Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Part II, Episode 9 : Berangkat Ke Taman Bermain


__ADS_3

Rasa nyeri di tanganku masih sangat terasa sampai membuatku terbangun dari tidurku, aku membuka mataku dan melihat Hasasi yang sedang tertidur di sebelahku, ternyata aku sekarang berada di kamar rumah Hasasi yang dulu, sinar matahari mulai muncul dari arah samudera membuat kamar lama kami ini menjadi terang. Aku mencoba untuk terduduk tapi aku tidak bisa melakukan apapun karena rasa sakit di seluruh badanku ini membuatku tidak bisa melakukan apapun.


"Ada apa sayang?" gumam Hasasi menatapku.


"Eehh mmm maaf mengganggu kamu tidur sayang."


"Tidak kok, aku memang sudah bangun dari tadi... Kamu ngapain?"


"Aku ingin duduk tapi badanku sakit semua Hasasi." gumamku pelan.


"Sini aku bantu sayang" gumam Hasasi membantuku terduduk.


"Apa masih sakit bekas jahitan kemarin?"


"Ya terasa sangat nyeri."


"Hmmm ini minumlah" gumam Hasasi memberiku sebuah obat dan aku langsung meminumnya


"Ya kalau terjahit memang seperti itu sayang apalagi lukamu dalam."


"Kenapa kamu bisa melakukannya Hasasi?"


"Aku sekolah kedokteran sayang hehehe."


"Kapan kamu sekolah?"


"Mmm ya sudah lama sih dan sudah beberapa tahun ini aku bisa melakukannya sih."


"Ih benarkah kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku?"


"Hehehe aku hanya ingin nanti saat mau lulus aku akan mengatakannya kepadamu sayang."


"Hmm kapan kamu lulus?"


"Beberapa bulan lagi."


"Oh mmm semangat ya suamiku." gumamku tersenyum kearah Hasasi.


"Ya sayang, makasih sudah selalu menemaiku dimanapun dan apapun kondisiku sayang bahkan kamu memberikanku dua anak yang cantik dan tampan saat ini." gumam Hasasi memelukku erat.


"Kamu suamiku jadi sudah seharusnya itu yang bisa aku lalukan suamiku " gumamku bersandar di dada bidang Hasasi.


"Hmmm kalau aku tidak menikah denganmu mungkin aku tidak akan sebahagia ini, tapi aku benar - benar sangat bersyukur bisa memilikimu..." desah Hasasi pelan.


"Hmmm aku juga sangat bersyukur sayang."


Ceekkrreeekkk


Tiba - tiba pintu kamar terbuka, aku melihat Han dan Sasa masuk ke dalam kamar dengan khawatir. Mereka berdua naik ke atas tempat tidur dan menatapku.


"Ibu... Apa ibu sakit?" gumam Han menatapku khawatir.


"Ya ibu harus beristirahat, jadi kalian berdua jangan nakal!" gumam Hasasi serius.


"Sasa tidak nakal ayah ibu, Sasa anak baik..." gumam Sasa memegang tanganku lembut.


"Hmmm ya Sasa dan Han anak yang baik." gumamku pelan.


"Oh ya ayah ibu, kami berdua membuatkan sesuatu untuk ayah dan ibu." gumam Sasa berlari keluar dari kamar.


"Sesuatu apa?" gumamku bingung, tidak lama kemudian datang Sasa membawa dua piring nasi goreng ke dalam kamar.


"Ini buatan Sasa dengan kakak ayah ibu" gumam Sasa menyerahkan nasi goreng itu kepadaku, aku segera mencicipinya dan tidak aku sangka rasanya sangat enak.


"Bagaimana rasanya ibu?" gumam Sasa nenatapku serius.


"Rasanya enak, pandai kalian membuatnya." gumamku tersenyum.


"Hehehe ya Sasa dan kakak mengikuti cara buatan ibu." gumam Sasa polos.


"Tapi bagian bawah gosong ibu hehehe!" gumam Han tertawa kecil, aku melihat bagian bawah nasi ada beberapa nasi yang berwarna hitam.

__ADS_1


"Tidak apa, lain kali apinya jangan besar ya.."


"Tuh kakak besarin sih apinya tadi!!" protes Sasa kesal.


"Eeh kan kata kamu disuruh besarin gimana sih." gerutu Han kesal


"Sudah kalian malah berantem, sekarang kan kalian tahu apa kesalahannya jadikan pembelajaran." gumam Hasasi mengusap lembut kepala Han dan Sasa.


"Baik ayah" ucap Han dan Sasa bersamaan.


"Dah kalian mandi dan siap - siap dulu sana."


"Emang ayah mau mengajak kami kemana?" tanya Sasa bingung.


"Ya, ayah dan ibu baru saja datang di rumah kakek dan nenek"


"Tidak apa, hari ini hari libur jadi kita akan jalan - jalan." gumam Hasasi tersenyum.


"Oh benarkah? Baik ayah!" teriak Han dan Sasa segera pergi dari kamar


"Emang mau jalan - jalan kemana Hasasi?"


"Mmm ya liat saja nanti sayang."


"Tapi aku susah untuk mandi sendiri" gumamku pelan


"Sini aku mandiin sayang" gumam Hasasi membantuku masuk ke kamar mandi.


Ya untungnya Hasasi itu suamiku sekarang jadi aku tidak masalah kalau dia membantuku untuk mandi lagipula tanganku masih terasa sakit untuk melakukan apapun.


Setelah mandi, Hasasi membantuku memakaikan pakaianku dan menguncir rambutku, ya bisa di bilang aku seperti anak kecil saat ini. Hasasi tidak sekali melakukan hal ini bahkan dulu Hasasi juga sering melakukannya bahkan lebih baik dari pada aku sendiri yang melakukannya.


"Sudah siap... Kamu masih sangat cantik sayang." gumam Hasasi menatapku dari kaca rias.


"Hmmm kamu juga masih saja tampan Hasasi."


"Tidak juga, ini, ini, ini sudah berkeriput" gumam Hasasi menunjukkan wajahnya dengan tangannya.


"Tidak apa, kamu tetap tampan sayang" desahku mencium pipi Hasasi.


"Iihh aku gak menggodamu loh Hasasi, aku mengatakan yang sebenarnya!"


"Ya iya istriku. " desah Hasasi membantuku berdiri dan keluar dari kamar


Saat kami berada di tangga aku melihat Tuan dan Nyonya Stun serta Lisa sedang terduduk di ruang keluarga. Tuan dan Nyonya Stun tersenyum ke arahku, Nyonya Stun memelukku dan membelai rambutku pelan.


"Fifiyan terimakasih..." desah Nyonya Stun pelan.


"Ee.. Mmm terimakasih untuk apa ibu?" gumamku bingung.


"Ya kamu sudah membantu Hasasi dan juga sudah melindunginya."


"Ya benar, Hasasi selalu saja terluka parah kalau mengikuti kegiatan survival bodoh itu!!" gerutu Tuan Stun menatap Hasasi dingin.


"Walaupun Hasasi tidak terluka sama sekali tapi kamu malah mengorbankan dirimu untuk Hasasi.." desah Nyonya Stun pelan.


"Tidak apa ibu, ya hanya ini yang bisa saya lakukan."


"Tidak apa, ayah dan ibu sudah sangat berterimakasih kepadamu. Pokok setelah ini kau fokus ke anak dan istrimu Hasasi!" gerutu Nyonya Stun dingin.


"Ya aku tahu ibu, aku sudah bilang ke organisasiku dan ketua oraganisasi pusat. Ya walaupun nanti aku hanya bertugas untuk membantu saat perang itu terjadi sih!" gumam Hasasi santai.


"Perang mafia itu? Tidak perlu, kamu sudah tua untuk melakukan itu!!" protes Tuan Stun dingin.


"Tapi ayah, ketua organisasi pusat yang menyuruh kami seperti itu. Walaupun anggotaku ada yang tidak setuju tapi ... Ya liat aja nanti seperti apa, lagipula aku juga ingin fokus mengajarkan Han juga!"


"Han mau kamu jadikan penerus?" tanya nyonya Stun terkejut.


"Iya ibu, dia anakku jadi mau tidak mau dia harus menjadi penerusku dan Han pasti tahu itu kan?" gumam Hasasi menatap Han dan Sasa yang sedang berjalan ke arah kami.


"Iya ayah Han tahu" gumam Han pelan, aku berjongkok di depan Hasasi.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak bersedia, tidak apa anakku." gumamku pelan


"Tidak ibu, aku anak ayah dan ibu, aku tidak ingin mengecewakan ayah dan ibu!!"


"Hmmm baiklah, apapun keputusanmu jangan di jadikan beban ya anakku..." desahku pelan.


"Baik ayah ibu!"


"Hmmm baguslah, mari kita jalan - jalan!!!" gumam Hasasi langsung menggendong Sasa.


"Kakak kau gak mengajak adikmu ini?" protes Lisa kesal.


"Kamu mau ikut?"


"Mau lah, sudah beberapa tahun kakak tidak mengajakku jalan - jalan!!"


"Bagaimana Fifiyan?" gumam Hasasi menatapku.


"Tidak apa ajak aja "


"Hmmm padahal aku tidak ingin mengajaknya!" gerutu Hasasi kesal.


"Kakak sudah punya istri dan anak juga masih saja menyebalkan!!!" gerutu Lisa menggandeng tanganku.


"Seperti kakak ipar dong bisa ngertiin aku gak kayak kakak wellkk!!!" sindir Lisa menjulurkan lidahnya ke arah Hasasi.


"Haish kamu juga masih saja seperti anak kecil"


"Biarin lah kan aku belum menikah, tidak seperti kakak.."


"Kamu ini ya!!" gerutu Hasasi kesal.


"Haish kalian berdua masih saja suka bertengkar, seperti Han dan Sasa tuh mereka jarang sekali berantem!" desah Nyonya Stun menggelengkan kepalanya


"Kami kan anak yang baik nenek " ucap Sasa polos.


"Iya cucuku yang cantik, jangan nakal - nakal ya kalian berdua."


"Baik nenek!" ucap Han dan Sasa senang.


"Baiklah ayah ibu kami pergi dulu!" gumam Hasasi berjalan keluar rumah.


Aku, Hasasi, Lisa, dan kedua anakku masuk ke dalam mobil dan mobil kami pergi dari rumah. Selama di mobil Lisa bermain bersama dengan Han dan Sasa sedangkan Hasasi hanya terdiam, aku menatap Hasasi dan memegang tangannya pelan.


"Ada apa Hasasi?"


"Tidak ada hanya sedikit lelah."


"Kalau lelah kenapa memaksa mengajak anak - anak jalan - jalan?" gumamku menatap Hasasi.


"Tidak apa, sudah berminggu - minggu kita meninggalkan anak - anak, ya biar anak - anak semangat lagi."


"Hmmm emang kamu mau mengajak anak - anak kemana?"


"Ya mungkin ke taman bermain di kota, sekalian aku akan bertemu dengan seorang teman disana."


"Teman? Emang mau membahas apa?"


"Ya kerjasama perusahaan saja, cuma tidak formal banget sih. Jadi kita bertemu di taman bermain."


"Apa dia sendiri?"


"Tidak, dia bersama anaknya."


"Istrinya tidak ikut?"


"Tidak, dia sudah cerai dengan istrinya."


"Oh begitu ya.." desahku pelan


"Aku tidur dulu ya, perjalanan lumayan jauh jadi kamu bisa istirahat juga sayang.. " desah Hasasi bersandar di bahuku dan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Hmmm tidurlah sayang" desahku mengusap lembut rambut Hasasi sambil bermain handphoneku.


Aku menatap kedua anakku yang sedang senang bermain dengan Lisa membuatku sangat senang, senyum di wajah mereka membuat hatiku senang melihatnya apalagi aku sekarang sudah menjadi seorang ibu.


__ADS_2