Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 156 : Bertemu Kakek Dan Nenek Hasasi


__ADS_3

Aku berlari menjauhi keluarga besar Stun, aku bukan untuk sedih bukan karena aku ingin menangis atau bukan aku ingin apapun, aku cuma tidak mau marah di depan keluarga Stun apalagi saat itu ada orang tua Hasasi, bagaimanapun juga aku harus menahan emosiku di depan calon mertua


"Fifiyan..." teriak Hasasi dari belakang tapi aku tidak memperdulikannya


" Fifiyan!!" teriak Hasasi sekali lagi dan Hasasi langsung menggenggam tanganku


"Apa?" gumamku


"Kamu mau pergi kemana lagi??" tanya Hasasi khawatir


"Aku gak pergi kemana - mana"


"Enggak kemana - mana gimana kamu ninggalin aku!" protes Hasasi


"Ya emang aku gak kemana - mana Hasasi" gumamku


"Kamu kenapa berlari?"


"Tidak kenapa - napa, hanya ingin berlari saja"


"Lalu kamu berlari mau kemana?" ucap Hasasi mengeratkan genggamannya


"Aku ... hanya pengen menghindari keluarga besarmu, takut aja aku gelap mata langsung menampar mereka di depan orang tuamu" gumamku


"Hmmm kamu tidak marah?"


"Ya marah sih tapi gak banget" gumamku


"Hmmm maafkan group rempong keluarga besarku ya, mereka tadi tuh adik sepupu ayahku. Sukanya ngurusin hidup orang dan sukanya nyari kesalahan orang" gumam Hasasi


"Oh no problem. aku tahu kok, aku cuma gak mau marah ke mereka aja. Apalagi tadi aku hampir marahin kamu karena kamu ngomongin keluargaku waktu dimobil" gumamku


"Tapi kamu gak apa kan?"


"Enggak... aku biasa aja"


"Syukurlah... kalau gitu ayo kembali ke pesta"


"Enggak ah.. aku nunggu di mobil aja kamu aja kesana"


"Tidak apa Fifiyan, pasti orang tuaku udah mengurus mereka"


"Mengurus mereka gimana maksudnya?"


"Ya di susunan keluarga besar Stun. Tatanan keluarga Stun, keluargaku yang derajatnya paling tinggi. Makanya pasti ayah dan ibuku mengurus mereka dan juga ingin menjagamu" gumam Hasasi meyakinkanku


"Kenapa orang tuamu pengen menjagaku?"


"Ya kan kamu istriku, mereka juga akan menjagamulah seperti kata - kataku di mobil"


"Hmmm..." desahku


"Udah tenang saja, ayolah Fifiyan" gumam Hasasi menarik tanganku


"Ta... tapi!!"


"Udah percaya aja sama aku" gumam Hasasi menarikku kembali ke pesta


Hasasi terus menggenggam erat tanganku mungkin takut kalau aku akan berlari lagi. Saat aku mencoba melepaskan ganggamannya, Hasasi malah terus menggenggamku dengan erat. keluarga Stun juga yang semula menatapku aneh sekarang menjadi biasa saja dan tersenyum tulus kepadaku.


"Mmm Hasasi" bisikku lirih


"Iya sayang"

__ADS_1


"Mmm kenapa keluarga besarmu jadi tersenyum kepadaku, tadi mereka menatapku aneh" gumamku


"Yaaa... mungkin udah dikasih tahu orang tuaku mungkin" gumam Hasasi


"Dikasih tahu apa?"


"Ya dikasih tahu kamu istriku" gumam Hasasi mencubit hidungku


"Kamu suka banget sih nyubit hidungku!!" protesku


"Ya hidungmu imut sih, kenapa dulu enggak kamu operasi plastik nih hidung" gumam Hasasi gemas


"Enggak ah... jadi aneh tahu" gumamku terus berjalan ke aula pernikahan


Di depan pintu aula berdiri Daniel bersama dengan istrinya yang memakai gaun pengantin yang sangat indah


"Oh hai Hasasi... hai juga manis" ucap Daniel ramah


"Kamu ini udah nikah juga masih gangguin istri orang" gumam Hasasi kesal


"Ya dari dulu aku kan memanggil dia manis"


"Heleh..." desah Hasasi kesal


"Oh ya selamat tuan Daniel dan istrinya" ucapku ramah


"Terimakasih manis" gumam Daniel


"Terimakasih... oh ya panggil aku Saskia Huan" ucap wanita itu ramah


"Aku Fifiyan Shinju, salah kenal" ucapku ramah


"Salam kenal juga Fifiyan"


"Mmm yang kamu latih angkat beban tiap hari itu?"


"Iya.. dulu dia sangat gemuk tapi dengan niatnya Fifiyan dan giatnya Fifiyan sekarang dia bisa selangsing ini"


"Waah... keren banget" gumam Saskia terkagum


"Oh ya Fifiyan, akhirnya kamu bisa menguruskan badanmu ya" ucap Daniel menatapku


"Iya tuan... ini juga berkat tuan Daniel yang membantuku menguruskan badanku"


"Hei aku juga ya!!" protes Hasasi


"Iya - iya... kamu ini kayak anak kecil aja Hasasi" gumamku


"Ya emang dia anak kecil Fifiyan" sindir Daniel sambil tertawa


"Hmmm kamu ini Daniel" protes Hasasi kesal


"Ya udah kalian berdua nikmatilah jamuan yang sudah di sediakan... aku dan istriku mau berkeliling lagi"


"Baiklah tuan... terimakasih" ucapku sambil menundukkan badan dan mereka berdua pergi dari depan kami


"Kamu mau makan dulu?"


"Nanti ah... tadi baru makan ramen juga" gumamku


"Baiklah... mau jalan - jalan dulu?"


"Jalan - jalan kemana?"

__ADS_1


"Ya sekitar sini aja biar kamu di kenal keluarga besarku"


"Tapi nanti di bahas tentang keluargaku lagi" gumamku


"Tidak - tidak, tenang aja" gumam Hasasi menggandeng tanganku masuk ke aula yang besar itu


"Mmm...Hasasi, ini pernikahannya udah selesai?" tanyaku polos


"Udah... makanya tadi Daniel udah bersama dengan istrinya"


"Jadi... kalau udah selesai kenapa tetep dateng" gumamku


"Ya... kan gak enak aku kalau tidak datang Fifiyan... nanti pernikahan kita gak ada yang datang gimana coba"


"Mmm iya juga sih" gumamku mengikuti langkah Hasasi


Tiba - tiba datang pasangan suami istri yang mendekati kami berdua, pasangan suami istri itu terlihat sudah renta tetapi masih sangat serasi berjalan berdua


"Kakek... nenek" ucap Hasasi memberi hormat dan aku mengikuti Hasasi memberikan hormat


"Ohh cucuku sekarang sudah besar ya" ucap nenek sambil mengusap bahu Hasasi


"Nenek dan kakek sehat?"


"Kami sehat cu" gumam kakek


"Inikah yang dibilang ibumu calon istrimu?" tanya nenek menatapku


"Iya nek"


"Aahh... cantik dan sopan, namamu siapa cu?"


"Saya Fifiyan Shinju nek" ucapku ramah


"Aahh anak tuan Shinju ya... bagaimana kabarnya cu?"


"Baik nek, kakek dan nenek sehat - sehat terus ya" gumamku ramah


"Semoga aja cu... bagaimana?... apakah Hasasi nakal?... kalau nakal beritahu nenek sama kakek ya" ucap nenek tertawa


"Iya siap nek ... nanti saya beritahu nenek sama kakek kalau Hasasi nakal"


"Cucu nenek sama kakek yang paling ganteng ini mana mungkin nakal" ucap Hasasi bangga


"Heleh... kamu tuh sering nakal apalagi mainin perasaan wanita" ejek kakek


"Iihh tidak lah kek, itu kan dulu... sekarang sudah punya Fifiyan jadi gak nakal lagi" gumam Hasasi bangga


"Baguslah kalau kamu sadar, ayah ibumu saja sampai angkat tangan mengatasi kamu tuh" gumam nenek geleng - geleng kepala


"Ya namanya laki - laki pasti nakal" gumam Hasasi


"Terserah kamu aja... oh ya cu, mari ikut kakek sama nenek" ucap nenek menggandeng tanganku


"Memang mau kemana nek?"


"Ada sesuatu hal yang nenek sama kakek beritahu kepadamu"


"Aku gak di ajak nek?" tanya Hasasi


"Boleh kamu ikut sekalian" gumam kakek berjalan mendahului kami


Nenek terus menggandeng tanganku dengan lembut mengikuti kakek yang berjalan menghindari keramaian orang yang datang, aku sendiri penasaran apa yang akan mereka sampaikan kepadaku

__ADS_1


__ADS_2