Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 64 : Tidak Rela


__ADS_3

Sebenernya malam ini tidurku tidak nyenyak karena kepikiran omongan Hasasi tapi mau bagaimana lagi, mataku terasa sangat sembab karena semalaman menangis, aku berusaha membuka mataku yang sembab ini dan hal pertama yang aku lihat adalah wajah polos Hasasi yang sedang tertidur, wajah putih bersih tanpa noda dan tanpa jerawat sedikitpun, wajah yang aku inginkan sekali menjadi tempat sandaranku setiap hari. Aku belai rambutnya, aku cium keningnya dan aku tatap wajahnya, emang pemandangan yang sangat indah.


"Mmm ... Fifiyan kamu udah bangun?" tanya Hasasi polos


"Err ... i .. iya" ucapku kaget


"Kenapa dari tadi kamu memandangku seperti itu?" tanya Hasasi


"Ti ... tidak ada, hanya pengen memandangimu aja"


"Begitukah? ... Hmmm aku pengen kamu selalu ada buatku sayang" ucap Hasasi lembut sambil membelai pipiku yang mulai basah karena air mata


"A ... aku juga pengen menemanimu sampai tua Hasasi" ucapku terisak


"Iya sayang ... udah jangan sedih" ucap lembut Hasasi dan akupun hanya mengangguk mengerti


"Ya udah ... ayo cepetan mandi nanti keburu Michel marah - marah karena lama menunggu"


"Baiklah" ucapku dan bangun dari tempat tidur


Aku segera mengambil handuk dan baju mandiku lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi, tidak tau kenapa aku melihat bayangan wajahku di air. Aku memandang wajahku dengan sangat lama wajah yang lemah, wajah yang tidak berguna, wajah yang kesepian. aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti aku akan kehilangan Hasasi


"Sayang ... kenapa mandinya lama?" teriak Hasasi dari luar kamar mandi


"Ti ... tidak ada sayang, ini mau selesai kok" ucapku dan buru - buru mengenakan baju mandiku dan keluar dari kama mandi


"Kamu kenapa sayang?" tanya Hasasi khawatir


"Tidak ada sayang ..."


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya sayang" ucapku dan berlalu menuju ruang pakaian, aku langsung memilih baju yang akan ku gunakan dan langsung keluar ruang pakaian


"Kamu udah selesai sayang?" tanyaku polos


"Udah dari tadi, kamu sih mandi lama pakek baju juga lama" gumam Hasasi


"Ayolah Hasasi namannya juga wanita"


"Hmmm baik - baik ... ayo kita keluar Michel sudah menunggu dibawah" ucap Hasasi dan menggandeng tanganku keluar dari kamar


Aku dan Hasasi berjalan santai keluar menuju kamar dan berjalan menuju lift untuk bisa bertemu dengan Michel. Saat pintu lift dibuka, aku melihat Michel dan wakilnya yang sedang duduk dan mengobrol santai di sofa loby hotel


"Oh Hay Hasasi" sapa Michel


"Hai"


"Bagaimana sudah siap?"


"Kalau begitu ... mari tuan Hasasi" ucap Michel berjalan keluar lobby hotel dan memasuki mobil hitam yang mewah


"Maafkan saya tuan Hasasi kalau mobil yang saya miliki tidak senyaman mobil anda"


"Iya tidak apa"


"Ini Tuan Hasasi minuman anda" ucap Andy dan menuangkan wine ke dalam gelas


"Terimakasih" ucap Hasasi dan meminum wine tersebut


"Nona ... mau wine?" tawar Andy


"Tidak terimakasih, aku tidak suka minuman seperti itu"

__ADS_1


"Oh baiklah, mohon maaf saya tidak tahu"


"Tidak apa tuan"


"Kalau minuman yang lain nona suka?"


"Boleh ... orange juice juga boleh"


"Oke nona ... silahkan nona" ucap Andy dan aku meminum orange juice tersebut


"Oh ya Michel ... adikmu sudah menikah kah?" tanya Hasasi sambil meletakkan gelas wine nya


"Belum ... "


"Kenapa tidak kamu nikahkan saja?"


"Dia tidak mau menikah sebelum membalaskan dendamnya"


"Mmm ... rencananya kamu ingin membuat perhitungan kapan?"


"Kalau hari ini gimana tuan? ... saya sudah menghubungi 2 perkumpulan kuat yang lain... sekalian nona menemani adik saya di rumah"


"Mmm baiklah ... pukul 3 sore kita berangkat" ucap Hasasi dingin


Aku melihat dari wajahnya yang dingin dan sudut matanya yang dingin terdapat ketakutan jika dia kalah dan meninggalkanku, apalagi lawan kali ini memang sangat kuat dan licik walaupun hanya memiliki beberapa ratus anggota saja.


"Kamu tidak apa - apa kan sayang?" tanya Hasasi khawatir


"Tidak masalah ... yang penting kamu pulang dengan selamat" ucapku harap - harap cemas


"Iya sayang ... aku berjanji akan pulang dengan selamat" ucap Hasasi lembut dan aku memasang senyum palsu untuk membuatnya tidak khawatir

__ADS_1


Aku yang duduk di sebelah Hasasi hanya bisa melihat Hasasi menyusun strategi dengan Michel, aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan, di dalam pikiran dan hatiku sangat tidak tenang dan bercampur aduk. Aku terus memandangi wajah Hasasi, kenapa harus hari ini Hasasi ... kenapa tidak nanti - nanti saja, aku tidak mau kamu terluka aku tidak mau kehilangan Hasasi yang lembut dan pengertian ini.


__ADS_2