
Kami semua berjalan melintasi hutan yang sangat lebat ini, setelah penyerangan dua orang musuh itu kami belum bertemu dengan mafia manapun lagi selama beberapa hari ini. Entah kami yang tersesat atau bagaimana tapi memang kami melewati jalanan setapak dan dikelilingi semak - semak yang sangat lebat.
Selama perjalanan Wulan terus berteriak ketakutan dan sangat berisik tapi hanya Hansol yang berani memarahi Wulan karena teriakkannya akan dapat mengundang musuh datang.
"Iiiiii... Caaacciinnngg!!!" teriak Wulan keras.
"Wooy diamlah!!" protes Hansol kesal.
"Iiiihhh burung hantunya nyeremin!!!" teriak Wulan berulang kali.
"Sudah ku bilang diam ya diam !!!" protes Hansol kesal.
"Sudah lah Hansol namanya juga penakut, jangan marah - marah mulu." gumam Angel dingin.
"Bikin musuh tahu kehadiran kita tahu!!!"
"Ya tahu, mau bagaimana lagi itu istri Dennis dan Dennis yang mengajaknya, tidak mungkin kan kita tinggal." gumam Angel dingin.
"Heei beraninya kalian mau meninggalkan seorang putri di tengah hutan!!!!" protes Wulan kesal.
"Udah ah kalian bertengkar mulu, hari sudah tengah malam lebih baik kita istirahat dulu." gumam Hasasi pelan.
"Apa kamu capek?" tanya Dennis menatap Hasasi bingung.
"Bukannya capek sih, tapi kita harus mempersiapkan semuanya sebelum persiapan besok dan kita harus melakukan rapat strategi dulu." gumam Hasasi serius.
"Mmm ya benar kata Hasasi, seperti sebelumnya kita akan bertemu dengan beberapa musuh yang menyebalkan..."
"Dan tentunya yang membuat Hasasi terluka." gumam Hansol melanjutkan perkataan Hasasi dan Hasasi hanya terdiam.
"Mmm boleh juga sih, apalagi sekarang musuh kita bertambah lagi kan ya sekalian aku juga sangat capek." desah Octa merenggangkan tubuhnya.
"Emang mau beristirahat dimana?" gumam Danu pelan.
"Itu ada gua..." gumam Farkhan menunjukkan sebuah gua yang tertutup oleh pohon lebat.
"Gua? Bolehlah..." desah Hasasi menggandeng tanganku masuk ke dalam gua itu.
Di dalam gua, para pria mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh kami. Hasasi terduduk bersamaku di dinding gua, dia terlihat sangat lelah apalagi dia sering kali menggendongku kalau aku kecapekan tapi kami harus lanjut berjalan dan kami juga beberapa hari ini kehujanan selama di hutan.
"Apa kamu lelah Hasasi?" gumamku menatap Hasasi.
"Tidak kok."
"Wajahmu terlihat sangat capek."
"Ya mungkin karena sudah berjalan di hutan berhari - hari sayang, tapi jangan khawatir."
"Emang ini jalannya kah sayang?"
"Bukan, ini hanya jalan pintas."
"Kenapa tidak menggunakan jalan utama?"
"Hanya orang bodoh yang menggunakan jalan utama benarkan Hansol." gumam Hasasi menutup matanya
"Yups benar, kalau lewat jalan utama pasti banyak bertemu musuh bau kencur sedangkan kalau lewat jalan pintas kamu akan bertemu dengan mafia hebat. Dalam kata lain, waktu dan senjatamu tidak akan terbuang sia - sia."
"Oh emang tujuan utama kita siapa Tuan Hansol?" tanyaku penasaran.
Nggrooooooggkkkhhh
Aku melihat Hasasi yang sedang tidur mendengkur sambil terduduk di sebelahku, Hansol menepuk dahinya saat melihat Hasasi yang tertidur pulas itu. Aku berusaha membaringkan Hasasi dan menjadikan pahaku bantal untuknya.
"Kamu masih saja baik kepada Hasasi, Fifiyan." gumam Hansol menatapku.
"Ya dia suamiku Tuan Hansol."
"Emang kamu sudah benar - benar memaafkan Hasasi?"
"Ya bisa dikatakan seperti itu."
"Cuma kamu loh yang mau memaafkan Hasasi, padahal korbannya yang lain sangat dendam dengan Hasasi."
"Ya ibaratnya tuan Hansol mencintai Angel dan Angel itu jodoh untuk tuan Hansol tapi Angel telah menyakiti anda dengan membunuh seluruh keluarga anda, apa anda akan membencinya?" gumamku mengusap lembut rambut Hasasi.
__ADS_1
"Mmm tidak juga sih, kalau dijodohkan mau tidak mau aku akan melakukannya walaupun benci."
"Ya itulah yang aku rasakan tuan Hansol. Tuan Hansol tahu kan bagaimana Hasasi mengejarku dan berapa kali Hasasi bermain dengan banyak wanita tapi akhirnya Hasasi tetap mengejarku Tuan Hansol."
"Hmm benar juga sih, dia orang yang susah untuk mencintai wanita setelah disakiti Cindy Wu bahkan dulu sebelum bertemu denganmu dia di cap pecinta sesama jenis karena dia sangat anti terhadap wanita. Padahal dia masih menutup hati untuk mencarimu wanita yang dijodohkan untuknya itu."
"Ya Tuan dan Nyonya Stun pernah bercerita seperti itu tuan Hansol, apalagi tuan dan nyonya Stun melarang siapapun bahkan wanita lain menikah dengan Hasasi dan harus aku yang menikahinya."
"Begitulah keluarga Stun, apapun yang diinginkan harus dilakukan..." desah Hansol pelan.
"Hmmm tuan Hansol sebenarnya tujuan akhir kita kali ini siapa?" tanyaku bingung.
"Tujuan kita adalah kelompok pemberontak dan anggota mafia pusat yang menjadi kelompok pemberontak."
"Jadi tujuan kita bukan ..."
"Yups, tujuan kita berbeda dengan survival sebelumnya. Kali ini kita membantu polisi militer mafia untuk menangkap mereka para pemberontak sebelum perang dunia mafia dimulai."
"Perang dunia mafia?" tanyaku bingung.
"Yups benar... Tapi tenang saja organisasi kita tidak ikut perang itu."
"Kenapa?"
"Hasasi tidak menginginkannya, dia ingin mengurus perusahaannya dan keluarganya apalagi kamipun sama. Jadi karena kami tidak ikut perang itu makanya organisasi memberikan kita dan organisasi lain yang tidak ikut perang dunia mafia tugas menghabisi semua anggota organisasi pemberontak kalau bisa sekalian ketuanya"
"Kalau ketua terbunuh bukannya perang dunia tidak akan ada?"
"Organisasi yang menentang adanya mafia pusat itu ada beberapa, salah satunya organisasi pemberontak"
"Oh begitu ternyata... Hmmm tapi tuan Hansol kalau kita melewati jalan pintas ini kira - kira kita akan menempuh berapa hari?"
"Tidak sampai berminggu - minggu. Kalau besok bertemu mafia itu kita bisa selesai lebih cepat, bisa saja seminggu tugas kita kelar dan kita pulang..."
"Mmmm tuan Hansol, menurut tuan Hansol siapa yang akan terluka di kelompok ini?"
"Kalau boleh aku bilang, Wulan yang akan terluka atau bahkan terbunuh."
"Kenapa tuan Hansol berkata seperti itu?"
"Ya dia bukan dari anggota mafia dan bukan ketua mafia"
"Ya tapi kalian berbeda. Kamu sudah 20 tahun lebih bersama si Hasasi ini dan kamu juga tahu seperti apa Hasasi saat melakukan tugas mafianya, kamu sudah tidak asing dengan mafia sedangkan Wulan dia sama sekali tidak mengerti dunia mafia, masuk hutan saja terus berteriak membuat kepalaku pusing!" gerutu Hansol kesal.
"Tapi kalau musuhnya mengenal aku, pasti mereka menargetkanku tuan Hansol."
"Ya pastinya, tapi apa kamu kira Hasasi akan memberikan musuh kesempatan untuk melukaimu? Kalau sampai kamu terluka sedikit saja, Hasasi tidak akan tanggung - tanggung membunuh mereka semua, seperti saat kamu terbaring di rumah sakit dulu, kamu tahu sendirikan bagaimana dia marah saat melihatmu terluka?" gumam Hansol serius.
"Hmmm ya aku tahu tuan Hansol, sangat menakutkan.." desahku pelan.
"Makanya itu aku katakan pasti Wulan yang akan terluka atau bahkan terbunuh."
"Hmmm.." desahku menatap Wulan yang sedang bermesraan dengan Dennis.
"Kalau dia benar - benar terluka bagaimana tuan Hansol?"
"Tidak tahu sih, tapi tenang saja Dennis tidak akan membiarkan istrinya terluka." gumam Hansol santai.
"Hmmm benar juga sih."
"Hansol, organisasi Elang Hitam dan organisasi Ular Putih datang tuh." gumam Octa berjalan kearah kami.
"Oh ya? Kenapa mereka datang?" gumam Hansol bingung
"Tuh ketua yang menyuruh mereka membantu kita"
"Membantu kita? Untuk apa?"
"Ketua yang menyuruh kami membantu kalian, ketua juga sudah menyampaikan kepada Octa. Tadi katanya Hasasi tidak bisa dihubungi." ucap seorang pria serius.
"Tuh dia tidur...." gumam Hansol menunjuk Hasasi yang tidur di pahaku
"Haish masih bisa - bisanya ketua kalian tertidur..." desah seorang pria menggelengkan kepalanya.
"Dia sedang tidak enak badan, biarkan dia beristirahat sebentar. Kalau dia tidak beristirahat takutnya seperti di tahun lalu seperti orang pengecut.." gumam Hansol dingin.
__ADS_1
"Hmm ya benar juga sih."
"Sebentar lagi pasti dia bangun, kalian istirahat saja dulu sambil memakan hasil buruan bawahanku..." gumam Octa berjalan di perapian.
"Oh benarkah? Tepat sekali kami juga lapar" desah pria itu mengikuti Octa dari belakang. Aku menatap beberapa pria itu dan aku sama sekali tidak mengenal mereka.
"Eeehh kenapa tuan Hansol bilang Hasasi tidak enak badan?"
"Hasasi kalau bisa ketiduran seperti itu pastinya dia sedang capek dan tidak enak badan, apalagi beban dia kali ini bertambah di kamu jadi wajar saja dia kecapekan. Walaupun tidak seperti biasanya tapi aku masih memaklumi kalau dia bisa ketiduran seperti itu..." desah Hansol meminum minumannya.
"Hmmm, maaf ya Hasasi aku menyusahkanmu." gumamku pelan sambil terus menatap Hasasi.
"Tidak apa, aku suamimu jadi wajar aku menjagamu istriku." gumam Hasasi pelan.
"Kamu sudah bangun?"
"Sebenarnya belum sih, tapi suara mereka sangat berisik!!" gerutu Hasasi menyembunyikan wajahnya di pakaianku.
"Mentang - mentang ada istrimu saja kau sangat manja Hasasi!!"
"Ya pastilah, emang kau iri?"
"Iri? Enggak, aku hanya ingin menikmati hidupku menjadi seorang jomblo sejati sebelum wanita galak itu menjadi istriku nanti." gumam Hansol santai
"Kalau kelamaan nanti Angel diambil orang lain loh." sindir Hasasi pelan.
"Tidak masalah, wanita cantik di depanku bisa ku jadikan istri."
"Dia milikku dan gak boleh ada yang mengambilnya!!!" gerutu Hasasi terus menyembunyikan wajahnya sambil memelukku erat.
"Hilih, kau semakin tua Hasasi sedangkan istrimu masih muda darimu loh."
"Sampai matipun aku tidak akan mengikhlaskan istriku menjadi milik orang lain!!"
"Hilih Hasasi bacot, bangun kau pemalas...!!!" gerutu octa kesal.
"Apa sih berisik?"
"Tuh dicariin dua organisasi tuh" gerutu Octa kesal, Hasasi membuka handphonenya dan membaca beberapa pesan di handphonenya.
"Kamu mendengarku enggak!!!" gerutu Octa kesal.
"Ya aku mendengarmu. Biarkan mereka beristirahat dulu..." desah Hasasi kembali menyembunyikan wajahnya di pakaianku.
"Wooy bangun jangan tidur lagi!!!"
"Aku tidak tidur, aku sedang menelepon ketua mafia pusat!!!"
"Oohh..." desah Octa berjalan kembali di perapian, aku mendengar Hasasi sedang menelepon seseorang dengan nada serius.
"Oke aku mengerti" gumam Hasasi menutup teleponnya.
"Ada apa Hasasi?" tanya Hansol penasaran.
"Ya mereka memang di kirim untuk membantu kita."
"Oh kalau jelas seperti itu baru aku sedikit lega" desah Hansol pelan.
"Ya sebenarnya selain mereka ada organisasi tertinggi lainnya tapi mereka berada di jalan pintas lainnya dan hanya dua organisasi ini yang terdekat dengan kita."
"Tidak masalah, mereka juga kuat kok." gumam Hansol pelan.
"Ya lumayanlah dapat partner mereka..." desah Hasasi terduduk di sampingku.
"Baiklah mari kita pertemuan, biarkan yang wanita beristirahat terlebih dahulu..." desah Hasasi serius.
"Dennis, Farkhan, Jiwon, Danu, Dimas mari rapat... Yang perempuan kalian tidurlah" gumam Hansol berjalan menuju api unggun dan mereka berjalan ke api unggun juga.
"Sayang kamu tidur saja dulu ya..." gumam Hasasi serius
"Kamu tidak tidur lagi?"
"Nanti setelah pertemuan aku tidur kok jangan khawatir."
"Hmmm baiklah, jangan sampai tidak tidur Hasasi."
__ADS_1
"Ya aku tahu sayang..." desah Hasasi mencium keningku dan berjalan menuju ke perapian.
Aku merebahkan tubuhku dan menatap langit - langit gua, terlihat remang - remang dan sedikit dingin. Aku memikirkan rencanaku sendiri, aku harus bisa melindungi diriku ataupun menjaga Hasasi apalagi kejadian besok tidak ada yang tahu bagaimana akhirnya. Aku harus bisa meminimalkan diriku ataupun Hasasi untuk tidak terluka oleh musuh.