Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 1 : Prolog


__ADS_3

Beberapa tahun berlalu semenjak aku menikah dengan Hasasi. Kehidupan sebagai salah satu dari keluarga Stun adalah hal yang paling indah bagiku apalagi telah lahir seorang anak laki - laki tampan dan seorang perembuan cantik yang membuat kehidupanku yang sebelumnya pahit kini serasa lengkap. Dua anak buah cintaku dengan Hasasi kini hidup dengan aman dan nyaman di rumah bersamaku apalagi ayahnya yang walaupun selalu sibuk bekerja tapi dia tidak pernah lupa dengan tanggung jawabnya sebagai ayah


Anak pertamaku bersama Han dan anak keduaku bersama Sasa, selisih mereka berdua adalah lima tahun jadi saat ini Han berumur 10 tahun dan Sasa berumur 5 tahun. Han dan Sasa hidup dengan rukun walaupun terkadang mereka salig bertengkar layaknya kakak dan adik. Han anak laki - laki yang baik tapi berparas kejam dan dingin seperti ayahnya sedangkan Sasa anak yang manja dan suka menangis kalau sedikit dibentak oleh kakaknya, bahkan sampai sekarangpun Sasa tetap menangis kalau dimarahi oleh kakaknya sepertiku.


"Ibuu... Kakak jahat!!!" teriak Sasa berlari kearahku.


"Ada apa sayang?" gumamku mengelus rambut Sasa tapi Sasa tetap menangis kencang.


"Sudah Han beritahu jangan manjat pohon tapi Sasa tidak mau mendengarkannya akhirnya Sasa terjatuh ibu" gumam Han dingin.


"Hmmm apa Sasa terluka?"


"Tidak ibu, tapi kakak memarahi Sasa!"


"Sudah tidak apa, lain kali dengar perkataan kakakmu ya biar kamu tidak dimarahi kakakmu terus. Apa Sasa mengerti?" gumamku mengusap air mataku.


"Ya Sasa mengerti ibu..."


"Ya sudah kalian duduklah di kursi, sebentar lagi ayah pulang jadi kita makan malam bersama nanti"


"Ibu, Sasa ingin membantu ibu"


"Baiklah, mari bantu ibu memasak" gumamku mengambil beberapa sayuran di dalam kulkas.


"Sini kamu yang memilih sayur yang masih segar ya, sayur yang sudah busuk di buang ke tempat sampah. Apa Sasa mengerti?"


"Ya, Sasa mengerti ibu" gumam Sasa memilih sayuran yang aku berikan.


"Kakak kenapa tidak membantu ibu!!" protes Sasa kesal.


"Tidak mau, aku masih asik main game"


"Kakak!!!" protes Sasa dan mereka berdua kembali bertengkar.


Melihat kedua adik kakak itu bertengkah, aku hanya menggelengkan kepalaku dan menghela nafas panjang. Sifat Hasasi yang keras kepala dan menyebalkan menurun ke kedua anaknya walaupun Sasa tidak separah Han tapi kalau sudah marah mereka berdua sangat menakutkan seperti Hasasi.


"Ayah pulang!!" teriak Hasasi masuk ke dalam rumah


"Ayah!!" teriak Sasa berlari menghampiri Hasasi yang masuk ke dalam rumah.


"Ohh... Benarkah? Sasa hebat bisa bantu ibu... " gumam Hasasi terdengar keras di telingaku, tanpa mempedulikan percakapan ayah dan anak aku hanya fokus ke masakanku.


"Han... Sasa, kalian tunggu saja di meja makan biar ayah yang membantu ibu memasak ya."

__ADS_1


"Ya ayah" gumam Han dan Sasa pergi dari dapur


"Kamu sudah pulang Hasasi.." gumamku pelan


"Ya baru saja, mmm... Makananmu terlihat enak" gumam Hasasi memelukku erat.


"Benarkah? Syukurlah kalau kamu suka" desahku pelan.


"Bagaimana anak - anak? Mereka membuatmu pusing lagi?"


"Ya sedikit, tapi biarlah namanya juga anak - anak. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu hari ini?"


"Ya seperti biasa tidak ada yang menarik.."


"Apa tidak ada kejadian yang mengejutkan di pagi ini?"


"Tidak ada, biasa saja seperti biasanya"


"Bagaimana dengan masalah mafiamu?"


"Sudah di tangani Dennis dengan baik."


"Oh syukurlah..." desahku pelan


"Apa kamu lapar?"


"Ini sudah selesai masakanku, mari makan!" gumamku membawa beberapa makanan dan Hasasi membantuku membawanya juga.


"Yeeaaayy makan!!" teriak Sasa senang


Aku dan Hasasi menata makanan di atas meja dan kami semua langsung makan bersama dengan lahap.


"Oh ya Han, bagaimana ujianmu di sekolah?" gumam Hasasi serius


"Nilaiku 98 ayah!"


"Oh benarkah? Nilaimu bagus juga..." desah Hasasi melahap makanannya.


"Ya soal yang terlalu mudah buatku ayah" gumam Han dingin.


"Ya ayah tahu, kamu seperti ibumu yang sangat pintar."


"Tidak juga, kamu juga pintar sayang.." gumamku pelan.

__ADS_1


"Ya kan kami anak ayah dan ibu" gumam Sasa senang.


"Ya benar Sasa pintara" gumam Hasasi mengacak rambut Sasa.


"Ayah nanti rambutku berantakan tahu!!"


"Ya tidak masalah, anak ayah tetap cantik kok" gumam Hasasi tersenyum manis dan Sasa juga tersenyum senang.


Kami memakan makanan dengan lahap dan berakhir dengan rasa kenyang setelah makan makanan yang lumayan banyak di malam ini


"Ayah ibu Han mau belajar lagi..." gumam Han berjalan pergi


"Sasa juga mau menonton kartun kesukaan Sasa bersama kakak..." gumam Sasa mengikuti Han.


"Kakak tunggu!!!" teriak Sasa berusaha mengejar Han dan di ruang makan hanya tersisa aku dan Hasasi saja. Aku menatap wajah Hasasi yang sangat gelisah dan membuatku penasaran apa yang terjadi.


"Ada apa Hasasi?" gumamku pelan


"Sekarang begitu banyak mafia yang kuat dan juga penerus mafia yang dulunya tidak ada apa - apanya sekarang berubah menjadi mafia terkuat..." gumam Hasasi pelan.


"Apa mereka tidak mau diajak kerjasama?"


"Ada sebagian yang setuju ada yang tidak. Aku sih tidak ingin memulai peperangan antar mafia lagi apalagi Han masih kecil dia tidak mungkin bisa sama sepertiku di usia kecil sudah mengerti mafia..." gumam Hasasi pelan.


"Emang Han mau kamu berikan mafia itu?"


"Rencananya, tapi aku bingung bagaimana mengajarinya."


"Kalau sudah waktunya kamu bisa mengajarinya."


"Kalau terlambat, dia tidak akan mungkin bisa kuat sepertiku..." gumam Hasasi pelan.


"Apalagi musuh bebuyutan kita terdahulu sangat ingin menghancurkan kita dan merebutmu Fifiyan. Aku tidak mau kehilangan istriku dan anakku!!" desah Hasasi pelan.


"Hmmm... Aku terserah kamu Hasasi, kamu maunya apa kalau itu terbaik buat mereka berdua tidak masalah." gumamku tersenyum manis.


"Emang kamu tidak keberatan?"


"Kalau itu menurutmu yang terbaik, aku tidak masalah Hasasi."


"Hmmm baiklah nanti aku pikirkan matang - matang..." desah Hasasi pelan


"Ya sudah, sudah malah waktunya mandi sayang" gumamku membantu Hasasi berdiri.

__ADS_1


"Hmmm... Ya aku sangat capek dan ingin sekali tidur." desah Hasasi segera beranjak pergi dan aku segera mencuci piring kotor bekas makan malam tadi.


Aku masih terpikirkan beberapa hal... Musuh bebuyutan kami? Apa yang mereka akan lakukan? Apa mereka tidak capek melakukan serangan balasan kepada Hasasi? Bagaimana nasib keluargaku nanti? Aaah aku tidak tahu, padahal masalah itu sudah  terdiam selama berpuluh tahun lalu dan juga mereka pasti sudah memiliki keluarga masing - masing tapi kenapa masalah itu kembali muncul dan bahkan sampai membuat Hasasi se gelisah itu?


__ADS_2