
Hasasi terus mendorong kursi rodaku sangat pelan dan tanpa tergesa - gesa, yang membuat aku bisa menikmati pemandangan selama perjalanan di siang ini.
"Sayang ... gak mau makan siang dulu?"
"Gak mau Hasasi ... aku udah kenyang banget"
"Emang kenyang makan apa?"
"Buburmu tadi"
"Kan cuma bubur dikit sayang, kamu harus makan lagi ya sayang"
"Gak mau sayang"
"Sayang dengerin aku, kamu harus makan paham ... dengerin kata - kataku"
"Baiklah Hasasi" ucapku mengalah
"Nah gitu dong sayangku"
"Emang mau makan apa sayang?"
"Kamu maunya apa?"
"Aku gak tau"
"Mmm bagaimana kalau steak yang kamu sukai"
"Steak apa? ... aku tidak ingat Hasasi"
"Hmm ... ya udah nanti kamu rasakan sendiri aja ya sayang" ucap Hasasi dan aku hanya mengangguk saja
"Oh ya emang masih jauh lagi sayang?"
"Enggak sayang ... tuh di depan" ucap Hasasi dan menunjukkan restoran elite di wilayah ini
"Tapi kan itu restoran seperti restoran mahal"
"Kamu tenang saja ya sayang" ucap Hasasi dan terus mendorong kursi rodaku
Saat kami sampai di depan restoran tersebut, aku melihat ada tanda jika tidak diperbolehkan orang yang memakai kursi roda memasuki ke dalam restoran
"Hasasi ... bukannya kita tidak boleh M
masuk deh"
"Kenapa sayang?"
"Tuh ... lihat sayang" ucapku sambil menunjuk tanda yang aku baca tadi
"Tenang saja sayang ... aku urus nantinya" ucap Hasasi meyakinkanku dan mendorongku masuk ke dalam restoran tetapi tiba - tiba kami di halangi oleh seseorang di depan pintu
"Mohon maaf .. anda dilarang masuk" ucap seseorang itu
"Kenapa?" tanya Hasasi dingin
"Karena restoran ini hanya boleh dimasuki oleh orang - orang elit dan juga orang yang memakai kursi roda yang miskin tidak boleh masuk" ucap orang itu dengan sombong
"Oh ya ? ... kalau seorang miskin memiliki ini?" ucap Hasasi dingin dan mengeluarkan lencananya
"I ... ini ..." ucap orang itu dengan terbata - bata
"Kamu jangan melihat orang dari cover ... aku juga bisa menutup restoranmu ini" ucap Hasasi dingin
"I ... ini bukan restoran saya tuan ... ini punya bos saya"
"Panggil bosmu" ucap Hasasi dingin
"Ba ... baik tuan" ucap orang itu dan berlari masuk ruangan restoran
Hasasi menemaniku menunggu di luar restoran tersebut dengan kesal, dia merasa di jatuhkan harga dirinya. wajah Hasasi memerah seperti menahan amarah
"Hasasi kamu kanapa?" tanyaku polos
"Enggak ada sayang" ucap Hasasi mengontrol emosinya
"Kamu keliatan emosi gitu?"
"Ya ... cuma sedikit aja kok ... kamu tenang saja, jangan takut ya" ucap Hasasi lembut tetapi wajahnya merah menyala seperti api yang berkobar
Beberapa menit kemudian, pemilik restoran datang dengan gagah berani dan di temani oleh seseorang yang tadi melarang kami masuk ke dalam restoran
"Selamat siang tuan ... ada yang bisa saya bantu?" ucap pemilik restoran ramah
"Oh ya ... saya mau komplain"
"Komplain masalah apa ya?"
"Masalah tidak di hargai sama sekali orang yang akan memasuki restoran ini" ucap Hasasi sedikit dingin lalu pemilik restoran pun memandangi kami dengan cermat
"Mohon maaf ... bukanya tidak menghargai tuan, ini peraturan perusahaan bahwa siapapun yang boleh masuk ke restoran ini adalah orang - orang yang elite" jelas pemilik restoran
"Oh ... jadi menurutmu aku tidak pantas untuk makan di restoran jelekmu ini" ucap Hasasi dingin
"Bukannya tidak pantas ... tapi tampilan anda seperti bukan orang elite ... jadi tolong anda pergi dari sini"
"Kamu berani mengusirku" ucap Hasasi marah
"Pergi gak? ... kalau enggak aku panggil sekuriti untuk mengusir anda" teriak pemilik restoran tersebut sambil menunjuk - nunjuk kami
"Baik lah saya akan pergi ... dan juga hari ini restoran ini di tutup SELAMANYA" protes Hasasi dingin
"Kok anda lancang sekali akan menutup restoran saya"Hasasi terus mendorong kursi rodaku sangat pelan dan tanpa tergesa - gesa, yang membuat aku bisa menikmati pemandangan selama perjalanan di siang ini.
__ADS_1
"Sayang ... gak mau makan siang dulu?"
"Gak mau Hasasi ... aku udah kenyang banget"
"Emang kenyang makan apa?"
"Buburmu tadi"
"Kan cuma bubur dikit sayang, kamu harus makan lagi ya sayang"
"Gak mau sayang"
"Sayang dengerin aku, kamu harus makan paham ... dengerin kata - kataku"
"Baiklah Hasasi" ucapku mengalah
"Nah gitu dong sayangku"
"Emang mau makan apa sayang?"
"Kamu maunya apa?"
"Aku gak tau"
"Mmm bagaimana kalau steak yang kamu sukai"
"Steak apa? ... aku tidak ingat Hasasi"
"Hmm ... ya udah nanti kamu rasakan sendiri aja ya sayang" ucap Hasasi dan aku hanya mengangguk saja
"Oh ya emang masih jauh lagi sayang?"
"Enggak sayang ... tuh di depan" ucap Hasasi dan menunjukkan restoran elite di wilayah ini
"Tapi kan itu restoran seperti restoran mahal"
"Kamu tenang saja ya sayang" ucap Hasasi dan terus mendorong kursi rodaku
Saat kami sampai di depan restoran tersebut, aku melihat ada tanda jika tidak diperbolehkan orang yang memakai kursi roda memasuki ke dalam restoran
"Hasasi ... bukannya kita tidak boleh M
masuk deh"
"Kenapa sayang?"
"Tuh ... lihat sayang" ucapku sambil menunjuk tanda yang aku baca tadi
"Tenang saja sayang ... aku urus nantinya" ucap Hasasi meyakinkanku dan mendorongku masuk ke dalam restoran tetapi tiba - tiba kami di halangi oleh seseorang di depan pintu
"Mohon maaf .. anda dilarang masuk" ucap seseorang itu
"Kenapa?" tanya Hasasi dingin
"Karena restoran ini hanya boleh dimasuki oleh orang - orang elit dan juga orang yang memakai kursi roda yang miskin tidak boleh masuk" ucap orang itu dengan sombong
"Oh ya ? ... kalau seorang miskin memiliki ini?" ucap Hasasi dingin dan mengeluarkan lencananya
"I ... ini ..." ucap orang itu dengan terbata - bata
"Kamu jangan melihat orang dari cover ... aku juga bisa menutup restoranmu ini" ucap Hasasi dingin
"I ... ini bukan restoran saya tuan ... ini punya bos saya"
"Panggil bosmu" ucap Hasasi dingin
"Ba ... baik tuan" ucap orang itu dan berlari masuk ruangan restoran
Hasasi menemaniku menunggu di luar restoran tersebut dengan kesal, dia merasa di jatuhkan harga dirinya. wajah Hasasi memerah seperti menahan amarah
"Hasasi kamu kanapa?" tanyaku polos
"Enggak ada sayang" ucap Hasasi mengontrol emosinya
"Kamu keliatan emosi gitu?"
"Ya ... cuma sedikit aja kok ... kamu tenangHasasi terus mendorong kursi rodaku sangat pelan dan tanpa tergesa - gesa, yang membuat aku bisa menikmati pemandangan selama perjalanan di siang ini.
"Sayang ... gak mau makan siang dulu?"
"Gak mau Hasasi ... aku udah kenyang banget"
"Emang kenyang makan apa?"
"Buburmu tadi"
"Kan cuma bubur dikit sayang, kamu harus makan lagi ya sayang"
"Gak mau sayang"
"Sayang dengerin aku, kamu harus makan paham ... dengerin kata - kataku"
"Baiklah Hasasi" ucapku mengalah
"Nah gitu dong sayangku"
"Emang mau makan apa sayang?"
"Kamu maunya apa?"
"Aku gak tau"
"Mmm bagaimana kalau steak yang kamu sukai"
__ADS_1
"Steak apa? ... aku tidak ingat Hasasi"
"Hmm ... ya udah nanti kamu rasakan sendiri aja ya sayang" ucap Hasasi dan aku hanya mengangguk saja
"Oh ya emang masih jauh lagi sayang?"
"Enggak sayang ... tuh di depan" ucap Hasasi dan menunjukkan restoran elite di wilayah ini
"Tapi kan itu restoran seperti restoran mahal"
"Kamu tenang saja ya sayang" ucap Hasasi dan terus mendorong kursi rodaku
Saat kami sampai di depan restoran tersebut, aku melihat ada tanda jika tidak diperbolehkan orang yang memakai kursi roda memasuki ke dalam restoran
"Hasasi ... bukannya kita tidak boleh M
masuk deh"
"Kenapa sayang?"
"Tuh ... lihat sayang" ucapku sambil menunjuk tanda yang aku baca tadi
"Tenang saja sayang ... aku urus nantinya" ucap Hasasi meyakinkanku dan mendorongku masuk ke dalam restoran tetapi tiba - tiba kami di halangi oleh seseorang di depan pintu
"Mohon maaf .. anda dilarang masuk" ucap seseorang itu
"Kenapa?" tanya Hasasi dingin
"Karena restoran ini hanya boleh dimasuki oleh orang - orang elit dan juga orang yang memakai kursi roda yang miskin tidak boleh masuk" ucap orang itu dengan sombong
"Oh ya ? ... kalau seorang miskin memiliki ini?" ucap Hasasi dingin dan mengeluarkan lencananya
"I ... ini ..." ucap orang itu dengan terbata - bata
"Kamu jangan melihat orang dari cover ... aku juga bisa menutup restoranmu ini" ucap Hasasi dingin
"I ... ini bukan restoran saya tuan ... ini punya bos saya"
"Panggil bosmu" ucap Hasasi dingin
"Ba ... baik tuan" ucap orang itu dan berlari masuk ruangan restoran
Hasasi menemaniku menunggu di luar restoran tersebut dengan kesal, dia merasa di jatuhkan harga dirinya. wajah Hasasi memerah seperti menahan amarah
"Hasasi kamu kanapa?" tanyaku polos
"Enggak ada sayang" ucap Hasasi mengontrol emosinya
"Kamu keliatan emosi gitu?"
"Ya ... cuma sedikit aja kok ... kamu tenang saja, jangan takut ya" ucap Hasasi lembut tetapi wajahnya merah menyala seperti api yang berkobar
Beberapa menit kemudian, pemilik restoran datang dengan gagah berani dan di temani oleh seseorang yang tadi melarang kami masuk ke dalam restoran
" " saja, jangan takut ya" ucap Hasasi lembut tetapi wajahnya merah menyala seperti api yang berkobar
Beberapa menit kemudian, pemilik restoran datang dengan gagah berani dan di temani oleh seseorang yang tadi melarang kami masuk ke dalam restoran
" "
"Kamu tidak tau aku siapa?" ucap Hasasi dingin
"Kamu siapa? ... ada hak apa kamu berani - beraninya menutup restoranku"
"Aku ... aku pemilik perusahaan terbesar di dunia ... aku bisa menutup restoranmu sekarang" ucap Hasasi lalu melepaskan jaket santainya dan terlihat jas hitam milik Hasasi
"Emmm ... bukan ... bukan begitu tuan ... tetapi ..."
"Tetapi apa?" protes Hasasi dan membuka topinya dari kepala
"Tu ... tuan Hasasi?" ucap pemilik itu terbata - bata karena kaget
"Kenapa kamu sangat terkejut saat tau aku?"
"Maafkan saya yang telah lancang kepada tuan" ucap pemilik restoran tertunduk
"Hei ... yang tadi berani - beraninya kamu mengusirku dan sekarang kamu minta maaf ke aku ... heehh gak tau malu" ucap Hasasi dingin
"Maafkan saya tuan ... saya tidak tau kalau orang biasa tersebut adalah tuan Hasasi ... maafkan saya" ucap pemilik restoran tersebut sambil bersujud memohon maaf
"Buat apa kamu sujud - sujud di kakiku seperti itu ..." bentak Hasasi
" Tolong tuan .. jangan tutup restoran ini ... ini adalah mata pencaharian saya tuan" ucap pemilik restoran dengan sedih
"Biar lah ... biar kamu kapok dengan perbuatanmu itu ... menilai orang dari covernya saja .. dan Kamu tadi lancang dengan saya" ucap Hasasi kesal
"Tolong tuan ... jangan tutup restoran ini ... saya hanya salah paham tadi" ucap pemilik restoran memohon
"Hasasi ... udah jangan marah - marah ... kasihan dia... kalau kamu tutup keluarganya makan apa?" ucapku lembut sambil memandang Hasasi
"Tapi sayang ..."
"Sayang ... aku mohon" ucapku memohon
"Hmmm ... baik ... baik karena istriku yang meminta aku kabulkan ... aku tidak akan menutup restoran ini ... tapi kalau kamu berulah lagi aku akan menutup permanen restoran jelek ini" ucap Hasasi kesal
"Terimakasih tuan ... terimakasih nona" ucap pemilik restoran senang
"Ya sudah lah .. kami akan pergi saja mencari restoran lain"
"Tunggu tuan ... silahkan masuk ... akan kami buatkan menu istimewa buat tuan Hasasi dan nona Hasasi" ucap pemilik restoran senang dan Hasasi langsung menoleh kepadaku
"Bagaimana sayang?" tanya Hasasi
__ADS_1
"Iya gak apa - apa sayang" ucapku setuju dan kamipun masuk ke dalam restoran
Ternyata tidak hanya di lingkaran bisnis internasional saja Hasssi di takuti tapi juga bisnis kalangan menengah juga takut terhadap Hasasi. Apakah peran Hasasi sangatlah penting?