
Selaa Hasasi tidur aku tidak tidur sama sekali hanya memandangi Hasasi saat Hasasi sedang tidur dan juga sesekali mengusap lembut rambut hitam Hasasi. Aku masih tidak percaya saat ini aku masih bisa dipertemukan oleh Hasasi dan Hasasi sangat optimis dengan aku. Itu yang membuat aku sangat sayang sekali kepada Hasasi
“Fifiyan ...”
“Eeeh ... udah bangun Hasasi?”
“Udah dari tadi sayang .. kamunya gak nyadar ngeliatin aku mulu”
“Mmmm ... hehehe iya sih”
“Kamu udah mandi?”
“Belum”
“Kenapa belum mandi?”
“Ya gimana mau mandi, kamu peluknya erat banget sampai aku gak bisa kemana”
“Eeehh ... mmm ... maaf Fifiyan, ya sudah mandi dulu sana” ucap Hasasi melepaskan pelukannya
“Oke sayang” ucapku dan bergegas mandi, badanku juga terasa lengket banget karena belum mandi malah dipeluk Hasasi yang membuat aku berkeringat
Emang air di hotel ini sangat segar apalagi ada bathtub yang terdapat air panas yang bisa membuat badanku sangat segar
“Fifiyan ... kok lama banget sih” ucap Hasasi dari luar kamar mandi
“Aku lagi berendam”
“Tumben berendam?”
“Udah lama gak berendam”
“Oke ... jangan lama – lama ya”
“Iya Hasasi” ucapku dan terus menikmati air hangat dicampur dengan bunga mawar di bathtub
“Fifiyan cepat selesai mandinya, kamu mandi hampir 2 jam, nanti kamu kedinginan loh” ucap Hasasi khawatir
“Oh ya? ... aku gak sadar” ucapku dan begegas keluar dari kamar mandi dan berganti baju
“Kamu lama banget ngapain sih?”
“Oh tadi aku lagi ngegame di bathtub”
“Dasar pencinta game” desah Hasasi sambil geleng – geleng kepala
“Hehehe ya sory ... dari pada gabut”
“Kalau gabut jangan main game saat mandi nanti masuk angin loh” Ucap Hasasi sambil mengusap rambutku yang masih basah dengan handuk
“Pelan – pelan sayang” protesku
“Biar cepet kering rambutmu sayang”
“Baiklah sayang” ucapku menurut perkataan Hasasi
“Kamu ngapain pakai baju seperti ini” ucap Hasasi sambil terus mengusap rambutku
“Emang kenapa Hasasi?”
“Ya kan ini acara besar loh, aku udah siapkan baju untukmu” ucap Hasasi berjalan menuju sebuah tas di bawah kasur
“Ini ... sejak kapan ada baju ini?”
“Mmmm ... sejak ... tadi” sambil menyerahkan gaun berwarna putih tersebut
“Hmmm kamu kok banyak baju baru yang terlihat mahal sih Hasasi ... Baju – baju yang kemarin juga masih bagus loh” gumamku menerima gaun dari Hasasi
“Kamu istriku, jadi apapun harus baru ... jadi aku tidak mau kamu mendapatkan baju – baju yang biasa ... udah cepat kamu ganti baju, 5 menit lagi kita ke aula”
“Tapi rambutku belum kering” gumamku
“Tenang aja ... rambutmu udah lumayan kering kok”
“Baiklah ... aku ganti baju dulu Hasas” ucapku dan cepat – cepat mengganti bajuku
“Aku udah selesai nih”
__ADS_1
“Baiklah ayo kita turun” ucap Hasasi dan menarikku turun
Aku dan hasasi keluar kamar dan berjalan menuju aula tempat acara yang ada di hotel mewah ini. Selama perjalanan aku melihat desain hotel yang sangat mewah dengan hiasan pajangan lukisan yang terlihat mahal dengan dinding berwarna krem yang sangat terlihat mewah. Saat kami sampai di sebuah pintu, kami bertemu dengan dua orang pemuda berpakaian jas rapi yang sedang berdiri di kiri dan kanan pintu
“Permisi tuan ... siapa nama anda” ucap salah satu pemuda tersebut
“Hasasi”
“Oh ...baik, silahkan masuk” ucap pemuda yang lain sambil membukakan pintu tersebut dan kami berdua masuk ke dalam ruangan tersebut
Saat aku sampai di ruangan tersebut, aku melihat banyak sekali orang yang bergaun mewah sedang mengobrol bersama dan juga tertawa bersama tapi saat kami masuk kedalam banyak mata melihat kami berdua
“Hasasi ....”
“Iya sayang”
“Aku malu, banyak orang yang melihat kita”
“Tenang aja sayang ... mereka teman – temanku” ucap Hasasi menenangkanku
“Ini Hasasi kah?” ucap salah satu wanita berbaju merah yang sedang berjalan menuju ke arah kami tapi Hasasi langsung bersikap dingin
“Waah ... Hasasi sudah move on ya dari Sari Lie” ejek salah satu wanita berbaju biru
“Hasasi ...” bisikku dan Hasasi memegang erat tanganku
“Ya .... bisa dibilang begitu” ucap Hasasi dingin
“Ternyata ya Hasasi punya pacar yang sangat cantik” ucap pemuda yang berada di sampingku tetapi Hasasi hanya diam saja
“Nama kamu siapa?” tanya wanita berbaju merah yang sedang berdiri di depan kami
“Aku Fifiyan”
“Oh Fifiyan .... salam kenal ya, aku Mutiara Tia, aku ketua kelas saat sekolah dulu” ucap wanita tersebut ramah
“Salam kenal juga” ucapku tersenyum
“Ayo kita kesana” ucap Mutiara ramah sambil menarik tanganku dan aku memandang Hasasi dan Hasasi langsung mengangguk pelan
“Ini piringmu” ucap Mutiara ramah
“Terimakasih”
“Kamu mau makan apa?”
“Mmmm aku mau ini aja” ucapku mengambil salad buah
“Waah ... kamu diet ya?” tanya Mutiara
“Tidak juga ... cuma ingin salad buah saja”
“Oke baiklah ... kita duduk disitu aja ya” ucap mutiara dan kami berdua duduk di meja yang dipilih oleh Mutiara
“Fifiyan ... kamu kok bisa depat dengan Hasasi gimana ceritanya?” tanya Mutiara serius
“Mmm ... aku juga tidak tau”
“Kok tidak tahu”
“Ya ... panjang sh ceritanya”
“Intinya aja”
“Ya dulu dia menyelamatkan aku saat aku disakiti Kwan Liang dan Sari Lie lalu ... ya dia sampai sekarang menganggapku istrinya” ucapku sambil terus memakan salad buahku
“Kamu pernah pacaran sama Kwan Liang?”
“Ya ... itu dulu”
“Kwan Liang dan Hasasi sering berantem sih dulu dan saling merebut Sari Lie saat sekolah, sampai – sampai aku pusing melihatnya”
“Oh ya ... tapi sekarang mereka berdua tetep bersaing merebut diriku” ucapku pelan
“Tenang aja Fifiyan .. kalau Hasasi serius denganu dia tidak tanggung – tanggung akan melindungimu”
“Kenapa kamu percaya seperti itu?” tanyaku
__ADS_1
“Ya .... aku kan ketua kelas mereka dan juga saudara Hasasi” bisik Mutiara di telingaku
“Oh ya?”
“Yups” ucap Mutiara tersenyum
“Hasasi emang dingin cuma kalau kamu bisa meluruhkan hatinya berarti kamu sudah dinilai Hasasi yang pantas sebagai nyonya Stun”
“Tapi ... terkadang aku masih ragu”
“Tenang saja ... percaya sama aku, dia bersungguh – sungguh” ucap Mutiara eyemangatiku
“Oke baiklah ... oh ya emangKwan Liang dan Sari Lie datang Hari ini?” tanyaku
“Yups ... pastinya”
“Hmmm”
“Tenang saja ... Sari Lie tidak datang kok”
“Kenapa?”
“Karena kesalahannya dia, dia berada di bawah pengawasan mafia Rusia”
“Naian?”
“Yups”
“Emang apa yang akan dilakukan Naian?”
“Kalau itu aku tidak tahu ... karena mereka perkumpulan yang sangat rahasia, bahkan Hasasi teman terdekanya pun tidak tahu”
“Hasasi dan Naian berteman?”
“Ya ... dulu mereka dan aku adalah teman masa kecil, kami sering bermain bersama dan kemanapun bersama”
“Oh begitu ya”
“Yups ... tapi dulu aku pernah punya rasa dengan Naian, tapi dia tidak merasakannya” ucap Mutiara sedih
“Kamu sampai sekarang masih punya rasa tidak sama dia?”
“Ya ... bisa dibilang aku masih berharap”
“Kamu mau aku mak comblangin sama Naian?” tawarku
“Mmmm emang kamu bisa?”
“Bisa kok”
“Dia kan lebih dingin dan lebih kejam dari Hasasi”
“Tenang saja ... aku pernah tinggal beberapa hari di rumahnya karena ada masalah dengan Hasasi jadi aku tau dia seperti apa “
“Serius ? emang dia seperti apa?”
“Dia sedingin apapun tapi dia sangat lembut dan perhatian, dia pernah memiliki rasa denganku ... tapi aku tidak mau”
“Kenapa?”
“Karena ... aku sangat mencintai Hasasi” ucapku malu
“Kalau Naian tau kamu masih mencintai Hasasi bukannya mereka akan perang dingin ya?” tanya Mutiara penarasan
“Ya aku juga takut, tapi Hasasi bilang aku disuruh santai dan tiidak memikirkan hal itu”
“Hmmm iya sih ... tapi bisakah aku bersama dengan Naian?”
“Bisa ... tenang saja Mutiara ... aku usahain”
“Terimakasih ya Fifiyan” ucap mtutiara senang lalu memelukku
“Sama – sama ... kan kamu aku anggap saudaraku sendiri” ucapku senang
“Baiklah ... kamu juga saudaraku” ucap Mutiara senang
Aku dan Mutiara mulai akrab berbincang – bincang masalah lainnya, dan aku mempunyai ide untuk menyatukan Naian dan Mutiara agar Naian bisa melupakan aku dan merelakan aku dengan Hasasi dengan demikian tidak akan ada masalah dan juga perang dingin antara Hasasi dan juga Naian
__ADS_1