
Aku yang sedari tadi duduk di depan Rahel hanya diam dan hanya bisa menatap ke luar jendela pesawat, Di luar jendela aku melihat hamparan laut yang indah dan juga pematang sawah yang berwarna hijau kekuning - kuningan sehingga mampu meredam emosiku sedari tadi. sebenarnya sedari tadi aku menyadari sepasang mata yang terus menatapku tapi aku hanya diam dan mencoba untuk tidak peduli.
"Nona..." ucap lirih Rahel tapi aku tidak memperdulikannya
"Nona masih marah sama aku?" tanya Rahel lirih
"Menurutmu?" jawabku dingin
"I ... iya a..aku minta maaf nona, gara - gara dendamku Tuan Hasasi mengalami hal yang seperti itu" ucap Rahel
"Bukan salahmu ... ini salah ku"
"Bukan nona ini salahku nona"
"Aku bilang ini salahku, kalau tau kayak gini aku gak bakal menyetujuinya, apalagi walaupun perkumpulan Hasasi sangat kejam dan kuat tapi perkumpulan keluarga Lie dan Liang juga sama - sama kuat. salah strategi sedikit bakal mati semua" jelasku
"Kok nona tahu begitu banyak tentang perkumpulan mereka?"
"Karena ... dulu keluargaku di habisi oleh 3 perkumpulan mereka"
"Jangan - jangan nona ..."
"Ya ... aku berasal dari keluarga Shinju yang mati karena pembantaian 8 tahun yang lalu"
"Yang di pantai oleh keluarga Stun, keluarga Lie dan Keluarga Liang?" tanya Rahel kaget
"Yups ... benar ... malah dengan bekerja sama dengan perkumpulan terkuat yang lainnya juga ... makanya keluarga Shinju tidak ada yang selamat hanya aku dan kakakku yang masih selamat"
"Oh begitu ya ... aku baru tahu ... maafkan kecorobohan dendamku nona"
"Iya gak apa - apa kok..." ucapku dingin dan kembali melihat ke arah jenddel pesawat
Aku terus menerus menatapi pemandangan yang indah di bawahku dan tidak berapa lama akhirnya pesawat mendarat di suatu wilayah landasan yang sunyi di Negara Jepang dan terdapat sebuah mobil mirip mobil kepunyaan Hasasi yang sedang berada di sekitar landasan pesawat dan juga seseorang laki - laki yang memakai pakaian casual berada di sebelah mobil tersebut dan orang itu adalah kakakku. Setelah pesawat berhenti, aku cepat - cepat turun dari pesawat dan berjalan menemui kakak ku yang sedang berdiri di sebelah mobil.
"Kakak ..." teriakku dan berlari memeluk Steven
__ADS_1
"Hay adikku sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Steven dengan polos
"Kakak, jangan pura - pura tidak tahu apapun..." tangisku
"Hmmm ... iya aku tau adikku sayang ... Hasasi tidak apa - apa, hanya saja ... belum sadarkan diri saja" jelas Steven
"Emang badan Hasasi kena peluru di sebelah mana?"
"Di kaki, pinggang sama dada saja"
"Ba ... banyak banget, kok bisa kenapa kak?" tanyaku kaget
"Hmmm ... hal itu dikarenakan kurang hati - hatinya Hasasi saat mendekati tubuh Sandy yang dia kira sudah mati ternyata Sandy masih sempat sadar dan menembak Hasasi dan akhirnya Sandy mati dan Hasasipun terkapar di sebelah mayat Sandy" jelas Steven dan tangisku semakn pecah
"Udah adikku sayang... jangan menangis, kan ada kakak di sisimu"
"Ta ... tapi "
"Udah jangan sedih ... ayo kita ke rumah sakit" ucap Steven lembut dan menuntunku menuju mobil
"Ma ... maaf saya Rahel, adiknya Michel" ucap Rahel ramah dan menundukkan badannya
"Oh Rahel ya ... makasih sudah mengantarkan adikku... kamu mau ikut sekalian?" tawar Steven
"Kalau diperbolehkan, saya ingin ikut tuan" ucap Rahel lembut
"Baiklah ... silahkan masuk" ucap Steven dan Rahelpun masuk ke dalam mobil
Selama perjalanan, aku terus menerus menangis di pelukan Steven, hanya Steven yang menjadi tempat sandaranku sekarang, Steven terus memelukku dan mengelus rambutku dengan lembut
"Udahlah Fifiyan, jangan nangis mulu ... ntar Hasasi khawatir loh"
"Ti .. tidak bisa kak, aku yang khawatir dengan Hasasi ... gara - gara aku yang membuat Hasasi seperti ini ... aku menyesal sekali kak ... snagat amat menyesal" tangisku
"Udahlah ... ini bukan salahmu kok" Steven terus menenangkanku dan aku hanya diam tapi terus menangis di pelukan Steven
__ADS_1
"Oh ya Rahel ... kakakmu juga terluka, kamu nanti rawat kakakmu ya" pinta Steven
"Baik tuan" ucap Rahel lirih
Aku terus menerus menangis di pelukan Steven dan aku juga tidak menangka kami telah sampai di rumah sakit tempat Hasasi di rawat
"Fifiyan, ayo kita turun ... udah sampai nih" ucap lembut Steven dan kamipun turun dari mobil.
Aku mengikuti Steven yang berjalan cepat di depanku dan Steven yang terus memegang tanganku. kami bertiga berjalan cepat menuju lift loby rumah sakit dan menuju ke lantai atas yang merupakan lantai untuk para VVIP dirawat dan tentunya dengan harga yang fantastik mahalnya
"Ruangannya disebelah mana kak?" tanyaku saat kami telah sampai di lantai atas
"Itu ruangan sebelah kanan" ucap Steven menunjuk sebuah kamar dan aku tanpa berfikir panjang langsung berlari menuju ruangannya.
Aku melihat Hasasi sedang berbaring lemas dengan wajah pucat dan juga badan yang terbalut oleh perban putih dengan noda darah yang berwarna merah yang masih terpasang di badan dan kakinya. aku mendekati Hasasi dan memegang lembut tangan Hasasi, tangan putih yang terasa sangat dingin dan sesekali aku mengecup dahi Hasasi dengan lembut. Air mataku mengalir deras di pipiku, aku sedih aku menyesal telah memberikan keputusan yang tidak tepat dan mendorong Hasasi ke dalam jurang yang menyakitkan seperti ini
"Nona ..." ucap Rahel di depan pintu
"Kenapa kamu masuk? ... siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamar ini" ucapku dingin
"A ... aku ingin menemani nona"
"Keluar ..." teriakku
"Tapi nona ..."
"KELUUUAAARR" teriakku kencang dan Rahel pun hanya terdiam
"Rahel jangan ganggu adikku dulu, kamu rawat saja kakakmu dulu ya, biarkan Fifiyan menemani Hasasi" ucap Steven lembut dan mereka menutup pintu kamar rapat - rapat
"Hasasi ... bangun sayang ..." gumamku sambil memegang tangan dingin Hasasi
"Hasasi aku gak mau kehilanganmu" gumamku sedih
Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya wanita yang bodoh yang tidak bisa melakukan apapun untuk membahagiakan Hasasi, aku hanya wanita yang selalu berdiri di balik Hasasi, wanita yang selalu menyusahkan Hasasi ... aku menyesal ... aku menyesal tidak bisa melindungi Hasasi... Hasasi tetaplah hidup agar aku bisa membahagiakanmu ...
__ADS_1