Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 26 : Mencari Fakta


__ADS_3

Setelah aku berganti baju, akupun keluar rumah tersebut untuk bertemu dengan Hasasi yang telah menungguku di depan mobil, aku melihat Hasasi bermain handphonenya dengan serius


“Kamu mainan apa sih kok serius banget?” tanyaku


“Main game”


“Seorang tuan muda yang dingin bermain game” ucapku sambil tertawa keras


“Emang gak boleh gitu?” protes Hasasi


“Mmm ... ya boleh lah”


“Ya udah ayo kita berangkat”


“Loh udah selesai mainnya?”


“Udah, kita harus cepat – cepat acara bentar lagi dimulai”


“Gak bawa kado?”


“Buat apa?”


“Kan temenmu ulang tahun”


“Tidak perlu” ucap Hasasi dan menarikku ke dalam mobil


“Seriusan gak apa – apa?”


“Iya...” ucap Hasasi dan segera menginjak gas mobilnya


“Oh ya Hasasi, kita gak balik ke hotel kemarin?”


“Enggak”


“Kenapa?”


“Acaranya udah selesai”


“Loh bukannya masih ada hari ini ya?”


“Yups, cuma malas aja”


“Oh baiklah” ucapku


Selama perjalanan aku bermain game karena Hasasi sangat serius menyetir mobilnya, aku tidak mau mengganggu konsentrasi Hasasi saat menyetir. Beberapa lama kemudian kami sampai di rumah megah dan mewah, rumah tersebut hampir sama mewahnya dengan rumah Hasasi


“Ini rumah siapa?” tanyaku


“Rumahnya Octa”


“Mewah banget” ucapku kagum


“Ya lah, dia keluarga Lie”


“A...apa ... Lie?”


“Yups”


“Jadi nanti Sari Lie ada di pesta ini?”


“Mungkin bisa jadi”


“Aku gak mau masuk ke dalam” ucapku ketakutan


“Tenanglah sayang, kan ada aku. Sari Lie tidak akan macam – macam denganmu”


“Emang Octa Lie itu siapanya Sari Lie?”


“Dia kakak kandungnya”


“Oh ... Ka ... kamu ... ja ... jangan tinggalin aku ya” ucapku terbata – bata


“Iya sayang tenang aja” ucap Hasasi dan kami berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam pesta mewah tersebut


Saat kami berdua masuk ke dalam rumah mewah tersebut, aku melihat ada pemuda tampan yang sedang berdiri bersama dengan Sari Lie, sepertinya dia adalah kakaknya


“Hei selamat datang kawan lamaku” ucap pemuda tersebut


“Oh hei ... seamat ulang tahun ya” ucap Hasasi


“Wah ... kamu membawa siapa ini cantiknya ... hay cewek ... aku Octa” ucap Octa ramah


“Aku Fifiyan, salam kenal” ucapku sambil tersenyum dan kamipun berjabat tangan, tanpa ku duga dia mencium tanganku


“Hei Octa lepasin tenganmu itu dari istriku” ucap Hasasi dingin


“Ehh ... maafkan aku hehehe” ucap Octa dan langsung melepaskan tanganku


“Oh ... Fifiyan ... aku dengar kamu sahabatnya Sari Lie”


“Eh .. i ... iya “ ucapku terbata – bata


“Sari Lie sering menceritakan hal itu ke aku” ucap Octa santai sedangkan Sari Lie hanya diam di sebelahnya


“Ayo, silahkan masuk” ucap Octa ramah dan kamipun mengikuti Octa ke dalam sebuah ruangan


Di dalam ruangan tersebut aku melihat banyak tamu undangan yang datang, kelihatannya mereka adalah orang – orang kaya karena terlihat dari gaun dan jas yang mereka pakai


“Selamat malam, selamat datang di pesta ulang tahunku yang sederhana ini” ucap Octa di depan panggung


Dan kalian tahu apa yang aku pikirkan "*ini orang gila apa ... pesta mewah kayak gini bilang sederhana ... emang seberapa mewaaah sih pesta orang kaya itu, kalau segini aja masih sederhana*"


“Dasar orang – orang kaya” gumamku lirih


“Ada apa?” tanya Hasasi saat mendengar gumamku


“Masa pesta mewah banget kayak gini dia bilangnya sederhana” bisikku di telinganya


“Ini kalau bagi 5 keluarga CEO ternama ya bisa dibilang sederhana” bisik Hasasi di telingaku

__ADS_1


“Oh ...” desahku


“Baiklah silahkan untuk mencicipi hidangan yang telah kami sediakan” ucap Octa dan kami semua makan makanan yang mewah di meja yang telah disediakan


“Fifiyan mau makan apa?” tanya Hasasi di sebelahku


“Aku mau wine alkohol 5% aja”


“Gak boleh”


“Kenapa?”


“Kalau mau alkohol nanti dirumah aja” bisik Hasasi lirih


“Baiklah, aku mau salad buah itu aja”


“Oke tunggu disini ya” ucap Hasasi dan berlalu meninggalkan aku sendirian


“Fifiyan...” ucap seseorang di belakangku dan aku menoleh ke belakangku ternyata Octa yang memanggilku


“Oh hay tuan Octa Lie”


“Jangan panggil aku tuan, panggil aku Octa saja”


“Oh okey Octa”


“Kamu siapanya Hasasi?”


“Aku calon istrinya”


“Seriusan?... bukannya Hasasi banyak wanita disekitarnya ya”


“Tidak mungkin” protesku


“Lihatlah dia, dia mengambilkan kamu makanan aja mengobrol dengan wanita lainnya” ucap Octa sambil menunjuk ke arah Hasasi


“Iya mungkin cuma temannya” ucapku membela


“Hahaha ... tidak mungkin, dia kan CEO terkaya dan juga ganteng ... gak mungkin dia gak ada wanita lain”


“Hmmm iya juga sih”


“Hati – hati ya cantik, senang mengobrol denganmu” ucap Octa dan berlalu meninggalkanku


“Ini salad buah kesukaanmu” ucap Hasasi


“Makasih” ucapku cuek


“Kenapa kamu tiba – tiba cuek?” tanya Hasasi


“GPP”


“Jawablah jujur”


“Gak ada”


“Ya udah deh”


“Iya, ada apa?”


“GPP”


“Ya udah deh”


“Dasar gak peka”


“Aduuh ... ini salah itu salah apa sih maumu” protes Hasasi kesal


“Terserah” ucapku dan berlalu meninggalkan Hasasi


Aku meninggalkan ruangan pesta tersebut dan berlari menuju taman yang ada di depan rumah Octa, aku melihat langit berwarna gelap gulita dan hanya di temani bulan purnama yang indah.


“Hey...” tiba – tiba ada laki – laki yang menepuk pundakku dengan lembut, dia tampan dan dari mukanya dia terlihat sopan dan ramah


“Oh hey”


“Kamu kenapa menangis?”


“Tidak ada” ucapku lalu mengusap air mataku


“Ada masalah apa ceritalah”


“Tidak ada kok... Kamu siapa?”


“Oh ya aku lupa memperkenalkan diri, aku Hansol Gun ... CEO dari PT. Gun” ucapnya ramah


“Aku Fifiyan Sinju”


“Shinju ... kok pernah dengar aku”


“Iya ... sekarang keluarga Shinju udah gak ada... tinggal aku dan kakakku saja”


“Oh ya aku baru ingat, keluarga Shinju yang dibunuh besar – besaran itu kan?”


“Iya “


“Emang jahat banget itu orang”


“Ya bisa dibilang begitu” gumamku


“Kamu sekarang tinggal dimana?”


“Di rumah Hasasi Stun”


“Kamu tinggal serumah? ... kalian udah nikah?... kok gak undang – undang sih” gumam Hansol


“Belum, masih calon doang ... oh ya tuan Hansol, menurutmu apakah Hasasi itu playboy?”


“Hasasi? ... playboy? ... aku belum pernah dengar, soalnya dia orangnya sangat dingin dengan siapapun apalagi

__ADS_1


wanita”


“Tapi ada yang bilang dia memiliki banyak wanita”


“Kalau itu aku tidak tau...tapi Hasasi orangnya bodo amat dengan yang namanya wanita”


“Oh begitu”


“Hubungi aku saja kalau ada apa – apa, nanti aku bisa menyelidiki tentang Hasasi”


“Loh, bukannya banyak orang yang takut dengan Hasasi?, kok kamu berani menyelidiki dia?” tanyaku heran


“Karena aku ketua Kejahatan Internasional” bisiknya di telingaku


“Oh ya?”


“Ya ... kamu gak percaya... ini lencana S milikku” ucap Hansol dan menunjukkan lencana S yang sam adengan Hasasi


“I ... iya aku percaya tuan” ucapku terbata – bata


“Jangan takut, aku tidak akan membunuhmu kok ... malah aku bisa membantumu membunuh orang yang telah membunuh keluargamu”


“Serius?”


“Iya ... aku bisa membantu” ucap Hansol dengan tersenyum


“Tuan Hansol tau siapa sebenarnya yang membunuh keluargaku?”


“Aku tahu siapa”


“Apa keluarga Liang yang melakukannya?”


“Bukan”


“Keluarga Lie?”


“Bukan”


“Lalu siapa? ... kata kakakku dan Hasasi yang membunuh keluargaku adalah keluarga Liang” jelasku


“Bukan, mereka salah ... kalau otak pembunuhan emang keluarga Liang tapi yang membunuh bukan keluarga Liang”


“Kok ketua tau”


“Hei cantik, ingat aku ketua Kejahatan Internasional ... semua kejahatan di dunia aku tau  asal usulnya”


“Oh benar juga ya ... lalu siapa yang melakukannya?”


“Kamu tinggal di rumah Hasasi kan?”


“Nantilah kamu bakal tau sendiri” bisik Hansol


“Fifiyan ngapain kamu disitu” teriak Hasasi dari depan gedung


“Lain kali aku akan kasih tau siapa pelakunya, tapi jangan kaget ya ... hubungi aku kalau kamu membutuhkanku, ini kartu namaku” bisik Hansol di telingaku sambil memberikan kartu nama itu dan cepat – cepat aku masukan ke kantongku


“Ketua kenapa berada disini?” tanya Hasasi dingin


“Aku hanya menemani dia aja” jawan Hansol santai


“Jangan bilang mau mengambil istriku”


“Tidak lah, aku tidak tega melihat wanita duduk sendiri di depan rumah orang ... kamu sendiri malah ngilang gak tau kemana” gumam Hansol


“Ya ... a ... aku mencari dia kemana – mana tidak ketemu”


“Ingat Hasasi, kelakuanmu dimasa lalu akan terbongkar oleh dia sendiri” bisik Hansol dan aku mendengarnya dengan jelas


“Jangan sampai tau” gumam Hasasi lirih dan Hansol pergi dari hadapanku


Sejujurnya aku mendengar bisikan Hansol tapi aku pura- pura tidak mendengarnya


“Kamu kemana aja sih?” protes Hasasi


“Tidak ada, ayo pulang” ucapku dan berjalan menuju mobil


“Kamu kenapa sih?... kok malam ini kamu aneh” gumam Hasasi


“Tidak ada”


“Kamu mau pulang ke Jepang?”


“Tidak ... aku mau pulang ke rumah kontrakanku”


“Baiklah ...” ucap Hasasi dan mengantarku ke rumah kontrakan


Setelah beberapa jam berkendara akhirnya kami sampai di rumah kontrakanku sendiri


“Aku malam ini tidur disini”


“Aku juga” ucap Hasasi sembari turun


“Gak boleh... “


“Kenapa ... apa yang kamu tutupi dari aku?”


“Nanti kamu akan tau sendiri, pulanglah dan istirahatlah” ucapku dingin


“Enggak mau”


“Pulang sana, besok kamu kembali ke Jepang kan... jadi kamu tidur aja dulu”


“Kamu berani tidur sendiri?”


“Berani kok”


“Baiklah alau itu maumu, besok siang aku jemput kamu dan nanti kita pulang ke Jepang” ucap Hasasi dan pergi dari depan rumahku


Setelah Hasasi pergi aku langsung menghubungi Hansol agar datang ke rumah kontrakanku ini, aku ingin tau siapa dalang sebenarnya yang membunuh keluargaku, keluarga Shinju dan juga rahasia - rahasia yang disembunyikan oleh Hasasi

__ADS_1


__ADS_2