
Byuuurr ... Byuurrr ... Byuuurrr
Terdengar suara guyuran air yang membuatku terbangun dari tidurku. Aku membuka mataku dan melihat sekeliling kamar tidak terdapat Hasasi tetapi lampu kamar mandi yang sedang menyala mungkin Hasasi sedang mandi di dalam. Aku langsung duduk di kasur sambil mengusap mataku menatap jam dinding yang menunjuk pukul 7 malam.
"Huumm jam 7 ya" desahku keluar dari selimut yang membalut tubuhku
Aku berjalan ke arah kulkas, membuka pintu kulkas dan mengambil susu kemasan lalu memasukan ke dalam gelasku. Aku berjalan keluar menuju balkon untuk menikmati pemandangan kota yang terlihat indah dengan lampu gemerlap di setiap sudut kota sambil menikmati segelas susu dingin yang menyegarkan
"Kamu udah bangun?" gumam Hasasi di pintu balkon
"Udah, kebangun suara air mandimu itu" gumamku meneguk susu dinginku di pinggir pagar balkon
"Emang kedengeran?"
"Ya kedengeran banget, kamu pakek gayung?"
"Iya, males pakek shower. Lagi pengen pakek air dingin"
"Oh pantas suara airnya kenceng banget" gumamku
"Tumben kamu mandi" tanyaku menatap Hasasi yang hanya memakai celana pendek
"Ya gerah banget, tadi ACnya lupa aku nyalain apalagi aku pakek baju yang panas lagi. Makanya aku gak tahan pengen mandi"
"Oalah, hmmm ya emang kamu gak betah cuaca panas" gumamku
"Emang, aku gak suka berkeringat banyak. Bikin bau"
"Yaah aku udah paham kamu Hasasi"
"Kamu ngapain disini?" gumam Hasasi berdiri di sebelahku
"Ya nikmatin kota paris ini, cantik banget sumpah. Lama tidak menikmati pemandangan ini" gumamku
"Hahaha ya, aku keingat wajah kamu saat pertama kali melihat menara Eiffeel dari helikopter"
"Kamu kok masih ingat aja" protesku
"Ya masih ingat lah, wajahmu pertama kali tinggal di rumahku aja masih keinget"
"Hmmm, jadi keinget sikapmu yang dingin dulu Hasasi" gumamku menatap Hasasi
"Sikapku dulu menyebalkan ya?"
"Tidak juga, menurutku biasa aja"
"Oh ya? Hmmm ya emang aku dari pertama ketemu kamu gak tega bersikap dingin kepadamu"
"Kenapa?" tanyaku penasaran
"Aku juga tidak tahu, cuma emang aku tidak tega aja"
"Dulu aku kayak tuna wisma yang tidak punya rumah kan ya?" gumamku
"Ya, emang sih. Udah wajah bulet, badan gendut, pakek gaun murahan, gak tahu rumahnya dimana, hujan - hujan tidur di atas jembatan lagi"
"Hei aku beli gaun itu hasil aku keringatku sendiri ya!!!" protesku
__ADS_1
"Ya kan aku melihatnya gitu, aku tidak tahu itu hasil keringatmu sendiri"
"Hahaha sangat kasihan sekali ya" desahku pelan, Hasasi hanya menatapku bingung
"Hmmm kenapa dulu kamu mau repot - repot membawaku ke rumahmu Hasasi? Padahal kan kamu menemukan orang asing yang aneh di negara lain" gumamku
"Ya aku merasa kasihan aja sih awalnya, sebenarnya sih lebih mudah sih ditinggalin aja ya atau di gelindingin ke sungai aja sekalian ya waktu itu" ejek Hasasi tertawa
"Kenapa gak kamu gelindingi aja sekalian waktu itu?" protesku kesal
"Kalau aku gelindingin kamu, aku gak mungkin bisa menemukan istriku yang misterius ini lah" gumam Hasasi menatap bulan
"Hmmm kenapa kamu mau membawaku ke rumahmu Hasasi?"
"Ya... dulu sih aku kasihan saja melihatmu, awalnya aku ingin mengantarmu ke hotel saja, tapi tidak sempat karena waktu itu ada keadaan mendadak di Jepang jadi ya mau gak mau bawa kamu ke Jepang sementara. Tapi ternyata kamu bisa meluluhkan hati Lisa yang menyebalkan itu dan bisa berteman dengan Lisa makanya aku menyuruhmu bekerja denganku. Ya pada akhirnya sampai sekarang kamu menjadi istriku" gumam Hasasi mengelus rambutku
"Hmmm, emang kehidupan ini aneh ya" desahku
"Ya namanya juga hidup apalagi memang sudah takdirku bisa bertemu kamu yang ditakdirkan menjadi istriku" gumam Hasasi bahagia
"Emang kamu bahagia punya aku?" tanyaku menatap Hasasi
"Bahagia banget lah, lebih bahagia saat aku bersama dengan Cindy dulu" ucap Hasasi serius
"Kok bisa?"
"Aku juga tidak tahu, hatiku berkata begitu" gumam Hasasi
"Hmmm syukurlah kalau begitu" gumamku meneguk susu dinginku sampai habis
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Ya aku penasaran, ceritakanlah Hasasi"
"Tidak perlu, itu tidak penting" gumam Hasasi
"Ceritakanlah Hasasi, aku penasaran loh" gumamku
"Hmmm baiklah" desah Hasasi berat
"Masa lalu yang membuatku seperti ini itu ... Rahasia" ucap Hasasi menjulurkan lidahnya
"Halah aku mendengarkanmu seriuslah!!! malah main - main" protesku
"Kamu tidak perlu tahu Fifiyan, yang terpenting aku tidak akan bersikap dingin kepadamu" gumam Hasasi
"Halah, Hasasi gak seru ah" desahku kesal
"Itu tidak penting, intinya banyak faktor yang membuatku seperti ini" gumam Hasasi menatapku
"Hmmm ya deh aku tidak memaksamu" gumamku mengalah, tapi di hatiku berkata "Gak kamu kasih tahu aku bisa tanya Hansol Weellkk"
"Kenapa kamu senyum sendiri?" tanya Hasasi menyadari aku tersenyum kecil
"Ti... Tidak ada" gumamku mengalihkan pandanganku
"Hmmm"
__ADS_1
"Oh ya aku ingin bertanya, pernah gak kamu ingin membuang aku?"
"Membuang kamu? Mmm dulu sih pernah karena aku takut kamu menyusahkan aku" gumam Hasasi
"Tapi... saat aku tahu kamu adalah anak dari keluarga Shinju yang telah di cari keluargaku bertahun - tahun lamanya, akhirnya aku ingin terus melindungimu" ucap Hasasi serius
"Tapi kamu tidak merasa terpaksa kan?"
"Tidak, aku tanpamu merasa seperti sebagian jiwaku hilang. Dan itu sangat menyakitkan"
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Aku tidak tahu mungkin sekarang jiwaku dan jiwamu menyatu makanya saat kehilanganmu aku menjadi tidak berdaya" gumam Hasasi berkaca - kaca dan tidak diduga air mata Hasasi menetes di pipinya
"Kamu menangis?" tanya kaget
"Ummm ti... Tidak" desah Hasasi mengusap air matanya
"Hasasi, kamu kenapa menangis?" tanyaku pelan
"Tidak ada... Lupakan!!"
"Kenapa kamu menangis? Jawab gak!!" protesku
"A... Aku keingat saat kehilanganmu Fifiyan, hidupku hampa, hatiku terasa sakit Fifiyan, sakit banget saat kehilanganmu. Terkadang aku berfikir kenapa aku seorang pemimpin yang dikenal kejam dan tidak takut apapun bisa menangis saat kehilanganmu" gumam Hasasi menundukkan kepalanya sambil terus sesenggukan
"Hmmm ... Hasasi" desahku memeluk tubuh sixpacknya
Aku memeluknya dengan lembut dambil mengusap lembut punggungnya yang mrmbuatnya sedikit tenang. Tangis Hasasi sedikit mereda saat aku peluk dengan penuh sayang, air matanya berhenti keluar dari sudut matanya dan senyuman di bibirnya menghiasi wajah Hasasi yang tampan
"Fifiyan, makasih banyak ya mungkin tanpa adanya kamu aku akan terus merasa kesepian" gumam Hasasi membalas pelukanku
"Iya aku juga berterima kasih akan cinta kasihmu padaku yang belum pernah aku rasakan sebelumnya Hasasi" gumamku bahagia
"Haaah, padahal kita sering ya membahas masalah kayak gini tapi selalu terasa mengharukan" desah Hasasi mengatur nafasnya yang sesekali masih sesenggukan
"Ya emang masa lalu meskipun terkadang begitu menyakitkan tapi menjadi pembelajaran yang baik untuk masa depan"
"Ya emang benar, makanya karena masa lalu yang bisa membuatku seperti ini sekarang. Oh ya ini udah hampir pukul 8 malam, ayo kita ke atas keburu acaranya dimulai" gumam Hasasi melepaskan pelukannya dan menarikku kembali ke dalam kamar
"Eeh i... Iya Hasasi. Jangan menarikku kayak gini, bikin gelasku hampir jatuh tahu" protesku
"Hehehe, maaf sayang. Ya udah kamu mau mandi dulu gak?"
"Iya deh aku mandi aja dulu sebentar" gumamku bergegas masuk ke kamar mandi
"Ya udah jangan lama - lama" teriak Hasasi
Aku langsung mandi dengan cepat dan bergegas menggunakan gaunku di ruang ganti, aku tidak bisa berendam lama karena 10 menit lagi acara di mulai. Setelah berdandan cantik akupun menemui Hasasi yang sudah tampan dengan kemeja putih dengan jas hitamnya
"Tampan" gumamku tanpa sadar saat melihat wajah Hasasi
"Hahaha emang aku tampan" ucap Hasasi sombong
"Hmmm dasar ngeselin" gumamku kesal
"Ya udah aku kita pergi ke atas, Hansol udah menunggu kita diatas" gumam Hasasi menarik tanganku keluar kamar menuju ke lantai atas
__ADS_1