Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 125 : Bertemu Ayah Dan Ibu Lagi


__ADS_3

Aku tidak tahu aku berada di mana sekarang, suasana yang sangat aneh bahkan aku merasa belum pernah datang ke tempat ini sekarang. Suasana gelap yanghanya disinari bulan purnama yang indah, aku berjalan menyusuri tempat yang hanya berisi pohon - pohon besar yang sangat tinggi


"Fifiyan... terimakasih, kini ayah dan ibu sudah tenang melihat kamu sudah memilih calon suami yang kamu inginkan... apalagi kamu terlihat sangat bahagia" suara seseorang yang mirip seperti suara ayah yang sedang berada di belakangku, aku langsung menoleh kebelakang dan menatap wajah ayah dan ibu yang terlihat sangat bahagia


"Ayah ... Ibu..." teriakku bahagia dan menghampiri ayah ibu dengan senanv


"Hey sayang, Fifiyan tetaplah Fifiyan kecil kamu tahu" ucap ibuku sambil mengelus rambutku dengan lembut


"Mmmm iya tapi tidak tahu kenapa aku berfirasat bahwa Fifiyan akan bahagia di kenudian hari dan menerima lamaran Tuan Stun"


"Aah kamu ini, Fifiyan masih kecil belum pantas memikirkan masa depannya"


"Ya mau tidak mau itulah takdirnya" gumam ayah menatapku.


Tidak tahu aku saat ini sedang bermimpi atau hanya ilusiku karena kecapekan akupun tidak tahu tapi aku sangat menikmati ilusi bertemu dengan ayah dan ibu


"Kakak... kemana?" tanyaku polos


"Oh dia sedang berada disana"


"Mmm yah kenapa kakak tidak kamu jodohin?" tanyaku menatap ayah


"Tidak... biarkan dia memilih calon istrinya sendiri, ayah malah ingin dia bisa meneruskan bisnis keluarga dan kalau bisa membangun bisnis yang lebih besar dari ayah malah pengennya Steven bisa menguasai seluruh perusahaan dunia dengan membuat organisasi pengawas perusahaan... Hmmm pasti kita bisa mengalahkan pesaing - pesaing kita" ucap ayah berkhayal


"Aah kamu ... keinginanmu selalu tinggi, Steven maaih kecil mana bisa dia membangun organisasi pengawas perusahaan seperti itu" ucap ibu sambil tersenyum


"Ya... apa salahnya untuk berharap, apalagi Steven sangat pintar dan berbakat"


"Kakak udah jadi organisasi pengawas perusahaan yah, apalagi rumah kakak sangat mewah banget dan sekarang jadi kaya... seandainya.." gumamku


"Nak ayah dan ibu hanya berharap kalian berdua bahagia... kami berharap apapun yang kami inginkan bisa tercapai apalagi masalah Steven dan juga masalah kamu untuk menikah dengan tuan muda Stun yang dingin itu... Hahaha" ucap ayah tertawa


"Kalau aku menikah dengan Hasasi apakah kalian bahagia?" gumamku


"Ya ... tentu, karena meskipun dia sedingin itu ayag percaya dia bisa membahagiakan kamu dan melindungimu" ucap ayah tersenyum kepadaku


"Ayah... ibu aku sekarang sudah tunangan dengan Hasasi seperti yang ayah dan ibu inginkan" ucapku menunjukkan cincin eemas di jari manisku


"Waah benarkah?... baguslah kalau begitu" tanya ibu kaget, tapi tidak di duga badan ayah dan ibu bercahaya sangat terang sekali


"Ya syukurlah ayah dan ibu bisa melihat kamu bahagia dengan Hasasi nak, ayah dan ibu akan senang dan bahagia saat kamu benar - benar menikah dengan Hasasi dan mempunyai cucu buat kami" tawa ayah senang

__ADS_1


"Hei Fifiyan masih kecil tahu" protes ibu menepuk bahu ayah


"Nak... yang penting apapun yang kamu inginkan dan apapun yang kamu ingin lakukan ... lakukanlah... apapun cita dan cinta yang kamu inginkan ...kejarlah... kamu bilangin ke kakakmu untuk bisa menjagamu dan melindungimu kalau dia nakal kepadamu bilang ke ayah dan ibu ya... oh ya dan jadilah istri yang penurut untuk Hasasi yaaa... ini pesan ayah dan ibu" ucap ibuku dan tiba - tiba cahaya itu menghilang bersamaan dengan hilangnya ayah dan ibu di hadapanku


"Ingat ya nak" ucap ibu sekali lagi dan ayah dan ibu benar - benar hilang tanpa jejak apapun


"Baik ayah dan ibu, Fifiyan akan lakukan" ucapku menahan tangis dan tersenyum bahagia


"Fifiyan... hey Fifiyan bangun" teriak Steven mengguncang - guncangkan tubuhku


"Mmmm apa sih kak, mengganggu aku lagi ngobrol dengan ayah dan ibu!!" protesku sambil memejamkan mataku


"Hey ini sudah sore ... bangun, kita akan pergi " protes Steven terus membangunkanku


"Mmm... apa sih kakak mengganggu aja!!... lagi ngobrol sama ayah dan ibu tahu " protesku kesal


"Ayah... Ibu??... dimana, mereka sudah meninggal Fifiyan" protes Steven menatapku


"Aku bertemu mereka di sebuah hutan gitu terus ibu bilang kalau kakak nakal ke aku suruh aduin ke ayah dan ibu..."


"Aduin... sok aduin, kakak tidak takut" ejek Steven seperti masa kecil kita dulu


"Hahaha... udah jangan marah - marah lagi, ayo cepat siap - siap kita berangkat"


"Tapi aku males mandi"


"Iiih gadis - gadis malas mandi"


"Ayolah kak males lah aku, nanti deh pulang aku mandi"


"Ya udah kamu cuci muka aja sama terus bersiap" gumam Steven mengalah dan aku langsung ke kamar mandi untuk cuci muka dan akhirnya aku putuskan untuk mandi sebentar karena setelah aku pikir - pikir gak mungkin aku tidak mandi lalu datang di acara formal seperti itu


Setelah mandi, aku langsung memakai gaun yang aku gunakan dan berdandan biasa saja aku malas juga menjadi pusat perhatian tamu undangan. Dan selesai berdandan aku langsung turun ke bawah untuk menemui Steven yang sudah menungguku lama


"Udah selesai kak" gumamku berjalan mendekati Steven


"Kamu beneran gak mandi?"


"Aku mandi ya"


"Katanya gak mau mandi"

__ADS_1


"Tapi kalau gak mandi gak enak juga orang - orang penting yang datang" gumamku


"Mmm aku ragu..."


"Ragu kenapa?"


"Ragu kamu gak mandi beneran"


"Kakak!!" protesku dan Steven hanya tertawa


"Ya udah kita berangkat saja sekarang" gumam Steven menahan tawa dan mulai memasuki mobil


"Kakak masih aja ketawa!!!" protesku saat melihat Steven tertawa lirih


"Ya ... lucu aja masa adik seorang pengawas organisasi perusahaan tertinggi derajatnya malah gak mandi wkwkwk"


"Aku mandi ya!!!" protesku


"Hahaha... iya - iya adikku sayang, jangan ngambek - ngambek dong"


"Au ah" gumamku kesal


"Mmm oh ya ... kata kamu tadi kamu sedang mengobrol dengan ayah dan ibu emang dalam mimpimu kalian ngobrol tentang apa?"


"Ya tentang keinginan ayah agar kakak bisa menjadi pengawas perusahaan di dunia terus berharap aku mrnikah dengan Hasasi dan punya cucu dengan Hasasi" gumamku


"Ooh... ya kalau itu aku tahu"


"Kakak tahu dari mana?"


"Ya ayah dulu sering menasehati kakak agar bisa jadi pengawas perusahaan jadi beberapa tahun kebelakangan kakak berusaha keras agar bisa menjadi pengawas perusahaan itu"


"Ohh begitu..mmm aku kira kakak belum tahu"


"Kakak tahu lah... kakak sering dinasehati ... kamu dulu sih masih kecil" gumam Steven memainkan handphonenya


"Kak... aku rindu ayah dan ibu" gumamku lirih


"Kakak juga ... tapi ya kita harus terus berdoa kepada Tuhan agar ayah dan ibu tenang dan damai di surga" ucap Steven menatapku


"Iya kak... I hope it" gumamku menatap keluar jendela yang hampir gelap karena matahari yang mulai terbenam dan hanya tersisa sinar orange ke merah - merahan yang indah

__ADS_1


__ADS_2