Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 18 : Hasasi Yang Lumpuh


__ADS_3

Disaat aku sedang tertidur pulas, aku mendengar suara orang-orang yang sedang membicarakan sesuatu. Aku membuka kedua mataku dan melihat Hasasi yang sedang mengatakan serius dengan Steven. Aku terbangun dari tidurku dan terduduk menatap dua pria tampan di depanku.


"Eeh kamu sudah bangun adikku?" tanya Steven menatapku serius.


"Yaaah... apa yang kalian bicarakan?" tanyaku penasaran.


"Hanya tentang mafia saja sayang..." gumam Hasasi mendorongku dan menekan tubuhku dari atas.


"Eehh a...ada apa Hasasi?" tanyaku terkejut.


"Tidak ada, aku hanya ingin memelukmu erat saja..."


"Oh mmmm..." desahku mengusap lembut rambut Hasasi.


"Ya udah nikmatilah kebersamaan kalian, aku buatkan sarapan dulu...." gumam Steven berjalan pergi dari kamar.


"Kebersamaan? Kan kita selalu bersama kan sayang?" tanyaku pelan.


"Ya pastinya sayangku. Tapi..."


"Tapi apa Hasasi?"


"Aku takut kamu diambil orang lain jika aku tidak bisa melakukan apapun apalagi mati nantinya, dan aku takut jika aku berinkarnasi nantinya tapi aku tidak bertemu denganmu."


"Mmm kenapa kamu ucapkan seperti itu?" tanyaku serius.


"Aku hanya takut, aku..." gumam Hasasi memberikan sebuah kertas padaku, saat aku membacanya ternyata dia didiagnosa akan lumpuh kurang dari tujuh hari setelah survival kemarin.


"Kenapa bisa?" tanyaku terkejut.


"Hmmm... di punggungku terdapat cidera dari kecil, tapi saat survival waktu itu cideranya semakin parah dan aku diam-diam pergi ke dokter, dokter tidak yakin aku bisa sembuh dan sebenarnya ide menitipkan Han dan Sasa ke ayah dan ibu itu adalah ideku, aku tidak mau melihat kedua anakku sedih saat melihatku lumpuh..." gumam Hasasi pelan.


"...dan alasanku ingin istirahat sejenak karena penyakitku ini, semua tahu hanya kamu yang tidak tahu Fifiyan. Maafkan aku..." gumam Hasasi memelukku erat.


"Oh hmmm jadi, apa dimulai sekarang ini?" tanyaku pelan.


"Yaah begitulah, maafkan aku Fifiyan... maafkan aku yang tidak berguna ini..." desah Hasasi pelan.


"Hmmm..." desahku membaringkan tubuh Hasasi dan mengusap rambutnya lembut.


"Tidak apa sayang, tidak perlu minta maaf..." gumamku pelan.


"Tapi...hmmm apa kamu akan meninggalkanku?" tanya Hasasi pelan.


"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" tanyaku serius.


"Aku saat ini tidak bisa melakukan apapun, aku..."


"Hmmm tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu suamiku."


"Tapi Fifiyan, aku takut kamu menderita dan banyak yang menginginkanmu. Aku tidak ingin kehilanganmu, bunuh saja aku... biar aku berinkarnasi dan memilikimu kembali!" ucap Hasasi meneteskan air matanya.


"Astaga kenapa kamu mengucapkan hal itu!"


"Aku ingin sehat lagi, aku ingin melindungimu, aku ingin..."


"Hmmm..."desahku memeluk erat Hasasi.


"Kamu suamiku dan aku tidak mungkin meninggalkanmu demi pria lain!"


"Tapi Fifiyan..."


"Aku yakin hanya sesaat penyakitmu ini dan kamu akan sembuh nantinya jadi jangan khawatir ya..."


"Hmmm jangan tinggalkan aku ya istriku..."

__ADS_1


"Yah aku tidak akan meninggalkanmu kok sayang," gumamku mengusap lembut air matanya dan sesekali menciumnya.


"Ini sarapan kalian sudah siap!" teriak Steven masuk ke dalam kamar.


"Eeeh sudah mulai ya?" tanya Steven menatap Hasasi terkejut.


"Ya begitulah."


"Jadi bagaimana dengan keputusannya?" tanya Steven serius.


"Keputusan apa?" tanyaku bingung.


"Yah keputusanmu lah."


"Aku tidak keberatan, dia suamiku..." gumamku mengambil piring itu dan membantu Hasasi terduduk lalu terus menyuapinya.


"Hmmm kamu masih saja peduli dengan Hasasi, padahal kamu bisa tinggal membunuhnya saja loh!" ucap Steven santai, mendengar ucapan Steven membuat Hasasi terdiam sambil menggenggam erat tanganku.


"Apaan sih kakak ngomong seperti itu!" gerutuku kesal.


"Dia membunuh keluarga kita dan kamu tidak dendam?"


"Dulu... iya... sekarang... aku sama sekali tidak memiliki rasa dendam itu..." desahku mengusap lembut pipi Hasasi.


"Oh kukira kamu akan dendam..." gumam Steven terduduk di depanku.


"Emang kakak dendam dengan Hasasi?"


"Menurutmu?"


"Hmmm kalau kakak menyakitinya aku tidak sungkan-sungkan bertarung denganmu kak!" ucapku dingin.


"Bertarung denganku? Kamu tidak menguasai mafia bagaimana kamu akan mengalahkan aku yang seorang ketua mafia? Haish tidak perlu berkhayal!" gerutu Steven menatapku dingin sedangkan aku hanya terdiam sambil terus menyuapi Hasasi.


"Kamu saja tidak bisa melawan sepupu Cindy itu dan malah terluka parah di lenganmu bagaimana kamu akan melawan ketua mafia? Ya kalau aku tidak mungkin melawanmu karena kamu adikku tapi musuh Hasasi lainnya? Fiyoni juga? Apa kamu bisa melawannya? Tidak kan?" ucap Steven menatapku dingin, benar-benar pertanyaan seperti sedang menginterogasiku.


"Naah itu yang aku tunggu... mulai besok kamu harus berlatih denganku Fifiyan! Kamu sudah pernah kan dulu latihan bela diri dengan sepupu Hasasi jadi sekarang kamu berlatih mafia denganku! Apa kamu mengerti?" ucap Steven menatapku serius.


"Ya baiklah kakak, Fifiyan mengerti kok...." desahku pelan.


"Baguslah, kakak ada urusan sebentar nanti kakak kembali!" ucap Steven berjalan pergi dari kamar.


"Hmmm mau lagi Hasasi?" tanyaku pelan.


"Tidak, aku sudah kenyang..." desah Hasasi pelan. Aku menatap Hasasi dari tadi menggenggam erat tanganku sambil terus menundukkan wajahnya yang membuatku bingung.


"Hmmm ada apa sayang?" tanyaku pelan.


"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu membenciku?"


"Memangnya kenapa?" tanyaku penasaran.


"Yaah aku dan Steven sepakat jika kamu masih dendam dan membenciku maka Steven siap membunuhku saat ini juga. Tapi kenapa kamu mengatakan kamu tidak membenciku?" tanya Hasasi pelan.


"Hmmm sayang dengar..." gumamku mengangkat dagu Hasasi dan menatapnya serius.


"Kamu suamiku dan aku tidak mungkin tega melihat suamiku terbunuh di depan mataku!"


"Tapi Fifiyan, saat ini aku hanya pria yang lemah dan..."


"Hasasi dengar... aku dulu juga pernah tidak bisa melakukan apapun dan dari dulu sampai saat ini aku selalu merepotkanmu ditambah aku wanita yang sangat lemah. Aku tidak mungkin meninggalkanmu setelah kamu selalu membantuku dan telah mengubah hidupku menjadi lebih bermakna suamiku..." gumamku mencium pipi Hasasi lembut.


"Apa kamu yakin tidak dendam padaku?" tanya Hasasi serius.


"Tidak sayang, jadi jangan khawatir dan tetaplah semangat untuk hidup, ada aku yang akan selalu menemanimu."

__ADS_1


"Hmmm sayang, kalau aku nanti mati duluan bagaimana?" tanya Hasasi menggenggam erat tanganku.


"Tidak apa, mati adalah takdir sayang."


"Apa kamu akan meninggalkanku dengan pria lain?" tanya Hasasi pelan.


"Hmmm tidak sayang, jika kamu mati duluan maka aku akan ikut mati bersamamu..."


"Tapi anak-anak bagaimana?"


"Mereka sudah dewasa dan hebat sekarang, aku yakin mereka akan menjaga satu sama lain."


"Hmmm apa kamu benar-benar akan ikut aku mati?" tanya Hasasi terus menggenggam erat tanganku.


"Ya sayang, kamu milikku aku juga tidak mau kalau aku dimiliki orang lain selain kamu. Kamu begitu berharga bagiku, hanya kamu, kakak, dan kedua anakku saja yang aku miliki saat ini dan orang yang sangat berharga buatku, jika aku sudah bisa menguasi mafia... aku akan melindungimu suamiku, aku akan melindungimu apapun yang terjadi!" ucapku menatap Hasasi serius.


"Hmmm aku senang mendengarnya, terimakasih ya istriku tersayang..." ucap Hasasi senang, aku tersenyum dan segera pergi menyiapkan perlengkapan mandi Hasasi di dalam kamar mandi.


"Kamu darimana?" tanya Hasasi menatapku serius.


"Baru menyiapkan peralatan mandi saja, baiklah waktunya mandi suamiku!" ucapku menggendong tubuh Hasasi yang sebenarnya sangat berat tapi aku harus kuat menahan beban tubuhnya.


"Eeh tapi bagaimana kamu akan..." gumam Hasasi terkejut saat aku melihatku menggendongnya.


"Sudah tenang saja..." gumamku mendudukkan Hasasi di kursi yang telah aku siapkan tadi.


"Hmmm apa aku berat sayang?" tanya Hasasi pelan.


"Yaaah tidak terlalu kok..." gumamku membuka kancing pakaian Hasasi dan segera memandikannya. Selama mandi Hasasi benar-benar hanya menatapku sambil terus menggenggam erat tanganku yang membuatku harus menggunakan satu tangan untuk memandikannya.


"Sudah selesai sayang..." gumamku mengusap rambut Hasasi dan membalutkan tubuh Hasasi dengan pakaian mandi miliknya.


"Sudah selesai?"


"Yaah..." gumamku kembali menggendong Hasasi menuju ruang ganti dan membantu Hasasi memakaikan pakaiannya dan menggendongnya kembali ke dalam kamar.


"Astaga! Kamu menggendong Hasasi seperti itu?" ucap Steven menatapku dengan terkejut.


"Yaah begitulah."


"Astaga! Kenapa tidak memanggil kakak!" ucap Steven serius.


"Kan kakak orang yang sibuk tidak mungkin aku mengganggumu!"


"Haish kebiasaanmu tidak mau merepotkan orang lain masih aja ada ya?"


"Yaah begitulah."


"Hmmm ini kakak bawakan kursi roda. Selama beberapa tahun Hasasi harus melakukan terapi dan pengobatan untuk punggungnya. Yaah semoga kamu tidak akan bosan menemaninya Fifiyan, kalau kamu bosan... tidak apa sih, nanti ku bantu membunuhnya! Hahaha!!!" tawa Steven kencang.


"Awas saja kalau kakak berani melukai suamiku!" gerutuku menatap Steven kesal tapi Steven hanya tertawa kencang, aku membantu Hasasi terduduk di kursi roda dan menyisir rambutnya dengan lembut.


"Oh ya Hasasi, kamu tenang saja semua perusahaanmu dan mafiamu sudah aku tangani jadi fokus saja ke pengobatanmu nantinya."


"Apa musuh tidak bergerak?"


"Tidak, aku dengar Fiyoni itu terluka parah setelah melawan musuh dan juga musuh itu juga sama-sama terluka parah. Sepertinya mereka benar-benar bertarung dengan hebat!" ucap Steven serius.


"Oh begitu ya..." desah Hasasi menatapku.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyaku bingung.


"Fiyoni terluka parah, apa tidak masalah buatmu?"


"Tidak, kalau kamu yang terluka baru masalah buatku..." ucapku serius.

__ADS_1


"Oh hmmm..." desah Hasasi menggenggam erat tanganku.


"Oh ya Hasasi ada yang ingin ku katakan padamu..." gumam steven kembali membahas tentang mafia bersama dengan Hasasi sedangkan aku hanya terdiam dan terus mendandani Hasasi. Walaupun Fiyoni mau seluka apapun aku benar-benar tidak peduli, aku hanya peduli dengan Hasasi, Hasasi benar-benar akan sangat merepotkan nantinya tapi aku tidak boleh mengeluh untuk hal yang seperti ini, aku harus bisa melalui semua bersama Hasasi!


__ADS_2