
Pagi ini cuaca sangat cerah, burung – burung berkicauan riang, dan ombak laut yang tenang membuat tidurku sangat nyenyak
“Pagi Fifiyan” sapa Hasasi
“Mmmm ... pagi juga Hasasi” gumamku sambil mengusap mataku
“Bagaimana tidurmu?”
“Nyenyak banget, bagaimana denganmu Hasasi?”
“Aku nyenyak juga, apalagi ada kamu disampingku”
“Ah gombal” gumamku
“Enggak loh ... aku seriusan”
“Iya – iya sayang”
“Tumben kamu udah bangun?”
“Iya kan pengen liat istriku yang cantik ... ya apalagi udah lama tidur sendiri itu gak menyenangkan loh”
“Iihh ...gombal”
“Serius loh sayang”
"Emang tidak menyenangkan bagaimana Hasasi?"
"Iya seperti jomblo gitu, tidak ada istri tercinta disampingku"
“Iya ... iya sayang”
“Ya udah mandi dulu sayang”
“Oke” ucapku dan pergi ke kamar mandi
“Bajumu udah aku siapkan di ruang ganti” teriak Hasasi dari luar
Segera mandi dan berganti baju di ruang ganti, di dekat cermin aku melihat gaun cantik yang digantung disitu. Gaun berwarna kuning cerah dengan renda di bagian roknya
“Ini gaunku?” tanyaku
“Yups... yang dekat cermin” ucap Hasasi, aku langsung memakainya dan menemui Hasasi
“Aku udah mandi dan cantik nih ... kenapa kamu menyuruhku memakai gaun bagus kayak gini mau kemana?” ucapku merapikan rambutku
“Ayo kita keluar” ucap Hasasi sambil menarikku keluar kamar
“Mau kemana?”
“Jalan – jalan aja ... dan kamu harus menemaniku melakukan pertemuan yang tertunda semalam”
"Dimana pertemuannya?"
"Dia Gedung pusat kota"
“ Baiklah ... Emang kamu udah mandi?”
“Udahlah... ngejek ya” ucap Hasasi sinis dan mencubit pipiku
“Aaauu... sakit” rengekku
“Kamu lucu kalau kamu nangis” ejek Hasasi sambil ketawa
“Ihh nyebelin” gumamku kesal
“Meskipun nyebelin tapi bikin rindu loh”
“Ihh... PD banget”
“Tapi bener kan?”
“Iya juga sih” gumamku
“Ya udah ayo naik mobil”
__ADS_1
“Kita kemana?”
“Kita ke tebing sebelah sana dulu yuk” ucap Hasasi menunjuk tebing tinggi
“Ngapain kesana?”
“Nanti kamu tau sendiri sayang...ayo naik”
“Baiklah..” ucapku pasrah lalu naik mobil milik Hasasi
Setelah kami berdua masuk ke dalam mobil, mobilpun melaju menuju tebing yang tempatnya tidak jauh dari villa milik Hasasi
“Hasasi, emang disana ada apa?”
“Mmm... ada sesuatu”
“Sesuatu?... apa itu?”
“Ya nanti kamu bakal tau sendiri sayang” ucap lembut Hasasi sambil membelai tanganku
“Iiihh aku penasaran sayang”
“Nanti kamu tau sendiri sayang”
“Hmmm baiklah”
Aku hanya terdiam, aku memandang Hasasi lekat. Ketampanannya tetap sama seperti dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya. Putih, tampan, berwibawa, cuek dan tentu saja dingin.
“Kamu kenapa memandangku seperti itu?” tanya Hasasi kaget saat aku memandanginya
“Eeee.... mmmm... ti... tidak ada”
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Tidak ada, cuma keinget saat bertama kali kenal kamu”
“Oh ya?”
“Iya... padahal kamu dulu cuek dan dingin banget” ucapku sambil memandang keluar jendela mobil
“Ya lah mengalahkan patung”
“Hahaha... masa aku disamain sama patung sih”
“Ya emang loh, tapi aku masih penasaran loh ... kamu kok bisa lembut sama aku ya?”
“Ya ... gimana ya ... kamu udah meluluhkan hati kecilku ini”
“Preett ... kamu gombal mulu sih” gumamku
“Seriusan sayang... gak tau kenapa aku lama kelamaan gak tega gitu kalau bikin kamu takut atau nangis gitu dan ... ya hatiku udah memilih kamu” ucap Hasasi mengingat masa lalu
“Kenapa kok memilih aku... padahal aku bukan siapa – siapa loh?”
“Nanti aku jawab, kita turun dulu ya” ucap Hasasi langsung turun lalu membukakan pintuku
“Loh udah sampai ya” gumamku terkejut
“Yeah ... ayo kita jalan kaki dahulu”
“Loh belum sampai?... katanya udah”
“Ya kita harus jalan kaki menuju ke atas”
“Jauh gak?”
“Tidak sayang” ucap Hasasi dan kami berdua berjalan bersama sambil berpegangan tangan
Jalan yang kami lalui agar sedikit curam, di sisi kira dan kanan banyak pepohonan rimbun yang menjulang tinggi. Tidak lama kami berjalan, kami sampai di ujung jalan setapak ini, aku melihat berkilaunya hamparan laut biru, angin laut yang menyejukkan, dan aroma asin asli laut yang sangat menyejukkan hatiku
“Wahh indah banget Hasasi” ucapku senang
“Kamu suka kan?”
“Ya... aku suka sekali” ucapku sambil memejamkan mataku merasakan angin laut yang sedang menerpa badanku
__ADS_1
“Oh ya Fifiyan” ucap hasasi tiba – tiba dan membuatku kaget
“Iya ada apa sayang?”
“Ini untukmu” ucap Hasasi memberiku gelang berwarna putih dengan mutiara putih sebagai hiasan pada gelangnya
“Untuk apa kamu memberiku ini Hasasi?” tanyaku kaget
“Ya aku ingin aja memberimu ini sebagai hadiah ulang tahunmu beberapa bulan yang lalu”
“Oh ya ... hmmm aku aja lupa Hasasi”
“Aku tidak lupa sayang”
“Makasih ya sayang” ucapku senang
“Hmmm” desah Hasasi dan dia duduk di tanah
“Ada apa Hasasi?” tanyaku
“Fifiyan... aku masih merasa bersalah kepadamu” ucapnya lirih
“Udah lah Hasasi, gak perlu dibahas lagi” ucapku memohoon
“Meskipun begitu aku bersalah kepadamu Fifiyan, kamu yang aku butuhkan, kamu yang ku inginkan, kamu yang pantas menjadi nyonya besar Stun. Tapi malah aku sia – siakan kamu” ucap Hasasi sedih
“Kamu sia – siakan bagaimana maksudmu?”
“Iya... aku sering sakiti kamu demi perusahaanku ... tapi aku juga yang kehilangan kamu”
“Iya kalau karena perusahaanmu aku rela kok melepasmu dengan wanita lain, apalagi aku sekarang bukan orang yang terpandang seperti dulu” ucapku lirih
“Tidak... aku tidak mau lagi Fifiyan” ucap lirih Hasasi sambil menatapku
“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu Hasasi, kenapa kamu tidak bilang dari dulu kalau kamu membutuhkan wanita yang bisa meningkatkan perusahaanmu” ucapku sedih
“Bu...bukannya gitu...”
“Kenapa gak dari dulu kamu ngoongnya Hasasi?”
“Dengarkan aku...”
“Kenapa Hasasi?” tanyaku lirih dan tidak terasa air mataku mengalir
“Fifiyan ... dengarkan aku...” ucap Hasasi sambil memegang bahuku tapi aku hanya menunduk diam saja
“Fifiyan dengar ... itu dulu oke, sekarang aku gak mau lagi ... apapun yang terjadi, kamu adalah istriku”
“Tapi kan ... aku bukan orang terpandang seperti dulu Hasasi”
“Fifiyan tatap mataku” ucap Hasasi serius dan secara otomatis aku menatap mata Hasasi
“Fifiyan ... apapun yang terjadi, kamu adalah istriku ... sekarang aku sadar kamu lebih penting dari pada perusahaanku .. dan ini benar - benar kata hatiku” ucap Hasasi serius dan tangannya menghapus air mataku
“Apapun yang terjadi ... kamu harus jadi milikku ... selamanya milikku” ucap Hasasi bersungguh – sungguh lalu memelukku erat
“Hasasi ... aku juga ... tidak mau kehilanganmu” ucapku lirih dipelukan Hasasi
“Fifiyan berjanjilah ... kamu akan menikah denganku” ucap Hasasi memohon
“Aku ingin Hasasi ... tapi Naian bagaimana?”
“Kamu ada rasa dengan Naian?” tanya Hasasi kecewa
“Ti ... tidak ada ... cuma ... dia bilang ... akan membunuh siapapun yang merebut miliknya” ucapku lirih
“Naian punya rasa kepadamu?”
“Iya Hasasi ... a .. aku tidak mau kamu dibunuh Naian” ucapku lirih
“Fifiyan ... tenang saja, masalah Naian aku yang akan menghadapinya, apapun yang terjadi kamu adalah istriku ... selamanya istriku” ucap Hasasi memelukku sangat erat
“Makasih ya Hasasi ... kamu selalu melindungiku” ucapku meneteskan air mata di jas mewah Hasasi
“Itu pasti dan itu harus sayang, aku pemilikmu pertama kali, jadi apapun yang terjadi kamu tetap milikku” ucap Hasasi dan terus memelukku
__ADS_1
Aku berharap bisa menikah dengan Hasasi tapi disisi lain, aku takut kalau Naian akan menyakiti Hasasi. Bagaimanapun juga hatiku juga memilih Hasasi seutuhnya, diriku juga memilih Hasasi menjadi suamiku