
Walaupun Alex menyetujui liburan ke Jepang, tapi tidak tahu kenapa aku terasa sedih. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan aku sedih, tapi terasa banget hatiku sakit.
"Kenapa wajahmu sedih seperti itu?" tanya Alex memandangku
"Tidak kok, aku tidak sedih"
"Dari wajahmu kelihatan banget kalau sedang sedih" ucap Alex dan aku terdiam
"Apa karena Wanda kamu jadi sedih?" tanya Alex dan aku masih tetap diam
"Kalau karena kehadiran Wanda, aku akan menyuruhnya untuk tidak tinggal di rumah"
"Tidak perlu, aku tidak ada apa - apa kok" gumamku membuang muka
"Beneran kamu tidak apa - apa?"
"Iya, aku tidak apa - apa"
"Hmm baiklah, tapi kamu tenang saja ya aku sudah putus dengan Wanda"
"Kenapa putus?... kamu mau pacaran sama siapa aku gak peduli" gumamku
"Tidak... kamu Nyonya Guan, apapun yang terjadi kamu tetap istri aku" ucap Alex tersenyum padaku tapi aku tidak mau menatap matanya
"Tapi maaf Alex, walaupun disakiti Hasasi berkali - kali aku tetap memilih Hasasi... apalagi aku masih penasaran dengan apa yang diinginkan oleh Ayah dulu " gumamku dalam hati
"Fifiyan... Fifiyan, kenapa kamu melamun?" tanya Alex mengagetkanku
"Ti... tidak ada" gumamku dan membuang muka menatap keluar jendela mobil
Perjalanan yang membosankan akhirnya berakhir, beberapa jam kemudian kami sampai di sebuah gedung tinggi dan sangat mewah. Aku belum pernah datang kemari sebelumnya, mungkin ini petinggi perusahaan kecil.
"Fifiyan, kamu tidak usah ikut rapat ya... kamu tunggu aja di luar" ucap Alex bergegas turun dari mobil
"Lah lalu buat apa aku ikut kalau aku gak ikut rapat" gumamku kesal
"Aku mau melakukan rapat untuk sesuatu hal yang penting dan ini bukan urusan untuk perusahaan cuma untuk mempertahankan kamu"
"Eeh maksudnya?"
"Ya... pokok intinya aku ingin mempertahankanmu apapun yang terjadi, apalagi masih banyak cwo yang ingin merebutmu dari aku"
"Siapa itu?" tanyaku penasaran
"Kamu tidak perlu tahu, kamu tinggal diam bersamaku saja kamu akan aman" ucap Alex dan berlalu meninggalkanku
Tunggu... jadi Alex udah tahu rencana Hansol dan Hasasi, apa aku harus memberitahukan ke Hasasi atau aku hanya diam saja. Tapi urusanku untuk memilih diantara Hasasi dan Alex aja belum terpikirkan olehku. Apalagi aku tidka mau menjadi mata - mata walaupun Hasasi menganggapku menjadi mata - mata keluarga Guan. Aku tidak tahu ada masalah apa mereka berdua kok menjadi sangat pendendam, atau jangan - jangan karena kehadiran aku yang membuat mereka saling dendam?
__ADS_1
Karena aku tidak mau menjadi manusia panggang di dalam mobil yang tengah di jemur di parkiran yang panas, akhirnya aku keluar dari mobil untuk bisa menghirup udara segar dan ingin membeli minuman dingin di toko kecil di sekitar gedung tersebut apalagi di luar cuaca sangat amat panas
Aku berjalan menuju ke salah satu warung kelontong untuk membeli air putih, padahal aku bisa menahan untuk makan atau minum tapi tidak tahu kenapa hari ini sangat panas dan membuatku sangat kehausan. Dan akhirnya aku mengambil salah satu minuman di dalam lemari pendingin
"Tuan, berapa ya?" ucapku mengangkat botol air mineral
"Itu 1 dolar nyonya" ucap pria muda di balik topinya
"Terimakasih" ucapku dan menyodorkan uang kepadanya, saat pria itu mengambil dari tanganku tidak sengaja aku bersentuhan dengan tangannya dan menurutku terasa tidak asing dengan postur tangan ini
"Terimakasih Nyonya"
"Mmm... nama kamu siapa?" tanyaku penasaran
"Ada urusan apa ya?" tanya pria itu sambil menutupkan wajahnya dengan topi
"Tidak ada, cuma pernah merasakan tangan ini" gumamku
"Mungkin anda salah orang"
"Tidak... aku masih ingat, tapi lupa namanya siapa"
"Jangan diingat - ingat nyonya"
"Kenapa?" tanyaku kaget
"Itu tidak penting"
"Suatu saat anda akan tau... Nyonya Stun" gumam pria itu dan membalikkan badannya memunggungiku
"Mmm maaf tadi anda menyebutkan apa?" tanyaku kaget ada imbuhan yang tidak aku dengar
"Ti... tidak ada, Terimakasih telah datang ke toko saya" ucap pria itu dan pergi berlalu ke dalam ruangan yang gelap
"Eehh.. Mmmm ... iya" ucapku bingung dan berlalu pergi dari toko aneh tersebut
Saat ini kok banyak sekali kejadian aneh sih, padahal dulu saat dengan Hasasi tidak pernah merasakan kejadian aneh sama sekali. Ada apa dengan lingkunganku saat ini, apakah banyak mata - mata dari Hasasi yang datang dan memata - mataiku selama aku berada di kehidupan Alex
"Hayoo... sedang melamunkan apa?" teriak Alex yang mengagetkanku
"Tidak ada, aku hanya membeli air ini" gumamku
"Loh kamu beli dimana?" tanya Alex kaget
"Di... situ..." gumamku menunjuk ke arah belakang
"Dimana?... kan disini tidak ada toko yang menjual air putih, disini lingkungan elite"
__ADS_1
"Ta... tadi aku beli disini" ucapku kaget karena toko di belakangku hilang secara cepat
"Hmmm kamu melamun ya?"
"Mmmm serius ... ta... tadi tuh aku belinya di sini mungkin dia pedagang keliling, tadi masih disitu tapi sekarang sudah gak ada ya?" gumamku kaget apalagi aku tidak mau menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada Alex
"Hahaha, disini gak ada pedagang keliling juga loh"
"Ja... jadi tadi apa?" tanyaku kaget
"Ya gak tau"
"Ta... tapi..." gumamku masih gak percaya
"Udah gak usah di pikirkan, mungkin gak sengaja lewat saja" gumam Alex berjalan di depanku
"Kamu kemana?" tanyaku berusaha mengejar Alex
"Mau ke mobil"
"Emang udah selesai rapat kalian?"
"Ya... cuma sebentar kan" ucap Alex membuka pintu mobil
"Mmmm iya sih, tapi masa rapat sebentara
banget" protesku
"Ya kan gak bahas terlalu banyak, tadi pagi sudah membahas rencana yang terlalu panjang dan lama jadi sekarang tidak terlalu lama kok" gumam Alex duduk di kursi mobil
"Oh begitu, sama Wanda juga?"
"Ya... karena dia tuh kasian, dia sedang di buru oleh seseorang"
"Seseorang?... siapa?"
"Adalah pokoknya"
"Emang masalah apa?" tanyaku tambah penasaran
"Sesuatu lah pokoknya" gumam Alex membuang muka
"Oh begitu" gumamku dan aku terdiam
"Kamu sedang memikirkan kejadian tadi?" tanya Alex
"Ya sih, cuma penasaran dan kaget juga"
__ADS_1
"Udah ... jangan dipikirkan ya" ucap Alex lembut dan aku pura - pura tersenyum
Aku masih penasaran, siapa orang tadi dan mengapa toko itu bisa langsung menghilang kurang dari 5 menit dan Alex juga tidak menyadari adanya toko di belakangku. Siapa dia?, apakah dia mata - mata Hasasi?, atau apa?