Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 27 : Kembali Hidup


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Hasasi akan melakukan operasi, beberapa bulan sebelumnya dokter sudah memberitahukanku agar aku sering memberikan darahku untuk Hasasi agar operasinya berjalan lancar dan organ dalamku bisa di terima baik oleh tubuhnya.


"Fifiyan, apa yang kamu lamunkan?" tanya Hasasi menatapku serius.


"Oh mmm tidak ada kok sayang..." gumamku menyandarkan kepalaku di bahu Hasasi. Ya saat ini kami sedang berada di perjalanan menuju ke rumah sakit bersama dengan Steven, Dennis dan Hansol.


"Benarkah? Kenapa kamu terlihat sedih?" tanya Hasasi serius.


"Mmmm tidak ada kok sayang, aku hanya lelah..." gumamku pelan, aku menatap wajah Steven yang terlihat sangat sedih tapi aku hanya tersenyum dan Steven hanya mendesahkan nafasnya pelan.


"Oh hmmm, pasti karena capek mengurusi Han dan Sasa ya?"


"Ya, kamu pasti mengerti sayang..." gumamku memainkan handphoneku.


"Ya aku mengerti kok Sayangku..."


"Oh ya Hasasi Han dan Sasa sudah kami jaga ketat, jangan khawatirkan hal itu."


"Oh mmm yak aku mengerti, jangan lupa jaga istriku juga!"


"Hmmm..." desah Steven membuang mukanya.


Setiap hari Steven selalu bertanya kepadaku apa aku serius dengan keputusanku itu tapi aku tetap dengan keputusanku yang akan memberikan ginjal dan hatiku untuk Hasasi jadi wajar saja kalau Steven terlihat kesal denganku.


"Sayang, kita sudah sampai..." gumam Hasasi pelan.


"Oh mmm baiklah..." gumamku menggendong tubuh Hasasi masuk ke dalam rumah sakit.


"Kenapa tidak menggunakan kursi roda saja sayang?"


"Hanya ingin."


"Hmmm baiklah..." desah Hasasi merangkul leherku dan terdiam.


Di dalam ruang operasi aku membaringkan tubuh Hasasi dan menatapnya dengan serius.


"Sayang... doakan semoga operasinya lancar ya..." gumam Hasasi pelan.


"Ya semoga lancar operasinya suamiku..." gumamku mencium pipi Hasasi lembut dan berjalan pergi, di luar ruangan aku bertemu dengan dokter pribadi Hasasi dan menganggukkan kepalaku pelan.


"Baiklah, mari nona muda..." gumam dokter pribadi itu berjalan mendahuluiku.


"Oh hmmm baiklah dokter..." gumamku pelan.


Dokter memberikan suntikan bius padaku, kepala yang sangat ringan dan kedua mata yang terasa sangat kabur benar-benar membuatku memejamkan kedua mataku dan tertidur dengan pulas.


"Fifiyan... Fifiyan!" ucap seorang pria di sekitarku, aku membuka mataku dan melihat wajah ayah dan ibu yang melihatku khawatir.


"Eehh mmm ayah? Ibu?" gumamku terkejut.


"Kenapa kamu bisa ada disini Fifiyan?" tanya ayah terkejut.


"Emangnya ini dimana?" tanyaku bingung.


"Ini di perbatasan surga dan dunia nyata."


"Oh begitu ya..." desahku terduduk dan menundukkan kepalaku.


"Kenapa kamu bisa disini? Kamu belum mati tapi bagaimana kamu bisa di masa kritis seperti ini?" tanya Ibuku serius.


"Aku... aku hanya memberikan organ dalamku untuk Hasasi."


"Apa? Kenapa kamu memberikannya? Apa Steven tidak melarangmu?" protes ayah menatapku dingin.


"Ayah... Hasasi suamiku dan ayah menjodohkanku dengan Hasasi karena tubuhku dibutuhkan Hasasi kan?" tanyaku pelan.


"Tidak! Ayah tidak pernah berfikiran untuk itu!"


"Tapi ayah secara tidak langsung menyuruhku melakukannya! Aku melakukannya juga karena Hasasi yang telah mengubah hidupku dan aku berterimakasih karena itu."


"Jadi kamu melakukannya hanya karena berterimakasih saja?" tanya ibu serius.

__ADS_1


"Iya ibu, Fifiyan sangat bahagia bisa bersama dengan Hasasi dan dengan kedua anakku tapi Fifiyan tidak rela jika Fifiyan kehilangan Hasasi ibu, Fifiyan sangat mencintai dia!"


"Hmmm sayang berterimakasih tidak harus melakukan hal ini!" ucap ibu serius.


"Fifiyan tahu, tapi Fifiyan ingin Hasasi terus hidup dengan bahagia ibu. Sudah lama Hasasi menahan rasa sakitnya dan Fifiyan ingin Hasasi bahagia ibu."


"Hmmm kami kira kamu akan membenci Hasasi karena keluarganya membunuh kami?" gumam ayah mengusap lembut rambutku.


"Tidak ayah, walaupun sebenci apapun Fifiyan dengan Hasasi tapi Fifiyan sangat mencintai Hasasi ayah."


"Oh hmmm baiklah ayah mengerti kok anakku, ayah bangga dengan pikiranmu yang sudah sangat dewasa ya anakku..." gumam ayah tersenyum manis sedangkan aku hanya terdiam.


"Kenapa kamu terlihat sedih anakku?"


"Fifiyan... rindu ayah dan ibu. Sudah lama sekali tidak bertemu dengan ayah dan ibu."


"Oh benarkah? Hmmm kami juga rindu kamu anakku, ayah tidak menyangka kamu sudah sebesar ini anakku..." gumam ayah senang.


"Hmmm ya ayah, Hasasi yang merawat Fifiyan setelah Fifiyan bertemu dengan Hasasi ayah."


"Oh benarkah? Hmmm ayah tidak menyangka Hasasi bisa merawatmu dengan baik seperti ini anakku."


"Ya ayah, Hasasi sangat pintar merawat Fifiyan ayah."


"Baguslah... ayah senang mendengarnya...." gumam ayah senang.


"Oh ya Fifiyan, ibu ingin bertanya padamu sayang..." gumam ibu serius.


Ibu terus mengajakku berbicara tentang kehidupanku dengan Hasasi dan bertanya tentang kedua anakku dan ibu nampak terlihat senang mendengar tentang keluarga kecilku.


"Oh ya bagaimana dengan Steven? Apa dia sudah menikah dengan Angel?"


"Belum ibu, kakak tidak ingin dengan Angel."


"Kenapa?"


"Karena Angel memilih dengan Hansol temannya Hasasi ibu."


"Kenapa ayah menjodohkannya juga?"


"Ada alasan ayah sendiri menjodohkan Steven ataupun menjodohkan kamu anakku."


"Oh hmmm begitu ya..." desahku pelan.


"Apa kamu benar-benar bahagia dengan Hasasi anakku?" tanya ibu serius.


"Ya ibu,Fifiyan sangat bahagia dengan Hasasi."


"Oh benarkah? Ibu sangat khawatir kalau kamu tidak bahagia anakku."


"Memangnya kenapa ibu?" tanyaku bingung.


"Ya ibu tahu Hasasi adalah pria yang sangat di takuti semua orang ditambah lagi dia sangat keras kepala dan dingin ditambah dia sangat tidak peduli dengan siapapun, walaupun dulu dia masih anak-anak tapi ibu menilai dia seperti itu."


"Oh mmmm lalu kenapa ibu menyetujui perjodohanku dengan Hasasi?" tanyaku penasaran.


"Ayahmu yang memaksa ibu menyetujuinya, ayahmu selalu meyakinkan ibu kalau Hasasi akan menjaga kamu walaupun kami telah tiada, awalnya ibu tidak percaya dan ibu sangat takut tapi melihatmu tumbuh sehat seperti ini membuat ibu tenang anakku..." gumam ibu senang.


"Oh begitu ya... mmm berapa lama waktu yang Fifiyan butuhkan untuk ke surga dengan ayah dan ibu?" tanyaku pelan.


"Kamu tidak bisa ke surga nak."


"Eehh kenapa tidak bisa?" tanyaku terkejut.


"Kamu masih hidup anakku, kamu hanya kritis saat ini!" ucap ayah serius.


"Kehilangan dua ginjal dan satu hati? Tidak mungkin aku masih hidup ayah!"


"Ya tapi... Lisa, adik kandung Hasasi mendonorkan dua ginjal, satu hati dan jantungnya untukmu."


"Eeh Lisa? Kenapa bisa?" tanyaku terkejut.

__ADS_1


"Ya, pengangkatan ginjal dan hatimu memang sukses menyembuhkan Hasasi tapi jantungmu bermasalah itulah kenapa kamu berada disini... dan Lisa memberikan organ yang kamu butuhkan agar kamu bisa hidup anakku."


"Ba...bagaimana ayah tahu?" tanyaku terkejut.


"Sebelum kamu disini, ayah dan ibu bertemu dengan Lisa. Lisa mengatakan kalau donor ini hanya bisa membantumu agar kamu terus hidup dan bisa menjaga keluarga kecilmu ditambah Lisa meminta tolong padamu untuk menjaga bayi kecilnya."


"Eeehh kalau begitu Lisa..."


"Ya, Lisa telah mati setelah dia bunuh diri beberapa jam setelah melahirkan anaknya."


"Eehh kok...astaga kenapa dia melakukan hal itu!" protesku kesal.


"Ayah tidak tahu anakku, hanya itu yang Lisa katakan pada kami kemarin."


"Oh mmm..." desahku pelan.


"Fifiyan..." ucap seorang pria yang memelukku dari belakang, aku menoleh dan melihat tubuh Hasasi yang bercahaya dengan wajah Hasasi yang terlihat sedih.


"Ayah.. kenapa aku bisa melihat Hasasi?" tanyaku pelan.


"Ya kalau begitu sebentar lagi kamu akan terbangun anakku."


"Terbangun?" tanyaku pelan.


"Ya, walaupun kamu tidak sadar tapi jika kamu berada disini kamu bisa mengetahui apa yang terjadi di dunia nyata yang sedang terjadi pada tubuhmu."


"Jadi kalau Hasasi memelukku jadi dia sedang memelukku ayah?"


"Ya bisa dikatakan seperti itu."


"Oh begitu ya..." desahku pelan.


"Oh ya nak sebelum berpisah, ayah dan ibu berpesan padamu... jaga dirimu, jaga keluarga kecilmu dan jaga kakakmu Steven jangan sampai terluka atau melakukan hal bodoh lainnya anakku. Salam buat Hasasi dan Steven ya! Semoga kita bertemu di kesempatan lainnya anakku!" ucap Ayah dan Ibu dengan senang, tubuh ayah dan ibu semakin lama semakin hilang dan meninggalkanku sendirian di sini.


"Fifiyan... bangun! Fifiyan... jangan tinggalkan aku!" tangis Hasasi terus memelukku.


"Hmmm kenapa kamu begitu khawatir padaku Hasasi, padahal kalau aku mati... kamu bisa bersama dengan mantan kekasihmu itu dan...uuugghhh sa...sakitnya..." rintihku memejamkan mataku sambil merasakan rasa sakit di dadaku. Saat kedua mataku terbuka, aku melihat Hasasi yang benar-benar memelukku dengan tangis yang kencang.


"Fifiyan... bangun! Kamu sudah berbulan-bulan tidak sadar, aku khawatir padamu... bangun Fifiyan!" teriak Hasasi keras.


Aku menggerakkan tangan dan mengusap lembut rambutnya, Hasasi langsung menatapku terkejut dan kembali memelukku erat.


"FIFIYAN AKHIRNYA KAMU BANGUUUNN!!" teriak Hasasi kencang yang membuat Steven terbangun dari tidurnya.


"Fi...Fifiyan... di...dia bangun?" tanya Steven menatapku terkejut.


"A-aku dimana?" tanyaku pelan.


"Astaga benar-benar suatu keajaiban, dokter! Dokter! Adikku sadar dokter!" teriak Steven kencang dan datang beberapa orang yang langsung memeriksaku dengan teliti.


"Bagaimana dokter?" tanya Steven serius.


"Syukurlah organ penggantinya bisa berfungsi baik di tubuh nona muda, hanya perawatan akan bisa menyembuhkan tubuh nona muda! Mmm baiklah saya permisi tuan muda..." ucap dokter pribadi Hasasi berjalan meninggalkan ruangan.


"Huuh syukurlah, terimakasih dokter..." desah Steven lega.


"Mmmm kakak... kakak dapat salam dari ayah dan ibu... ayah dan ibu ingin kakak segera menikah..." gumamku pelan.


"Oh mmm apa kamu bertemu ayah dan ibu?" tanya Steven mengusap lembut rambutku.


"Ya, ayah dan ibu senang melihatku dan senang jika Fifiyan bertemu kakak."


"Oh benarkah? Hmmm ya sudah istirahatlah, melihatmu sadar Hasasi sudah bisa tidur nyenyak tuh."


"Apa dia tidak tidur?" tanyaku pelan.


"Ya, dia tidak bisa tidur dan tidak mau makan hanya menangis jika pergi kesini..." gumam Steven mengusap rambutku lembut.


"Oh mmm kakak disini saja ya menemaniku..." gumamku pelan.


"Oh mmm baiklah, ya sudah tidurlah adikku..." gumam Steven pelan dan aku kembali memejamkan kedua mataku, bisa hidup kembali membuatku terkejut tapi aku sendiri berterimakasih kepada Lisa dia bersedia mendonorkan organnya padaku, walaupun begitu aku masih penasaran apa yang membuat Lisa melakukan semua itu.

__ADS_1


__ADS_2