
Tidak beberapa lama datang seorang pria dengan dua anak yang digenggamnya, aku sesekali menatap pria itu yang sedang membahas perusahaan dengan Hasasi dengan serius.
"...Baik, terimakasih atas kerjasamanya tuan muda..." gumam pria itu segera beranjak pergi.
"Hmm..." desah Hasasi kembali menghabiskan makanannya dan mengajak kami kembali pulang. Karena hari ini Hasasi ada pertemuan kembali jadi Han dan Sasa di ajak kembali ke rumah Tuan dan Nyonya Stun
"Loh kalian, kenapa balik lagi?" tanya Nyonya Stun terkejut
"Aku ada urusan ibu, jadi titip lagi ya!" gumam Hasasi garuk - garuk kepala.
"Padahal kan sudah ibu katakan kamu fokus ngurusin anak dan istrimu jangan mafia mulu!"
"Ya ya aku tahu ibu, ibu tenang saja..."
"Hmmm baiklah, ayah tahu apa yang kamu urus!" gumam Tuan Stun menunjuk gulungan yang ada di balik jas hitam milik Hasasi.
"Ya begitulah ayah, demi masa depan Han juga...." desah Hasasi mengacak rambut Han.
"Ya sudah hati - hati saja, jaga Fifiyan banyak yang masih menginginkannya!"
"Ya aku tahu ayah, dia istriku dan tidak semudah itu merebutnya dariku!" gumam Hasasi memelukku erat.
"Oh baguslah, kamu jadi dewasa sekarang Hasasi, syukurlah.." desah tuan Stun tersenyum lega.
"Baiklah, kami berangkat dulu ayah ibu.. Jangan nakal ya kalian berdua."
"Baik ayah" teriak Han dan Sasa senang.
Hasasi menggenggam erat tanganku dan membukakan pintu mobil untukku, aku masuk ke dalam mobil dan Hasasi terduduk di sebelahku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Kamu capek Hasasi? gumamku mengusap lembut rambutku.
"Ya, permainan anak kecil membuat tubuhku sakit semua."
"Hmmm ya namanya juga taman bermain anak - anak sayang."
"Ya memang tapi demi kebahagiaan keluargaku apapun aku lakukan..." desah Hasasi pelan.
"Hmmm emang kamu suami yang pengertian Hasasi."
"Ya aku berusaha menjadi pria yang hangat di keluargaku tapi dingin dengan orang lain."
"Tidak masalah Hasasi, kalau kamu memasang muka dinginmu di depan anak - anak pasti mereka akan ketakutan."
"Hahaha nanti aku dikiranya hantu lagi!!!" tawa Hasasi keras.
"Ya ... Benar..." desahku pelan.
"Ada apa sayang?"
"Tidak ada apa - apa Hasasi..." desahku pelan.
"Apa kamu tidak enak badan?"
"Tidak, aku hanya lelah juga."
"Sebentar lagi sampai kok sayang, tuh di depan udah sampai..." gumam Hasasi menunjuk sebuah jalan yang dikelilingi hutan yang rimbun dan lebat.
"Kita dihutan?"
"Ya kan kamu pernah aku ajak kemari sayang."
"Oh benarkah? Aku lupa."
"Tidak apa sayang."
"Emang kamu mau minta file disini?"
"Aku ada rapat dengan mafiaku, soalnya seluruh anggotaku hadir rapat di markasku..." desah Hasasi membuka pintu mobil saat mobil telah berhenti.
"Ini jalan ke markasmu?"
"Ya kan aku sudah bilang kamu pernah aku ajak ke sini sayang."
"Ohh mmm aku lupa sayang."
__ADS_1
"Tidak apa sayang..." desah Hasasi menggenggam tanganku keluar mobil.
Aku melangkahkan kakiku mengikuti langkah kaki Hasasi, wajah Hasasi yang tersenyum dan senang langsung berubah menjadi dingin menakutkan saat di depan kami terdapat beberapa orang yang menunggu kedatangan kami.
"Haah akhirnya ketua kegelapan datang" sindir seorang pria menatap Hasasi dingin.
"Ya mungkin minta jatah dulu tuh sama istrinya!!!" sindir pria yang lain dingin
"Bacot kali kalian!" gerutu Hasasi melewati mereka dengan tatapan dingin.
"Huuh kau masih saja dingin dan ngeselin Hasasi.." gerutu salah satu pria dan Hasasi hanya terdiam masuk ke dalam sebuah ruangan
Di dalam ruangan yang luas itu aku melihat banyak sekali orang - orang yang telah terduduk di kursi dengan tatapan dingin menakutkan "Kenapa aku merasa ini seperti di neraka saja ya.." desahku dalam hati sedikit merinding melihat tatapan itu.
"Ada apa sayang?" bisik Hasasi menatapku dingin.
"Sedikit ... Takut."
"Tidak apa sayang, memang mereka seperti itu. Ganggam saja tanganku..." desah Hasasi menggenggam tanganku erat dan aku hanya mengangguk pelan.
"Baiklah, karena Hasasi sudah disini kita mulai saja rapat kita kali ini..." gumam Hansol berdiri di depan meja.
"Tunggu sebentar, disini ada orang asing yang mengikuti rapat!" protes seorang pria menunjukku.
"A.. Aku?" gumamku bingung.
"Dia istriku, apa itu masalah buatmu?" gumam Hasasi dingin.
"Ee... Emmm ti.. Tidak tuan."
"Lalu?"
"E... Mmm maaf tuan muda."
"Baiklah kita mulai rapat ini... Silahkan tuan Nino paparkan hasilnya" desah Hansol terduduk di sebelahku.
"Berdasarkan hasil observasi dan mata - mata anggotaku kita dapat hasil yang mengejutkan sama seperti prediksi Hasasi bahwa... Mafia pemberontak diam - diam di ketuai oleh Alex Guan."
"Alex Guan? Bukannya dia sekutu dengan kita?" tanya semua orang terkejut.
"Naian?" gumamku terkejut.
"Ohh hay Fifiyan, kita bertemu kembali..." gumam Naian dingin dan aku hanya menghembuskan nafasku.
"Ya, tidak ku sangka kau masih hidup Naian."
"Hah bercandamu sangat lucu Fifiyan..." gumam Naian dingin.
"Heei mana buktinya!!" protes seorang pria kesal.
"Oh ya, inilah buktinya" gumam Naian menunjukkan beberapa bukti berupa senjata, kartu nama, dan beberapa dokumen di depan kami semua.
"Dan ini saksi kuncinya?" gumam Naian menjentikan jarinya dan muncul beberapa pria yang memegang seorang wanita cantik.
"Tung... Tunggu... Cindy?" tanyaku terkejut.
"Ya dia Cindy yang asli" gumam Hasasi santai.
"Lalu yang aku hadapi kemarin?"
"Dia Cindyana Wu biasanya di panggil Cindy Wu sepupu dari Cindy, mereka berdua mirip ... Dan yang paling penting dia ... Mati" gumam Hansol menatap Cindy dingin.
"A.. Apa!!!" teriak Cindy terkejut.
"Ya dan musuh cintamu lah yang menghabisinya." gumam Hansol mengangkat daguku tinggi.
"Ka... Kamu!!!" teriak Cindy kesal.
"Heei yang membunuh kau sendiri tahu!!" protesku menepis tangan Hansol.
"Ya tapi dengan bantuanmu." gumam Hansol santai.
"KAAAMMUUU!!!" teriak Cindy kesal.
"Hei wanita ******, sekarang jelaskan!!" gerutu Naian dingin sambil menarik rambut Cindy.
__ADS_1
"A... Apa!!"
"Jelaskan!!!"
"Ha.. Hahaha... Aku tidak akan mengatakannya apapun!!"
"Oh benarkah?" gumam Hasasi berjalan ke depan Cindy.
"Ha... Hasasi?" desahku terkejut melihat Hasasi dengan dingin berjalan dan berjongkok di depan Cindy.
"Apa kamu benar - benar akan terus bungkam?"
"Bukan urusanmu!!"
"Bukan urusanku ya..."
Plaaaaakkkkk
Terdengar suara tamparan keras di depanku, aku terkejut kalau Hasasi menampar Cindy dengan keras.
"Katakan!!!" teriak Hasasi keras tapi Cindy hanya diam.
"Katakan!! Kau kan dalang dibalik semua!! Kau juga kan yang terus menyakiti Fifiyan!!" teriak Hasasi kesal.
"Hah... Hahaha..." tawa Cindy kencang.
"KATAKAN!!!"
"Aku? Haaah masalah wanita itu bukan aku yang melakukannya."
"Lalu apa kah Alex benar - benar ketua mafia pemberontak?" tanya Naian dingin.
"Ya dia salah satu ketua mafia pemberontak. Tapi dalang dibalik semua ini bukan mereka. Hanya ada satu ketua tertinggi yang menjadi ketua mafia pemberontak dan dia juga yang merencanakan untuk menyakiti Fifiyan!"
"Lalu siapa?" gumam Naian penasaran.
"Fiyoni Khun!!! Dan kau kenal kan Fifiyan?"
"Fi... Fiyoni Khun?" gumamku terkejut.
"Ya kakak tiri Kwan Liang dan dia ingin membunuhmu dan menghancurkan Hasasi apapun caranya Hahahaha!!!" tawa Cindy keras.
Plaaaaakkkk
Lagi - lagi Hasasi menampar wajah Cindy dengan keras, Hasasi berdiri di depan Cindy dengan perilaku yang terlihat sangat kesal.
"Bawa dia ke tahanan isolasi khusus!!" teriak Hasasi dan dua pria di belakang Cindy membawa Cindy keluar dari ruangan.
"Huuhh..." desah Hasasi terduduk di sampingku.
"Jangan khawatir sayang, aku akan menjagamu" gumam Hasasi merangkulku lembut sedangkan aku hanya menundukkan kepalaku dan terdiam.
"Fi... Fiyoni Khun? Di.. Dia seorang kakak tiri yang aku percaya dan aku sayang selama berada di keluarga Liang. Dia baik padaku tapi kenapa..." desahku pelan.
"Uumm?" desah Hasasi menatapku.
"Kenapa dia ingin membunuhku Hasasi?"
"Hmmm aku tidak menjamin dia berani membunuhmu Fifiyan, tapi aku yakin satu hal. Dia tidak ingin melukaimu sedikitpun tapi dia ingin merebutmu dariku dan membinasakan seluruh keluarga Stun dengan tangannya sendiri."
"Ke... Kenapa dia ingin melakukannya?" gumamku menatap bawahan Hasasi yang sedang fokus rapat.
"Dendam... Hanya itu yang dia inginkan..." desah Hasasi menatapku.
"Dendam? Kan itu keluargaku jadi dia..."
"Ya benar itu keluargamu tapi Fiyoni sangat menyayangimu, melihat kamu menderita dari awal yang membuatnya dendam kepada keluarga Stun dan ingin merebutmu dariku."
"Tapi Hasasi... Fiyoni Khun bukannya sudah lama mati?"
"Tidak, dia sama sekali tidak mati. Fiyoni pergi dari keluarga Liang dan mengembangkan mafia miliknya agar bisa merebutmu dari genggamanku!" gumam Hasasi serius.
"Dia menganggap kalau kamu menikah denganku hanya untuk tahanan keluarga Stun dan ingin menikahimu itulah alasannya Fiyoni ingin merebutmu kembali." gumam Hasasi pelan.
"Hmmm..." desahku pelan
__ADS_1
Aku masih terkejut kalau Fiyoni masih hidup bahkan dia ingin merebutku dari genggaman Hasasi hanya alasan tidak masuk akal dan sekarangpun Hasasi pasti akan bertarung dengan merema