
Setelah aku berganti baju, aku dan Hasasi segera bergegas menuju lantai paling atas dari Menara Eiffel, kami berlari menuju lift yang ada di depan kamar dan tanpa menunggu waktu lama menunggu kami sudah berada di lantai atas menara ini.
Di lantai paling atas Menara Eiffel ini aku melihat banyak sekali tamu undangan yang mamakai gaun mewah sama halnya yang aku pakai. Kebanyakan mereka berpasangan dan seperti pasangan yang romantis. Saat kami tiba di acara tersebut, ternyata acaranya sudah dimulai dan mereka sedang menunggu Hasasi seorang. Begitu kami keluar dari lift sorot lampu mengikuti langkah kaki kami dan disambut oleh pembawa acara dan juga tepukan meriah para undangan yang hadir.
“Welcome, Tuan muda Hasasi Stun CEO dari PT. Stun. Perusahaan pertama terbesar di dunia ini” sambut pembawa acara. Tanpa berkomentar diapun memasang wajah datar dan menarik tanganku layaknya pasangan yang sangat romantis.
“Wow... Dia yang menggantikan Tuan Stun?” tanya salah satu CEO berjas Hitam
“Dia boleh juga, kalau dia tidak punya pasangan aku mau kok jadi pasangannya” kata salah satu wanita dengan gaun berwarna hijau muda yang sangat indah
“Hei... kamu milikku” protes pria di sebelahnya
Aku mendengarkan pembicaraan mereka dari sudut manapun di ruangan mewah ini, tetapi ada satu suara yang bikinku kaget
“Fifiyan pasangan dengan Hasasi Stun ... dan ... Hasasi Stun itu CEO yang selama ini berkuasa di PT. Stun. Bagaimana cara bekerjasama dengan mereka setelah aku membuat keributan beberapa bulan yang lalu” celoteh seseorang wanita yang cantik dengan rambut digulung dan memakai gaun berwarna biru muda yang sangat indah
“Apa kok bisa ya Fifiyan jadi pasangan Hasasi malam ini sih?... Dia kan orang miskin enggak pantes pasangan dengan Hasasi yang kaya dan menguasai seluruh perusahaan di dunia ini. Kalau tau Hasasi itu CEO perusahaan yang menguasai perusahaan aku enggak akan berpaling dari dia” celotehnya lagi
“Hust... Diam lah” kata seorang pemuda di sebelah wanita itu. Dan yang aku tahu itu adalah Sari Lie dan aku melihat Kwan Liang hanya bisa terdiam membisu saat Sari Lie mengatakan hal seperti itu.
Jujur saja aku ingin sekali datang kesana untuk menamparnya, namun saat aku ingin beranjak tangan Hasasi semakin erat memegang tanganku, aku paham apa yang dimaksudkan dia. Dia ingin aku mengikuti permainan darinya dan aku tidak tau apa rencana selanjutnya.
“Hei Hasasi lepasin, aku ingin menampar Sari Lie” bisikku
“Kenapa?” tanya Hasasi
“Di mata dia hanya bagaimana cara mendapatkan harta dan suka menyakiti orang, aku tidak terima itu”
“Tidak perlu, ikuti saja permainannya” ucap Hasasi
“Oke ... oke terserah kamu...” ucapku lirih
Kamipun berjalan menuju podium yang megah lalu kami berdiri menghadap para undangan yang kira – kira ada ratusan orang itu.
“Selamat datang Tuan Hasasi Stun, selamat datang nona Stun” ucap Pembawa acara
“Iya, terimakasih” jawabnya singkat
“Baiklah, karena Tuan Hasasi sudah berada disini ... kita akan mulai peresmian pemilik PT.Stun... yaitu ... Tuan Hasasi Stun” teriak pembawa acara dan para tamu undangan bertepuk tangan
“Silahkan Tuan Hasasi memberi sambutan ...”
“Terimakasih untuk para tamu undangan yang sudah hadir dalam acara kami, mohon kerjasamanya” ucap Hasasi dan para tamu undangan bertepuk tangan sekali lagi
“Acara selanjutnya adalah makan bersama, silahkan untuk para tamu undangan menikmati makanan yang telah disediakan” ucap pembawa acara dan tamu undanganpun bergegas mengambil makanan yang disediakan
“Kamu mau makan?” tanya Hasasi tiba – tiba
“Aku ingin salad aja”
“Ya udah tunggu disini, jangan kemana – mana” ucap Hasasi dan dia berlalu pergi untuk mengambilkan salad untukku
Aku menunggu sendirian di pojok ruangan seperti orang hilang, ditengah ruangan aku melihat Hasasi sedang mengambilkan aku salad sambil mengobrol dengan teman – temannya.
“Hasasi lama banget sih, aku kayak orang bego disini sendirian” Protesku dalam hati
Disaat aku kesal dengan Hasasi, tiba – tiba ada suara yang mengagetkanku
__ADS_1
“Fifiyan...” sapa orang itu sambil menepuk pundakku
“Ehhh ... kamu bikin kaget aja” protesku lalu aku melihat wajah Kwan Liang
“Kwan ... Liang ...” teriakku
“Huusstt ... jangan kenceng – kenceng”
“Kamu ngapain ke sini, kalau Sari Lie tau dia pasti marah” ucapku
“Tidak, dia sedang ada di kamar mandi, aku ingin mengobrol sesuatu denganmu”
“Apa itu?” tanyaku penasaran
“Mau gak pacaran denganku lagi?” tanya Kwan Liang dengan serius
“What ... perkataan macam apa itu” teriakku kaget
“Aku serius, aku tidak akan main – main lagi denganmu” jelas Kwan Liang
“Tapi ... kenapa kamu kemarin ngelakuin seperti itu pas kita masih pacaran?” tanyaku
“Itu akar permasalahannya Sari Lie, dan aku sadar ... di hatiku masih ada kamu” jelas Kwan Liang
“Bagaimana Fifiyan, kita balikan yah?” tanya Kwan Liang dengan penuh harapan
Belum aku menjawab pertanyaan Kwan Liang, tiba – tiba Hasasi Stun menarik tanganku
“Ayo pergi Fifiyan” ucap Hasasi sambil menarik tanganku
“Apa lagi yang mau kamu omongin .... apa kamu gak puas sudah mengambil Sari Lie ... sekarang ... kamu mau mengambil Fifiyan dari tanganku ... jangan harap” teriak Hasasi dan Hasasi tetap menarik tanganku menjauh dari Kwan Liang, disaat bersamaan aku melihat Kwan Liang dengan wajah sedih melihat aku dan Hasasi pergi meninggalkannya.
Hasasi menarikku dengan penuh emosi, aku tahu kejadian ini membuatnya keingat saat Sari Lie diambil oleh Kwan Liang. Hasasi terus menerus menarikku sampai ke lantai Menara Eiffel paling atas. Setelah Hasasi menarikku sedari tadi, Hasasi berhenti di luar Menara Eiffel, betapa aku kagum melihat indahnya Kota Paris dengan lampu berkelap kelip ditambah rembulan purnama yang sangat indah sehingga menambah keindahan Kota Paris.
“Waw ... Indahnya” gumamku kagum melihat pemandangan Kota
Tapi Hasasi diam tanpa suara, aku langsung meliriknya wajahnya terlihat sedih. Ini pertama kalinya Hasasi menunjukkan muka sedih dihadapanku
“Kamu kenapa?” tanyaku, tapi dia tetap diam tanpa kata
“Hasasi, jawablah” protesku, kemudian Hasasi memandangku dengan serius tapi tidak berapa lama kemudian Hasasi meneteskan air mata
“Kamu menangis?” tanyaku kaget, tapi Hasasi tetap diam
Pertama kalinya Hasasi menangis, seorang yang dingin juga bisa menangis seperti ini. Karena aku merasa tidak beres, akupun memeluknya dengan erat tapi tangis Hasasi semakin menjadi – jadi
“Udahlah Hasasi jangan menangis seperti ini, ada masalah apa? ... ceritakan ke aku” pintaku sambil mengusap air mata Hasasi
“Enggak apa – apa” jawab Hasasi
“Jangan bohong, katakan saja apa yang membuatmu sedih”
“Ak ... aku ... takut ... kehilanganmu” ucap Hasasi sambil terbata – bata
“Kan aku tidak kemana – kemana” ucapku menghiburnya
“Kamutadi kan ngobrol sama Kwan Liang” protes Hasasi
__ADS_1
“Iya kan ngobrol biasa gak ngobrol yang lainnya” jelasku
“Tapi... tapi ... kamu tadi ... ngomong iya saat Kwan Liang bilang ngajak balikan”
“Siapa yang bilang iya, aku belum menjawab apapun kamu udah narik aku”
“Serius”
“Iya aku serius sayang” jawabku sambil memeluk dia agar dia tau kalau aku tidak berbohong
“Kamu dari sekarang harus menghindari Kwan Liang”
“Iya – iya”
“Janji ...” ucapnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya
“Iya janji” jawabku lalu melingkarkan jari kelingkingku di jari kelingkingnya
“Hmm ... makasih ya” ucapnya dengan tersenyum
“Eh ... Btw ... kenapa kamu sampai nangis kayak itu, kamu cemburu ya?” ejekku
“Menurutmu?”
“Enggak tau, makanya aku tanya”
“Coba pikir sendiri” ejek Hasasi sambil ketawa
“Ehh ... udah gak nangis lagi? ... padahal lucu kalau kamu nangis” ejekku
“Kamu ini orang nangis malah seneng ...” protes Hasasi
“Iya lah dari pada orang yang bermuka dingin” ketusku
“Tapi kan sama kamu enggak”
“Siapa bilang, kamu tetep aja bermuka dingin denganku” protesku
“Tidak pernah ya” protes Hasasi
“Ihh ... gak inget pas kita pertama kali bertemu”
“Iya kan itu dulu, sekarang gak” protes Hasasi
“Kenapa kamu bermuka dingin dan gak peduli sama apapun?” tanyaku
“Itu ... ada alasannya”
“Apa alasannya?”
“Nanti kamu akan tau sendiri”
“Ihh ... selalu kayak gtu” protesku
“Udah ah .. kita ke masuk ke dalem, lama – lama dingin juga udaranya” ucap Hasasi
Aku bersama – sama dengan Hasasi masuk ke dalam Menara Eiffel, aku masih tidak mengerti kenapa Hasasi menangis saat aku mengobrol dengan Kwan Liang, padahal hubungan kami tidak ada dan hubunganku dengan Hasasi pun juga gak jelas.
__ADS_1