
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi dan aku masih belum tidur, aku melihat Alex yang sedang tidur pulas di kasur sebelah tanpa bergerak sama sekali sedangkan aku bingung mau ngapain, pikiran kacau memikirkan hal yang gak penting banget. Dan karena waktu semakin beranjak pagi akupun memaksakan mataku untuk terpejam.
Entah kenapa aku saat ini berada di suatu pantai yang pernah aku kunjungi waktu kecil dan merasa ada yang memanggil - manggil namaku dari belakang
"Fifiyan... Fifiyan tunggu" teriak seseorang di belakangku
"Hey... Fifiyan tunggu" teriakan suata itu semakin terasa jelas di telingaku. Aku tidak berani menengok ke belakang karena takut orang asing yang memanggilku, apalagi suasana di pantai itu sangatlah sepi jadi aku teruskan dan mempercepat langkahku untuk menghindari suara itu. Namun tiba - tiba tanpa di sangka ada seseorang yang menepuk bahuku dengan lembut
"Hei Fifiyan, kau tidak mendengarkanku?" protes seseorang di belakangku dan akhirnya akupun menatap orang yang lebih muda dari aku
"Kakak... ada apa mencariku?" tanyaku
"Kamu ngapain disini sendirian, kamu kan masih kecil gak boleh ke pantai sendirian" protes kakakku
"Tapi kan aku udah dewasa!" protesku
"Dewasa dari mana?, kamu masih anak kecil umur 5 tahun kok bilang dewasa" protes Steven
"Tapi aku kan udah umur 25 tahun" protesku balik
"Heh kamu selalu mengkhayal jadi orang dewasa"
"Iihh serius kak..."
"Udahlah jangan kebanyakan berkhayal, ayo cepat pulang ke rumah... kamu ditungguin ayah sama ibu" ucap Steven dan menarik tanganku
"Ayah ... Ibu?" tanyaku kaget
"Iya... mereka sedang memasak makanan enak buat kita, kamu tidak mau ketinggalan kan?" ucap Steven senang
"Bukannya ayah dan ibu sudah... meninggal?" ucapku lirih
"Kamu ngomong apa sih?.... ayah dan ibu masih sehat, kamu jangan mengada - ada kenapa?" protes Steven dan terus menarik tanganku
"Ta... tapi?"
"Udah ayo..." ucap Steven dan menarikku menuju ke rumah kami yang jaraknya tidak jauh dari pantai
"Tuh, ayah dan ibu sedang memasak steak sapi kesukaanmu" ucap Steven menunjuk di depan kami
"Ayah.... Ibu" teriakku senang
"Hay Fifiyan, kemari... ayo makan bersama" ucap ibuku dengan lembut
"Ba... baiklah" gumamku senang dan membantu ibuku dan pembantuku menyiapkan makanan bersama
"Ayo... kita duduk bersama" teriak ayah dari meja makan yang ada di luar rumah dan kami berempat makan bersama - sama
Ini adalah kenangan sebelum terjadinya insiden pembantaian yang terjadi saat waktu aku kecil, entah kenapa terasa nyata sekali dan sangat biasa tanpa ada tanda - tanda apapun... semua terlihat biasa saja dan aku menikmati momen tersebut saat ini
Kami makan bersama dengan santai dan sedikit candaan dan gurauan yang keluar dari mulut ayah, ibu dan kakak. Kecuali aku yang hanya diam menyantap makanan di depanku.
"Papa... bagaimana dengan pernikahan Fifiyan itu?" tanya ibuku yang membuatku kaget dan hampir tersedak steak sapi yang ada di mulutku
"Ya aku akan melakukan pembatalan besok ke keluarga Guan" tanya ayah sambil memotong steak dengan pisau
"Lalu?" tanya ibuku lagi
"Aku akan menikahkan Fifiyan dengan keluarga Stun itu saja, aku sudah menyiapkannya dengan Tuan Stun semua persiapannya" ucap ayah santai
"Me... menikah?" teriakku kaget
"Kamu masih kecil sayang, nanti kamu akan tahu sendiri apa itu menikah" ucap lembut ibuku dan membelaiku dengan lembut
"Aku sudah umur 25 tahun ibu" protesku dan keluargaku tertawa terbahak - bahak
"Hahaha... kamu lucu banget sih nak, kamu masih umur 5 tahun... jangan mikir tentang menikah dulu ya sebelum usiamu dewasa" ucap ibu mengingatkanku
__ADS_1
"Ta... tapi..." gumamku dan melihat badanku dari kaca depan rumah dan ternyata benar apa yang dikatakan keluargaku aku anak kecil yang masih umur 5 tahun
"Kamu harus belajar yang rajin ya biar bisa setara dengan keluarga Stun yang dikenal dengan keluarga terpintar itu" ucap Steven menasehatiku
"Tapi... kenapa ayah ingin membatalkan pernikahan bisnisku dengan keliarga Guan?" tanyaku polos
"Karena... setelah dipikir - pikir lebih baik kamu menikah dengan Hasasi dari keluarga Stun saja... apalagi surat pembatalannya sudah ayah siapkan dan tersimpan di ruang rahasia rumah" jelas ayah
"Lalu... untuk surat persetujuan pernikahan dengan Hasasi berada dimana?" tanyaku penasaran
"Kamu masih kecil nak!" protes ibu
"Aku ingin tahu ibu, karena ini masalah penting" gumamku penasaran
"Kamu kayak udah dewasa saja memikirkan tentang pernikahan" ucap Ibuku dengan khawatir
"Udahlah gak apa - apa, ayah kasih tahu. Surat itu berada di ruang rahasia rumah kita juga, tapi sudah di tanda tangani oleh Tuan Stun. Surat pernikahanmu dengan keluarga Stun ada di brankas, unruk surat pembatalan ada di atas meja kerja ayah dan bahkan kami sudah membelikan kalian cincin pernikahan"
"Cincin itu ada dimana sekarang?" tanyaku yang terus penasaran
"Sedang di bawa tuan Stun"
"Waah keren" gumamku senang
"Tapi kan Fifiyan masih kecil pa!" protes Steven
"Kalau kamu laki - laki jadi tidak ada persiapan khusus sebelum kamu dewasa"
"Ya gak bisa gitulah yah... itu gak adil" protes Steven
"Tenang saja, kamu masih kecil... semua untuk kebahagiaan kalian sudah ayah atur" ucap ayah santai
Disaat kami asik mengobrol tiba - tiba terdengar dua suara tembakan yang sangat keras dan terkena dada ayahku sehingga ayahku langsung terjatuh dari kursi makan
"Ayaaaahhh" teriakku kaget
"Gak mau... aku gak mau"
"Ayah bilang pergi...!!!" teriak ayah dan ibuku dan pembantu yang sedang berada di luar langsung menarikku pergi dari depan rumah
Tapi terdengar suara tembakan lagi yang membuatku terkejut karena tembakan itu terkena ke perut ibuku
" Ibuuuu... " teriakku sedih
"Pergilah nak... jangan sampai kamu tertangkap" ucap ibuku lemas dan pembantu itu terus menarikku menjauhi area tersebut namun, kakaku Steven melepaskan genggamanku dan berhenti
"Tuan muda, ayo lari" ucap pembantuku panik
"Tidak apa, bibi jaga Fifiyan aja, biar aku yang menghadapi mereka" ucap Steven serius dan pembantuku menarikku menjauhi lokasi teesebut dan masuk ke dalam rumah
Entah apa yang terpikirkan oleh pembantuku untuk masuk ke dalam rumah, ingin sekali aku menarik tanganku tapi tidak bisa bergerak sesuai keinginanku sehingga aku terus mengikuti langkah kaki pembantuku dan akhirnya kami sampai di atas loteng rumah kami mirip sekali dengan kejadian dulu
"Nona, nona disini saja ya...aku akan melindungi nona" ucap pembantuku dengan nafas terengah - engah
Dari dalam loteng aku mendengar banyak syara tembakan yang sangat kencang dan membuatku merinding dan ketakutan melihat badanku bergetar, pembantuku memelukku dan menenangkanku
"Nona jangan takut... ada aku disini"
Tidak berapa lama suara tembakan mereda tapi tiba - tiba pintu loteng di dobrak dan kelihatan banyak laki - laki yang memegang pistol ke arah kami
"Kemarikan anak kecil itu" teriak salah satu laki - laki itu
"TIDAK AKAN" teriak pembantuku dan langsung terdengar suara tembakan yang membuat pembantuku tersungkur ke lantai
"Hei anak kecil kemarilah ... jangan melawan" ucap salah satu pria berbadan besar mendekatiku
"Aku tidak mau" teriakku karena takut aku lompat dari jendela dan menceburkan tubuhku ke dalam danau
__ADS_1
Di dalam air danau aku kehabisan nafas, aku teriak minta tolong tidak bisa, tubuhku terlalu lemah untuk bisa bertahan hidup apalagi aku tidak mau mati disini
"TIDAK... TIDAK... TOLOOONG" teriakku kencang dan tiba - tiba ada yang menggoyang - goyangkan tubuhku dan mememanggil namaku
"Fifiyan bangun ada apa?" teriak seseorang dan terus menggoncangkan tubuhkku
"TIDAK.. AKU TIDAK MAU" teriakku lagi dan seseorang terus menggoyang - goyangku tubuhku lebih keras.
"Hey Fifiyan bangun" teriak seseorang terus - terusan dan mataku langsung terbangun dari tidurku
Ternyata Pagipun menjelang, matahari menyinari kamarku. Aku hanya tidur beberapa jam saja dan itupun aku bisa bermimpi saat aku berada di situasi pembantaian terjadi. Aku ketakutan, wajahku pucat, dan keringat dingin membasahi tubuhku. Aku melihat Alex memandangku dengan khawatir.
"Ada apa Fifiyan... kenapa kamu teriak- teriak?" tanya Alex
"Ti... tidak ada, aku cuma bermimpi buruk" gumamku lirih
"Mimpi apa?" ucap Alex memberiku segelas air putih dan aku langsing menghabiskannya
"Aku tidak tau, aku tidak ingat jelas" gumamku menyembunyikan masalah mimpiku kepada Alex
"Ya udah tenang ya, itu cuma mimpi saja, jangan dipikirkan" ucap Alex lembut dan aku tersenyum tipis
"Alex aku ingin ke Jepang" gumamku
"Mau ngapain kesana?"
"Mau kesuatu tempat"
"Nanti ya, kita liat dulu jadwalnya ya" ucap Alex mwnenangkanku
"Aku maunya sekarang!" protesku
"Tidak bisa... aku ada banyak agenda bulan - bulan ini, nanti ya kalau ada jadwalnya aku temani kamu ke Jepang" ucap Alex lembut dan kembali ke depan laptopnya
"Kamu lagi ngapain?" tanyaku duduk di kasur
"Aku lagi mengerjakan proposal, bentar lagi mau rapat dengan Hasasi"
"Rapat apa?"
"Pembahasan ulang peringkat perusahaan"
"Cuma itu doang?"
"Iya, cuma itu doang kayaknya"
"Bukannya kamu lagi marah sama Hasasi ya?"
"Ya sih tapi mau bagaimana lagi, aku harus profesional kalau masalah pekerjaan"
"Mmm iya juga sih, sini biar aku kerjain aja" ucapku menghampiri Alex
"Tidak perlu, kamu hari ini libur aja"
"La terus yang mau presentasi siapa?"
"Aku aja, kamu tetap disini aja tunggu aku selesai mengerjakannya"
"Kenapa tidak boleh ikut?"
"Ya ini rapat dengan para petinggi perusahaan jadi selain dengan Hasasi ada petinggi lain yang hadir apalagi ada ketua asosiasi juga"
"Hmmm iya udah deh, aku jalan - jalan boleh gak?"
"Boleh asal jangan jauh- jauh"
"Iya - iya bawel aku bukan anak kecil lah" gumamku menuju ke kamar mandi
__ADS_1
Aku segera membersihkan badanku agar rileks dengan beban - beban yang membuatku merasa rasanya sakit kepala. Air hangat dan sabun bunga mawar dicampur dengan susu kambing yang membuat badanku mulai nyaman dan sangat termanjakan. Apakah mimpiku itu emang benar terjadi atau hanya bunga tidurku saja, apalagi aku belum tahu apakah ayah benar - benar menyimpan surat - surat itu di ruang rahasia. Dan kalau untuk melihat benar atau hanya bunga tidur jadi aku harus kembali ke Jepang menuju ke rumah keluarga Shinju dulu untuk mencari brankas surat - surat yang di simpan ayah.