Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 2 : Perjalanan Bersama


__ADS_3

Seperti biasanya, di setiap pagi hari aku harus menyiapkan sarapan, menyiapkan keperluan kedua anakku bersekolah dan juga menyiapkan keperluan Hasasi ke kantor. Tapi berhubung hari ini adalah hari sabtu jadi kedua anakku tidak masuk sekolah dan Hasasi tidak pergi ke kantor serta ada beberapa jadwal pertemuan jadi hari ini Tuan Stun dan Nyonya Stun datang ke rumah untuk menemani kedua anakku selama beberapa hari.


"Mmmm ayah ibu apa tidak keberatan?" tanya Hasasi serius.


"Tidak masalah, sudah lama juga kami tidak bertemu kedua cucuku..." gumam Nyonya Stun menggendong Sasa.


"Ayah juga tidak masalah, apalagi ayah juga rindu kedua cucuku..."


"Tapi kami akan pergi lama ayah ibu." gumamku meyakinkan lagi.


"Tidak masalah anakku, kalian berdua tenang saja... Mereka berdua akan aman bersama kami."


"Mmm baik ayah ibu terimakasih, maaf kalau akan merepotkan ayah dan ibu" gumamku menundukkan badanku


"Tenang saja, ada Lisa juga di rumah. Lisa bisa merawat mereka berdua juga"


"Baiklah, kami pergi dulu..." ucap Tuan Stun menggandeng Han.


"Kami pergi dulu ayah ibu..." teriak Sasa masuk ke dalam mobil Tuan dan Nyonya Stun lalu pergi meninggalkan rumah ini.


"Hmmm..." desah Hasasi terduduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa Hasasi?"


"Terasa sangat sepi..."


"Ya namanya juga tidak ada anak - anak Hasasi..."


"Hmmm ya benar..." desah Hasasi meminum minumannya.


"Emang kapan kita akan berangkat?"


"Sekarang... Tapi tunggu Dennis sampai dulu..."


"Hmmm, emang pertemuan apa?"


"Kan sudah aku katakan semalam Fifiyan masa kamu lupa?"


"Hee? Tidak ada, kamu hanya bilang agar aku menemanimu saat pertemuan itu saja dan itupun kamu sudah ngorok tahu!" gumamku terduduk di sebelah Hasasi.


"Ohh benarkah? Ya namanya juga capek sayang apalagi pijitanmu membuatku mengantuk..." desah Hasasi bersandar di bahuku.


"Jadi pertemuan apa?"


"Ada beberapa pertemuan sih, tapi intinya kita mengikuti konfrensi mafia tingkat dunia.."


"Apa akan datang mafia seluruh mafia terkuat juga?"


"Ya benar tapi tenang saja... mereka masih sekutu dengan mafia milikku kok"


"Aku tidak mengkhawatirkan aku sendiri Hasasi, hanya mengkhawatirkan kamu tahu..."


"Tenang saja sayang, kalau aku matipun Han masih bisa menggantikanku. Aku bisa menikah denganmu saja sudah senang."


"Hasasi, please jangan mengatakan hal yang membuatku khawatir seperti dulu saat kamu terluka tahu!!!"


"Kamu masih ingat?"


"Ya, bagaimana aku tidak ingat saat tubuhmu dingin dan dibalut perban di seluruh tubuhmu membuatku khawatir kehilanganmu!!" protesku kesal.


"Iya - iya Fifiyan aku tidak akan ceroboh lagi, apalagi kalau kamu menemaniku pasti aku tidak akan ceroboh lagi."


"Walau ada istrimu tapi jangan sampai lengah menjaga istrimu mulu Hasasi..." gumam Dennis memasuki rumah bersama dengan seorang wanita cantik.


"Kamu mengajak istrimu juga?"


"Yalah, masa aku harus termenung melihat Hasasi bersama dengan Fifiyan.."


"Eee... Mmm... Tunggu dia istrinya Dennis? Kenapa wajahnya berbeda?" tanyaku bingung.


"Dia istri kedua Dennis.." gumam Hasasi beranjak berdiri

__ADS_1


"Tunggu... Istri kedua?"


"Ya istriku meninggal beberapa tahun yang lalu jadi aku menikah lagi lah"


"Ohh benarkah?Meninggal karena apa? Kenapa aku tidak tahu?" tanyaku bingung.


"Ya memang tidak aku umumin saja. Dia sakit stadium akhir jadi ya akhirnya meninggal"


"Oh mmm turut berduka cita Dennis..."


"Tidak apa kok"


"Ngomong - ngomong istrimu namanya siapa?" tanyaku bingung


"Perkenalkan aku Wulan"


"Aku Fifiyan Shinju, salam kenal ya" gumamku berjabat tangan dengan wanita cantik itu.


"Salam kenal juga nona"


"Ya sudah kita berangkat sekarang" gumam Hasasi merapikan jas hitamnya.


"Hansol belum datang loh, apa mau ditinggal?" Dennis menatap Hasasi bingung


"Tuh dia baru masuk dari jendela..." desah Hasasi menunjuk Hansol yang sedang masuk dari jendela seperti seorang pencuri.


"Tuan Hansol? Kok masuk dari jendela?" tanyaku terkejut.


"Landasan Hasasi dipenuhi pesawat milik Hasasi dan Dennis jadi helikopterku tidak muat. Ya mau tidak mau aku turun meggunakan tali..." desah Hansol turun dari tangga.


"Makanya jangan terlambat..." gumam Hasasi dingin.


"Ya mau bagaimana lagi aku terlambat bangun..."


"Makanya cari istri sana, betah aja sendirian.." sindir Dennis.


"Aaah jangan banyak bacot kau Dennis.." gerutu Hansol kesal.


"Masih tua umurmu Hasasi. Aku hanya menunggu saat yang pas kau mati terus istrimu buatku hahaha!!" tawa Hansol keras.


"Heeeh jangan harap..."


"Kan aku sudah menikah dan punya anak tuan Hansol."


"Walaupun begitu masih banyak loh yang ingin merebutmu, benarkan Jiwon?" gumam Hansol dan Jiwon yang berjalan di belakang Hansol hanya menggangguk kepala pelan.


"Jadi kamu harus hati - hati Fifiyan, jangan ceroboh seperti dulu demi membantu seseorang kamu rela disekap... Untung Hasasi bisa menemukanmu..." desah Hansol pelan.


"Tuan Hansol masih ingat?"


"Ya bagaimana kami tidak ingat, tahu kamu menghilang berhari - hari membuat Hasasi terus memarahi anak buahnya bahkan memarahi kedua orang tuanya..." gumam Dennis serius.


"Ya, sudah berapa nyawa dia bunuh gara - gara tidak menemukanmu.. Jadi kamu harus berhati - hati tahu!!"


"Baik saya mengerti.." desahku pelan.


"Ya sudah kita berangkat sekarang..." desah Hasasi mengalihkan pembicaraan sambil menggandeng tanganku keluar rumah.


"Hilih Hasasi kalau membahas masalah tentang Fifiyan langsung mengalihkan pembicaraan!!" gerutu Hansol kesal.


"Itu memang kesalahanku dan aku jadikan pelajaran apalagi Fifiyan sekarang istri resmiku, Aku tidak akan bermain - main lagi untuk melindunginya" ucap Hasasi dingin, aku menatap wajahnya yang dingin tapi di sela - sela sudut matanya dia terlihat sangat menyesal.


"Iya aku percaya kepadamu Hasasi." desahku pelan dan Hasasi tersenyum manis kearahku.


"Jadi kita akan naik pesawatnya siapa?" tanya Dennis berjalan di belakang kami


"Karena kebetulan bawahanku belum membeli bahan bakar, jadi pakai pesawatmu Dennis.."


"A.. Apa? Haaah padahal aku pengennya pakai pesawatmu yang canggih itu.." protes Dennis dingin.


"Kamu ingin menaiki pesawatku?"

__ADS_1


"Ya lah, kamu baru beli pesawat canggih Hasasi. Aku ingin naik juga!!" protes Dennis kesal.


"Kapan - kapan saja, istriku saja belum pernah naik kok masa kamu mau mendahului istriku" gumam Hasasi melangkahkan kakinya menaiki tangga pesawat.


"Fifiyan belum pernah naik? Heeh, emang suami yang pelit!" ejek Hansol dingin.


"Aku tidak pelit, cuma tunggu waktu yang tepat kita jalan - jalan bersama udah itu aja." desah Hasasi terduduk di kursi tepat di tengah pesawat.


"Apa lagi aku sangat sibuk dan istriku juga sibuk mengurusi kedua anakku yang bandelnya minta ampun..." desah Hasasi pelan.


"Bandel seperti ayahnya hahaha!!" tawa Hansol keras.


"Kamu dari tadi mengejek aku mulu Hansol!!!" gerutu Hasasi kesal.


"Membullymu adalah rutinitasku Hasasi dan kamu tahu tentang itu, lagi pula kamu sudah menikah jadi kamu akan menahan emosimu di depan Fifiyan jadi lebih senang aku membullymu!!"


"Aaah suka - suka kau saja..."


"Tapi tidak aku sangka loh si Han itu mirip banget dengan Hasasi sedangkan si Sasa mirip dengan Fifiyan yang cengeng..." gumam Dennis menegukk minumannya.


"Namanya juga anak kandung."


"Tapi anakku kenapa tidak ada miripnya ya?" gumam Dennis bingung.


"Dia anak tirimu dari si Wulan bagaimana bisa mirip denganmu Dennis!!" protes Hasasi kesal.


"Emang si bodoh..." desah Hansol menepuk dahinya.


"Tapi ya seenggaknya sedikit mirip gitu kan aku sudah senang."


"Kalau kamu sama - sama membuatnya dengan suaminya terdahulu pastilah mirip Dennis astaga!!" desah Hansol pelan.


"Ya seharusnya seperti itu ya tapi ya gimana aku baru bertemu dengan Wulan saat istriku pertama meninggal. Kalau tahu dari awal aku akan melakukannya."


"Hadeeh dasar Dennis, kenapa kebodohanmu masih saja tertanam di otakmu!!" gerutu Hasasi kesal.


"Aku bodoh di kehidupan tapi aku pintar dalam dunia mafia loh jangan salah!!!" Dennis mengangkat alisnya serius.


"Ya ya semua mengakui itu juga" desah Hansol kesal.


"Sudah lah dari pada kau berkata tidak jelas mending tidur seperti Jiwon dan si Wulan tuh" gumam Hasasi merangkulku lembut.


"Tidak ah, kalau aku tertidur nanti kalian berdua menggoda Wulan."


"Buat apa aku melakukan itu kalau aku sendiri sudah punya istri... Tuh si Hansol!!" gerutu Hasasi kesal.


"Kenapa jadi aku, kriteria istriku seperti Fifiyan kok!!"


"Heei dia istriku!!!"


"Bodo amat... Hahaha!!!"


"Haduh sudahlah kalian bertiga berantem mulu kalau bersama..." desahku kesal


"Tuhh makanya diem nyonya besar marah!!" gumam Hasasi tertawa


"Kamu juga sama Hasasi!!" ucapku dingin.


"Aku? Aku kan anak baik - baik sayang..."


"Rasain dimarahin istrimu sendiri hahaha!!!" tawa Hansol kencang.


"Aku tidak memarahinya kok tuan Hansol hanya sedikit menyindir Hasasi hahaha!!"


"Haish kamu juga sama saja..." desah Hasasi mencubit pipiku kuat.


"Aduuh sakit lah!!" protesku kesal.


"Sudah tidurlah, perjalanan jauh. Aku ingin berbicara dengan mereka berdua..." gumam Hasasi merangkulku.


"Hmmm baiklah, aku juga capek mengurus Han dan Sasa apalagi ayah dan ibumu datang lagi tadi..." desahku bersandar di bahu Hasasi.

__ADS_1


Melakukan perjalanan dengan Hasasi setelah sekian lama tidak keluar bersama mengingatkanku dsaat Hasasi mengajakku melakukan berbagai pertemuan dan berbagai masalah yang tidak terduga akan terjadi. Bisa bersama dengan Hasasi membuatku merasa aman dan nyaman selama hidupku.


__ADS_2