
Aku terus menunggu di sebelah Hasasi dan berharap Hasasi dapat sadar, aku menemani Hasasi setiap pagi siang sore malam bahkan menjelang pagi lagi, entah berapa hari aku tidak melakukan aktifitas apapun, aku juga tidak peduli untuk keluar kamar ataupun untuk makan ... karena aku hanya ingin melihat Hasasi sadar saat ini juga. Siang ini tidak tahu siapa yang mengetuk pintu kamar sangat kencang.
Tookkk .... Toookk ... Toookk
"Fifiyan" ucap lembut Steven dari belakang tubuhku
"Ada apa kakak kemari?" tanyaku lirih
"Kamu makan dong, udah 3 Hari kamu tidak makan"
"Apa pedulinya aku" jawabku dingin
"Adikku sayang, kalau kamu terus menolak makan seperti ini nanti kamu sakit gimana? ... ayo makan beberapa suap aja" bujuk Steven
"Enggak mau ... Biarkan aku sakit"
"Gak boleh kayak gitu, kalau kamu sakit ntar Hasasi sedih bagaimana?"
"Hmmm ... Tapi kak"
"Udah kamu makan ya ... ini kakak bawain bubur buat kamu" ucap Steven memegang bubur di tangannya
"Tapi kak... Hasasi juga belum makan..."
"Tenang aja, dia udah melewati masa kritis kok ... sebentar lagi Hasasi sadar kok"
"Kakak tau dari siapa?"
"Dari dokter pagi ini "
"Beneran?"
"Iya adik ku sayang, kenapa juga aku membohongimu ... udah ini makanlah"
"Enggak mau kak"
"Sedikit aja"
"Enggak ya enggak" protesku
"Hmmm ... Hasasi, ini Fifiyan gak mau makan nih" ucap Steven mengadu ke Hasasi
"Hasasi kan belum sadar kak ... mana bisa di denger... " protesku
"Ya kali denger terus pas bangun dia marahin kamu" ejek Steven
"Iiiihhh kakak, sukanya ngerjain mulu deh" ucapku kesal
"makanya nih makan"
"Enggak ya enggak"
"Ya udah terserah, ini buburnya aku taruh disini... pokok kamu makan, jangan kayak kemarin makanannya sampai basi ... kakak masih ada urusan" ucap Steven dan beranjak pergi
"Ya udah pergilah" ucapku dingin
"Hmmm untung sayang" gumam Steven lalu menutup pintu kamar
__ADS_1
Setelah Steven pergi, aku kembali duduk di sebelah tempat tidur Hasasi, memandangi Hasasi dan juga terus memegang lembut tangannya yang masih terasa dingin saat menyentuh langsung di kulit tanganku.
"Hasasi bangunlah ... " gumamku lirih di telinganya
"Kamu gak bosen apa di alam mimpi mulu ..."
"Aku tuh kangen kamu tau" gumamku lagi
"Bangunlah..." protesku dan mengguncang - guncang tubuh Hasasi tapi Hasasi tidak bangun - bangun
"Hasasi ... aku ngantuk banget ... aku tidur sebentar disini ya ... kamu harus bangun loh ya" gumamku lagi dan akupun tertidur
Tidurku sore ini sangat nyenyak tidak seperti biasanya ...Aku tidak tahu kenapa aku merasa ada yang sedang mengusap lembut rambutku seperti tangan Hasasi yang sedang mengusapi rambutku ini. Karena aku penasaran, aku pun terbangun dari tidurku.
"Fifiyan udah bangun?" ucap seseorang dengan suara serak
"Si ... siapa?" gumamku sambil terus mengusap mataku
"Aku Hasasi, ingat?" ucap lembut yang keluar dari mulut Hasasi
"Hasasi sudah bangun?" teriakku kaget
"Iya sayang"
"Kakak ... kakak Hasasi bangun" teriakku dan Steven berserta Rahel masuk ke dalam kamar
"Kamu udah bangun Hasasi?" tanya Steven
"Syukurlah kalau tuan sadar" ucap Rahel dengan mata berkaca - kaca
"Iya kak ... iya Rahel" ucap Hasasi senang
"Iya tidak apa - apa ... ini bukan salah kamu kok" ucap Hasasi lembut
"Oh ya bagaimana dengan yang lain kak ...?" tanya Hasasi kepada Steven
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Steven bingung
"Hansol, Octa, dan Michel?"
"Oh mereka semua selamat hanya menderita luka sedikit tidak terlalu serius"
"Syukurlah kalau mereka semua selamat" ucap Hasasi lega
"Kamu lain kali harus hati - hati jangan ceroboh lagi, untung kamu selamat" ucap Steven mengeleng - gelengkan kepala
"Iya kak, emang salahku kok" ucap Hasasi sedih
"Kak ... biarkan Hasasi istirahat sebentar" ucapku
"Hei kamu udah makan?" tanya Steven
"Nanti saja"
"Tuh Hasasi gak mau makan, udah tiga hari gak makan" ucap Steven mengadu lagi
"Iiihh apa sih kakak kayak anak kecil sukanya ngaduin" gumamku kesal
__ADS_1
"Sayang ... kamu gak makan ya?" tanya Hasasi lembut dan aku hanya menggelengkan kepalaku
"Sayang makan ya ... kalau kamu gak makan aku juga gak makan loh"
"Enggak mau, kamu harus makan juga"
"Kamu makan dulu pokok"
"Enggak mau"
"Sayang makan"
"Enggak"
"Ya udah ... makan berdua aja gimana?" ucap Hasasi tersenyum
"Hmmm baiklah ... " ucapku mengalah
"Kamu mau memberi Hasasi makanan apa?" tanya Steven
"Ini bubur dari kakak tadi" ucapku santai
"Itu kan dari tadi siang ... ya udah basi lah"
"Enggak kok" ucapku ngeyel
"Udah basi ... coba bau"
"Enggak basi" protesku
"Udah ... jangan berantem .. ini aku bawakan makanan" ucap Rahel masuk ke dalam kamar
"Loh sejak kapan kamu pergi?" tanyaku
"Pas kalian berantem, tadi aku suruh bawahan kakak membelikan makanan buat kakak dan juga buat kalian" ucap Rahel ramah dan memberikan kantong plastik
"Waaah ... baiknya Rahel, terimakasih ya" ucap Steven lembut saat menerima makanan dari Rahel
"Makasih" ucapku ramah dan menerima dua bungkus makanan
"Makasih Rahel" ucap Hasasi lembut
"Sama - sama ... ya udah kalian makan aja dulu, aku mau ke ruangan kakak dulu" ucap Rahel keluar dari kamar
"Aku juga keluar kamar deh, mau makan di meja luar aja" ucap Steven dan keluar dari kamar
Setelah Rahel dan Steven pergi dari kamar, akupun berjalan menuju lemari piring di pojok kamar dan mengambilkan dua piring untukku dan untuk Hasasi lalu meletakkan makanan yang berisi nasi, ayam, dan juga sayuran ke atas piring
"Hasasi aku suapi ya" ucapku lembut
"Kamu gak makan ?" tanya Hasasi
"Iya sekalian makan sama kamu" ucapku mengangkat sendok dan mengarahkan sendok ke mulut Hasasi
"Mmmm enak " gumam Hasasi senang
"Makan yang banyak ya sayang, biar cepet sembuh" ucapku lembut dan Hasasi hanya mengangguk senang
__ADS_1
Aku senang Hasasi bisa sembuh dari alam mimpinya dan sekarang dia makan dengan lahap di depanku dengan wajah yang membuat diriku selalu rindu, wajah yang membuat hari - hariku indah, dan aku berharap aku bisa menjaga diri Hasasi agar Hasasi tidak terkena musibah seperti ini lagi.