
Matahari hampir menuju ke arah barat, langit biru berubah ke warna orange ke kuning - kuningan. Aku berjalan menuruni tangga pesawat mengikuti Hasasi dan Hansol yang berjalan mendahuluiku, mereka berbincang - bincang pelan di depanku, aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka tapi aku tidak dapat mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan yang membuatku kesal karena aku di cuekin mereka dari tadi
"Asik banget kalian ngobrol sendiri" gerutuku kesal
"Ya kita sedang membahas sesuatu" gumam Hasasi
"Hmmm iya lah" gumamku dan Hasasi membisikkan sesuatu di telinga Hansol dan berjalan kearahku
"Janganlah ngambek, aku gak cuekin kamu kok" gumam Hasasi merangkul bahuku
"Hmmm iya - iya, oh ya kenapa kita turun disini? dulu sepertinya tidak disini" tanyaku penasaran
"Ya kan kita naik pesawat, dulu kita naik helikopter"
"Mmm emang gak bisa ya pesawat turun disana?"
"Kan landasannya pendek kalau naik pesawat sebesar ini malah menabrak menaranya dong"
"Mmm iya juga sih"
"Oh ya, nanti dikapal pesiar semua orang datang termasuk Alex Guan dan Kwan Liang apalagi Cindy dan Amelia"
"Seriusan? kenapa mereka ada juga?"
"Hei mereka juga ingin ikut lelang ya"
"Oh begitu ya" desahku
"Ya, jadi kamu harus hati - hati"
"Kamu bakal nangkep Kwan Liang lagi?"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Karena situasinya bakal ramai orang dan tidak mungkin hal itu dilakukan"
"Hmmm iya juga sih" desahku mengerti
"Kenapa, kamu khawatir?"
"Tidak, aku biasa aja kok"
"Seriusan?"
"Ya seriusan"
"Baguslah, aku harap kamu tidak takut sayang"
"Aku tidak takut cuma khawatir saja"
"Tadi katanya tidak khawatir" gumam Hasasi menggelengkan kepalanya
"Hehehe ya ada sedikit rasa khawatir"
"Ya aku tahu pasti kamu khawatir, jadi jangan berfikiran aneh - aneh"
"Hmmm, kenapa aku kamu ajak sih Hasasi kalau bahaya kayak gini" gumamku
"Hei kan kamu mau mancing Xiao Xi sama Almira bicara!!"
"Oh ya aku lupa, oke Hasasi aku akan berusaha semampuku, di kapal pesiar kan?" ucapku tersenyum
"Iya sayang tapi kita hanya ketemu Almira dan Xiao Xi di menara saja mereka tidak ada di kapal pesiar"
"Jadi di kapal pesiar mau ngapain?"
"Mau beli barang yang diminta ayah"
"Barang yang dibicarakan tadi itu?"
"Iya, makanya kita harus kesana"
"Baiklah Hasasi tapi kamu harus sama aku terus ya" gumamku memohon
"Iya sayang aku akan selalu denganmu kok, ayo kita masuk ke mobil" gumam Hasasi meyakinkanku sambil membuka pintu mobil hitam mewah
__ADS_1
"Ini mobilmu Hasasi?"
"Bukan ini milik Hansol"
"Oh pantes berbeda" gumamku masuk ke dalam mobil
Di dalam mobil, tatapan Hansol terlihat dingin berbeda dengan Hansol yang biasanya. Tatapan wajahnya membuatku takut untuk menatapnya. Aku menepuk tangan Hasasi pelan dan Hasasi mendekatkan telinganya kepadaku
"Hasasi, kenapa Hansol tatapannya dingin kayak gitu" bisikku pelan dan Hasasi membisikan sesuatu kepadaku
"Ya emang Hansol aslinya seperti itu"
"Tapi kenapa tatapannya dia lebih dingin dari kamu?" bisikku dan Hasasi menahan tawanya
"Tatapanku dingin seperti itu juga malah lebih dingin dan menyebalkan"
"Mana ada?" protesku
"Ya kan ada kamu mana bisa aku memberimu tatapan dingin, kamu dengan tatapan Hansol aja udah takut apalagi kalau kamu tahu aku aslinya seperti apa kamu akan takut kepadaku" gumam Hasasi
"Emang kamu sesungguhnya belum kamu tunjukan kepadaku?"
"Belum 75 persen"
"Heh?, jadi?" tanyaku kaget
"Ya kamu belum tahu aku sebenarnya seperti apa, cuma keluargaku dan Hansol yang tahu" gumam Hasasi santai bersandar di kursi mobil
"Jadi yang dikatakan keluargamu kamu sering sendiri dan kadang menyebalkan itu benar?"
"Ya itu salah satunya"
"Hmmm aku jadi penasaran kamu aslinya seperti apa" gumamku menatap Hasasi
"Jangan penasaran"
"Iihh aku penasaran tahu, coba simulasikan" gumamku
"Hei mana bisa dibuat - buat"
"Udah jangan dipikirkan, nantinya kamu akan tahu sendiri. Tapi jangan kaget ya"
"Hmmm iya deh Hasasi, emang kamu akan berperilaku seperti itu kalau saat marah aja?"
"Tidak, gak marahpun aku seperti itu."
"Kamu seperti ini karena apa?" tanyaku penasaran
"Ya karena masalah masa lalu itu aku jadi seperti ini"
"Masa lalu? Apa itu?" tanyaku penasaran
"Iya pokok begitulah" gumam Hasasi
"Hansol emang masa lalu Hasasi seperti apa sih?" tanyaku penasaran
"Masa lalu Hasasi? Masa lalu Hasasi banyak, kamu mau yang mana?"
"Yang bikin Hasasi berperilaku menyebalkan" gumamku
"Oh yang itu, kapan - kapan saja aku cerita" gumam Hansol tersenyum kepadaku
"Tidak perlu, dia tidak perlu tahu" gumam Hasasi menatap Hansol dengan tatapan dingin
"Ya tidak apa dia kan istrimu jadi dia juga harus tahu" gumam Hansol santai
"Hmmm kau ini selalu begitu" gerutu Hasasi memalingkan wajahnya
"Nanti ya Fifiyan, aku akan ceritakan kepadamu" gumam Hansol menatapku
"Baik tuan Hansol"
"Kamu seperti penasaran banget sama Hasasi, kenapa kamu penasaran sama diri Hasasi aslinya?" tanya Hansol menatapku
"Ya kan biar gak kaget nanti kalau udah nikah"
"Ya walaupun kamu udah tahupun kamu tetap kaget dengan Hasasi"
__ADS_1
"Kaget kenapa?"
"Nanti kalau sudah waktunya kamu akan tahu sendiri"
"Hmmm aku jadi penasaran"
"Tidak perlu penasaran, mari kita turun. Kita sudah sampai di lokasi" gumam Hansol membuka pintu mobil dan kami turun dari mobil
Di bawah menara Eiffeel aku melihat menara Eiffeel yang indah dihiasi lampu berwarna kuning gemerlap dan orang yang memakai pakaian mewah berlalu lalang di sekitar pintu masuk menara. Hasasi menggandeng tanganku dan masuk ke dalam menara bersama dengan Hansol. Di dalam lobby kami bertiga menaiki lift dan Hasasi langsung memencet angka 5 di tombol lift, tidak berapa lama liftpun berjalan naik. Tidak lama kemudian pintu lift terbuka dan kami keluar berjalan menyusuri lorong yang dekorasinya berbeda dengan waktu kami datang dulu
"Ini bukannya tempat kita menginap dulu ya?" gumamku
"Yups benar, kita istirahat dulu" ucap Hasasi membuka pintu kamar yang sama seperti dulu
"Lalu Hansol tidur dimana?" gumamku masuk kedalam kamar
"Di kamarnya, ada di depan kamar kita"
"Oh begitu ya" desahku masuk ke ruang ganti dan mengganti pakaianku dan kembali ke kamar tidur
"Nanti malam kita ngikutin pesta di lantai atas, disana pasti ada Almira sama Xiao Xi"
"Iya Hasasi" gumamku merebahkan tubuhku di atas kasur
"Kamu capek banget ya?"
"Ya tidak terlalu sih cuma rebahan di kasur itu enak banget" desahku memejamkan mataku
"Hmmm ya pastilah" gumam Hasasi memainkan handphonenya
"Mmm Hasasi"
"Iya sayang"
"Kalau aku saat di kapal pesiar diculik gimana?"
"Tidak akan ada yang berani menculikmu"
"Ya kan misalnya"
"Aku akan membunuh orang yang berani menculikmu"
"Tapi kan namanya diculik gak mungkin kamu tahu siapa penculiknya Hasasi"
"Aku pasti tahulah, di ujung duniapun aku tahu"
"Seriusan?, kenapa kamu bisa tahu?"
"Ya itu bukan rahasia umum sih semua juga tahu kok"
"Hmmm kamu seperti apa sih Hasasi"
"Aku ya seperti ini kok"
"Seperti ini gimana maksudnya?"
"Ya seperti ini, kamu kan bisa menilainya"
"Bagaimana mau menilaimu kalau kamu masih 25 persen menunjukkan dirimu sesungguhnya Hasasi" gumamku kesal
"Hehehe ya nantilah aku tunjukkan diriku yang asli tapi gak 100 persen ya, takutnya kamu semakin takut denganku" desah Hasasi menatapku
"Aku tidak takut denganmu Hasasi"
"Hmmm ya kan kamu belum tahu aku seperti apa, kamu tahu sendirikan dulu Lisa benci denganku" gumam Hasasi
"Hmmm iya juga sih" desahku teringat saat aku pertama kali di rumah Hasasi dan saat itu Lisa sangat benci sama Hasasi
"Makanya aku takut kamu juga membenciku"
"Aku tidak akan membencimu Hasasi" ucapku meyakinkan Hasasi
"Hmmm iya deh, kamu istirahatlah dulu nanti aku bangunin kamu" gumam Hasasi berjalan ke kasurku dan duduk di sebelahku
"Kamu gak istirahat?"
"Tidak, nanti aja aku istirahat" gumam Hasasi mengelus rambutku lembut dan membuatku tertidur pulas di sebelah Hasasi
__ADS_1