
Di kediaman keluarga Stun, aku masih menikmati tidur nyenyakku, tidur sendirian tanpa ada yang menganggu bahkan Hasasi. Di Negara ini kalau sebelum menikah emang diwajibkan pasangan yang akan menikah tidak bertemu dahulu selama semalaman jadi aku malam ini bisa menikmati tidur indahku. Ya walaupun aku tidak tahu apakah Hasasi sudah pulang atau belum tapi ya aku masih ingin menikmati hari ini
Sreeeggg … Srreeeeggg
Suara gorden terbuka dengan kerasnya, sinar matahari masuk ke dalam kamarku dan membuat kedua mataku silau karena sinarnya. Aku membuka mataku dan melihat Emilia berdiri di depan jendela dengan senang
“Selamat pagi nona cantik, ayo bangun”
“Ummm … “ desahku menutupi tubuhku dengan selimut
“Ayo bangun nona, hari ini hari pernikahan nona dan tuan muda. Jadi nona cepat bersiap – siap”
“Iya aku tahu, tapi aku mengantuk”
“Ayo nona gak boleh malas – malas, tuan muda sudah bersiap – siap dari tadi. Nona juga harus mencoba beberapa gaun pengantin” gumam Emilia menarik tanganku
"Emang Hasasi sudah pulang?"
"Pulang semalam sih nona, padahal kan semalam tuan muda mampir melihat nona di kamar"
"Oh ya? Aku tidak tahu"
"Ya mungkin nona sedang tertidur di kamar"
"Ummm mungkin sih, tapi kan bukannya calon pengantin dilarang bertemu ya?" tanyaku bingung
"Ya benar, tapi kan tuan muda tidak bertemu langsung dengan nona dan tidak berbincang - bincang dengan nona jadi ya tidak masalah"
"Oh begitu ya... Aku baru mengerti" gumamku pelan
"Nona siap - siaplah dulu, nanti tuan muda menunggumu" gumam Emilia terus menarik tanganku
“Hmm baik – baik” desahku menahan kantuk dan berjalan menuju kamar mandi
Aku segera mandi dan bersiap – siap – siap kembali ke kamarku, saat di dalam kamar aku terkejut ternyata sudah banyak orang yang sedang menata beberapa gaun dan make up di kamarku
“Nona, sudah selesai mandi? Silahkan coba gaun – gaun pernikahan ini” gumam Emilia menarikku ke sebuah gantungan yang menggantung beberapa jenis gaun pernikahan
"Kan aku sama Hasasi sudah menentukan gaun yang akan digunakan?"
"Perubahan rencana tuan muda, jadi nona silahkan pilih gaun yang ada di gantungan ini"
“Mmmm…” desahku bingung memilih gaun yang akan aku pakai dan akhirnya aku tertarik dengan satu gaun pernikahan berwarna putih, mempunyai rok yang mengembang seperti bunga mawar bermekaran
“Bagaimana menurutmu Emilia?”
“Mmm itu bagus nona, coba nona Fifiyan coba” gumam Emilia dan aku langsung mencobanya lalu mengaca di cermin
“Waah sesuai dengan tubuh nona, gaun ini cocok buat nona"
__ADS_1
“Oh ya? Baiklah aku memakai ini aja” desahku menatap diriku di kaca
"Ya nona, gaun itu sangat sesuai dengan nona"
"Ya benar juga sih" gumamku terus memandangi tubuhku yang memakai gaun itu
“Nona muda, silahkan nona duduk disini. Izinkan saya memberikan nona muda makeup” ucap seorang wanita sambil sedikit membungkukkan badannya
“Baiklah” desahku duduk di meja rias yang dipenuhi dengan berbagai macam make up
Tiba - tiba pintu kamarku terbuka dan muncul Nyonya Stun memakai gaun berwarna putih tulang dipadukan warna hitam dan make up yang dipakai Nyonya Stun membuat wajahnya tetap terlihat muda
“Emilia dimana Fifiyan?”gumam Nyonya Stun masuk ke dalam kamarku
“Nona Fifiyan sedang melakukan make up nyonya” ucap Emilia sopan
“Oh ya?” desah Nyonya Stun menatapku
“Sudah selesai nona muda” ucap wanita itu meletakkan peralatan make upnya di wadah make up yang ada di depanku
“Baiklah terimakasih” gumamku berdiri dari tempat dudukku
“Ibu, selamat pagi ibu” gumamku sedikit menundukkan badanku
“Wah cantik” puji nyonya Stun menatapku kagum
“Baiklah, ayo Hasasi sudah berada di aula pernikahan” gumam Nyonya Stun menggandeng tanganku dengan lembut
“Baik ibu” aku mengikuti setiap langkah Nyonya Stun keluar kamar menuju ke aula pernikahan.
Sejujurnya aku masih takut dan khawatir kalau aku terlihat jelek di mata Hasasi, aku juga tidak menyangka aku akan menikah dengan Hasasi
Di dalam ruang pernikahan aku melihat banyak sekali tamu undangan yang datang ke pesta pernikahan kami, Nyonya Stun terus menggandengku melewati karpet merah di tengah aula pernikahan yang besar itu.
Di ujung karpet merah itu aku melihat ada dua orang yang berdiri di tengah panggung, yang satu seorang laki - laki paruh baya dengan memakai jas abu - abu ya mungkin itu penghulu pernikahan kami ini. Dan seorang lagi laki – laki yang berpakaian jas hitam rapi dan mewah di depanku. Tiba – tiba laki – laki itu berbalik menghadapku dengan tersenyum
“Fifiyan” ucap Hasasi tersenyum senang
Hasasi terlihat sangat tampan dengan jas hitam yang dia pakai, sepertinya jas hitam itu jas aku pernah aku belikan saat aku mengikuti lelang pertama kali dengan Hasasi dulu
Saat aku berjalan kearah Hasasi dan berdiri di sebelah Hasasi dan seketika Hasasi menggenggam tanganku erat, tangannya bergemetar seakan Hasasi sangat senang bisa menikah denganku
“Baiklah saya mulai ya..” gumam penghulu di depanku
“Tuan Hasasi, Apakah kamu bersedia menikahi nona Fifiyan Shinju dan menjadi suaminya? Baik dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, selalu mendampingi di sisinya untuk selamanya, mencintai, melindunginya apapun yang terjadi tidak akan meninggalkan dia untuk selamanya?
“Saya bersedia” ucap Hasasi serius sambil menatapku senang
“Nona Fifiyan, apakah kamu bersedia menikahi Tuan Hasasi dan menjadi istrinya. Baik dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, selalu mendampingi di sisinya untuk selamanya, percaya padanya, mendukungnya, tidak akan meninggalkan dia untuk selamanya?”
__ADS_1
“Saya bersedia..” ucapku serius dan menatap Hasasi dengan bahagia
“Syukurlah, kalian sekarang menjadi suami istri yang sah mulai sekarang” ucap penghulu senang dan tamu undanganpun bertepuk tangan
"Huhuhu anakku sudah dewasa sekarang, sungguh tidak rela, tidak rela" gumam Tuan Stun menangis bahagia
"Haiisshh, biarkanlah ayah, Hasasi sudah bahagia kok" gumam Nyonya Stun memukul manja Tuan Stun
Setelah prosesi selesai, tamu undangan langsung berkumpul di belakang kami dan Hasasi menggenggam tanganku untuk melemparkan bunga kearah belakang
“Kalian siap!!” teriak Hasasi senang
“Siap…” teriak tamu undangan dengan senang
“Tangkap ya!!!”
“Satu”… “dua..”
“Tigaaa” gumam Hasasi dan kami berdua melemparkan seikat bunga itu ke arah belakang
“Yeaay aku dapat” ucap Steven senang
“Kakak?” ucapku kaget
“Hei selamat Steven, habis ini kamu menikah Hahaha” ejek Hansol tertawa
“Hahaha semoga saja. Oh ya selamat ya adikku sayang, Hasasi tolong jawa adikku yang bawel dan keras kepala ini ya” ucap Steven bahagia
“Iya tenang saja” gumam Hasasi senang lalu merangkulku dengan erat
"Pesta kalian sangat mewah juga ya" gumam Hansol melihat sekeliling kami
"Loh ya dong, pernikahan sekali seumur hidup ya harus mewah, biar ada kenangannya gitu" gumam Hasasi bangga
"Haish sombongnya kamu Hasasi hahaha" tawa Hansol memukul lengan Hasasi
"Hasasi sombong gak masalah, kamunya kapan nyusul Hasasi" ejek Steven
"Hei kamu juga ya, kenapa dari tadi aku yang di pojokkan!!" protes Hansol kesal
"Udah Angel buatmu aja, biar kalian cepet - cepet menikah"
"Bisa gak jangan membahas itu" gerutu Hansol kesal yang membuat kami semua tertawa terbahakk - bahak melihat Hansol kesal
Pesta meriah kami berduapun menjadi bukti cinta kami berdua yang benar - benar nyata, akhirnya perjalanan cintaku yang semu dan penuh liku – liku berakhir di hati Hasasi. Pencarian cinta ini telah berlabuh pada satu hati yang sangat aku dambakan. Apa itu cinta? Aku tidak tahu, yang aku tahu hanyalah mengikuti arusnya kemanapun dan dimanapun ia akan membawaku maka disitulah cintaku berada..
Aku terjebak dalam dua pilihan antara cinta dan dendam, ternyata pesaingan antara cinta dan dendam kali ini dimenangkan oleh cinta. Cinta dari seseorang yang memang telah ditakdirkan untukku, cinta dari seseorang yang menjadi tersangka pembunuhan keluarga besarku, cinta dari seseorang yang selalu melindungiku, dan cinta dari seseorang yang selalu hadir di setiap hari – hariku.
Dan ketika cinta harus terluka karena masa lalu, dendam, benci, dan amarah. Cinta itu akan kembali membawa secercah harapan dan penguatan positif untuk masa depan. Karena kekuatan cinta juga yang bisa membuat seseorang mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena cinta tidak akan datang dengan sendirinya walaupun harus melalui berbagai proses menangis, tertawa, marah, benci, dendam, dan bahagia bersama. Aku percaya apapun proses yang aku lalui jatuh bangun dan pahit manisnya kehidupan itu pasti akan berujung dengan kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang tidak bisa diukur oleh apapun yaitu bisa menikah denganmu, Hasasi.
__ADS_1