
"Beneran kamu mempercayaiku kali ini?" tanya Hasasi berkaca - kaca
"Iya..."
"Hmmm syukurlah kalau begitu"
"Oh ya kenapa pas aku masih dengan Alex kamu sendirian di tengah malam"
"Sendirian kapan??"
"Ya sendirian di balkon lantai 2"
"Kenapa kamu tahu?"
"Ya aku tahulah"
"Kamu memata - matai aku?"
"Ya ... bisa di bilang seperti itu"
"Kamu sekarang pinter memata matai aku ya" gumam Hasasi mencubit pipiku
"Ya biarin lah kamu juga sama" protesku
"Ya kalau memata - mataimu itu harus biar aku tahu keadaanmu" gumam Hasasi
"Mmm jadi kamu ngapain melamun di balkon lantai 2?"
"Hmmm ya aku kan kangen padamu apalagi udah satu tahun lebih kamu dengan Alex sedangkan aku merana sendiri di sini..." gumam Hasasi lirih
"Terus kamu memikirkan tentang aku aja?"
"Ya... tentang kamu aja"
"Emang gak ada yang lain?"
"Tidak"
"Kenapa kamu memikirkan aku?" gumamku
"Ya aku takut kehilanganmu dan takut kamu menikah dengan Alex apalagi aku mendengar Alex dan kamu bertunangan"
"Ya.... kan pernikahan bisnis seperti yang kamu lakukan dengan wanita lain" gumamku
"Ya tapi kan kamu istriku tau!!" protes Hasasi
"Ya kan dulu aku gak tau apa yang terjadi sebenarnya, itupun kalau aku tidak mendapat mimpi tentang orang tuaku aku gak bakal menemukan faktanya" gumamku
"Hmmm ya udah yang penting sekarang kamu adalah wanitaku apapun yang terjadi" gumam Hasasi mengelus rambutku dengan lembut
"Hmmm iya Hasasi"
"Aku punya pertanyaan kepadamu Fifiyan"
"Pertanyaan apa?"
"Apa kamu mencintaiku?"
"Pertanyaanmu konyol!!" gumamku
"Aku serius"
"Hmmm baiklah... aku sangat mencintaimu"
"Oh ya?... emang kamu siap menjadi istriku suatu saat nanti?"
"Siap lah kenapa juga aku tidak siap" gumamku
"Tapi kan kamu tahu sendiri aku dibenci semua orang bahkan aku punya banyak musuh" gumam Hasasi
"Tidak apa sayang.."
"Atau aku bubarkan perkumpulanku demi ka..."
__ADS_1
"I dont care ... yang penting kamu bisa mencintai aku dan melindungi aku aja aku sudah senang sayang" gumamku tersenyum
"Serius?"
"Yes, aku serius"
"Baiklah... aku akan terus mencintaimu dan melindungimu Fifiyan"
"Terimakasih Hasasi... jadi kamu mau bertanya apa lagi?"
"Udah tanya itu aja"
"Cuma itu aja?"
"Ya... "
"Emang gak ada pertanyaan lainnya?"
"Tidak... "
"Kenapa?"
"Karena aku sudah percaya padamu Fifiyan"
"Hasasi..." gumamku senang lalu menyandarkan kepalaku di bahunya Hasasi
"Fifiyan tahu gak aku sangat mencintaimu aku sungguh - sungguh senang memilikimu"
"Oh ya?"
"Ya... aku juga tidak tahu kenapa bisa aku benar - benar mencintaimu padahal aku orangnya susah mencintai dan percaya wanita"
"Kenapa gitu?"
"Ya ... kamu ingat perkataan ibuku tadi"
"Yang mana?"
"Yang bilang gara - gara Sari Lie aku tidak tertarik sama wanita"
"Karena alasan yang pernah aku ceritakan dulu"
"Yang mana aku lupa"
"Hadeeh... yang pas ada acara promnight sekolahan ternyata Kwan Liang dengan Sari Lie berpacaran itu... padahal dulu aku serius sama dia" gumam Hasasi
"Ya udah lah masa lalu ya masa lalu sekarang kamu milikku" gumamku mengusap rambut Hasasi
"Mmmmm Hasasi dulu emang kamu gak menyesal dijodohkan denganku Hasasi?"
"Ya... dulu emang aku menyesal telah dijodohkan denganmu"
"Kenapa kamu menyesal?"
"Ya namanya dijodohkan siapa gak menyesal coba... wajahnya gak tau gimana, karakter orangnya gak tahu gimana, apalagi dijodohkan bisnis untuk kepentingan bisnis bukan karena hati dan perasaan" gumam Hasasi
"Aku kira kamu pas di jodohkan dengan teman baikku itu kamu menerima dengan ikhlas"
"Tidak sama sekali... makanya untung ada kamu penyelamatku sehingga aku tidak jadi menikah dengan dia"
"Aku?.. penyelamatmu?" tanyaku kaget
"Iya ... kalau kamu dulu tidak pergi dari pesta dansa karena ejekan orang lain aku pasti gak ada alasan untuk membatalkan pernikahan itu"
"Kenapa kepergianku menjadi alasan batalnya pernikahanmu?"
"Karena... ada aja pokoknya alasannya"
"Kasih tahu napa?"
"Ya aku bilangnya aku gak mau kalau pernikahanku tidak khidmat jadi karena ada salah satu tamu pergi aku batalkan pernikahan iti ... eeeh ternyata saat perusahaanku turun rangking karena berita palsu yang aku buat membuat teman baikmuitu membatalkan seluruh pernikahan kami... hahaha" jelas Hasasi senang
"Keliatannya senang banget kamu"
__ADS_1
"Ya senang lah... jadi aku bisa menikahimu"
"Emang kenapa gitu?"
"Ya kalau aku menikah dengan dia kamu nikah sama siapa coba"
"Sama Alex lah"
"Gak boleh!!!"
"Lah kenapa gak boleh... kan kamu udah milik orang lain"
"Kamu aku jadiin istri keduaku"
"Gak maulah"
"Kenapa gak mau?"
"Aku maunya jadi istri pertama dan terakhir "
"Ya kalau aku jomblo kayak sekarang kamu jadi istri pertama dan terakhirku kalau tidak?"
"Ya tidak mau... emang kamu mau jadi suami kedua?"
"Emang ada suami kedua?"
"Adalah... kalau istri kedua ada kenapa suami kedua gak ada, itu gak adil namanya"
"Ya emang gak ada!!" protes Hasasi
"Ada lah"
"Mana bisa kayak gitu!!"
"Bisa lah... aku bisa bisain"
"Gak boleh lah... aku gak mau jadi suami kedua" protes Hasasi
"Ya udah kamu aja gak mau apalagi aku!!" protesku
"Hmm ya udah lah jangan bahas aneh - aneh lagi, kamu tetap istriku satu - satunya"
"Nikah aja belum bilang istrimu... weelllkkk" ejekku
"Biarin... pokok kamu milikku"
"Iya - iya Hasasi"
"Mmmm makasih ya Fifiyan... kamu mau berbagi cerita kepadaku"
"Berbagi cerita apa... kan ini curhat"
"Ya sama aja" gumam Hasasi memandangku
"Bedalah"
"Sama lah"
"Ya udah sama deh" gumamku mengalah
"Hmmm jujur aku sangat senang mendengarkan jawabanmu tadi"
"Jawaban yang mana?"
"Jawaban kamu mencintaiku dan siap menjadi istriku"
"Hahaha iya itu haruslah Hasasi, kalau tidak mencintaimu dan tidak siap denganmu aku pasti gak mau memilihmu waktu itu"
"Hmmm bener juga sih" gumam Hasasi
"Oh ya... katanya mau ketemu ayahmu"
"Aku lupa, ya udah kita kesana sekarang yuk" gumam Hasasi menggandeng tanganku meninggalkan tempat tersebut
__ADS_1
Hasasi menggandengku sangat erat bahkan wajahnya berseri - seri sambil memandang wajahku seperti beban hidupnya menghilang dari otaknya. Apa selama ini dia sering memendam pertanyaan yang menurutku sangat konyol itu sampai dia punya beban pikiran yang membuatnya seperti memiliki beban yang berat?