
Setelah kami keluar dari perusahaan Kwan Liang, aku dan Hasasi melanjutkan perjalanan ke tempat pelelangan tersebut
“Hasasi...”
“Mmmm”
“Dimana letak pelelangan itu?”
“Di Australia” ucap Hasasi
“Oh ya?”
“Yeah...”
“Aku boleh liat rumah kontrakan aku gak? ... aku udah hampir dua tahun tidak menengok rumahku sama sekali” ucapku memohon
“Baiklah .. kamu rindu rumahmu?”
"Ya ... bisa dibilang begitu"
“Aku kesana sendiri ya...” ucapku
“Enggak, harus sama aku” ucap Hasasi
“Baiklah terserah kamu, tapi rumahku pasti udah kayak kapal pecah” ucapku
“Tidak masalah”
Beberapa jam kemudian kami sampai di bandara Australia, aku dan Hasasi segera turun dari pesawat dan menuju ke mobil yang telah disiapkan. Aku tidak lupa dimana letak kosanku yang aku tinggali selama di Australia, aku didunia hanya hidup sendiri, tidak punya keluarga ataupun sanak saudara
“Di sebelah mana kosanmu?” tanya Hasasi
“Jalan itu, lurus aja dikit kanan jalan ada gang masuk ke dalam ...” ucapku
Sopir mengikuti arahanku dan sampailah kami di rumah yang sangat kumuh karena tidak pernah di bersihkan selama aku di Jepang
“Maaf ya Hasasi” ucapku sambil membuka gerbang
“Tidak apa – apa”
Kami berdua masuk ke dalam rumah kontrakanku, banyak debu, serangga, bahkan sarang laba – laba terdapat dimana – mana. Begini banget ya kalau rumah tidak dirawat, setelah aku sampai di rumahku aku segera membersihkannya bersama Hasasi
“Hasasi, tidak usah ... biar aku aja ... kamu gak akan kuat” ucapku
“Tidak apa – apa ... aku kuat kok” ucap Hasasi
Kami pun membereskan rumah bersama – sama. Sebenarnya kalau melihat Hasasi membersihkan rumahku, aku merasa kasihan karena dia tidak pernah melakukan pekerjaan rumahnya hanya pembantu yang membereskan rumahnya yang megah itu.
Setelah beberapa jam aku dan Hasasi membereskan rumah, rumahku menjadi bersih kembali dan aku dan Hasasi duduk di kursi ruangtamu
“Huft ... gini amat ya membereskan rumah” keluh Hasasi
“Kan aku udah bilang... biar aku aja” ucapku sambil memijiti Hasasi
“Mmmm ... enak juga pijitanmu” ucap Hasasi sambil cengengesan
“Ya udah kamu mandi sana dulu habis itu istirahat” ucapku
“Baiklah ...” ucap Hasasi dan langsung bergegas mandi sedangkan aku langsung rebahan di kursi ruang tamuku
Entah aku yang capek atau emang mengantuk, akupun tertidur sebentar di kursi ruang tamuku dan aku merasa seseorang mencium keningku karena aku kaget sontak aku terbangun
“Mmmm ... Hasasi .... bikin kaget aja”
“Hihihi ... kamu sih malah tidur disini”
“Ya gak tau ketiduran ... kamu istirahat aja di kamar” ucapku
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau mandi” ucapku dan berlalu
Aku sudah lama tidak mandi di rumah kontrakanku sendiri, terasa kembali ke kenangan saat bersama dengan Kwan Liang ... Hmmm emang ya masa lalu.
Setelah selesai mandi aku menuju ke kamarku untuk melihat Hasasi, aku melihat Hasasi tidur nyenyak di kasurku, padahal kasur sangat keras tetapi Hasasi bisa tidur dengan pulasnya. Aku mendekati Hasasi menyelimutinya dengan selimutku den mencium keningnya dan akupun menuju ruang tamu untuk tidur, karena di rumahku yang sederhana ini hanya satu kamar jadi aku mengalah untuk Hasasi
Pada sore hari Hasasi membangunkanku dari mimpi indahku hari ini
“Fifiyan...”
“Mmmm ... ada apa Hasasi?”
“kenapa kamu malah tidur disini?”
“Enggak apa – apa kok”
“Seharusnya kamu membangunkanku biar aku tidur di luar kamu di dalam aja, kalau kamu masuk angin gimana?”
__ADS_1
“enggak bakal kok”
"Kamu gak boleh sampai sakit loh" pinta Hasasi
"Iya pastilah ... kok kamu bisa tidur sih, padahal kasurku keras loh beda sama kasurmu" tanyaku heran
"Iya kan rumah istri sendiri masa aku gak betah..."
“Ya udah ayo siap – siap kita akan berangkat ... gaunmu udah aku siapin” ucap Hasasi
“Sejak kapan kamu membawakan gaun untukku?”
“Sejak kita sebelum kesini, udah cepat ganti baju” ucap Hasasi dan aku langsung menuju kamar untuk ganti baju dengan gaun yang sangat indah dan mewah.
“Udah, ayo kita berangkat” ucapku dan kamipun naik mobil untuk menuju tempat pelelangan tersebut
“Hasasi ... pelelangannya dimana sih?” tanyaku saat di perjalanan
“Di Hotel Internasional Australia”
“Oh ... hotel yang elite itu?” tanyaku
“Yups betul sekali”
Tidak beberapa lama kemudian kami sampai di depan hotel tersebut dan disambut oleh dua orang pelayan
“Selamat malam tuan, boleh lihat lencananya” ucap salah satu pelayan dan Hasasi mengeluarkan lencana S yang artinya dia adalah petinggi dunia
“Baiklah silahkan masuk, kamar anda berada di no 2 ” ucap salah satu pelayan dan dibukakan pintunya untuk kami
Selama di dalam hotel Hasasi kembali memancarkan muka dinginnya itu, ntah aku juga tidak tahu kenapa dia selalu kayak gitu kalau di dunia
“Hasasi....”
“Mmmm”
“Apa itu lencana?” tanyaku dengan lugu
“Lencana itu identitas seseorang”
“Ada berapa macam lencana?”
“Lencana ada 5 ... S,A,B,C,dan D ... dimana masing – masing lencana berbeda arti”
“Apa aja bedanya?”
“Lencana S untuk orang yang tingkatannya tinggi dan yang ditakuti oleh dunia, lencana A untuk CEO atau orang yang derajatnya dibawahku, lencana B untuk CEO ataupun orang yang derajatnya menengah, lencana C untuk CEO atau orang yang derajatnya biasa aja alias orang sipil, sedangkan lencana D untuk seseorang yang masih pemula ... paham kan?” jelas Hasasi
“Ada ... ketua perkumpulan Pemberontak Yang Kejam dan juga ketua perkumpulan Kejahatan Internasional” ucap Hasasi
“Emang kalian tidak pernah ada bunuh membunuh gitu?”
“Tidak ... kami adalah sekutu, jadi kalau kami ada masalah mereka siap membantu begitupun perkumpulanku”
“Terus siapa yang memberikan lencana itu?”
“Ketua Kejahatan Internasional, dia perkumpulan terkuat di dunia” jelas Hasasi
“Oh begitu ...”
Tidak berselang lama kami sampai di depan pintu yang megah dan tinggi, dimana di sebelahnya terdapat wanita cantik dengan memakai baju warna hitam sedang berdiri sendirian
“Selamat malam tuan, silahkan tunjukan lencana” ucap Hasasi dan menunjukan lencananya kembali
“Baiklah silahkan masuk” ucap wanita itu dan kami berdua pun masuk ke dalam ruangan itu.
Kamu berjalan menyelusuri lorong yang luas dan di dinding terdapat beberapa lukisan yang indah sepertinya lukisan itu sangatlah mahal. Setelah berjalan menyelusuri lorong, aku melihat banyak pintu – pintu kamar yang berwarna emas.
“Hasasi ...”
“Mmm”
“Kenapa kita gak langsung di ruangan pelelangan?” tanyaku
“Acaranya nanti jam 9 malam, ini baru jam 7 malam, jadi kita istirahat dikamar dulu”
“Eh ya ... ini pintu kok berwarna emas, ini cat atau apa?” tanyaku polos
“Ya ampun ini emas asli lah, ngapain cat ...” tawa Hasasi
“Tapi kan kalau di rumahmu cat” ejekku sambil menjulur lidahku
“Siapa bilang cat, itu emas asli ya” ucap Hasasi sambil mencubit hidungku
“Masa sih? ... kayak cat gitu” ejekku lagi
“Hmmm terserah kamu deh” ucap Hasasi dan kami diam untuk beberapa menit
__ADS_1
“Hasasi ...” ucapku lagi
“Mmmm...”
“Emang semua orang kamarnya sama ya?” tanyaku
“Enggak lah, tergantung lencana yang dia punya”
“Tapi kan aku gak punya lencana, terus aku tidur dimana?” tanyaku
“Kamu tidur sekamar denganku” jawabnya santai
“Tapi ... tapikan kita belum nikah”
“Ya kan di kamar ranjang gak cuma satu kale ...”
“Ooohh ... emang berapa ranjang?”
“Ihh ... kamu tanya mulu ya kezel ... kezel ... kezel ..” ucap Hasasi sambil meronta – ronta kayak anak kecil
“Dasar alay” gumamku
“Kamu bilang apa?” protes Hasasi
“Enggak kok, itu ada kecoa lewat”
“Mana ada kecoa disini?”
“Ada, nih di sampingku ... “ Ejekku dan tiba – tiba Hasasi menggendongku
“Ihhh ... turunin aku” protesku
“Salah sendiri ngejek aku” protes Hasasi lalu Hasasi menciumku
“Itu hukumanmu mengejek aku” ucap Hasasi dengan cengengesan
“Ih ... jahat” ucapku dan kami sampai di kamar kami
Saat aku digendong Hasasi entah kenapa aku melihat seseorang yang mirip Kwan Liang mengintip kami di pintu berwarna perak yang jaraknya selisih 6 pintu dari kamar kami, aku tidak melihat persis tapi aku yakin orang itu Kwan Liang.
Saat berada di dalam kamar, aku melihat ruangan yang begitu mewah, semua berwarna emas, kamar tidur ada 2 dan itu ukurannya juga lumayan besar dan juga ada lemari pakaian yang besar. Dan setelah kami berada di dalam kamar Hasasipun menurunkan aku dari gendongannya
“Kamu jadi berat gitu sekarang” ejek Hasasi
“Ihh ... emang kamu pernah gendong aku gitu?” protesku
“Pernah ... waktu kamu pingsan di jembatan dulu” ejek Hasasi
“Emang kamu gendong aku dulu?”
“Iya lah siapa lagi” gumam Hasasi
“Loh ... aku kira ajudanmu”
“Enggak lah ... aku yang gendong kamu ... tapi dulu lebih berat sih, bikin sakit encok” ejek Hasasi sambil mengelus punggungnya
“Ihh kamu ya ngejek mulu” protesku sambil melemparkan bantal ke wajahnya tapi masih bisa dia tangkis
“Wellk ... gak kena” ejek Hasasi dan akupun mengejar Hasasi di dalam kamar, kamar ini begitu luas jadi gak masalah bila kami berlarian seperti anak kecil
“Ah udah lah ... ampun, capek hamba nyonya galak” ucap Hasasi dengan nafas terengah – engah
“Ya udah sana mandi ... bau keringat” gumamku sambil menutup hidung
“Ih alay ...” ejek Hasasi lalu bergegas mandi
Setelah Hasasi mandi ganti aku yang mandi karena banyak peluh yang keluar akibat berlari – larian engan Hasasi.
“Tuh pakai baju ini aja” ucap Hasasi sambil menyodorkan gaun berwarna biru muda
“Kenapa pakai baju ini?” tanyaku
“Karena ... enggak tau”
“Lah aku kira karena apa” ucapku dan aku bergegas mengganti bajuku
"Aku udah selesai Hasasi"
"Oke .."
"Oh ya Hasasi"
"Mmm... tadi pas kita mau masuk ke kamar kan, aku melihat Kwan Liang loh"
"Biarin ..."
"Tapi dia mengintip kita loh"
__ADS_1
"Biarin, pokok kamu tidak bertemu dengannya itu aja ... udah ah ayo kita ke ruangan itu" ucap Hasasi sambil menarikku keluar kamar
Setelah selesai ganti baju, kami siap – siap untuk menuju ruangan pelelangan yang ada di hotel ini. Aku tidak tau berapa banyak orang yang akan datang untuk melakukan pelelangan hari ini, sepertinya banyak dan banyak orang – orang kaya yang akan hadir