Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 160: Terbukanya Buku Milik Ayah


__ADS_3

Kami menikmati makan malam bersama di pedta barbeque tersebut, kami bisa makan bersama, canda bersama, dan juga salinh mengejek satu sama lain. Ya layaknya keluarga hal tersebut biasa terjadi, bahkan kebersamaan ini membuat kami tidak menyangka kalau hari sudah hampir tengah malam


"Baiklah, karena kita sudah kenyang dan sudah hampir tengah malam. Kalian malam ini bisa tidur di kamar yang sudah kakek sediakan. Selamat malam..." gumam kakek sambil melihat jam tangan di tangan kirinya


"Selamat malam kakek nenek" ucap kami bersama - sama dan kami semua meninggalkan tempat tersebut namun para pembantu keluar rumah untuk membersihkan piring kotor yang ada atas meja


"Fifiyan mau tdur sekarang?" tanya Hasasi menatapku


"Tidak, aku ingin melihat bulan purnama yang indah ini" gumamku


"Baiklah, tapi kamu harus mandi dulu ya"


"Baiklah Hasasi" gumamku mengikuti Hasasi dari belakang


"Mmm Hasasi"


"Iya ada apa?" ucap Hasasi menatapku


"Aku masih penasaran kenapa pernikahan ini diadakan di rumah kakek nenekmu?"


"Ya itu emang wajib dilakukan"


"Iya alasannya apa??"


"Alasannya simpel, karena ingin semua keluarga kumpul"


"Oh cuma itu aja?"


"Ya, cuma itu aja sih" gumam Hasasi menaiki tangga


"Kenapa kakek dan nenek menyediakan kamar untuk kita semua?" gumamku


"Ya biar kita bisa beristirahat lah"


"Tapi kan keluarga besarmu banyak Hasasi, emang cukup?"


"Gak cuma cukup malah lebih karena rumah ini di desain besar dan muat untuk semua orang"


"Aah begitu ya pantas saja begitu besar unfuk dua orang" desahku mengerti


"Ya begitulah, baiklah kamu mandi saja dulu aku ingin istirahat sebentar" gumam Hasasi membuka pintu


"Baiklah" gumamku mengambil handuk dan baju mandi yang tersedia langsung segera ke kamar mandi


Aku membuka kran air dingin bathtub dan membuka gorden yang ada di dalam kamar mandi. Saat terbuk aku melihat pemandangan hutan yang dihiasi oleh bulan purnama yang indah. Aku menuangkan sabun mandi di dalam bathtub dan merendamkan tubuhku di dalamnya.


"Huuuh nyamannya" desahku menikmati dinginnya air sabun yang membasahi tubuhku


Sambil menggosokkan tubuhku, mataku tidak lepas dari pemandangan alam yang indah itu, jika dilihat dari lantai atas ini terlihat daun yang berada di atas pohon tertiup oleh angin dan cahaya rembulan purnama menerangi hutan yang berwarna hitam tersebut.

__ADS_1


Setelah mandi beberapa menit, aku keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari baju yang ada di ruang ganti. Aku memilih T-Shirt dan celana pendek untuk menikmati malam yang dingin ini.


Setelah memakai baju aku pergi kekamar dan melihat Hasasi yang tengah terlelap di kursi panjang. Aku mengambil selimut dan menyelimutkan tubuh Hasasi lalu membuat susu hangat di teko listrik yang ada di dalam kamar dan keluar kamar menuju di balkon yang ada di luar kamar


Aku dusuk di kursi balkon, menikmati malam yang dingin dengan secangkir susu hangat yang ada di ganggamanku. Sungguh kenikmatan yang haqiqi


"Kamu ngapain di luar" ucap Hasasi berdiri di pintu balkon dengan memegang selimut


"Kamu udah bangun?" ucapku kaget


"Kamu ngapain malam - malam di luar sendirian"


"Ya aku udah bilang pengen menikmati malam ini"


"Kamu berpakaian seperti ini nanti masuk angin bagaimana?" gumam Hasasi menyelimuti bahuku dengan selimut yang di bawanya


"Enggak bakal Hasasi"


"Udah jangan protes" gumam Hasasi duduk di sebelahku


"Kamu kenapa udah bangun?"


"Aku memang belum tidur tadi tuh, cuma memejamkan mata aja" gumam Hasasi menatapku


"Lah aku kira kamu tidur"


"Nanti lah kalau kamu tidur juga"


"Gak mau, nanti kamu lompat dari atas sini gimana?"


"Enggak bakalan Hasasi"


"Enggak bakal ya, kamu aja dulu pernah hampir lompat ya!!"


"Kapan loh gak inget?"


"Ya itu udah lama banget" gumam Hasasi


"Hmmm sekarang enggak kok sayang" gumamku meminum susu hangatku


"Fifiyan kamu kok jadi agak gendutan sih?"


"Mana yang gendutan?" gumamku sambil memegang pipiku


"Enggak kok" gumamku


"Iya tuh pipimu tambah tembem" ejek Hasasi


"Enggak ya!!" protesku

__ADS_1


"Iya loh, kamu bahagia kah jadinya tembem lagi pipinya"


"Mmmm kalau bahagia sih itu tapi kalau tembem enggak protesku


"Hahaha baik - baik cantikku"


"Oh ya Hasasi, kenapa Almira Wu dan Xiao Xi ikut ke pesta di Paris ?"


"Hei kamu gak tau mereka berdua siapa?" tanya Hasasi kaget dan aku menggelengkan kepalaku


"Mereka itu sama - sama pemilik perusahaan properti di Asia"


"Oh ya? Hmm aku baru tahu" gumamku


"Ya semua teman sekolahmu dulu adalah orang - orang hebat dan penting semua"


"Oh ya?, hmmm ya apalah dayaku yang hanya orang biasa dan tidak sehebat teman - temanku dulu" gumamku sedih


"No problem sayang, kamu hebat dan penting kok di mataku" gumamku


"Hmmm begitulah?"


"Ya aku serius" uvap Hasasi serius


"Hmmm syukurlah kalau begitu" gumamku berusaha tersenyum


"Andaikan keluargaku masih hidup aku pasti bisa sehebat dan sepenting teman - temanku" gumamku dalam hati


"Kamu kenapa sedih kayak gitu?" tanya Hasasi menatapku yang sedang melamun


"Ti... Tidak ada"


"Ada yang kamu fikirkan?"


"Tidak ada kok, mmm ya udah kamu mandi saja dulu" gumamku tersenyum


"Hmmm baiklah, tunggu aku sampai aku selesai mandi ya"


"Baiklah Hasasi" gumamku dan Hasasi berjalan menuju kamar mandi


Aku kembali menikmati malam yang panjang ini berdua bersama segelas susu yang hampir dingin di dalam cangkirku. Bulan purnama yang tadinya berada di sebelah timur kini hampir berada di tengah - tengah bumi.


Tidak tahu kenapa leherku terasa gatal sehingga aku melepaskan kalungku dan menggaruk leherku yang gatal tersebut. Saat akan memasang kalungku kembali, aku memegang liontin mutiara hitam yang ada di kalungku dan melihatnya dengan teliti, saat aku menatapnya dengan serius ada ukiran kecil yang baru aku ketahui. Ukiran itu mirip dengan ukiran kunci buku kecil yang setiap hari dimanapun aku berada aku selalu membawanya


"Ini sama seperti kunci untuk buku itu" gumamku meletakkan kalung di meja dan kembali masuk ke dalam kamar lalu mengambil buku kecil yang ada di tas selempangku


Buku kecil dan mungil yang aku dapatkan di berankas milik ayah saat mencari surat perjanjian bisnis yang aku butuhkan dulu. Bertahun - tahun aku berfikir apa kunci itu dan ternyata kuncinya adalah kalung ini


"Apa mungkin ini?" gumamku kembali ke kursi balkon untuk mengambil kalung yang aku tinggalkan di meja dan meletakkan mutiara itu di tempat kunci yang terletak di depan buku, tiba - tiba buku tersebut terbuka

__ADS_1


"Terbuka?... Hmmm akhirnya terbuka juga setelah bertahun - tahun" gumamku senang karena aku emang penasaran apa isi dari buku itu


__ADS_2