Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 31 : Tidak Bisa Merawat Anak Lisa


__ADS_3

Aku mendapatkan perawatan khusus setelah kembali sadar selama beberapa bulan lamanya. Walaupun tiga hari setelah aku sadar sudah di perbolehkan pulang tapi aku tetap harus melakukan rawat jalan dan meminum obat khusus untuk menunjang organ baruku.


Seperti biasa hari ini ada melakukan hal yang biasa aku lakukan, agenda pesta tahunan itu diundur karena Hasasi menginginkan pesta tahunan itu mundur dan ingin fokus menjagaku. Dengan keterbatasan yang Hasasi punya, Hasasi menjagaku dan merawatku dengan baik bahkan kedua anakku juga merawatku dengan baik bahkan jika aku tidak makan kedua anakku langsung memarahiku sama seperti saat ini.


"Ibu!! Kenapa ibu tidak makan?" Protes Han yang masuk ke dalam kamarku sedangkan aku hanya terduduk di kursi menatap pagi yang cerah ini dari dalam kamar.


"Ibu sudah kenyang."


"Tapi ibu! Ibu harus makan!"


"Ya nanti ibu makan."


"Tapi ibu!!" Protes Han meletakkan piring yang berisi makanan di atas paha kakiku.


"Aku tidak mau tahu pokok ibu harus makan!" Protes Han menatapku dingin seperti Hasasi yang sedang memarahiku.


"Nanti saja, kemana ayahmu?" Tanyaku pelan.


"Ayah sedang pergi bersama Sasa ke supermarket dan meminta Han menjaga ibu, kalau ibu tidak makan nanti ayah marah!"


"Nanti saja, kamu makanlah dulu..." gumamku memberikan piring itu kepada Han.


"Tapi ibu..."


"Tadi ibu memesan makanan kepada ayahmu jadi ibu akan menunggunya..." gumamku berbohong.


"Han sudah makan ibu, Han sangat kenyang."


"Ya sudah nanti saja biar ayahmu yang memakannya..." gumamku pelan dan Han menatapku serius.


"Ibu tidak sakit kan?" Tanya Han menatap kedua mataku.


"Tidak, ibu baik-baik saja."


"Oh mmm ya sudah Han akan menonton televisi ibu..." gumam Han menaruh makanan itu di meja dan pergi meninggalkanku.


"Hmmm..." desahku kembali menatap keluar jendela. Tidak berapa lama aku mendengar suara Hasasi di lantai bawah, aku menghela nafas pelan dan menatap kedua tanganku.


"Sayang aku pulang!!" Ucap Hasasi kencang tapi aku hanya terdiam menundukkan kepalaku.


"Tadi kata Han kamu memesan makanan kepadaku? Kamu pesan apa?" Tanya Hasasi pelan tapi aku hanya terdiam menundukkan kepalaku.


"Sayang kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Hasasi memutar tubuhku dan menatapku khawatir, Hasasi mengangkat daguku dan menatap kedua mataku serius.


"Sayang ada apa?" Tanya Hasasi pelan tapi aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Katakan sayang, ada apa?"


"Tidak ada."


"Kenapa kamu seperti memikirkan sesuatu?"


"Entahlah, tapi aku merasa aku sangat sedih."


"Hmmm kamu teringat Lisa?"


"Ya, aku sedikit teringat Lisa, apa kamu tidak teringat?" gumamku pelan dan Hasasi hanya menghela nafasnya pelan.

__ADS_1


"Ya, aku juga."


"Hasasi... Apa Alan dan Fiyoni masih terluka?"


"Menurut mata-mataku ya, mereka masih terluka. Ada apa?" Tanya Hasasi bingung.


"Mmm tidak ada, aku hanya khawatir denganmu."


"Khawatir denganku? Apa yang kamu khawatirkan?"


"Ya takut kalau musuh melukaimu."


"Hmmm selama ada kamu pasti aku akan baik-baik saja sayang."


"Apa kamu yakin?"


"Ingat janjiku padamu sayang, jadi apa yang kamu khawatirkan?"


"Hmmm ya benar juga..." desahku menggenggem erat tangan Hasasi.


"Oh ya Hasasi, bagaimana kondisi anaknya Lisa?"


"Sudah stabil, ibu yang mengurusnya."


"Benarkah? Bisakah kita mengurusnya?"


"Kamu mau?"


"Ya, kasihan ibu jika diberikan tanggung jawab itu!" Ucapku pelan.


"Hmmm baiklah nanti biar aku bicarakan dengan ibu."


"Entah, belum bisa kami pikirkan. Ditambah dia tidak tahu dari marga mana."


"Kenapa tidak di jadikan marga Stun?"


"Kalau itu... Tidak bisa!"


"Kenapa?" Tanyaku serius.


"Marga itu berasal dari marga ayah sedangkan anak itu berasal dari marga Khun dan Stun jadi akan sulit."


"Kan ayahnya berasal dari keluarga Khun kenapa tidak kamu beri marga Khun?"


"Marga Khun ya? Mmm boleh manti coba aku tanyakan kepada ayah dan ibu."


"Apa kamu menerima kehadiran anak itu dan menganggapnya sebagai anakmu?" Tanyaku pelan.


"Sejujurnya... Tidak, aku tidak akan menerima dia."


"Tapi Hasasi..."


"Sayang dengar, aku bisa menganggap dia sebagai anak angkat tapi tidak bisa menganggapnya sebagai menjadi anak kandungku. Aku tidak mau."


"Kenapa tidak mau? Nanti Lisa pasti akan sedih."


"Istriku bukannya aku tidak mau tapi aku tidak bisa, aku tidak akan bisa menurunkan mafiaku kepadanya karena aku tidak mau kedua anak kita cemburu akan hal itu jadi jika merawatnya tidak masalah tapi untuk menjadi anak kandung tidak, apa kamu mengerti?"

__ADS_1


"Apa kamu takut jika Alan atau Fiyoni merebutnya dari kita?"


"Benar, jika aku menunjukkan mafia kita maka mereka akan tahu kelemahan mafia kita sayang."


"Tapi dia hanya anak kecil Hasasi dan..."


"Walaupun kamu memohon padaku tapi aku tidak akan menganggapnya anak kandungku, dia hasil hari hubungan gelap dan karena Lisa sudah meninggal maka aku yang harus menggantikannya untuk sidang di peradilan tinggi."


"Sidang? Kenapa harus sidang?" Tanyaku terkejut.


"Ya sidang untuk menentukan marga yang cocok untuk anak itu dan hak asuh untuk anak itu."


"Tapi mereka saja tidak mengakuinya Hasasi!"


"Memang tapi itu harus dilakukan sayang, peraturan mafia tidak bisa di bantah lagi. Jika Lisa masih hidup maka dia memiliki hak asuh itu tapi Lisa sudah mati jadi ayah bayi itu yang memiliki hak asuh bayi itu."


"Jika mereka tidak mengasuhnya dengan baik dan dijadikan kelinci percobaan sama sepertiku dulu bagaimana?"


"Itu terserah mereka, yang jelas itu sudah tanggung jawab mereka."


"Tapikan Hasasi..."


"Walaupun kamu ingin merawatnya tapi hal itu tidak akan mungkin bisa, jika kau membela anak itu kamu juga tidak akan mungkin bisa, peraturan hukum mafia berbeda dengan peraturan hukum warga sipil sayang..." gumam Hasasi pelan dan memberikanku sebuah kertas yang berisi peraturan hukun mafia yang membuatku terkejut.


"Sebegitu rumitkah mafia?" Tanyaku menatap Hasasi serius.


"Benar, alasanku marah saat mengetahui adikku hamil ya karena hal itu, aku malas berurusan dengan pengadilan itu sayang!"


"Hmmm ada satu poin yang mengatakan jika tinggal bersama harus terikat dan apabila tidak maka akan menghadapi hukuman di lembah kematian? Apa itu lembah kematian sayang?" Tanyaku bingung.


"Lembah kematian ya? Itu tempat seperti neraka, tempat yang digunakan untuk menghukum orang bersalah dengan hukuman yang berbeda-beda."


"Apa hukuman untuk poin tadi?" Tanyaku penasaran.


"Yaah hanya siksaan kecil, tapi kalau berhubungan badan sebelum menikah mendapatkan hukuman cambuk dengan cambuk api!" Ucap Hasasi dingin yang membuatku terkejut.


"B-benarkah? Tapi kan Lisa sudah mati dan..."


"Dan aku yang harus menggantikannya!" Ucap Hasasi serius.


"K-Kamu? Kenapa kamu yang mendapatkan hukuman itu?"


"Karena aku kakaknya dan aahh banyak kali bebanku..." desah Hasasi pelan dan aku memeluknya erat yang membuat Hasasi membenamkan wajahnya di bahuku.


"Ada aku sayang, jangan khawatir..." bisikku pelan dan Hasasi membalas pelukanku.


"Ya benar, mungkin tanpa ada kamu aku tidak bisa hidup sampai sekarang sayang."


"Yaah aku tahu sayang..." desahku mengusap lembut rambut Hasasi. Hasasi memgangkat wajahnya dan menciumku lembut yang membuatku terkejut.


"Apa kamu ingin punya anak?" tanya Hasasi pelan.


"Tidak aku hanya ingin merawat bayi itu saja dan..."


"Dan aku ingin memiiiki anak denganmu... Lagi..." bisik Hasasi pelan dan aku hanya terdiam membeku.


"Lagi? Tapi kan kita sudah tua dan..." bisik Hasasi pelan dan menarikku menuju tempat tidur.

__ADS_1


"Aku tidak peduli..." bisik Hasasi pelan dan mempermainkanku.


Hasasi benar-benar sangat menikmati kebersamaan kami sedangkan aku hanya berpikir kepada peraturan hukum mafia sangat rumit dan kejam?


__ADS_2