
Selama perjalanan Hasasi benar-benar terlihat sangat kesal dan marah, walaupun dia bilang dia akan sabar tapi aku tahu Hasasi seperti apa, dia akan diam dan jika waktunya dia akan meledakkan amarahnya sama seperti dulu saat dia marah padaku.
"Hasasi..." desahku berusaha manja dengan Hasasi, walaupun dia terlihat kesal tapi saat aku menyandarkan kepalaku di bahunya Hasasi langsung memelukku dan sesekali mencium pipiku.
"Fifiyan, kamu seperti sangat khawatir dengan Hasasi?" tanya Angel serius.
"Yaah aku tahu bagaimana Hasasi marah, tapi jika Hasasi marah dengan keadaannya yang masih sakit seperti ini aku tidak mau penyakitnya bertambah parah..." gumamku pelan.
"Kenapa juga kau khawatir? Lagi pula Hasasi juga akan mati sebentar lagi..." sindir Hansol dingin, aku menundukkan kepalaku dan memainkan kain pakaian Hasasi.
"Hansol!" gerutu Hasasi kesal.
"Apa! Itu yang terjadi kan?" gumam Hansol santai.
"Haish si bodoh ini..." desah Angel pelan.
"Eeh maksud Hansol setiap orang pasti akan mati, benar kan Fifiyan?" ucap Angel mengalihkan pembicaraan.
"Yah aku tahu kok..." desahku pelan.
"Hmmm Fifiyan, apa kamu akan serius melakukan itu?" tanya Steven serius.
"Yaaah begitulah."
"Melakukan apa?" tanya Hasasi penasaran.
"Ini urusan keluarga Shinju jadi kamu tidak perlu tahu!" gerutu Steven kesal. Walaupun Steven menyembunyikan hal itu dari siapapun tapi dia sebenarnya kesal juga aku lebih memilih Hasasi yang hidup dari pada aku sendiri yang hidup.
"Kita sudah sampai lebih baik kita segera turun!" ucap Hansol turun dari mobil dan menyiapkan kursi roda di bawah mobil, aku mengangkat tubuh Hasasi dan mendudukannya di kursi roda.
"Terimakasih sayang..." gumam Hasasi pelan dan aku hanya tersenyum lalu mendorong kursi roda dengan pelan menuju ke dalam rumah.
"Ayah Ibu!!" teriak Han dan Sasa kencang.
"Ayah dan Ibu juga datang?" tanya Han dingin.
"Ya kan ulang tahun tante Lisa jadi ayah dan ibu juga datang..." gumamku pelan.
"Eeh mmm kenapa ayah memakai kursi roda? Apa ayah sakit?" tanya Sasa sedih, melihatnya sedih membuatku segera terjongkok di depan Sasa dan Han.
"Ya tapi jangan khawatir tidak parah kok sakitnya."
"Tapi kenapa memakai kursi roda?" tanya Sasa pelan.
__ADS_1
"Kalau ayah tidak memakai kursi roda takutnya nanti ayah pingsan, ayah sudah beberapa hari tidak tidur. Nanti bagaimana jika ayah pingsan, apa Han dan Sasa kuat menggendong ayah?" gumamku pelan.
"Oh mmm ayah sih tidak pernah tidur! Ayah harus tidur!" protes Sasa kesal.
"Hmmm baiklah, maafkan ayah ya anakku..." gumam Hasasi pelan.
"Ya sudah mari masuk..." gumamku pelan.
Di dalam rumah aku melihat banyak orang yang datang untuk mengikuti acara pesta ini, walaupun hanya makan malam biasa tapi terdapat pesta yang meriah juga.
"Eehh kakak ipar datang!" ucap Lisa senang.
"Yaah begitulah, oh ya selamat ulang tahun buatmu Lisa!" ucapku senang.
"Terimakasih kakak ipar..." ucap Lisa menatapku senang.
"Ehh mmm kakak tidak mengucapkan apapun kepadaku?" tanya Lisa pelan tapi Hasasi hanya terdiam dengan kesal. Melihat reaksi Hasasi kesal membuat Lisa menatapku sedih.
"Oh ya kakakmu sudah berhari-hari tidak tidur karena rapat dengan mereka jadi dia lelah, awalnya Hasasi tidak mau ikut tapi ku paksa jadi dia ikut ya mungkin karena lelah saja jadi jangan khawatir..." gumamku beralasan.
"Oh begitu ya, mmm pesta ini sudah selesai mari ke ruang makan kakak ipar..." gumam Lisa berjalan mendahului kami.
"Kenapa kamu mengatakan kalau aku lelah juga?" tanya Hasasi kesal, aku segera mencium Hasasi lembut yang membuatnya pasrah.
"Selamat datang anakku!" ucap Tuan Stun senang, aku menundukkan badanku pelan dan tersenyum manis kepada mereka.
"Kemarilah duduk disini!" ucap Nyonya Stun menunjukkan dua kursi kosong di sebelahnya. Aku segera menggendong Hasasi dan mendudukkannya di kursi yang kosong.
"Eehh mmm kamu kuat menggendong tubuh Hasasi yang berat itu?" tanya Tuan Stun terkejut.
"Mmmm iya ayah."
"Astaga kan ada pria lain yang ada disini, mereka bisa..."
"Tidak apa ayah, Fifiyan tidak keberatan kok!" gumamku memotong pembicaraan tuan Stun.
"Hmmm terimakasih ya anakku kamu bersedia mengurus Hasasi, aku kira kamu akan meninggalkannya..." gumam Nyonya Stun pelan.
"Tidak ibu, dia suamiku apapun yang terjadi aku harus ada untuknya dan aku akan selalu menjaganya..." gumamku menggenggam erat tangan Hasasi dan Hasasi hanya terdiam sambil terus menciumku lembut.
"Tuh contoh Fifiyan, dia tetap ada walaupun Hasasi kesusahan! Bukan kayak kamu, jika aku gak ada malah kamu pergi entah kemana!" gerutu Hansol menatap Angel kesal.
"Biarlah! Itu Fifiyan bukan aku kok!!" gerutu Angel kesal.
__ADS_1
"Haish sudahlah kalian!" gerutu Steven dingin.
"Mmm baiklah, untuk merayakan ulang tahun Lisa ini silahkan menikmati makanan yang sudah tersedia!" ucap tuan Stun senang dan seluruh orang segera mengambil beberapa makanan dan memakannya dengan lahap, aku mengambil beberapa makanan kesukaan Hasasi dan segera menyuapinya.
"Sayang aku makan sendiri saja..." gumam Hasasi pelan.
"Tidak apa, makanlah dulu..." gumamku pelan dan terus menyuapi Hasasi.
"Hmmm aku sangat senang melihatmu begitu sayang dengan Hasasi yang lemah itu Fifiyan..." gumam nyonya Stun pelan.
"Yaah dia suamiku ibu jadi selemah apapun Hasasi asalkan Hasasi masih hidup aku akan selalu sayang dan menjaganya..." gumamku pelan.
"Tapi Fifiyan..."
"Fifiyan tahu kok ibu, hanya saja Fifiyan ingin melihatnya tetap hidup dan sehat kembali..." gumamku mengusap lembut pipi Hasasi.
"Tunggu! Jangan bilang kamu akan melakukan..." ucap Tuan Stun terkejut.
"Yaah semoga ayah dan ibu tidak keberatan dengan keputusan Fifiyan..." gumamku pelan.
"Tapi Fifiyan... nanti kamu..."
"Fifiyan tidak masalah ayah, Fifiyan mohon untuk tidak memberitahukan siapapun saja..." gumamku pelan.
"Hmmm baiklah kalau begitu, aku benar-benar terkejut dengan keputusanmu Fifiyan..." gumam Tuan Stun pelan.
"Keputusan apa? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Hasasi dingin.
"Masalah keluarga Shinju saja kok Hasasi..." gumam Nyonya Stun pelan.
"Masalah apa itu?" tanya Hasasi serius.
"Haish sudah ku bilang kan ini masalah keluarga Shinju dan kau bukan dari marga Shinju jadi kau tidak perlu tahu!" gerutu Steven kesal.
"Kenapa kau malah terlihat marah padaku?" tanya Hasasi bingung.
"Ya pastinya! Bagaimana aku tidak marah kalau demi..."
"Kakak! Diamlah!" protesku menatap Steven kesal.
"Haish terserah kau sajalah Fifiyan!" gerutu Steven kesal.
"Maaf ya Hasasi, kakakku beberapa hari melatihku yang membuat emosinya tidak stabil. jadi jangan dipikirkan ya..." gumamku tersenyum kearah Hasasi dan Hasasi hanya terdiam sambil menganggukkan kepalanya. Tidak aku duga kalau Tuan Stun dan Nyonya Stun akan terkejut juga tapi ini keputusanku, hidup dan matiku hanya untuk Hasasi selamanya hanya untuknya.
__ADS_1