Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 35 : Penyesalan Hasasi


__ADS_3

Aku gak tau kenapa aku tidak bisa memejamkan mataku, aku melihat keluar jendela kamar ternyata hari sudah


menjelang malam dan juga perutku sudah terasa lapar sekali. Jadi aku memutuskan pergi ke dapur untuk mencari makanan yang bisa aku makan. Saat aku berjalan menuruni tangga, aku melihat Jiwon yang sedang ada di depanku


“Jiwon...” Sapaku


“Eh .. kakak ... kenapa tidak tidur?” tanya Jiwon


“Gak bisa tidur...aku laper” gumamku


“Wah kebetulan ... aku baru selesai masak”


“Kamu masak?” tanyaku kaget


“Iya lah ...  ayo ke dapur dan cicipi masakanku” ucap Jiwon


“Baiklah” ucapku seraya duduk di ruang makan


“Ini nasi gorengnya sudah siap... silahkan dicicipi” ucap Jiwon senang


Aku mulai makan nasi goreng Jiwon dengan lahap, ternyata masakannya enak. Mungkin kalau dibandingkan dengan masakanku, masakanku bakal kalah enak dengan masakan Jiwon


“Bagaimana kak rasanya?” tanya Jiwon harap – harap cemas


“Mmm enak sekali” gumamku sambil terus makan makanan Jiwon


“Serius kak?”


“Yups ... kok kamu pinter masak?”


“Ya dulu aku sering bantu mama masak”


“Wah lain kali ajarin aku masak juga dong”


“Baiklah ... mau masak apa?”


“Terserah Jiwon mau masak apa” ucapku senang


“Baiklah ... besok aku ajarin kak” ucap Jiwon senang


Aku terus memakan nasi gorengnya dengan sangat lahap dan dia hanya melihat aku makan


“Kenapa kamu tidak makan sekalian?”


“Tidak ... aku sudah makan”


“Makanlah lagi, dari pada kamu melihatku terus” gumamku


“Hehehe, cuma kakak orang yang pertama kali makan masakanku”


“Emang Hansol gak pernah mencicipinya?” tanyaku kaget


“Tidak ... Dia jarang ada di rumah malah tidak pernaah pulang ke rumah”


“Mmmm segitunya ya... ya udah nanti setelah aku makan,curhatlah mana tau aku bisa membantumu” ucapku senyum


“Baik kakak”


Aku menghabiskan nasi goreng itu sampai habis tanpa sisa sama sekali, karena aku takut kalau masih ada sisa Jiwon akan kecewa terhadapku


“Mmm kenyangnya” gumamku senang


“Wah aku senang kakak bisa kenyang, oh ya ayo aku ajak ke suatu tempat” ucap Jiwon lalu menarikku ke belakang rumah


“Kita mau kemana?”


“Kesuatu tepat yang cocok untuk kita mengobrol bersama”


“Dimana itu?”

__ADS_1


“Nanti kakak akan tau sendiri”


Jiwon terus saja menarikku dan dari raut wajahnya dia terlihat senang karena kehadiranku, aku tidak mau membuatnya bersedih jadi aku hanya mengikuti dia kemanapun dia pergi


“Kita sudah sampai” ucap Jiwon senang


“Wah bagus banget pemandangannya” gumamku kagum saat berada di balkon atap rumah dan terdapat pemandangan laut yang berwarna hitam dan diatasnya terdapat bayangan bulan purnama yang indah


“Yah ... ini adalah tempat favoritku kalau aku sedih”


“Udah jangan sedih kan ada aku”


“Huum ... aku senang sekali”


“Kakak tetaplah disini ya jangan kemana” rengek Jiwon


“Ya kan aku hanya main disini, kapan – kapan bisa menginap lagi disini” ucapku menghibur Jiwon


“Gak mau ... pokok kakak harus disini terus” rengek Jiwon


“Iya deh iya ... tapi kadang – kadang ya karena aku harus bekerja juga”


“Mmm baiklah tapi harus sering – sering kesini ya” rengek Jiwon


“Iya itu pasti ... kamu tenang aja ya” ucapku dan Jiwonpun tersenyum senang


Kami sangat menikmati malam yang indah ini, hatiku sangatlah tenang saat melihat ombak laut yang tenang. Aku sampai melupakan semua masalah yang menimpaku, yang ada di hatiku hanyalah ketenangan yang sudah lama aku inginkan. Tapi aku sedikit mendengarkan suara jejak kaki seseorang menaiki tangga ini.


“Fifiyan ... ayo pulang” ucap Hasasi kesal


“Ha ... Hasasi kenapa kamu disini?”


tanyaku kaget


“Udah ayo pulang” bentak Hasasi


“Jangan nyuruh kakak ku pergi, kamu siapa nyuruh – nyuruh dia pergi” protes Jiwon


“Kamu ini datang – datang marah – marah kenapa sih?” protesku dingin


“Kamu ngapain berduaan dengan dia?” protes Hasasi


“Siapa yang berduaan?... ku cuma pengen menenangkan hatiku tau” protesku


“Udah ayo pulang” bentak Hasasi dan terus menarik tanganku disisi lain Jiwon juga menarikku


“Kakak jangan pergi” rengek Jiwon


“Aduhh ... sakit tau tanganku di tarik – tarik kayak gini” gumamku kesal


“Baik – baiklah ... Jiwon sebentar ya aku ngobrol dulu dengan setan ini” ucapku dengan tersenyum


“Ta ... tapi kakak jangan pergi” rengek Jiwon


“Iya tenang saja ... sebentar kok” ucapku tersenyum dan mengikuti Hasasi keluar dari balkon


Aku hanya menuruti langkah Hasasi pergi karena tanganku dipegang erat olehnya, entah aku tidak tau kenapa tiba – tiba dia datang dan marah – marah seperti itu. Kami menuruni tangga satu demi satu dan keluar dari rumah Hansol, tiba – tiba dia mengajakku ke sebuah taman yang ada di depan rumah Hansol


“Kamu ngapain sih dateng tiba – tiba terus marah – marah gak jelas” protesku


“Kenapa? ... kamu malah tanya kenapa?...kamu itu istriku jadi wajar saja kalau kamu berduaan dengan cowok lain aku marah – marah” protes Hasasi


“Hey ... tunggu dulu” protesku dan melepaskan tanganku dari genggamannya


“Sejak kapan aku istrimu... kamu sudah punya Cindy Wu apa itu enggak cukup buatmu” protesku


“Dia bukan siapa – siapaku”


“Lantas kalau bukan siapa – siapamu kenapa kalian romantis, tau gak sakit tau liatnya...” ucapku menahan air mataku

__ADS_1


“Ma ... maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu terluka” ucap lirih Hasasi dan dia memelukku


“Maaf ... hanya kata maaf aja, semua orang tau kenapa kamu seperti itu kepadaku tapi tidak ada satupun yang memberitahuku... Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku” ucapku marah dan berusaha melepaskan pelukan Hasasi


“Dengarkan aku dulu... bukan seperti yang kamu liat ... aku akan menjelaskannya kepadamu” ucap Hasasi memperkuat pelukannya


“Cepat jelaskan” bentakku dan Hasasi melepaskan pelukannya


“Aku akan menjelaskannya kepadamu tapi kamu jangan marah – marah mulu” ucap Hasasi lirih


“Baik ... baiklah cepat jelaskan”


“Hmmm ... sebenarnya aku sedang menyelidiki kasus kenapa adikku bisa mengalami kecelakaan dulu sampai dia harus kehilangan salah satu kakinya...” jelas Hasasi


“Terus apa hubungannya dengan Cindy Wu?”


“Dari beberapa mata – mataku bilang kalau Lisa itu di tabrak oleh Cindy Wu dengan sengaja, makanya untuk melihat bukti itu aku harus menyelidikinya terlebih dahulu dengan berpura – pura dekat dengan dia...”


“Kenapa kamu gak bilang ke aku dari awal?” protesku


“Maafkan aku... sebenarnya aku punya rencana saat dimulainya pernikahan Dennis aku akan memberitahukanmu, tapi ternyata rencana itu gagal karena Cindy datang lebih awal” ucap Hasasi lirih


“Lalu kalau kamu sudah punya bukti yang relevan apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku sinis


“Aku akan membunuh semua keluarga besar Wu” ucap Hasasi dingin


“Se... serius?”  tanyaku kaget


“Iya serius lah, siapapun yang berani menyakiti orang yang aku sayangi harus mati”


“Emang udah kamu lakukan hal itu?”


“Udah ..”


“Kapan?”


“Hari ini”


"Kamu kok tega sih membunuh orang yang tidak bersalah" gumamku


"Kan aku udah bilang siapapun yang melukai orang yang aku sayangi harus mati... termasuk kamu"


"Kok aku juga?"


"Karena kamu istriku"


“Oh... oke lah ... makasih udah mau memberitahukanku semua” ucapku lirih dan beranjak pergi


“Fifiyan...”


“Jangan pergi ... aku gak mau kehilanganmu, aku sungguh sangat menyesal...” ucap lirih Hasasi memelukku dari belakang


Aku hanya terdiam terpaku saat Hasasi mengatakan hal itu langsung kepadaku, walaupun aku telah salah paham kepada Hasasi namun hatiku masih tidak menerima kejadian kemarin. Tanpa aku duga, bahuku terasa basah dan aku melirik Hasasi ternyata dia menangis di pelukanku


“Hasasi kamu menangis?” tanyaku kaget tapi Hasasi hanya diam dan terus menitikan air matanya


“Udah Hasasi jangan menangis lagi ya” ucapku menenangkannya tapi Hasasi terus saja menangis


Karena tangisan Hasasi semakin keras aku menuntunnya menuju ke dalam kamar agar dia bisa puas menangis apalagi cuaca di luar sangat dingin aku tidak mau dia sampai sakit. Saat aku sudah berada di dalam rumah Jiwon berada di depanku dan dia kaget melihat laki – laki yang tadi marah – marah sekarang menjadi menangis


“Kak ... ada apa?” tanya Jiwon kaget


“Tidak ada apa – apa... aku ke kamar dulu ya” ucapku dan terus memapah Hasasi menuju kamarku


Saat aku udah sampai di kamar, aku duduk di atas kasurku dan mendudukan Hasasi di sebelahku, Hasasi masih saja menangis mungkin dia sangat menyesal dengan kelakuannya kemarin.Hasasi terus menangis di bahuku, karena dia menangis cukup lama akupun memeluknya dan mengusap lembut rambutnya tidak lupa juga aku mencium lembut keningnya.


“Udah Hasasi jangan menangis lagi ya” ucapku lembut dan terus mengusap lembut rambutnya tapi Hasasi terus menerus menangis sampai – sampai Hasasi sesenggukan karena menangis dengan waktu yang lama


“Udah ... jangan nangis lagi, iya – iya aku janji gak akan pergi dari sisimu, aku udah memaafkanmu kok sayang” ucapku lembut dan tangis Hasasi agak mereda, dia lalu memeluku erat sampai aku tidak bisa bernafas tapi aku hanya menahannya mungkin dia merasa lumayan baikan saat mendengar aku memaafkannya. Tapi lama kelamaan pelukan Hasasi terlepas dan dia tidur di bahuku. Aku segera menidurkan Hasasi di kasurku dan saat aku akan beranjak pergi tangan Hasasi menggenggam erat tanganku

__ADS_1


“Jangan pergi, tetap disini temani aku” ucapnya lirih dan terpaksa akupun tidur di sebelah Hasasi yang sedari tadi memegang erat tanganku, aku terus mengusap lembut rambutnya.


Aku pertama kali melihat Hasasi menangis dengan waktu yang sangat lama dan tangisannya ini karena penyesalan yang telah dia lakukan kemarin. Ternyata Hasasi masih ingat aku dan masih tetap mengganggapku adalah istrinya walaupun kami belum menikah.


__ADS_2