Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 92 : Kebenaran Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Wajah Hasasi yang merah menyala dan wajah Amelia yang tampak malu - malu saat aku pancing obrolan tentang menikah dengan Hasasi. Aku tidak tahu ada apa dengan mereka berdua. keheningan pun tercipta, Hasasi diam tanpa kata begitupun dengan Amelia. Tapi untungnya pelayan restoan datang membawa makanan kami


"Permisi tuan dan nyonya, ini makanannya" ucap pelayan tersebut sambil meletakkan makanan ke atas meja kami


"Terimakasih" ucap Almira dengan tersenyum


"Nih kalian makanlah, dari pada diem - diem bae dari tadi" ucap Almira


Setelah makanan berada di depan kami masing - masing, aku melihat Xiao Xi sedang menyuapi Almira dengan romantis, tiba - tiba Amelia meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring dan menatap Hasasi


"Hasasi boleh nyoba gak?" ucap Amelia penuh manja


"Gak" ketus Hasasi


"Kamu kok gitu sih sama calon sendiri" ucap Amelia keceplosan dan aku tanpa sadar tersedak


Uuuhhuukk ... uuuhhuukkk


"Kamu tidak apa - apa Fifiyan?" tanya Hasasi cemas


"Tidak ... kalian makan saja dulu, aku mau pulang" ucapku meletakkan pisau dan garpu lalu beranjak dari kursi


"Kamu mau kemana Fifiyan?" tanya Almira tapi tidak aku jawab


"Fifiyan ..." ucap Hasasi berusaha meraih tanganku dan saat berhasil meraih tanganku aku langsung menepis tangan Hasasi


"Udah jangan dikejar kenapa, emang kamu calonku" ucap Amelia menahan Hasasi tapi Hasasi berusaha mengejarku


"Apa sih ... jangan mimpi kamu!!!" teriak Hasasi marah dan langsung berlari mengejarku


"Hasasi, kamu apa - apaan sih kok memilih Fifiyan" protes Amelia sembari berusaha mengejar Hasasi


"Bukan urusanmu, sampai kapanpun aku gak mau menikah denganmu" ucap Hasasi marah dan berlari mengejarku


Walaupun jarak kami jauh, tapi aku masih mendengar perkataan Hasasi dan Amelia di belakangku. bahkan aku mendengar teriakan Hasasi yang memanggil - manggil namaku, semakin terdengar jelas aku semakin cepat berlari. Tiba - tiba aku melihat ada taksi yang berhenti di depanku tanpa basa basi lagi aku langsung masuk ke taksi tersebut


"Pak cepat" ucapku ke sopir taksi dan sopir taksi langsung tancap gas

__ADS_1


Aku melihat Hasasi berusaha mengejarku dengan susah payah, terlihat wajah Hasasi sangat khawatir. Tapi, ya udah lah berarti seperti dugaanku awal pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Lisa dan Hasasi kepadaku. Sejujurnya hatiku sangat sakit aku mencoba tegar dan sabar, tapi bagaimanapun juga aku akhinya menjatuhkan air mataku dan membasahi pipiku


"Nona mau kemana?" ucap sopir memecah keheningan


"Ke Kerajaan Min pak" ucapku mencoba menutupi kesedihanku dan sopir taksi tersebut mengangguk mengerti


Aku cuma ingin menghindari mereka berempat terutama Amelia, aku tidak menyangka ternyata Amelia adalah wanita yang akan di nikahkan dengan Hasasi karena bisnis. Apa pekerjaan Amelia? ... seingatku dia dulu adalah bukan siapa - siapa tidak seperti aku dulu keluarga Shinju. Karena penasaran, aku pun langsung membuka handphone dan mulai Searching tentang Amelia. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat ternyata Amelia anak angkat PT Wang, perusahaan terbesar di Eropa. Pantas saja Hasasi akan dinikahkan dengan Amelia.


Hatiku sangat sedih apalagi aku sekarang bukan siapa - siapa lagi semenjak permbantaian keluarga Shinju betahun - tahun yang lalu. Apa lagi kakak sudah di angkat menjadi anak angkat keluarga Stun ... sedangkan aku? aku bukan siapa - siapa. Semakin terfikirkan semakin pula hatiku sakit. Tanpa aku sadari ternyata aku sudah sampai di Kerajaan Min


"Nona, kita sudah sampai ... 30 dolar nona" ucap sopir taksi dan aku langsung memberinya uang


"Terimakasih pak" ucapku dan bergegas menuju kamarku.


Aku melihat banyak sekali tamu undangan yang datang di acara keluarga Min tersebut, Aku melihat ada sebuah mobil mewah yang terparkir khusus di depan kerajaan Min dan mobil tersebut bertuliskan STUN ... apakah itu mobil keluarga Stun?... tapi aku tidak mau membuang waktu untuk meninggalkan tempat ini sebelum Hasasi datang menemuiku. Aku segera berlari menuju kamar dan membereskan koperku.


Saat aku sedang membereskan koper aku melihat Hansol masuk ke dalam kamar dan menarik tanganku


"Kamu mau kemana?" tanya Hansol


"Bukan urusanmu" protesku


"Akhirnya kamu tau siapa yang akan menjadi istri Hasasi"


"Kenapa tidak kamu ceritakan dari awal?" protesku


"Aku ingin menceritakan kepadamu, kakakmu pun, tapi dilarang keras oleh Hasasi"


"Jadi ... kode kakak itu?"


"Yups betul sekali" ucap Hansol


"Hmmm baiklah ... terimakasih Hansol, kamu boleh keluar kamar" ucapku berusaha tersenyum


"Kamu tidak apa - apa kan?" tanya Hansol


"Aku baik - baik saja kok" ucapku mencoba tersenyum dan Hansol keluar dari kamar

__ADS_1


Saat aku selesai membereskan barang - barangku, tiba - tiba pintu kamar terbuka dan hasasi masuk ke dalam kamar dengan wajah sedih


"Kamu mau kemana Fifiyan?" tanya Hasasi lirih


"Bukan urusanmu"


"Jangan tinggalkan aku" ucap Hasasi memohon sambil memegang erat tanganku


"Lepasin!!!" bentakku


"Enggak mau, kamu gak boleh pergi Fifiyan"


"Bu ..." ucapku terpotong dengan suara pintu kamar yang terbuka


"Hasasi ... kamu ngapain disini, kamu seharusnya menemani Amelia pesta kerajaan ini... buat apa kamu di kamar dengan wanita asing ini" teriak seorang laki - laki yang agak berumur berjas hitam dengan tubuh tegap dan gagah di depan pintu yang di temani seorang perempuan yang agak berumur yang sangat cantik


"Tidak mau" Bentak Hasasi


"Kamu mau durhaka sama orang tua !!!" bentak laki - laki tersebut


"Pa ... dia calon istriku kelak"


"Kamu mau menikah dengan dia? wanita ini seperti dari kalangan bawah yang tidak punya darah bangsawan dan tidak merupakan anak dari perusahaan terkenal... kamu tidak pantas buat dia" bentak laki - laki tersebut


"Tapi dia adalah..."


"Cukup... emang aku bukan siapa - siapa sekarang, tapi ingatlah tuan anda yang membantai seluruh keluargaku dan mengangkat kakakku sebagai anak angkatmu ... dan karena perbuatan kalian lah sekarang aku bukan siapa - siapa seperti yang anda bilang ... Terimakasih Hasasi selama ini dan terimakasih Lisa kamu sudah menjadi teman baikku selama ini" ucapku menahan tangis dan pergi dari kamar tersebut


Hasasi langsung terdiam tanpa kata saat aku pergi dari kamar tersebut. Tiba - tiba aku mendengar suara laki - laki tua tersebut dan suara Lisa, suara percakapan yang sangat terdengar jelas di telingaku


"Jadi... dia anak dari keluarga Shinju?" tanya laki - laki tua itu dengan kaget


"Iya pa ... namanya Fifiyan Shinju" ucap Lisa


"Panggil dia kemari" teriak laki - laki tersebut


Karena terdengar jelas bahwa laki - laki tersebut sedang menyuruh seseorang untuk memanggiku, karena keluargaku dulu dibantai oleh keluarga besarnya jadi aku merasa takut untuk kembali bertemu dengan laki -  laki tersebut

__ADS_1


Aku pun langsung berjalan agak cepat sambil membawa koper yang ada di tanganku, aku takut kalau aku di tangkap dan langsung dibunuh oleh laki - laki tua yang tidak lain adalah ayah dari Hasasi


__ADS_2