Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 32 : Pergi Ke Pesta Tahunan


__ADS_3

Belum sempat kami berdua menikmati kebersamaan tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras. Mendengar ketukan pintu itu membuat wajah Hasasi terlihat sangat kesal, dia turun ke kursi rodanya dan membuka pintu itu. Disaat pintu terbuka terlihat Dennis dan Hansol masuk ke dalam kamar sambil terus tertawa.


"Eehh si cantik ini kenapa... Tunggu kalian berdua... Jangan-jangan..." gumam Dennis terkejut yang membuatku segera membenahi pakaianku yang sedikit berantakan.


"Eee... Mmm i...ini..." gumamku terbata-bata.


"Waah jangan bilang kalian sedang bercumbu disini!" Ucap Hansol duduk di sofa dengan santainya.


"Ya pastilah! Dan kalian mengganggu keromantisan kita!!! Haish ngapain kalian pagi-pagi datang kemari?" Gerutu Hasasi kesal.


"Loh kan kamu yang berjanji akan berangkat siang hari, kau kira ini masih pagi? Ini sudah siang hari kau tahu!" Gerutu Dennis kesal.


"Lagi pula... Lanjutkanlah kami ingin melihat bagaimana proses terciptanya Han dan Sasa sekarang..." gumam Dennis meminum wine yang ada di dekatnya.


"Benar, ya mana tahu bisa menikmati si cantik Fifiyan itu... Mmm pasti sangat nikmat!" Sindir Hansol dingin yang membuat wajah Hasasi kesal.


"Ciih kau kira gratis apa?" Gerutu Hasasi kesal.


"Baiklah kau minta aku membayar berapa? Sini aku bayar!" Tantang Hansol mengeluarkan kartu kredit tanpa batasnya.


"Heei kau kira istriku apaan! Dia milikku dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh milikku!!" Protes Hasasi menggerakkan kursi rodanya dan memelukku erat.


"Haish dikit aja loh, wanita cantik siapa sih yang menolaknya."


"Enggak!! Dia milikku!!" Teriak Hasasi kesal.


"Haish apa sih kalian teriak-teriak!" Gerutu Tuan Stun masuk ke dalam kamar bersama Nyonya Stun.


"Tuh si Hansol ingin menikmati milikku! Kan gak boleh!" Ucap Hasasi menatapku manja.


"Haish kau juga Hansol suka menggoda Hasasi!"


"Yaah setelah dia menikah dia sangat sensitif tuan membuat kami suka membullynya apalagi sifat dia sangat berbeda jika dengan Fifiyan..." gumam Hansol santai dan Tuan Stun tertawa pelan.


"Hahaha ya benar, Hasasi terlihat sangat menyayangi Fifiyan bahkan jika Fifiyan disentuh orangpun Hasasi akan marah besar."


"Fifiyan Milikku dan tidak aku ijinkan siapapun menyentuhnya!" Gerutu Hasasi kesal tapi semua orang tertawa.


"Sudahlah Hasasi, oh ya kenapa ayah dan ibu datang?" Tanyaku bingung.


"Oh kemarin Hasasi meminta kami menjaga Han dan Sasa jadi kami kemari."


"Memangnya Hasasi akan kemana?" Tanyaku menatap Hasasi bingung.


"Pesta tahunan yang diundur beberapa bulan yang lalu akan dimulai hari ini dan kamu ikut denganku hari ini sayang."


"Oh begitu ya, baiklah..." desahku pelan.

__ADS_1


"Oh ya ayah bagaimana dengan sidangnya?" Tanya Hasasi serius.


"Dugaanmu benar, Alan dan Fiyoni mengajukan wewenang hak asuh atas bayi ini..." gumam Tuan Stun menatap bayi yang di gendong Nyonya Stun.


"Jadi mereka berdua berebut ingin memilikinya?"


"Benar, tinggal menunggu hasil DNA dari rumah sakit saja."


"Mmmm ayah, bisakah aku mengasuhnya saja dari pada musuh yang mengasuhnya?" Tanyaku pelan.


"Tentu saja... Tidak bisa."


"Kenapa?" Tanyaku terkejut.


"Kita keluarga Stun tidak memiliki wewenang setelah Lisa meninggal, jika Lisa masih ada pasti hak asuh di tangan Lisa tapi untuk sekarang hanya ayah kandung bayi ini yang boleh mendapatkan hak asuh ini."


"Tapi ayah..." gumamku pelan dan mendengar ucapan Tuan Stun membuatku sedih.


"Apa kamu ingin mengasuhnya?" Tanya Tuan Stun serius.


"Iya ayah, aku sudah berjanji pada Lisa untuk menjaga bayinya dan mengasuh bayinya sampai dewasa."


"Tapi kamu tidak bisa melakukannya!"


"Lalu kenapa Lisa tidak bilang kalau harus ada pengadilan ayah dan malah memintaku mengasuhnya ayah?" Tanyaku pelan.


"Hasasi yang harus mendapatkan hukuman atas kesalahan Lisa!!" Ucap Nyonya Stun melanjutkan ucapan Tuan Stun.


"Kesalahan? Apa hukuman cambuk itu?" Tanyaku pelan dan Nyonya Stun mengangguk pelan.


"Apa itu menyakitkan ibu?"


"Tentu saja, cambuk api terkenal salah satu hukuman terkejam. Tidak hanya Hasasi tapi Alan dan Fiyoni akan merasakan hal yang sama, hukuman cambuk api itu akan diselenggarakan secara umum jadi kita bisa melihatnya."


"Benarkah? Kenapa tidak secara tertutup ibu?" Tanyaku terkejut.


"Hasasi yang menginginkannya, sebenarnya sebelum Hasasi operasi... Hasasi sudah meminta pengadilan untuk membuka hukuman itu agar memiliki efek jera kepada Lisa tapi ternyata Lisa lebih memilih mati dari pada menanggung semua itu Fifiyan..." guman Tuan Stun pelan.


"Tapi ayah... Fifiyan tidak tega, Fifiyan ingin menggantikan Hasasi hanya karena menggantikan hukuman Lisa!" Ucapku serius sedangkan Hasasi menatapku terkejut.


"Dia mendapatkan dua hukuman Fifiyan."


"Tunggu kenapa?" Tanyaku bingung.


"Ya karena kesalahannya yang berulang kali bermain wanita padahal dia terikat denganmu jadi dia mendapatkan hukuman karena itu."


"Tapi ayah, aku tidak masalah dan..."

__ADS_1


"Dan kakak kandungmu tidak terima, selain karena itu Hasasi harus dihukum karena membunuh keluarga besar mafia tertinggi di masa lalu dengan kedua tangannya jadi hukuman kali ini dia mendapatkan hukuman yang berbeda."


"Astaga, aku akan membicarakannya dengan kakak!" Gerutuku kesal dan Hasasi hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, itu sudah kesepakatan kami. Jika kamu memilih membunuhku maka impaslah kesalahanku tapi jika kamu memilih agar aku tetap hidup maka aku harus mendapatkan hukuman di lembah kematian..." guman Hasasi pelan.


"Tapi tidak baik dilihat banyak orang dan..."


"Tenang saja, hukuman itu akan dilakukan tertutup dan hanya disaksikan olehmu saja jadi kau bisa mengungkapkan seluruh kekesalanmu kepada Hasasi!" Ucap Steven masuk ke dalam kamar.


"Kakak! Kenapa kau melakukan ini?" Tanyaku kesal.


"Hanya melakukan sesuatu hal yang adil untuk keluarga Shinju."


"Tapi kakak!"


"Dengar ya Fifiyan, aku kepala keluarga Shinju saat ini jadi semua keputusanku juga demi keluarga Shinju, kau tahu hanya aku dan kau saja yang masih hidup... pembayaran nyawa Hasasi tidak cukup bagiku dan hukuman itu lebih rendah dari pada apa yang dia perbuat jadi kau... Tidak perlu protes!" gerutu Steven kesal yang membuatku sangat marah tapi Hasasi menggenggam tanganku dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak apa sayang jangan khawatir..." gumam Hasasi pelan.


"Hmmm maafkan keputusan kakakku ya Hasasi..." gumamku pelan dan Hasasi hanya tersenyum kearahku.


"Tidak apa, aku berterimakasih kepada Steven, dengan menjalani hukuman itu aku tidak akan merasa bersalah padamu Fifiyan."


"Padahal aku sudah memaafkanmu Hasasi."


"Aku tahu, Fifiyan jika nantinya ada yang namanya inkarnasi aku berharap dan terus berdoa agar aku bisa bertemu denganmu dan tidak melakukan kesalahan seperti dulu lagi. Aku akan mencarimu sampai ujung dunia aku akan mencarimu Fifiyan..." bisik Hasasi pelan dan aku menggenggam erat tangan Hasasi.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu Hasasi?" Tanyaku pelan.


"Aku... sangat takut kehilanganmu dan..."


"Yaah aku mengerti, aku juga akan mencarimu jika kita berinkarnasi kembali Hasasi..." gumamku pelan dan Hasasi tersenyum kearahku.


"Baiklah mari kita berangkat!" Ucap Hasasi memutar kursi rodanya dan aku langsung mendorongnya perlahan.


"Tapi Hasasi aku belum ganti baju dan..."


"Tidak apa, sudah aku siapkan di pesawat..." gumam Hasasi pelan.


"Pesawat? Kau akan menggunakan pesawatmu?" Tanya Hansol dan Dennis bersamaan.


"Ya, aku juga mau mengajak istriku merasakannya."


"Hoorreee!!!! Akhirnya!!!" Teriak Hansol dan Dennis senang.


"Haish mereka kayak anak kecil saja!" Gerutu Hasasi kesal dan aku hanya tersenyum mengusap punggung Hasasi yang membuatnya menggenggam erat tanganku sambil tersenyum manis. Tapi memang aku juga tidak ingin kehilangan Hasasi, walaupun mitos inkarnasi itu ada maka aku berharap agar aku bisa bertemu dengan suamiku nantinya.

__ADS_1


__ADS_2