Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 45 : Villa Hasasi


__ADS_3

Selama perjalanan Hasasi terus memandangku, beberapa kali tidak masalah tapi kalau terus – terusan memandangku aku yang merasa risih sendiri


“Kamu kenapa memandangku seperti itu?” protesku


“Tidak ada, kamu jadi cantik banget”


“Gombal nih pak” gumamku


“Seriusan, beda sama Fifiyan gendut yang dulu ku kenal” ejek Hasasi lalu tertawa


“Kamu nih suka banget menggoda” ucapku kesal dan mencubit tangannya


“Aauuu ... sakit ... tapi itu yang buat aku kangen” ucap Hasasi dan memperdalam memandangku


“Apa itu yang membuatmu kangen?” tanyaku penasaran


“Cubitan lembutmu yang menyakitkan membuatku rindu” ucap Hasasi dengan tulus


“Preeet”


“Serius... tataplah mataku” ucap Hasasi serius


Aku menatap mata Hasasi, benar Hasasi tidak berbohong, matanya mengisyaratkan kalau dia benar – benar rindu. Air mata yang terlihat ingin mendesak keluar dari matanya namun Hasasi tahan karena citra dia sebagai laki – laki dan seorang pemimpin perusahaan maupun perkumpulannya


“Iya Hasasi, aku tau kamu bersungguh – sungguh” ucapku lirih


“Kan aku udah bilang aku tidak berbohong kepadamu”


“Iya – iya sayang aku percaya”


Tiba – tiba kepala Hasasi menyender di bahuku, mata Hasasi terpejam, aku hanya bisa diam dan melirik Hasasi, mungkin dia lelah akibat pesta tadi. Mobil terus melaju ke tempat yang belum pernah aku kunjungi, kondisi jalan yang gelap dan disisi kiri dan kanan banyak ditumbuhi pohon yang tinggi


“Pak... sebenarnya kita akan kemana?” tanyaku kepada sopir


“Tadi tuan meminta mengajak anda ke villa miliknya”


“Villa apa pak?”


“Villa pribadinya nyonya”


“Ehh... kenapa kamu manggil aku nyonya, kan aku belum menikah sama Hasasi” gumamku


“Mohon maaf nyonya, tuan Hasasi yang memintanya”


“Hmmm baiklah” desahku, kalau Hasasi yang meminta aku tidak bisa menolaknya karnea aku takut Hasasi marah lagi


Setelah sekian lama berkendara akhirnya kami sampai di tujuan


“Nyonya, kita sudah sampai” ucap sopir di depan kami


“Oh baiklah”


“Hasasi, udah sampai nih” ucapku membangunkan Hasasi


“Oh udah ya... maaf aku ketiduran” ucap Hasasi


“Iya tidak apa – apa Hasasi, ayo turun” ucapku dan kami turun bersama


“Ini tempat apa Hasasi?” tanyaku saat aku melihat sebuah rumah mewah di pinggir laut indah


“Ini villa pribadiku”


“Kenapa kamu mengajakku kemari?”


“Ya aku ingin agar kamu bisa tenang dan tidak trauma akibat kejadian tadi”


“Makasih ya Hasasi kamu sudah menghiburku” ucapku senang


“Apa sih yang enggak buat kamu, istri cantikku” ucap Hasasi lalu menggendongku


“Kan aku bisa jalan sendiri” protesku


“Tidak apa – apa, aku ingin menggendongu saja” ucap Hasasi senang


“Baiklah, asalkan kamu senang” ucapku mengalah


“Nah gitu dong, istriku yang bawel” ucap Hasasi senang sambil mencium keningku


“Mmmm udah lama ya aku tidak menciummu”


“Ihhh kamu suka mencium orang ya” gumamku


“Ya sebenarnya sih iya juga, tapi aku lebih suka menciummu”


“Kenapa?”


“Karena kamu istriku”


“Kita kan belum menikah”


“Meskipun begitu kamu tetap istriku”


“Iya... iya terserah kamu” ucapku mengalah


Hasasi terus menggendongku sampai ke dalam villanya tersebut, ternyata villanya sangat mewah sekali. Terdapat banyak sekali barang – barang mahal yang ada didalam villa tersebut


“Hasasi..”


“Iya sayang”


“Kenapa banyak barang – barang mewah di villa yang jarang kamu tempati?”


“Ya ... pengen aja sih”


“Hmmm enak ya jadi orang kaya” gumamku


“Hei kenapa kamu cemberut kayak gitu, semua hartaku juga milikmu kok” ucap Hasasi lembut

__ADS_1


“Kenapa milikku juga?”


“Kan udah aku bilang ribuan kali kalau kamu itu istriku... masih belum paham?” ucap Hasasi kesal


“I... iya .. iya aku paham”


“Nah gitu dong, ya udah kamu istirahat dulu” ucap Hasasi menurunkanku di kamar


“Kamu mau kemana?” tanyaku saat Hasasi akan meninggalkan kamar


“Aku ada urusan sebentar”


Saat aku tau Hasasi akan meninggalkanku sendirian di kamar aku langsung menghampirinya dan memeluknya erat


“Hasasi jangan pergi, temani aku” rengekku di belakang Hasasi


“Tumben manja” ejek Hasasi tapi aku diam saja dan memasang muka memelas


“Eee... ba... baiklah, wajahmu jadi aneh kalau memelas kayak gitu”


“Yeay gitu dong...” ucapku senang dan menarik Hasasi kekamar


“Baiklah cepetan tidur”


“Enggak mau... aku mau jalan – jalan ke luar”


“Ini udah malem sayang”


“Enggak mau... sebentar saja” rengekku lagi


“Baik – baik... jangan nangis ya... ayo kita jalan – jalan sebentar” ucap Hasasi mengalah dan menggandeng tanganku


“Yeay...” ucapku senang dan kami keluar dari kamar


Saat akan keluar villa kami bertemu dengan penjaga villa ini


“Malam tuan” ucapnya


“Malam juga”


“Tuan akan kemana malam – malam begini?” tanya penjaga villa tersebut


“Ini nyonya minta jalan – jalan keluar”


“Ini tuan jaket anda dan nyonya agar tidak kedinginan” ucap penjaga villa


“Oh ya lupa, oke makasih Pean”


“Iya tuan, hati – hati tuan” ucap penjaga villa tersebut sambil membuka pintu villa


Kami langsung keluar dari villa tersebut dengan berjalan kaki menikamti dinginnya udara yang  menyambut kami berdua


“Hasasi... itu tadi siapa?” tanyaku


“Penjaga villaku kah?”


“Dia Pean, bawahanku dan juga anggotaku”


“Oh begitu... apa dia sendiri disitu?”


“Tidak... disini juga ada penjaga yang lain dan juga pembantu”


“Aku kok tidak melihat mereka?”


“Kan udah malem cantik, jadi udah pada tidur”


“Oh iya juga sih”


“Kamu mau kemana?” tanya Hasasi memandangku


“Pengen ke pantai”


“Ini kan udah di pantai”


“Maksudku duduk di pasir pantai”


“Oh baiklah... sebentar aku ambil kelapa dulu”


“Kelapa?... kamu mau manjat pohon?”


“Tidak lah... “


“La terus bagaimana kamu ambil kelapa dipohon itu ?” tanyaku penasaran


“Sekarang jaman canggih, semua pakai alat lah” ucap Hasasi memegang sebuah tombol dan tiba – tiba dua kelapa jatuh ke tanah


“Ka... kamu pakai apa?” tanyaku kaget


“Pakai robot yang mirip drone ini” ucap Hasasi memberi tahuku saat robonya turun ke tanah


“Ini mirip drone” gumamku melihat benda tersebut


“Emang, cuma ini robot... coba liat” ucap Hasasi sambil memencet tombol tersebut


“Waaw... keren” ucapku kaget saat melihat drone tersebut berubah menjadi robot


“Kan aku udah bilang... ya udah kamu mau duduk dimana?”


“Disana” ucapku sambil menunjuk tempat duduk dari pohon kelapa yang tumbang


“Baiklah” ucap Hasasi dan kami berdua duduk di pohon tumbang ttersebut


“Ini kelapamu”ucap Hasasi menyerahkan kelapa itu


“Loh kok udah kebuka?”


“Itu tadi dibuka sama robotku” ucap Hasasi santai

__ADS_1


“Oh ... makasih Hasasi” ucapku dan meminum kelapa yang ada di tanganku


“Indah ya pemandangannya... bulan purnama yang sangat indah” gumam Hasasi


“Iya emang sangat indah” ucapku dan memandangi pemandangan laut dimalam hari


“Mmm Fifiyan kamu masih memakai cincin pemberianku ya?” tanya Hasasi saat melihat cincin di jariku


“Iya lah... kan aku udah berjanji padamu untuk menjaga cincin pemberianmu”


“Hmmm makasih ya sayang” ucap Hasasi senang


“Kenapa tanya gitu?””


“Iya aku kira kamu buang atau apa gitu saat kejadian – kejadian kemarin


“Tidak lah sayang”


“Fifiyan ingat gak saat kita pertama kali ketemu”


“Mmmm iya aku inget”


“Hmmm kamu dulu tampak biasa aja, gendut, dan tidak menarik”


“Terus kenapa kamu sekarang malah menganggap aku istrimu?”


“Ya sekarang kamu sangat berbeda, kamu sangat cantik, baik, sabar tapi juga cerewet”


“Gombal” gumamku


“Seriusan loh”


“Aku tetap saja jelek Hasasi tidak seperti wanita lainnya” gumamku


“Meskipun gitu kan kamu tetap saja kamu istriku kan”


“Iya deh sayang iya” gumamku mengalah


“Ya udah ayo kita pulang sayang, nanti masuk angin loh”


“Baiklah” ucapku dan berjalan pulang bersama Hasasi


Aku dan Hasasi berjalan bersama menuju ke rumah, aku melihat Hasasi sangat senang hari ini


“Hasasi, kamu seperti sedang senang hari ini?”


“Ya senang lah, kan ada kamu disampingku”


“Tapi kok gak kayak biasanya?” tanyaku


“Sama kok”


“Enggak loh, dulu kayak biasa aja”


“Sama saja sayang, tapi kalau sekarang lebih senang lagi” ucap Hasasi senang


"Lebih senang lagi?... kenapa sayang?"


"Iya akhirnya aku bisa bersamamu seperti dulu" ucap Hasasi memandangi bintang yang ada di langit


"Emang selain denganku kamu gak bahagia?"


"Enggak... malah tersiksa"


"Tersiksa karena apa?"


"Tersiksa karena.... hmmm... susah di ucapkan dengan kata - kata... yang penting kamu sekarang ada di sisiku"


“Hmmm baiklah sayang”


“Ya udah kamu istirahat sekarang”


“Enggak mau... kamu harus disini” ucapku memohon


“Aku ada urusan sebentar sayang, nanti aku kesini lagi”


“Enggak mau...” protesku


“Baik... kamu mau apa lagi?”


“kamu harus nemenin aku main game” ucapku lalu mengambil handphoneku di tas kecilku


“Main apa?”


“Game perang – perangan yang biasa kita mainin”


“Kamu masih main game itu?”


“Iya lah... kenapa emang?”


“Iiihh sama... ayolah kita main” ucap Hasasi dan mengeluarkan handphonenya dari saku


“Baiklah ayo saling serang menyerang” gumamku sambil memainkan game bersama Hasasi


Seperti dulu, aku dan Hasasi sering memainkan game ini jika Hasasi sedang longgar dan tidak ada kerjaan. Kami bermain game sampai lupa waktu dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi


“Udah Fifiyan... kamu harus tidur”


“Hooaaammm... baiklah, kamu jangan kemana – mana” ucapku sambil mematikan handphone


“Aku ada keperluan sebentar sayang”


“Enggak boleh” protesku lalu memegang tangan Hasasi


“Kamu kangen aku ya?” bisik Hasasi dan aku hanya mengangguk


“Baiklah, demi kamu aku temenin kamu tidur” ucap lembut Hasasi dan tidur di sebelahku

__ADS_1


Aku tidak mau kehilangan momen berharga ini, momen dimana hanya ada aku dan Hasasi saja, apalagi dengan semua kejadian yang kami hadapi bersama.


__ADS_2