
Selama perjalanan menuju hotel Steven terus menarikku dengan tergesa - gesa dan lama kelamaan tanganku menjadi sakit karena digenggam terus kepada Steven
"Kakak... sakit tau" rintihanku
"Apanya?"
"Tanganku lah, liat ... jadi merah" rintihanku
"Oh ... eee... maaf hehehe" ucap Steven dan melepaskan tanganku
"Santai aja kenapa si kak" gerutuku
"Ya ... gimana ya ... udah karakter kakak... hehehe"
"Kayaknya kakak dulu gak kayak gitu?"
"Iya dulu kan masih kecil adikku sayang, sekarang udah dewasa"
"Mmm ... wow udah dewasa, berarti aku udah punya kakak ipar nih" ejekku
"Kakak ipar dari mana, aku gak pengen menikah dulu"
"Kenapa kak?"
"Ya kan kakak pengen melindungimu dulu" ucap Steven lalu mencubit hidungku
"Ihh sakit lah kak, kenapa sih pada suka dengan hidungku" gumamku kesal
"Karena hidungmu manis, hehehe ... kita udah sampai" ucap Steven dan kami langsung menuju ke kamarku
Toookk ... toookk
"Masuklah" ucap Dennis dan kami berdua masuk ke kamar
"Dimana Hasasi?" tanya Steven
"Tuuh ... dia di luar jendela"
"Ngapain diluar?" tanya Steven lagi
"Galau, karena Fifiyan ngambek tadi ... ya Fifiyannya sendiri sih mau dijelasin malah emosi duluan" jelas Dennissambil meminum teh
"Fifiyan udah aku jelasin, ini dia di belakangku"
"Loh ... kenapa sama Steven kamu dengerin sih? tapi penjelasanku sama Hasasi kamu gak peduli" gumam Dennis
"Ya bedalah ... penjelasan kakak kandung beda sama kalian" protesku
"Ka ... kakak kandung?"
"Iya Dennis, oh ya lupa hanya Hasasi yang tahu hal ini" ucap Steven sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal
"Kau selalu begitu" protes Dennis
"Hehehe ... maaf ... Fifiyan sana Hasasi masuk nanti dia masuk angin" ucap Steven dan aku pun keluar jendela menghampiri Hasasi
Di luar jendela, aku melihat Hasasi sedang duduk di pinggir balkon sendiri dan tampak sedih
“Hasasi ...” ucapku dan Hasasi memalingkan wajahnya kepadaku
“Fi ... fiyan...” ucap Hasasi dan beranjak menghampiriku
“Kamu kesini lagi?” ucap Hasasi dan memelukku
__ADS_1
“Iya lah ...”
“A...aku takut kamu ninggalin aku” ucap Hasasi dan mulai menangis
“Hei, dasar tuan muda yang cengeng, kenapa juga aku ninggalin kamu?” ejekku
“Ya gara – gara masalah keluargamu” ucap Hasasi lirih
“Aku udah tau seuanya, kakakku yang menjelaskan semuanya kepadaku tadi” ucapku dan aku memegang dagunya agar aku bisa melihat matanya yang sembab
“Kakakmu? , emang dia disini?” tanya Hasasi
“Tuh ...” ucapku dan menunjuk Steven di dalam kamar dengan tersenyum
“Udah jangan nangis, kita masuk ke dalam ya” ucapku dan menuntun Hasasi balik ke dalam kamar
“Hei Hasasi, ngapain di luar mau bunuh diri?” ejek Steven
“Ya kalau Fifiyan gak balik aku akan melakukannya”
“Dasar bodoh, ngapain melakukan hal itu” protesku
“Ya ... karena Hasasi serius sama kamu, makanya tadi kakak membuntutimu” ucap kakak santai
“Dasar tukang menguntit” gumamku
“Beraninya kamu bilang kakak tukang penguntit ...” protes Steven lalu mencubit pipiku
“Ih kakak sakit tau” protesku
“Itu hukumanmu karena mengejek kakak”
“Dasar kakak sama Hasasi suka menghukum aku” gumamku protes
“Ngomong aja barengan lagi” gumamku dan mereka berdua tertawa keras
“Oh ya kak, gimana caramu menjelaskan masalah itu ke Fifiyan?” tanya Hasasi penasaran
“Iya aku ceritain semuanya” ucap Steven santai
“Tapi kan ... perjanjian itu keluarga Stun dilarang menceritakan sebenarnya” ucap Hasasi
“Ya kan kamu dan Lisa saja yang asli keluarga Stun sedangkan aku asli keluarga Shinju ... jadi ya tidak masalah”
“Oh ya ya ... aku lupa”
“Jadi kamu tadi membohongku” gumamku berakting kesal
“Bu ... bukan begitu ... aku tadi ingin mengatakan sejujurnya dengan melanggar perjanjian itu tapi kamu tidak mendengarkan malah memarahi aku jadi ya aku ya mengatakan sesuai dengan perjanjian”
“Dasar pembohong” ejekku
“Enggak loh”
“Pembohong”
“Enggak”
“Pembohooong” ejekku lagi
“Udah Fifiyan, nanti Hasasi menangis lagi loh ... sedinginnya dia tapi dia itu cengeng” ejek Steven
“Ih kakak jangan kasih tau asliku ke Fifiyan kenapa sih” protes Hasasi dan kami bertiga tertawa keras
__ADS_1
“Oh ya kak, kenapa kamu berada di keluarga Stun?” tanyaku kemudian
“Nanti aja ceritanya aku masih ngantuk ... hoaam” ucap Steven sambil menguap
“Gak mau kak, pokok sekarang” protesku
“Iya – iya adikku yang bawel ... awalnya itu kakak berhasil meloloskan diri gara – gara pura – pura mati di sebelah ayah saat beberapa musuh datang, namun kakak langsung pergi saat musuh tidak ada, kakak pergi mencarimu dan terus mencari tapi tidak ketemu dan tidak ketemu jazadmu. Tapi beberapa menit kemudian musuh menemukan kakak dan hampir membunuh kakak tapi kakak melompat pohon – pohon hutan yang ada di sebelah rumah kita sehingga kakak bisa kabur, karena luka kakak yang cukup parah kakak tidak kuat berjalan dan bertemu dengan Hasasi dan Tuan Stun yang sedang berkuda di jalan, jadi kakak di ajak ke keluarga Stun dan menjadi kakak tiri Stun” jelas Steven sambil meminum teh di tangannya
“Enak ya kakak, bisa hidup bahagia setelah kejadian itu” gumamku lirih
“Ya gak enak lah, kakak selama ini mencari informasi tentang keberadaanmu dan akhirnya Hasasilah yang menemukan wanita gemuk di Jepang, aku langsung masuk ke kamarmu saat kamu masih tidak sadar dan Emilia menggantikan bajumu, aku melihat ada gelang dari ibu yang kamu pakai di tangan kiri mu itu dan aku tahu kalau kamu itu adalah adikku yang selama ini aku cari – cari” jelas Steven
“Jadi yang menyuruh aku diet itu kakak?”
“Bukan ... itu inisiatif Hasasi sendiri”
“Hmmm ..”
“Oh ya... selama ini kamu tinggal dengan siapa?” tanya Steven
“Aku setelah tercebur ke danau, aku diselamatkan ayahnya Kwan Liang yang ada di sekitar danau dan diajaknya pulang lalu aku di besarkan dan tinggal bersama dengan Kwan Liangsampai akhirnya kami sama – sama jatuh cinta. Namun saat aku udah kuliah di Australia bersama Kwan Liang, aku disuruh untuk mengontrak rumah sendiri dan Kwan Liang tinggal di vila pribadi keluarganya. Dan ya saat ulang tahun Kwan Liang, aku disakiti sama Sari Lie dan Kwan Liang dan aku di cap sebagai anak kampungan yang gak punya orang tua dan keluarga.” Gumamku lirih
“Ya syukur kalau kamu di besarkan mereka dan tidak dibunuh” ucap Steven tenang
“Bersyukur ya bersyukur tapi hatiku dan perasaanku dibunuh secara perlahan – lahan, sakit tau kak” protesku
“Ya udah sekarang kan udah ada kakak dan Hasasi jadi kamu tenang aja ya”
“Baiklah kak”
“Ya udah kakak ada urusan, kalian berdua jangan nakal – nakal, Dennis tolong awasi mereka ya kalau berantem lagi kabari aku” ucap Steven sambil berlalu meninggalkan kamar kami
“Oh ya ... Fifiyan ... jaga dirimu baik – baik, kamu adikku yang paling aku sayangi” ucap Steven lalu mencium keningku
“Baik kakak yang aku sayang” ucapku dan Steven pun berlalu dari kamar
“Oh ya aku juga ada urusan, aku pergi dulu” ucap Dennis dan berlalu, sekarang hanya aku dan Hasasi saja yang ada di kamar, kami berdua diam tanpa kata - kata
“Selanjutnya ... apa?” ucapku memulai pembicaraan, tiba – tiba Hasasi memelukku dalam pelukannya
“Kamu jangan ninggalin aku lagi tau, aku gak mau kehilanganmu, bisa gila aku jika hidup tanpamu ...” ucap Hasasi lirih di sebelah telingaku
“Ih ... alay deh” ejekku sambil tertawa
“Aku gak sedang bercanda ... aku serius” ucap Hasasi tegas dan memelukku dengan erat
“I ... iya – iya aku percaya, lepasin pelukanmu ... aku gak bisa nafas tau” gumamku
“Oh ... maaf ... aku terlalu emosional” ucap Hasasi dan melepaskan pelukannya dari tubuhku
“Iya gak apa – apa kok”
“Kamu mandi dulu, kita pergi ke suatu tempat sebelum jadwal dimulai”
“Jadwal apa?”
“Ya ... biasalah orang sibuk ... nanti aku kasih tau jadwalku” gumam Hasasi
“Emang mau ke suatu tempat dimana itu?” tanyaku
“Ada aja, nanti kamu bakal tau ... udah mandi dulu sana” ucap Hasasi dan mendorongku menuju kamar mandi
“Iya – iya ... gak usah dorong kali” protesku dan aku langsung bergegas mandi
__ADS_1
Aku tidak tau Hasasi akan mengajakku ke mana kali ini, ketempat romantis kah atau kesebuah tempat yang indah, aku pun tidak tahu. Yang terpenting adalah aku udah tau kebenaran siapa yang membunuh seluruh keluarga Shinju dan juga bisa bertemu dengan kakak kandungku sendiri.