Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 184 : Hasasi Yang Sebenarnya


__ADS_3

Tubuhku terasa sangat lemas dan kepalaku juga terasa sangat berat, aku membuka mataku dan melihat sekelilingku dengan bingung apalagi melihat badanku yang di perban dan tangan kananku yang terinfus


"Kamu udah bangun nona?" gumam seorang wanita yang ada di sampingku


"Ka...Kamu wanita itu?"


"Iya nona Shinju saya Angel" gumam Angel menatapku


"Oh iya nona" gumamku berusaha duduk


"Aaauuuu" teriaku menahan sakit


"Nona jangan bergerak dulu, luka di tubuh nona belum sembuh semua" gumam Angel menahan tubuhku


"Nona istirahat saja dulu, saya yang akan merawat nona Shinju"


"Hmm baiklah, tapi jangan panggil aku nona panggil aku Fifiyan saja" gumamku


"Baiklah Fifiyan, mari makan dulu saya suapin ya" gumam Angel menyuapiku


"Iya nona Angel, ngomong - ngomong kemana Hasasi?"


"Hasasi?"


"Iya, kemana dia?"


"Hasasi dan Hansol lagi pergi"


"Pergi kemana?"


"Ke keluarga Hann"


"Ngapain mereka?"


"Ya seperti biasa"


"Seperti biasa? Maksudnya?"


"Seperti yang terjadi pada keluarga Shinju 20 tahun yang lalu"


"Benarkah? Ta... Tapi kan itu sama saja memusnahkan  keluarga Hann?"


"Memang benar, tapi nona Fifiyan tidak bisa mencegahnya" gumam Angel sambil terus menyuapi aku sampai habis


"Kenapa tidak bisa?"


"Karena Hasasi kali ini sangat marah bahkan aku yang pernah melihat Hasasi marah sendiripun takut melihatnya"


"Emang dia marah banget?"


"Ya marah lah kamu istrinya bagaimana Hasasi tidak marah, waktu Hasasi mengantarmu ke rumah sakit ini aja dia membisikkan sesuatu kepada nona lalu langsung keluar dengan Hansol dan memintaku untuk menjaga nona"


"Hmmm pasti gara - gara aku" desahku


"Tidak nona ini bukan gara - gara tapi gara - gara aku, aku yang menyebabkan nona terluka"


"Eehhh ... Bu... Bukan, bukan kesalahanmu kok" gumamku


"Hmmm, nona istirahatlah dulu, saya akan disini menemani nona" gumam Angel berdiri di sampingku


"Ba.. baiklah, tapi tolong jangan panggil aku nona, oke" gumamku tersenyum


"Baiklah Fifiyan" desah Angel berjalan menuju dapur yang ada di kamar


"Oh ya nona Angel, bagaimana hubunganku dengan Hansol?" gumamku menatap Angel yang sedang mencuci mangkok


"Ya seperti biasa nona, dia tidak mau berbicara denganku. Waktu itu saja dia menggendongku seperti tidak iklhas kok dan pandangannya sangat dingin"


"Mungkin Tuan Hansol butuh waktu untuk menerima nona Angel lagi"


"Ya mungkin saja sih"


"Tapi emang nona Angel sangat mencintai Tuan Hansol?"


"Ya bisa di katakan seperti itu, bahkan sampai sekarang. Walaupun dia menggendongku dengan pandangan dingin tapi aku pribadi sangat senang banget"


"Semoga saja Tuan Hansol bisa menerima nona"


"Aku berharapnya seperti itu" desah Angel duduk di sofa


"Mmm emang Hasasi pergi sejak kapan?"


"Dua hari yang lalu"


"Jadi aku tidak sadar selama dua hari?"


"Iya Fifiyan"

__ADS_1


"Tapi kenapa dia belum kembali?"


"Ya mungkin belum selesai, Fifiyan tenang aja" gumam Angel memainkan handphonenya


"Angel aku ingin melihat Hasasi" gumamku beranjak dari tempat tidur


"Jangan, kamu baru saja sadar"


"Tidak apa - apa, aku sudah sehat kok. rumah keluarga Hann juga dekat kok dari sini" gumamku melepaskan infus di tanganku


"Tapi Fifiyan..."


"Kalau kamu tidak mau menemani aku, aku akan pergi sendiri" gumamku berjalan meninggalkan kamar


"Hmmm baiklah aku temani" gumam Angel mengikuti dari belakang


"Di depan ada mobilnya siapa?" gumamku


"Ada mobilku"


"Baguslah, naik mobilmu saja"


"Tapi nanti kalau Hasasi memarahiku gimana?"


"Tidak akan, tenang saja" gumamku berjalan menuju tempat parkiran yang berada di lantai bawah rumah sakit


"Mobilmu yang mana?"


"Yang warna hitam itu" gumam Angel menunjuk ke sebuah mobil berwarna hitam


"Baiklah, aku saja yang menyetir" gumamku


"Tidak perlu, kamu baru sadar. Aku saja yang menyetir" gumam Angel duduk di kursi mengemudi


"Baiklah" desahku duduk di sebelah Angel


"Apa kamu yakin?"


"Yups" gumamku dan Angel mulai menginjak gas dan mobil keluar dari rumah sakit


Mobil melaju dengan cepat menuju ke rumah keluarga Hann yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit apalagi aku juga merasa khawatir dengan Hasasi. "Kenapa kamu lakukan itu Hasasi?" desahku dalam hati


Tidak beberapa lama kami berkendara, kamipun sampai di rumah keluarga Hann yang terlihat sangat mengerikan. Banyak mayat yang tergeletak di depan rumah


"Mayat!!" teriakku kaget


"Tidak, aku mau masuk ke dalam" gumamku membuka pintu mobil dan turun dari mobil


"Haduh benar - benar keras kepala" desah Angel mengikuti dari belakang


Aku berjalan masuk ke dalam rumah mewah berlantai dua itu. Bau darah yang sangat menusuk di hidungku dan mayat yang tergeletak di lantai yang membuatku tidak tahan, tapi aku harus bertemu dengan Hasasi apapun yang terjadi. Aku menaiki tangga yang penuh dengan darah yang mengalir dari lantai atas


Duuuaaarrr


Tiba - tiba terdengar suara tembakan yang membuatku kaget dan langkah kakiku terhenti


"Fifiyan lebih baik kita balik ke rumah sakit, nanti Hasasi marah" gumam Angel terus membujukku


"Kamu balik aja gak apa - apa" gumamku melanjutkan langkahku menaiki tangga


"Hadeh susah banget ini orang" desah Angel mengikuti langkahku


Di suatu ruangan aku mendengar suara Hasasi dan Hansol serta suara laki - laki terdengar sangat keras yang membuat langkah kakiku berjalan menuju ruangan itu


"Kan sudah aku bilang, jangan ganggu wanitaku tapi malah membuat wanitaku terluka" gumam Hasasi emosi


"Su ... Sudah aku katakan kepada anakku tuan Hasasi ta... Tapi mungkin dia tidak tahu kalau dia menculik wanitamu"


"Dia tahu bagaimana wujud wanitaku, mana mungkin kamu memberiku alasan seperti ini!!" protes Hasasi kesal


"A... Ampun tuan.."


"Udah tahu Hasasi itu seperti apa orangnya, padahal Hasasi sudah tidak melakukan hal ini lagi tapi sekarang malah membuat Hasasi marah seperti itu" desah Hansol


"A... Ampun tuan, jangan bunuh aku..." gumam laki - laki itu terlihat ketakutan


"Angel suara siapa itu?" gumamku menatap Angel


"Aku juga tidak tahu"


"Mari kita lihat" gumamku melangkahkan kakiku dengan cepat


"Tunggu.." teriak Angel berusaha mengejarku


Duuuaaarrr


Tiba - tiba terdengar suara tembakan yang sangat keras yang mengagetkanku

__ADS_1


"Suara Tembakan Angel, ayo lebih cepat!!" teriakku berlari menuju ruangan tersebut dan Angel juga berlari dibelakangku


Aku memasuki sebuah ruangan yang berada di ujung lorong dan melihat Hasasi yang sedang memegang pistol di tangannya dan Hansol yang berjongkok di dekat mayat seorang laki - laki tua yang dulu pernah membawa Ridhwan pergi saat di aula. Selain itu aku juga melihat pakaian Hasasi dan Hansol yang robek - robek dengan bercak darah yang memenuhi pakaian mereka berdua


"Hasasi apa yang kamu lakukan?" teriakku yang membuat Hasasi dan Hansol menatapku


"Fifiyan... Kamu sudah sadar?" gumam Hasasi kaget


"Apa yang kamu lakukan?" ucapku menatap Hasasi sedikit ketakutan


"A... Aku..." gumam Hasasi berjalan ke arahku tapi aku mundur menghindari Hasasi


"Jangan takut Fifiyan, aku tidak akan melukaimu" gumam Hasasi memelukku


"Apa yang kamu lakukan?"


"A.. Aku hanya membalaskan perbuatan mereka kepadamu saja" desah Hasasi terus memelukku


"Kamu tidak perlu melakukan ini Hasasi, sudah berapa nyawa yang kamu bunuh?"


"Mmm aku tidak tahu, tapi yang terpenting kamu tidak apa - apa Fifiyan. Aku senang kalau kamu bisa sadar seperti ini" desah Hasasi


"Kamu kesini dengan siapa?" gumam Hansol berdiri menatapku


"Dengan Angel" gumamku dan Angel masuk ke dalam ruangan itu


"Angel kan sudah aku bilang jaga Fifiyan jangan sampai kesini!!" protes Hasasi


"Ta.. Tapi Hasasi, Fifiyan terus memaksaku" gumam Angel lirih


"Udah gak usah marahi Angel!!" protesku mencubit pipi Hasasi


"Aaauuu, sakit tahu" protes Hasasi mengelus pipinya yang memerah


"Biarin, kamu juga melakukan seperti ini kalau pihak militer tahu bagaimana!!"


"Tenang saja, pihak militer aja takut dengan Hasasi" gumam Hansol meninggalkan ruangan dengan dingin


"Tapi kan"


"Udah kamu tenang saja, yang penting kamu sekarang baik - baik saja aku sudah senang" desah Hasasi menggendong tubuhku


"Kamu mau ngapain?"


"Kita keluar dari sini"


"Lalu mayat - mayat ini?"


"Tenang saja biar pihak militer yang membereskannya, apalagi ini kasus pihak militer aku hanya membantu mereka saja" gumam Hasasi


"Maksudnya?" gumamku bingung


"Sebenarnya pihak militer meminta bantuan Hasasi untuk mengusut kasus kapal pesiar itu dan kebetulan mereka melukaimu jadi ya seperti ini lah akhirnya kalau membuat seorang Hasasi murka. Sudah tahu kan Hasasi seperti apa, inilah alasannya semua orang takut dengan Hasasi" gumam Hansol yang berjalan di depan kami


"Ya karena kejamnya Hasasi, orang - orang selalu menyebutnya raja kegelapan dan perkumpulannya di sebut kerajaan kegelapan" gumam Angel di belakang kami


"Oh begitu ya"


"Hmmm Fifiyan seharusnya kamu tidak perlu tahu mengenai ini" desah Hasasi


"Emang kenapa?"


"Karena aku tidak mau kamu takut kalau melihatku yang kejam seperti ini" gumam Hasasi menatapku


"Hahaha, aku cuma terkejut aja, aku tidak pernah takut kepadamu Hasasi" tawaku mengelus pipi Hasasi


"Benarkah, syukurlah" desah Hasasi mencium keningku


"Iya Hasasi"


"Hmmm baiklah, kita harus kembali ke rumah sakit"


"Gak mau, mau ngapain di rumah sakit!!" protesku


"Udah gak usah protes, udah tahu tubuhmu masih lemah seperti ini nekat kemari, dasar anak nakal"


"Biarin, aku nakal pun yang ngajarin kamu kok" gumamku


"Kamu gak boleh nakal, biar aku aja yang nakal"


"Gak mau lah mana adil seperti itu!!" protesku


"Adil lah" protes Hasasi


"Enggak!!" protesku


"Hmm dasar kalian berdua ini, emang kalian pasnagan yang cocok" gumam Angel sambil tertawa dan kami semua pergi meninggalkan rumah keluarga Hann

__ADS_1


__ADS_2