Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 127 : Nyaman


__ADS_3

Aku berjalan menuju lemari besar yang ada di pojok kamar dan memilih - milih pakaian yang bisa aku gunakan untuk pesta pantai


"Hey... ini kenapa bikini semua!!!" protesku


"Masa aku pakai bikini kek gini?" gumamku kesal tapi mau bagaimanapun tetap harus memakai bikini tidak ada pilihan yang lain dari pada aku menggunakan gaun dan diliat oleh semua orang dengan tatapan aneh


Di antara semua pakaian bikini yang ada untung ada satu yang tidak terlalu terbuka walaupun masih di katakan terbuka tapi lumayan lah gak terlalu terbuka banget


Aku langsung memakai pakaian tersebut dengan terpaksa dan melihat tubuhku yang masih kurus seperti kemarin tapi menurutku agak sedikit gendutan


"Mmm aku kok agak gendutan ya.." gumamku


"Enggak kok kamu gak gendutan"


"Diarea sini nih udah ada lemak yang menumpuk tau" gumamku menunjukkan area pinggul. Tapi eeh aku ngomong sama siapa?


"Tidak kok sayang kamu malah kurusan bagiku"gumam Hasasi memelukku dari belakang


"Ha... Hasasi, kamu kok bisa masuk ke kamar" tanyaku kaget


"Ya bisa lah" gumam Hasasi sambil terus memelukku


"Eehh tapi tunggu kamu memelukku di waktu tidak tepat" protesku berusaha melepaskan pelukan Hasasi tapi Hasasi memelukku semakin erat


"Mmm Hasasi, boleh lepas gak? ..."


"Gak mau"


"Iihh lepasin... aku cuma pakek bikini tau gak pakek baju aku mau pakek baju dulu!!" protesku


"Gak mau..."


"Kenapa gak mau?" protesku


"Emang kamu malu?"


"Ya malu lah!!" protesku


"Kenapa malu - malu istriku, aku juga pernah melihat tubuh indahmu"


"Kamu!!" protesku


"Jangan marah... Seriusan... aku pernah melihat tubuh indahmu saat dulu pertama kali aku bertemu kamu saat kamu pingsan di jembatan, aku yang menggendongmu bahkan mengganti pakaianmu"


"A... apa!!!" teriaku malu


"Udah jangan malu - malu, tapi syukurlah lemak - lemak badanmu ilang semua... kamu jadi semakin cantik, izinkan aku memelukmu istriku" gumam Hasasi yang memelukku dengan sangat erat


"Hmmm baiklah" desahku mengalah, mau bagaimanapun dia calon suamiku


"Fifiyan... balum ada yang menyentuh tubuhmu selain aku kan?"


"Tidaklah!!!..."


"Hmmm baguslah, karena mau bagaimanapun juga kamu tetap milikku dan selamanya milikku tidak ada yang boleh mengambil milikku" gumam Hasasi


"Kalau ada gimana?" ucapku mengerjain Hasasi


"Siapa?... siapa yang berani menyentuh tubuh istriku... Siapa? ... katakan!!!" teriak Hasasi dengan emosi melepaskan pelukannya dan menatapku dengan marah besar


"Emang kamu mau apain dia?"


"Aku ingin membunuhnya dan mencabik - cabik tubuhnya... siapa yang berani? katakan!" protes Hasasi mencengkeram tanganku dengan erat walaupun kesakitan aku berusaha untuk menahan sakit cengkeramannya Hasasi


"Cepat katakan Fifiyan siapa orangnya!!!" teriak Hasasi dan aku hanya tertawa melihat wajahnya yang emosi


"Hahaha"

__ADS_1


"Apa yang kamu ketawain?"


"Wajah kamu ketika marah hahaha, sebenarnya memang tidak ada yang menyentuhku. Aku cuma mengerjain kamu" gumamku tertawa, tapi tiba - tiba Hasasi menggigit bibirku dengan keras


"Aauuhh.. kenapa aku di gigit" protesku


"Karena kamu sudah mempermainkan aku.. itu hukumanmu"


"Hei ... hukuman seperti ini mulu" protesku tapi saat aku protes Hasasi malah menciumku tanpa ampun sampai aku tidak bisa bergerak


"Eeheeem..."


Tiba - tiba terdengar batuk seseorang yang mengagetkan kami berdua


"Emang ya kalian berdua ini, udah liar aja" gumam Steven yang berdiri di depan pintu kamar dan aku secara refleks mendorong Hasasi


"Aah kakak mengganggu aja" protes Hasasi


"Hahaha... maafkan kalau aku mengganggu keromantisan kalian"


"Jadi kakak kemari ada urusan apa?"


"Tanyakan pada dia" gumam Steven dan datanglah seorang laki - laki yang bawa oleh bawahan Hasasi dan terikat kedua tangannya


"Jadi..." gumam Hasasi duduk dengan dingin di kursi sebelahku


"Dia mata - mata Alex selama ini" ucap Steven menutup pintu kamar dengan dingin


"Jadi..." ucap Hasasi dingin berjalan ke arah laki - laki itu dan jongkok di depannya


"Kamu sekarang jadi mata - mata kami ya Kwan Liang " ucap Hasasi mengambil rambut palsu dengan tangannya dan melepaskan ikatan tali yang mengikat kedua tangannya


"Kwan Liang?" ucapku kaget


"Bukan... bukan aku bukan Kwan Liang" ucap pria itu dengan gugup


"Oh ya.. jadi ...Fifiyan silahkan mengecek dia apakah dia Kwan Liang atau bukan" gumam Hasasi dingin dan duduk di kursi kembali


"Kamu kan ingin balas dendam ke dia kan... silahkan aku tidak menghalangimu" ucap Hasasi santai di kursi


Sebenarnya aku tidak tega tapi mau bagaimanapun dia sudah mempermalukan aku dulu di hadapan banyak orang dan sekarang dia sedang menjadi tawanan Hasasi, apalagi aku bisa membalaskan dendamku untuk menampar sepuasku


"Kwan Liang, maafkan aku..."


Plaaakk


"Itu untuk kamu yang telah menyakitiku"


Plaaaakkkk


"Itu untuk rasa maluku saat kamu tampar di tempat umum"


Plaaaakkk


"Ini untuk kamu yang telah sia - siakan cintaku"


Plaaaakkk


Plaaaaaaakkk


"Dan ini ... ini... ini... ini adalah rasa benciku ke kamu taaauu!!" gumamku terus menampar Kwan Liang yang hanya diam tanpa kata


*Plaaakkkk


Plaaaakkkkk*


Plaaaakkk

__ADS_1


Aku terus menampar Kwan Liang dengan liar dan cepat aku tidak peduli dengan pipinya yang sudah memerah akibat aku tampar terus menerus tanpa henti. Tapi tiba - tiba Kwan Liang menangkap tanganku yang akan menamparnya dengan cepat


"Cukup Fifiyan...aku mengakui aku Kwan Liang... cukup, tamparanmu sangat sakit tau" protes Kwan Liang


"Biarin, itu dendamku kepadamu"


"Kalau aku bersalah kepadamu, aku minta maaf Fifiyan... aku sebenarnya sayang sama kamu Fifiyan, aku..." gumam Kwan Liang mengelus pipiku dengan lembut


"Jangan menyentuh wanitaku!!!" protes Hasasi menarikku ke dalam pelukannya


"Kembalikan wanitaku Hasasi, dia milikku"


"Maaf Kwan Liang dia sekarang wanitaku" ucap Hasasi memelukku dengan lembut


"Kembalikan Fifiyan padaku... kembalikan Hasasi..." ucap Kwan Liang memohon


"Tidak"


"Kembalikan wanitaku" ucap Kwan Liang menarik tanganku


"Lepaskan tangan wanitaku" protes Hasasi dingin


"Kembalikan wanitaku..."


"Tidak"


"Kembalikan"


"Tidak"


"Heiii kalian, sakit tahu tanganku di tarik - tarik..." protesku melepaskan diri dari tarikan mereka berdua


"Ya udah gini aja biar adil... Fifiyan, kamu mau memilih siapa diantara aku dan Kwan Liang?" ucap Hasasi dingin


"A... aku maafkan Kwan Liang, aku memilih Hasasi"


Plaaakkkk


"Fifiyan kenapa??" ucap Kwan Liang menamparku dengan keras


"Tidak ada alasan lainnya selain aku kecewa denganmu" ucapku dengan dingin menahan tamparan Kwan Liang dan berlari ke pelukan Hasasi


"Berani - beraninya kamu menampar wanitaku" protes Hasasi dengan kesal


"Kenapa Fifiyan kenapa?" gumamKwan Liang sedih


"Bawa dia ke tahanan bawah tanah, aku masih ingin menginterograsinya dan juga menghukumnya karena telah melukai wanitaku" ucap Hasasi dan bawahan Hasasi membawa Kwan Liang keluar dari kamar dan Steven mengikuti bawahan Hasasi


Tamparan Kwan Liang sangat keras dan menyakitkan, pipiku terasa panas dan sakit seperti saat dia menamparku di pesta ulang tahunnya beberapa tahun yang lalu, sangat menyakitkan.


"Apakah sakit Fifiyan?" tanya Hasasi lembut


"Tidak... apa - apa kok..." gumamku menahan tangis tapi tetap saya air mataku mengalir di pipi


"Jangan menangis sayang"


"Sa... sakit" rengekku


"Sini... sini aku obatin" ucap Hasasi langsung mencium pipiku dengan lembut


"Hasasi... makasih ya"


"Makasih buat apa?"


"Makasih kamu selalu melindungiku"


"No problem " ucap Hasasi dan aku tersenyum senang

__ADS_1


"Baiklah... Kita keluar dulu yuk" gumam Hasasi memapahku keluar dari kamar menuju ke pantai


Tidak tahu kenapa aku merasa sangat nyaman saat berada di sisi Hasasi, dia selalu melindungiku disaat aku disakiti oleh orang lain. Walaupun Hasasi adalah ketua perkumpulan yang paling ditakuti tapi tidak tahu kenapa aku malah nyaman berada di sisinya bahkan tidak takut sama sekali


__ADS_2