
Tookkk... Toookkk ...Toookkkk
Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras terdengar di telingaku. Aku berjalan membuka pintu dan melihat Nyonya Stun yang sedang berdiri di balik pintu
"Ibu..."
"Hai nak, apa aku mengganggu?"
"Tidak ibu, silahkan masuk" gumamku dan Nyonya Stun langsung masuk ke dalam kamar
"Ada perlu apa ibu mencariku?"
"Tidak ada apapun, aku cuma ingin berbincang denganmu"
"Apa yang ingin ibu bicarakan?" Nyonya Stun menatapku dengan serius yang membuatku sedikit gugup
"Ya berbincang santai, kamu jangan terlalu gugup seperti itu"
"I... Iya baik ibu"
"Aku cuma ingin membahas pernikahan kalian lebih lanjut, kalau membahasnya bersama dengan Hasasi tidak akan selesai" desah Nyonya Stun menatapku
"Emang apa yang ingin ibu bahas denganku?"
"Ya masalah persiapan pernikahan kalian, ibu tidak percaya dengan perkataan Hasasi tentang semua sudah aman terkendali"
"Jadi, apa yang sudah kalian persiapkan?"
"Untuk gaun, cincin, undangan dan tempat sudah ibu”
“Untuk yang lain – lainnya?”
"Untuk makanan dan dekorasi sih belum ibu”
"Itu sudah sekalian sama tempat”
"Oh baiklah ibu”
“Ngomong – ngomong rencana kalian menikah kapan?”
“Mmmm belum tahu sih ibu”
“Kami dan Hasasi sepakat 3 hari lagi kalian menikah”
“Ti… Tiga hari lagi? Mendadak banget bu?”
“Ini permintaan Hasasi”
“Oh baiklah ibu”
“Jadi selama beberapa hari ini kamu tidak akan bertemu dengan Hasasi dan kalian berdua bertemu saat di acaranya”
“Kenapa seperti itu ibu?”
“Ya kan adat kita seperti itu, pasti kamu belum di beritahu ibumu kan?” aku menggeleng
“Nah sebenarnya itu kalian tidak boleh bertemu sebelum acara, tapi karena Hasasi ada urusan jadi kamu tidak bisa bertemu dengan dia”
“Kalau boleh tahu urusan apa bu?”
“Ya biasalah misi Hasasi dari dulu, kamu tidak perlu khawatir”
“Hmmm baik ibu”
“Ya sudah ibu hanya ingin mengatakan itu” Nyonya Stun beranjak berdiri dari kursi dan menatapku
“Semoga kamu bisa menjadi istri Hasasi yang baik” gumam Nyonya Stun mengelus rambutku
“Saya usahakan ibu”
“Oh ya nak, Lisa ingin mengajakmu keluar”
“Keluar?”
“Iya, dia ingin mencari kain untuk pernikahan kalian. Dia sudah menunggumu dibawah” gumam Nyonya Stun keluar dari kamarku sedangkan aku segera berganti pakaian dan langsung menemui Lisa, dari lantai atas aku bisa melihat Lisa yang sedang duduk santai di sofa memakai gaun warna merah jambu kesukaannya
“Hai Kak Fifiyan”
“Oh hay Lisa”
“Sudah siap?”
“Sudah, kamu mau kemana?”
“Ke butik langganan di tengah kota” gumam Lisa menarik tanganku
“Mau mencari apa di butik?” gumamku masuk ke dalam mobil
“Aku mau nyari gaun pesta, kan sebentar lagi kakak dengan kakakku menikah”
“Oh baiklah, emang tahu ukuran ayah ibu?”
“Tahu, karena butik langganan jadi mereka punya ukurang orang tuaku”
__ADS_1
“Oh, mmm ngomong – ngomong Hasasi kemana?”
“Kakak ya? Biasa lah ada urusan”
“Urusan apa?”
“Aku juga tidak tahu, biasanya sih kalau dengan perkumpulannya selalu tidak pulang ke rumah”
“Oh begitu ya, hmmm apa ada yang direncanakan oleh dia?”
“Aku tidak tahu kalau itu kak”
“Emang Hasasi tidak bercerita?”
“Tidak kak, soalnya dia kan langsung pergi”
“Iya juga sih”
“Kakak gak perlu khawatir, kakak akan baik – baik saja”
“Ya semoga aja”
“Baiklah ayo turun kak”
“Turun udah sampai?”
“Udah tuh butiknya di depan” gumam Lisa turun dari mobil dan berjalan mendahuluiku
Aku berjalan mengikuti Lisa yang sedang memasuki sebuah butik yang besar. Saat berada di dalam, aku melihat ada beberapa pelayan yang tersenyum ramah menyambut kedatangan kami
“Selamat datang nona muda, ada yang bisa dibantu?”
“Ya, aku ingin membuat gaun dengan ukuran yang sebelumnya”
“Silahkan pilih bahannya nona” gumam pelayan itu menunjukkan berbaris – baris kain yang di gantung di kiri dan kanan kami
“Baiklah” desah Lisa mulai melihat – lihat kain dan memasangkannya kearahku
“Mmm tidak”
“Tidak”
“Tidak” desah Lisa terus memasangkannya di tubuhku
“Mmmm bagaimana denganmu?” gumam Lisa menunjukkan gaun berwarna putih tulang
“Bagus juga”
“Kalau dipasangkan ini?” gumam Lisa menggabungkan kain warna putih tulang dengan wana merah muda
“Mmmm bukannya lebih baik warna ini ya” gumamku mengambil kain warna hitam di sebelahku
“Kainnya ini sama beberapa aksesoris ini aja” gumam Lisa menyerahkan beberapa kain ke dalam keranjang
“Baik nona, dalam berapa hari nona?”
“Kalau bisa besok tapi kalau tidak besok lusa tidak apa – apa”
“Baik nona, silahkan untuk transaksinya ingin menggunakan tunai atau kartu kredit”
“Kartu kredit aja” gumam Lisa menyerahkan kartu kreditnya dan pelayan itu langsung melakukan transaksi
“Ini nona kartu kreditnya, nanti kalau sudah jadi kami kirim ke alamat tuan besar”
“Baik, terimakasih” gumam Lisa meninggalkan tempat itu dan kembali ke mobilnya
“Kemana lagi nona muda?” Tanya sopir menatap kami berdua
“Kita ke mall, cari makan dulu”
“Baik nona” gumam sopir menghidupkan mobilnya kembali
“Kamu mau makan apa Lisa?”
“Mmm gak tahu sih, kita ke liat aja nanti di mall”
“Baiklah”
Tiinnggg
Tiba – tiba handphoneku berbunyi dan aku langsung melihat layarku ternyata Hasasi yang mengirimiku pesan
Hai sayang, aku tidak bisa pulang beberapa hari. Nanti kita bertemu di pesta ya
Hasasi
Baiklah, kenapa tidak pulang?
Fifiyan
Ya aku ada urusan, jadi jangan nakal – nakal ya
Hasasi
Nakal dikit tidak apa kan?
__ADS_1
Fifiyan
Boleh, tapi hukuman untukmu menanti
Hasasi
Tidak – tidak, aku hanya bercanda
Fifiyan
Bagus, jangan nakal – nakal
Hasasi
Iya – iya bawel
Fifiyan
“Ada apa kakak tersenyum – senyum sendiri” tanya Lisa menatapku
“Ehh… biasa ini Hasasi”
“Kakakku? Dia mengirimkan kakak pesan?”
“Iya Lisa”
“Hmm udah tahu mau beraksi masih sempat berkirim pesan”desah Lisa pelan
“Ada apa Lisa?”
“Ti.. Tidak ada kok kak”
“Hmmm aku kira kenapa” desahku memasukkan handphoneku ke dalam tas
“Oh ya kak ngomong – ngomong kalian berdua bisa saling punya rasa itu gimana ceritanya?”
“Ceritanya ya… Mmm panjang sih, bertahun – tahun hidup berhidup bersama susah senang bersama ya bagaimana lagi”
“Padahal kan kakak tahu, masalah keluarga kakak dulu”
“Iya aku tahu, tapi ya bagaimana ya… emang aku dulu ini sekali balas dendam tapi rasa dendam itu terkalahkan oleh rasa cinta yang kuat dari Hasasi”
“Ya, kakak juga berkata begitu ke aku”
“Emang Hasasi berkata apa?”
“Ye berkata, awalnya dia sangat dendam dengan kakak saat tahu kakak anak dari tuan Tony Shinju, tapi semakin dia berusaha menjauhkan kakak malah semakin dia tidak mau jauh dari kakak. Padahal dia tidak suka di jodohkan tapi dia sendiri mencintai jodohnya”
“Dulu kalau kak Steven tidak menahan kakakku pasti kakak sudah mati dari dulu”
“Kakakku menahan Hasasi?” gumamku kaget
“Ya, setiap kak Fifiyan tidur… Kakakku selalu ke kamar kakak dan hamper membunuhmu, tapi selalu ketahuan oleh kak Steven. Makanya kakak kalau ada yang membahas masa lalu dia selalu marah – marah”
“Marah – marah kenapa?”
“Ya dia merasa tidak enak denganmu, dan selalu merasakan penyesalan kak”
“Penyesalan”
“Ya kak, makanya saat Keluarga Hann menyakitimu kakak sangat marah makanya membunuh keluarga itu dengan sadis”
“Jadi penyesalan yang dimaksud apa?”
“Ya, maksudnya dia merasa kalau kakakk gagal melindungimu kak”
“Tapi kan masalah itu aku yang ingin membantu nona Angel sendiri”
“Ya kakak sudah tahu kalau itu, makanya dia merasa gagal saja menyelamatkan kak Fifiyan”
“Gagal?”
“Ya, dia kehilangan lokasi kakak saat hari pertama, makanya kakakku bingung setengah mati mencari lokasi kakak”
“Kok bisa?”
“Ya karena lokasi kakak dan nona Angel disekap di bawah laut jadi kan tidak ada sinyal gps yang masuk”
“Oh benarkah? Aku tidak menduganya”
“Ya makanya kakaku telat menyelamatkan kak Fifiyan”
“Oh begitu ya, tidak apa – apa sih sebenarnya kalau Hasasi tidak menyelamatkanku. Aku bisa bertemu keluargaku” gumamku tersenyum
“Kalau kakak tidak ada, pasti kakaku sudah bunuh diri”
“Bunuh diri? Kenapa?”
“Ya seperti dulu saat kak Fifiyan diusir dari rumah oleh kedua orang tuaku. Kakakku tidak mau keluar kamar, makan gak mau, mengurus perusahaan gak mau, apapun gak mau. Cuma hanya diam di kamar saja”
“Hmm segitunya ya?”
“Ya saking kakakku mencintaimu kak”
“Hmmm mungkin saja sih”
__ADS_1
“Jadi kakak jangan meragukan cinta kakakku mulai sekarang” gumam Lisa menatapku
“Tidak Lisa, selama ini aku tidak pernah meragukan cintaku kepada Hasasi, aku percaya denan Hasasi apapun yang terjadi” desahku menatap keluar jendela mobil