Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 94 : Selamat Tinggal Hasasi


__ADS_3

Aku melihat Alex yang sangat senang saat aku bersedia menjadi asisten pribadinya.kenapa dia bisa begitu senang sekali seperti itu bahkan dia sampai lompat - lompat tidak jelas seperti anak kecil. melihat tingkahnya yang kembali lompat - lompat membuatku tertawa geli


"Hehehe" tawaku geli dan Alex menghentikan lompatannya


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Alex menatapku


"Enggak kamu kayak anak kecil sumpah dari tadi lompat - lompat di tempat umum" ucapku sambil terus tertawa


"Ya seneng aja, apalagi punya asisten yang cantik seperti kamu" ucap Alex malu - malu


"Hahaha mana ada cantik"


"Serius, apalagi kalau kamu tertawa seperti itu ..."


"Hmmm... sayang sekali Hasasi tidak bisa mempertahankanmu, jadi istriku juga tidak masalah aku akan jaga dia melebihiHasasi" gumam Alex lirih


"Emmm kamu ngomong apa?" tanyaku


"Mmm ti ... tidak ada , kita beli tiket aja dulu" ucap Alex mengalihkan pembicaraan


"Mmm baiklah" ucapku dan mengikuti Alex menuju loket tiket


Alex sangat gagah dan tampan saat dilihat dari belakang. rambut lurus dan potongan cepak yang menjadikan wajahnya yang putih bersih menjadi sangat tampan. Sayang sekali dia seperti Hasasi yang belum menikah sampai sekarang, tapi kok bisa dia menghindar pernikahan bisnis yang biasanya terjadi.


"Hey cantik" panggil Alex lirih


"Hey cantik, kamu melamun apa?... aku memanggilmu dari tadi" tanya Alex mengagetkanku


"Ti ... tidak ada, maaf aku tadi tidak mendengarmu"


"Iya tidak apa - apa... ayo kita ke pesawat"


"Ba...baik tuan"


"Jangan panggil aku tuan ... panggil aku Alex saja"


"Baiklah Alex"


"Oh ya ,,, siapa namamu, aku lupa tadi ..."


"Aku Fifiyan Shinju, panggil Fifiyan saja tidak apa - apa" ucapku dengan tersenyum


"Baiklah Fifiyan, mari" ucap Alex lembut sambil menggandeng tanganku


"Mmmm Alex ..."


"Iya Fifiyan"


"Tanganmu menggandengku..." gumamku membil mataku mengarah ketanganku

__ADS_1


"No problem "


"Hmmm baiklah" ucapku pasrah


Tangannya sangat lembut dan mulus saat mengenai tanganku, lebih lembut dari pada tangan Hasasi. Tangan yang terus menggenggam erat tanganku padahal aku hanya asisten pribadinya saja tanpa ada hubungan yang lainnya.Alex menarikku dengan lembut sampai akhirnya kami masih di pesawat bisnis yang sangat mahal


"Silahkan duduk cantik" ucap Alex lembut


"Terimakasih..." ucapku tersenyum dan akupun langsung duduk di pinggir pesawat


"Tadi tiketnya berapa harganya Alex?" tanyaku sambil membuka dompetku


"Tidak usah kamu ganti"


"Ta... tapi..."


"Udah simpan saja untukmu" ucap Alex menutup dompetku


"Ta ... tapi"


"Tidak apa - apa Fifiyan" ucap lembut Alex


"Hmmm baiklah terimakasih Alex" ucapku senang


Selama pesawat terbang aku hanya melamun menatap pemandangan dibawah pesawat yang sangat indah. Hamparan hutan yang hijau sampai samudera yang biru menjadi pencuci mataku dan juga hatiku... aku sedih, aku sakit, aku kangen dengan Hasasi ... semoga dia bisa bahagia dengan sahabat baikku saat sekolah


"Fifiyan ... kamu kenapa menangis?" tanya Alex lirih saat melihat air mata jatuh di pipiku


"Kamu jangan bohong Fifiyan" ucap lembut Alex dan mengusap air mata di pipku


"Huuuaaa ... aku sedih Alex, sakit sekali hatiku" teriakku dan mengeluarkan air mataku dengan seras


"Sudah - sudah ... jangan menangis cantik, kan ada aku... aku akan melindungimu apapun yang terjadi" ucap Alex memelukku dengan erat


"Ta ... tapi..."


"Kamu adalah asisten pribadiku dan juga orang yang terpenting dihidupku sehingga apapun yang menjadi kebutuhanmu nanti langsung bilang ke aku ya, jangan sungkan untuk bilang ke aku... anggap saja aku orang yang berharga buatmu... anggap saja aku keluargamu" ucap Alex lembut sambil mengelus rambutku


"Ta ... tapi.."


"Udah tidak ada tapi - tapi, harus nurut ya" ucap Alex lembuut


"Baik Alex, terimakasih ... kamu kenapa bisa baik banget sama aku dan malah mau menerima aku orang asing ini" ucapku penasaran


"Itu yang harusnya dilakukan oleh aku sebagai keluargamu, apalagi kamu orang yang terpenting untukku" ucap Alex lembut


"Orang yang terpenting?... maksudnya?"


"Udah jangan difikirkan terlalu jauh, kamu aman bersamaku" ucap Alex menenangkanku

__ADS_1


"Ta ... tapi Hasasi" ucapku mengingat Hasasi


"Udah sekarang lupakanlah Hasasi, diakan udah bahagia dengan yang lain. sekarang saatnya buka lembaran baru"


"Mmm betul juga ... Selamat tinggal Hasasi" ucapku keras dan Alex mengangguk setuju


" Mmmm ... Oh ya kamu kenapa menggunakan pesawat biasa seperti ini? ... kenapa tidak menggunakan pesawatmu senidri? tanyaku


"Ini pesawatku pribadi"


"Ta ... tapi kok harus menggunakan tiket?"


"Ini bukan tiket, hanya tanda pengenalku agar bisa memasuki area landasan pesawat" ucap Alex menunjuukkan lencana emas kepadaku


"Lalu ... orang - orang yang ada di depan kita?" tanyaku kaget


"Itu cuma teknisi pesawat, ini pesawat pribadiku"


"Hmmm aku kira pesawat biasa... pantas kamu aku ganti tiket pesawat tidak mau" gumamku kesal


"Hehehe ... tapi sebenernya siapapun yang masuk ke dalam pesawat direktur perusahaan pasti harus membayar lima kali lipat loh" bisik Alex


"Serius?... tapi kalau Hasasi kayak gitu kok tidak pernah membayar?"


"Iya itukan tanpa sepengetahuanmu"


"Mmmm iya juga sih" gumamku mengerti


"Mmm emang kita hari ini mau kemana?" tanyaku


"Kita ke perusahanku yang ada di Eropa"


"Kenapa harus ke eropa?"


"Karena disitu rumahku"


"Oh mmm begitu ya"


"Emang perusahaanmu ada di negara mana saja?"


"Ya kayak Hasasi diseluruh dunia ada"


"Oh begitu... mmm baiklah aku paham ALex ... Hooaammm" ucapku sakmbil menguap


"Kamu mengantukkah?"


"Lumayan, aku cap..pek " ucapku langsung tertidur pulas di kursi pesawat


"Selamat tidur putri kecilku... " ucap Alex menyandarkan kepalaku di bahunya yang tegap

__ADS_1


Aku menyadari hal tersebut, tapi aku tidak kuat untuk membuka mataku... aku sangat capek sekali dan juga lelah apalagi aku tadi lari - larian terus. Ya bisa aku bersyukur ada orang yang mau menampungku, orang yang baik seperti Alex.


__ADS_2