantu Hasasi bertahan untuk hidup.

__ADS_1


__ADS_2