
Aku dan
Hasasi masuk ke dalam restoran mengikuti pemilik restoran yang ada di depan
kami. Hasasi terus mendorong kursi rodaku dan malu sedikitpun
"Hasasi..."
"Nanti
saja sayang" bisik Hasasi di belakangku dan aku hanya bisa diam tanpa kata
"Silahkan tuan" ucap pemimpin restoran membukakan pintu untuk kami
"Baiklah ... terimakasih" ucap Hasasi dan kamipun masuk ke dalam ruangan tersebut
"Silahkan tuan mau memesan apa?" ucap pemilik restoran
"Sayang mau apa?" tawar Hasasi membuka menu di atas meja
"Mmmm aku ngikutin kamu sayang"
"Jangan ngikuti aku sayang ... kamu maunya apa?"
"Aku ngikuti kamu beneran loh"
"Mmmm baiklah ... kamu mau burger sapi spesial gak?" tawar Hasasi
"Burger? ... yang seperti apa itu?"
"Burger itu sejenis roti isi sayang ... nah disini isinya daging sapi spesial" jelas Hasasi
"Daging sapi spesialnya itu apa?" tanyaku
"Ya ... gmana ya .. aku juga gak tau sayang ... nanti cobain aja deh" ucap Hasasi
"Mmmm baiklah"
"Kamu mau?"
"Ya boleh lah"
"Kami pesen burger sapi spesial dua, wine, dan jus" ucap Hasasi kepada pemilik restoran
"Baik tuan ... tolong tunggu sebentar" ucap pemilik restoran meninggalkan kami
Setelah pemilik restoran pergi aku terus menatap Hasasi dengan tatapan penasaran
"Ada apa sayang kok menatapku seperti itu?"
"Tidak ... aku cuma penasaran kamu itu siapa sih?"
"Aku kan suamimu sayangku" ucap Hasasi lembut
"'Bukan ... maksudku itu ... kamu orng seperti apa kok kamu di takuti oleh semua orang?" tanyaku polos
"Ya kan kamu tau sendiri aku siapa sayang"
"Enggak ... aku enggak inget"
"Oh ya ... aku lupa ... aku itu pemimpin perusahaan nomor satu di dunia sayang"
"Terus kenapa pemilik restoran itu takut kepadamu?"
"Soalnya ... restoran ini juga berada di bawah perusahaanku dan sebagian besar bisnis di dunia dibawah pengawasku" ucap Hasasi lembut
"Oh ... begitu ya"
"Iya sayang ... jadi aku bisa aja mengganti pemilik restoran ini"
"Mmmm ... pantas saja kamu santai banget sayang"
"Iya lah ... jadi kamu akan tetap aman bersamaku sayang" ucap Hasasi memelukku dari belakang
"Oh ya Hasasi ... kenapa aku bisa gagar otak ringan?" tanyaku penasaran
"Itu panjang ceritanya ... kalau kamu udah sembuh aku jelasin deh sayang"
"Beneran?"
__ADS_1
"Iya aku janji sayang" ucap Hasasi mengelus rambutku dan aku mengangguk tersenyum
"Sayang ... habis dari danau ikut aku ya?"
"Kemana?"
"Ke rumah sayang"
"Rumah siapa?"
"Rumah kita sayang"
"Rumah kita?"
"Iya nanti kamu pasti bakal tau sendiri sayang"
"Iya sayang"
"Permisi tuan ... ini makanan anda ... dan ini makanan penutup spesial untuk tuan dan nona" ucap pelayanan sambil membawa makanan
"Baiklah terimakasih"
"Makanan penutup apa ini sayang?" tanyaku penasaran
"Itu salad buah kesakaanmu?"
"Salad buah kesukaanku?"
"Ya ... dulu kamu lebih suka salad buah" jelas Hasasi sambil menyuapiku lembut
"Mmm iya enak banget sayang" ucapku terus makan salad buah yang disuapin Hasasi
kepadaku
"Mau di suapin makan nasinya gak sayang?" tanya Hasasi
"Mmm aku makan sendiri aja gak apa - apa sayang"
"Aku suapin ya sayang"
"Gak perlu sayang"
"Baiklah ..." ucapku pasrah dan Hasasi mulai menyuapiku lagi
Hasasi terus menyuapiku dengan lembut sampai makananku dari nasi hingga makanan penutup habis semua
"Hasasi tidak makan?"
"Iya ini mau makan sayang"
"Aku suapin ya sayang?" tawarku
"Jangan sayang"
"Kan gantian sayang"
"Baiklah .. aaa ..." ucap Hasasi membuka mulutnya
"Agak mendekat sayang" ucapku lalu Hasasi mendekatiku dan aku mulai menyuapinya
"Mmmm udah lama juga aku tidak kamu suapi sayang"
"Emang selama apa?"
"Mmmm kapan ya ... aku lupa" ucap Hasasi tertawa
"Iya tapi kan ini udah aku suapin sayang"
"Makasih ya sayang ... oh ya kamu beneran lupa sama apa yang terjadi?"
"Iya ... aku lupa tapi masih ingat sedikit - sedikit kok"
"Oh syukurlah kalau kamu masih ingat"
"Kapan aku bisa mengingat semua sayang?" tanyaku
"Bentar lagi kamu akan ingat semuanya kok sayangku" ucap Hasasi dan Aku terus menyuapi Hasasi makanan milik Hasasi habis dimakan Hasasi
"Sayang ... kita ke danau ya" ucap Hasasi mendorong kursi rodaku keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Oke sayang" ucapku tersenyum
Saat kami hampir kelur dari pintu keluar, kami bertemu dengan pemilik restoran yang sedang berdiri di dekat pintu
"Apakah sudah selesai makannya tuan?" tanya pemilik restoran
"Sudah ... kami akan pergi dulu" ucap Hasasi lalu mendorong pelan kursi rodaku
"Baiklah ... hati - hati di jalan tuan" ucap pemilik restoran membukakan pintu untuk kami dan kami berlalu meninggalkan restoran tersebut
"Hasasi masih lama banget ya?" tanyaku selama perjalanan
"Enggak kok sayang"
"Itu bentar lagi sampai" ucap Hasasi lagi
Tidak beberapa lama aku melihat hamparan air berwarna orange karena terkena pantulan cahaya matahari di sore hari, suasana senja yang begitu romantis dan sepertinya aku sudah pernah merasakan hal seperti ini
"Bagus banget sayang" ucapku kagum
"Bagaimana sayang apa kamu senang sekarang?"
"Iya sayang ... aku lebih senang sekarang"
"Mmm baguslah kalau kamu senang sayang"
"Hasasi apa keinginanmu yang belum tercapai?" tanyaku polos
"Hmmm cepet - cepet nikah sama kamu" ucap hasasi lembut
"Ya cepat nikahlah sayang"
"Nanti ya sayang, aku harus meminta persetujuan kakakmu juga"
"Kakak? ... aku punya kakak?" tanyaku bingung
"Iya sayang ... kamu punya kakak"
"Oh ya? ... aku ingin bertemu dengannya boleh?"
"Boleh nanti kalau ada saatnya ya sayang"
"Kenapa sayang?"
"Mmm ya dia lagi sibuk sayang"
"Apakah kakak udah menikah Hasasi?" tanyaku penasaran
"Hampir saja ..."
"Kok hampir saja?"
"Ya soalnya dia ingin meminta restu kamu sayang"
"Kenapa harus meminta restu aku?"
"Kan kamu adik satu - satunya yang dia sayangi"
"Kenapa dia tidak menemuiku Hasasi?"
"Karena ... dia sibuk sayang"
"Aku ingin bertemu kakak" ucapku sedih
"Kapan - kapan saja ya" hibur Hasasi
"Gak mau"
"Baik - baik sayang ... nanti ya pas di rumah" ucap Hasasi mengalah
"Makasih Hasasi"
"Ya udah kita pulang dulu ya" ucap Hasasi dan mendorong kursi rodaku pelan - pelan meninggalkan danau yang indah ini
"Kenapa harus pulang sayang?"
"Ya kan sudah menjelang malam sayang"
"Hmmm baiklah sayangku" ucapku pasrah dan kami berdua pulang menuju rumah kembali.
__ADS_1