
Selama rapat berlangsung, aku hanya terdiam sambil memegang erat tangan Hasasi, aku tidak tahu lagi, aku bingung, kenapa Fiyoni mau melakukan hal itu demi aku padahal aku sudah sangat bahagia dengan Hasasi saat ini.
Pikiran yang mengganggu itu terus saja membayangi otakku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan aku takut Fiyoni benar- benar menyakiti keluarga Stun, aku tidak mau masalah yang lalu diungkit kembali.
"Apa yang kamu pikirkan Fifiyan? Dari tadi aku melihatmu seperti memikirkan sesuatu?"
"Mmm aku khawatir Hasasi..."
"Masalah Fiyoni?" gumam Hasasi menatapku serius.
"Iya, aku khawatir Hasasi..."
"Udah jangan dipikirkan, aku udah tahu dari awal jadi aku sudah mempersiapkan semuanya."
"Tapi Hasasi aku khawatir."
"Ya aku tahu sayang, itu dipikirkan nanti saja sayang."
"Tapi Hasasi aku khawatir beneran!!"
"Hmmm.." desah Hasasi memelukku erat.
"Ya sayang aku tahu, tapi jangan di jadikan beban. Keluargaku akan baik - baik saja percaya padaku!"
"Hmmm baiklah Hasasi" gumamku pelan.
"Ya udah ayo kita makan dulu, kamu belum makan loh nanti sakit!" gumam Hasasi menggandeng tanganku keluar ruangan rapat itu.
Di luar ruangan aku melihat banyak orang yang sedang berlalu lalang di sekitarku, Hasasi menarikku memasuki sebuah restoran yang ada di pintu masuk gedung ini.
"Kamu mau makan apa sayang?"
"Mmm terserah kamu saja."
"Baiklah, tunggu sebentar ya." gumam Hasasi berjalan meninggalkanku.
Aku menatap keluar jendela restoran, bulan purnama yang bersinar menerangi malam ini. Aku tidak menyangka rapat ini akan berjalan selama itu. Aku hanya duduk melamun tanpa melakukan apapun saat ini.
"Hayo melamunkan apa..." ucap Hansol mengagetkanku.
"Eeehh Mmm tuan Hansol mengagetkanku!" gumamku pelan.
"Hahaha, kamu malam - malam melamun sendiri. Mana Hasasi?"
"Itu dia sedang memesan makanan."
"Ohh... Jadi kamu memikirkan apa Fifiyan?" gumam Hansol serius sambil terus menatapku.
"Perkataan Cindy tadi, apa itu benar tuan Hansol?"
"Ya benar, tapi tidak seratus persen benar." gumam Hansol meminum winenya.
"Haah? Maksudnya?"
"Ya memang Fiyoni ingin membalaskan dendam atas kematian keluargamu tapi dia bukan ingin membunuhmu tapi dia ingin merebutmu dari Hasasi meskipun bukan hanya dia yang ingin merebutmu tapi mafianya ikut mafia pemberontak. Itulah kenapa kami sepakat tidak ikut perang mafia dan fokus menjaga keluarga Stun dan kami akan ikut perang mafia jika Fiyoni juga ikut perang mafia ya intinya adalah memastikan keluarga Stun dan kamu aman..." gumam Hansol santai.
"Oh hmmm...."
"Tenang saja jangan khawatir, benarkan Hasasi?" gumam Hansol melirik Hasasi.
"Ya, kami sudah memikirkan hal itu Fifiyan." gumam Hasasi terduduk di sebelahku.
"Ohh mmm baiklah..." desahku mencoba tersenyum
"Ya udah ini makananmu, makanlah dulu" gumam Hasasi memberiku piring yang berisikan makanan.
__ADS_1
"Makasih Hasasi."
"Loh Angel kemana?" tamya Hasasi menatap Hansol dingin.
"Tuh lagi memesan makanan." gumam Hansol menunjuk Angel yang berjalan ke arah kami dengan membawa nampannya.
"Tidak kamu ambilkan?"
"Dia mau ambil sendiri katanya pilihanku makanan pedas semua" desah Hansol pelan.
"Ya lah, masa semua menu pedas. Nanti aku diare tahu!!" gerutu Angel terduduk di sebelah Hansol.
"Ya lumayan bisa memperlancar pencernaan, ya dari pada makanan manis bikin gemuk" gumam Hansol dingin.
"Mana ada!! Aku masih tetep kurus yak!!" protes Angel kesal.
"Tuuhh lengan dan pahamu berlemak..."
"Iihh mana ada!!" protes Angel kesal.
"Beneran loh!!"
"Enggak!!!"
"Iya..."
"Enggak!!!"
"Iyaaa!!!"
"Haish kalian berdua berisik!!!" teriak Hasasi kencang yang membuat semua orang di restoran itu menatap kami.
"Dia tuh Hasasi!"
"Dia..."
"Dia!!"
"Haish kalian berdua..." desah Hasasi mengambil makan dari seorang pelayan yang berjalan di sebelahnya dan menukarkan makanan Hansol dan Angel.
"Aku akan membayar itu, kamu bisa menggantinya nanti..." gumam Hasasi dingin dan pelayan itu berjalan kembali ke dapur.
"Ma... Makananku!!" teriak Hansol dan Angel terkejut.
"Kalian ingin kurus kan? Makan tuh salad..." gumam Hasasi santai.
"HASASI KAMU!!!"
"Apa? Aku hanya memberikan yang kalian minta kan, ya udah makanlah!" gumam Hasasi santai
"INI SEMUA SALAH KAMU!!" gerutu Hansol dan Angel saling menyalahkan.
"Udah makan sana, berisik mulu dari tadi!!"
"Huummpp..." gerutu Hansol dan Angel kesal.
"Kamu ini sukanya ngerjain ya Hasasi..." desahku menggelengkan kepalaku.
"Biarlah, mereka menggangguku makan!"
"Emang Hasasi tidak punya peri kemanusiaan dari dulu!!!" gerutu Hansol kesal.
"Hilih kau tuh yang tidak punya peri kemanusiaan!!" gumam Angel dingin.
"Hei aku mengejek Hasasi lah ngapain kamu ikut - ikut!!" protes Hansol kesal.
__ADS_1
"Weellkkk!!"
"Haish kalian berdua ini, oh ya Hansol bagaimana dengan persediaan!" gumam Hasasi mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh semua aman terkendali!"
"Lalu bagaimana dengan target?"
"Target masih sama seperti sebelumnya dan juga belum ada pergerakan sama sekali."
"Apa karena target utama tidak mengizinkannya?"
"Kemungkinan besar tapi tidak tahu juga, kau tahu sendirikan kan dia seperti apa!" gumam Hasasi melahap makanannya
"Oh ya aku tahu, walaupun dia ingin menentang juga tidak mungkin."
"Mungkin saja kalau dia berhasil menakhlukkan si tua bangka itu!"
"Hmmm benar juga sih tapi aku tidak yakin dia berhasil." gumam Hansol pelan
"Halah dia kan sukanya melakukan cara licik, pastilah dia akan melakukan cara licik apapun untuk mendapatkan apapun yang dia mau!" gumam Angel menambahi.
"Kalau memang dia melakukannya, dia akan berurusan dengan mafia pemberontak lah!"
"Yaah gak tahu lah, liat saja permainan serunya nanti!" gumam Angel santai.
"Ya benar, yang penting lakukan sesuai rencana saja" gumam Hasasi meletakkan alat makannya.
"Ya kami tahulah!" desah Hansol pelan.
"Lagi pula kalau Fifiyan kenapa - napa kita juga yang susah menghadapi kegilaanmu Hasasi!" gerutu Hansol pelan.
"Memang, makanya jangan bikin aku gila kehilangan istriku!!" gumam Hasasi serius.
"Ya tenang saja yang penting jangan sampai kamu membuat kesalahan lagi Hasasi!"
"Ya aku tahu..." desah Hasasi menaruh beberapa lembar uang di atas meja.
"Ini pakailah buat beli makanan yang kalian inginkan, tapi jangan berisik!" gerutu Hasasi beranjak dari tempat duduknya.
"Wiih tumben Hasasi baik.." ucap Angel mengambil uang di atas meja.
"Ya udahlah aku akan ada rapat perusahaan di gedung ini, jadi jangan bikin ribut kalian berdua!" gumam Hasasi menata jas hitamnya.
"Oke boss!!"
"Mari sayang.." gumam Hasasi menggandeng tanganku dan berjalan pergi keluar restoran.
"Mmm Hasasi, memang kita akan rapat dengan siapa? Aku kira kita tidak ada rapat, aku terlanjur tidak membawa apapun.." gumamku pelan.
"Tidak apa, ini hanya rapat dadakan saja. Kamu hanya menyetujui atau tidaknya proposal mereka."
"Oh mmm baiklah..." desahku pelan.
"Oh ya Fifiyan... Setelah ini akan ada banyak jadwal baru, nanti di kamar aku akan memberitahukannya apa saja jadwalnya selain itu akan ada beberapa pesta dan pertemuan rutin mafia jadi kamu bisa kan membagi waktu itu?"
"Ya Hasasi, nanti aku buat list jadwalnya yang baru yang penting beri aku daftar jadwalmu."
"Oke lah..." desah Hasasi menghentikan langkah kakinya dan menatapku.
"Ada apa Hasasi?" gumamku bingung, Hasasi mendekatkan wajahnya dan menciumku lembut.
"Aku sudah lama tidak menciummu.." gumam Hasasi pelan dan menciumku kembali.
"Makasih istriku..." desah Hasasi tersenyum manis kearahku dan menggandengku kembali.
__ADS_1
Ciuman mendadak Hasasi membuatku sangat malu, banyak orang yang melihatnya tapi tanpa malu Hasasi menciumku di depan semua orang, sama seperti dulu dia tanpa ragu - ragu menunjukan rasa cintanya kepadaku.