
Aku benar-benar penasaran tapi Lisa terus saja menangis yang membuatku harus menahan egoku untuk lebih sabar lagi apalagi Hasasi sedang tertidur, aku tidak mau mengganggu Hasasi yang sedang tertidur.
"Lisa tenangkan dirimu."
"Tapi kakak ipar, aku takut..."
"Hmmm coba ceritakan perlahan-lahan siapa yang melakukannya dan bagaimana bisa terjadi?" tanyaku pelan.
"Se...sebelum ta...tahun baru China kemarin... a...aku diajak pacarku ke bar, aku ditantang minum wisky..."
"Dan... kamu menyetujuinya?" tanyaku terkejut.
"Ya, aku meminum beberapa Wiski sampai mabuk. Dalam ingatanku, aku tidak sengaja menceritakan tentang kakak dan mafia kegelapan milik kakak, aku... aku tidak sengaja menceritakannya..."
"Lalu?" tanyaku penasaran.
"Lalu... aku ingat dia mengajakku ke sebuah kamar dan... dan... Huuuaaaaa!!" tangis Lisa kencang.
"Eeehh mmmm aku mengerti, lalu siapa yang melakukannya?" tanyaku penasaran.
"Itu... pacarku..."
"Ya siapa namanya?" tanyaku serius.
"Namanya Alan Khun."
"Alan Khun? Tunggu... marga Khun? Apa dia..."
"Entah aku tidak tahu, aku bingung kakak ipar. Aku... aku benar-benar merasa kotor!" teriak Lisa kencang.
"Huusstt tenanglah Lisa, Hasasi sedang tidur jadi jangan membangunkan dia kalau tidak nanti Hasasi tahu loh..." ucapku menatap Lisa panik.
"Ta...tapi kakak ipar, Lisa takut... Lisa..."
"Hmmm... selama kamu tidak telat datang bulan pastinya akan..."
"Aku udah telat berbulan-bulan kakak ipar dan aku... aku takut kalau aku hamil!"
"Ehhh astaga, kamu sudah telat berapa bulan?" tanyaku terkejut.
"A...aku sudah telat hampir tiga bulan kakak ipar, aku takut!!" rengek Lisa kencang.
"Oh mmm tenang saja, mungkin kamu kecapekan dan kamu terlambat datang bulan."
"Tapi kakak ipar..."
"Tenang saja, berpikir positif saja dulu ya..." desahku mengusap lembut rambut Lisa.
"Tapi... Tapi..."
"Sudah tenang saja, ada aku... aku pasti akan selalu ada bersamamu Lisa..." gumamku pelan.
"Hmmm te...terimakasih kakak, aku... aku kira kakak akan memarahiku dan mengadukanku..." gumam Lisa pelan.
"Tidak, aku sudah menganggapmu adik kandungku kan... sama seperti janjiku saat pertama kali aku bertemu denganmu..." desahku mengusap lembut air mata Lisa yang menetes di pipi.
"Oh hmmm terimakasih kakak ipar."
"Tidak perlu berterimakasih, aku juga wanita dan aku tidak akan menyalahkanmu Lisa."
"Oh mmm kakak ipar, apa benar kakak ipar ingin memberikan hati dan kedua ginjal kakak ipar untuk kakak?" tanya Lisa pelan.
"Apa kamu mendengar pembicaraanku dengan kak Steven?" tanyaku terkejut.
"Ya... Lisa tidak sengaja mendengarkannya, jadi apa itu benar?"
__ADS_1
"Hmmm ya, aku akan melakukannya."
"Kenapa kakak ipar melakukannya? Kalau kakak ipar melakukannya pasti nanti kakak ipar akan mati!" ucap Lisa serius.
"Mati atau tidak itu sudah takdir Lisa, aku lebih senang jika aku bisa sedikit membalas jasa Hasasi selama ini."
"Tapi kakak yang membunuh orang tua kakak ipar, kenapa kakak ipar malah sangat baik kepada kakak?" tanya Lisa serius.
"Itu sudah masa lalu Lisa, aku tidak mungkin membalas kekejaman Hasasi dengan kekejaman juga. Aku mengakui aku lemah jadi aku tidak mungkin melakukannya."
"Tapi kakak ipar..."
"Tahu tidak Lisa, sebelum aku dibawa Hasasi ke rumah kalian... aku benar-benar si gendut yang pecundang, aku diselingkuhin mantan kekasihku dan di permalukan di tempat umum saat pesta ulang tahun mantan kekasihku."
"Pemilik perusahaan PT. Liang itukan?" tanya Lisa serius.
"Ya, kamu tahu... semenjak kehilangan keluargaku aku hidup di keluarga Liang dan saat aku dewasa aku memutuskan menyewa kontrakan dan hidup mandiri. Saat akan ulang tahun mantan kekasihku itu aku benar-benar berusaha menghidupi kebutuhanku sendiri dan terkadang aku juga bekerja paruh waktu untuk menghidupi kebutuhanku. Dan demi pantas jika bersanding dengannya aku bekerja keras berbulan-bulan dan hanya makan ramen hanya demi memberikan hadiah terbaik dan gaun yang indah..." gumamku pelan, aku menghela nafas panjang dan menahan air mataku.
"...Tapi saat di pesta dia malah bersanding dengan wanita lain dan menamparku di depan umum serta mempermalukanku di depan banyak orang. Hidupku benar-benar hancur saat itu dan jika saat itu Hasasi tidak membawaku pulang ke rumah, mungkin aku sudah mati kedinginan di bawah hujan badai yang sangat deras..." gumamku pelan.
"Oh hmmm..." desah Lisa menggenggam erat tanganku.
"Jadi... jika aku mati demi menyelamatkan nyawa kakakmu, aku benar-benar tidak keberatan. Hanya ini yang bisa aku lakukan, aku hanya ingin Hasasi terus hidup dan bisa menemani kedua anak kami dan menemanimu Lisa..." gumamku tersenyum pelan.
"Hmmm kakak ipar sangat baik hati ya, kakak ipar sama sekali tidak dendam dengan kakak."
"Tidak, aku hanya melihat masa depan sekarang dan aku tidak mau terus terpuruk pahitnya hidup. Jadi Lisa harus bisa sabar dan jangan menyerah ya!"
"Tapi kalau Lisa benar-benar hamil bagaimana?" tanya Lisa bingung.
"Tidak apa, nanti aku dan kedua anakku akan membantumu mengurus anakmu."
"Tapi bagaimana jika kakak dan keluarga Stun marah?"
"Nanti aku akan berbicara baik-baik dengan Hasasi dan ayah serta ibu, jadi jangan khawatir ya..." gumamku pelan.
"Oh hmmm benarkah?"
"Ya, aku mengatakan yang sejujurnya kakak ipar."
"Ohh mmm maaf ya aku menceritakan masa laluku padamu Lisa."
"Tidak apa-apa kakak, terimakasih sudah menyemangati Lisa kakak."
"Ya, tidak masalah. Hari sudah malam, kamu tidak menginap disini?"
"Tidak kakak ipar, Lisa sebenarnya hanya ingin memberikan undangan pesta ulang tahun Lisa saja tapi ternyata Lisa malah menceritakan kejadian yang menyakitkan kepada kakak ipar..." gumam Lisa memberikan sebuah kertas berwarna merah muda kepadaku.
"Kan ulang tahunmu beberapa hari lagi."
"Ya dan Lisa meminta kakak ipar dan kakak ikut ke pesta Lisa nanti ya, aku tahu kakak pasti akan menolaknya karena penyakitnya tapi Lisa mohon kepada kakak ipar ajak kakak juga ya!"
"Oh mmm baiklah, nanti aku akan mencoba mengajaknya."
"Baiklah, Lisa pulang dulu kakak ipar..." teriak Lisa segera pergi dari balkon rumah.
"Oh mmm... Alan Khun? Siapa dia?" gumamku pelan. Aku melangkahkan kakiku menuruni tangga dan masuk ke dalam kamarku. Di balkon aku melihat Hasasi yang dari tadi terdiam di kursi dan menatapi bulan di depannya.
"Hasasi..." gumamku memegang lembut bahu Hasasi.
"Eeh mmm dari mana saja?" tanya Hasasi pelan.
"Dari atas balkon rumah sayang."
"Oh ya? Siapa yang kamu temui tadi?" tanya Hasasi serius.
__ADS_1
"Lisa, dia tadi datang kepadaku dan memberikanku undangan ulang tahunnya, Lisa meminta agar kamu juga ikut datang Hasasi."
"Oh... aku tidak berminat."
"Hasasi, ini permintaan adik kecilmu. Tak kan kamu menolaknya?"
"Aku memang menolaknya!"
"Kalau begitu masa aku harus pergi sendirian?"
"Kamu tidak perlu datang juga!"
"Sayang aku terlanjur berjanji dengannya dan juga... sudah lama aku tidak menengok dua anak kita."
"Tapi aku seperti ini Fifiyan... aku..."
"Tidak apa, nanti aku yang akan menjelaskannya kepada Han dan Sasa. Jadi jangan khawatir ya..." gumamku mencium pipi Hasasi lembut.
"Oh mmm baiklah, terserah kamu saja istriku."
"Oh ya Hasasi, boleh aku bertanya?"
"Tanya apa?"
"Siapa Alan Khun itu?" tanyaku serius.
"Kenapa kamu bertanya tentang itu?" tanya Hasasi dingin.
"Aku... hanya penasaran saja."
"Dari mana kamu mengerti nama itu?"
"Dari Lisa, dia tadi menceritakan padaku."
"Cerita tentang apa?" tanya Hasasi penasaran.
"Nanti aku akan menceritakannya padamu. Sekarang waktunya tidur suamiku sayang..." gumamku mendorong kursi roda Hasasi.
"Beritahu aku Fifiyan, apa yang diceritakan Lisa padamu?"
"Baiklah tapi beritahu aku siapa Alan Khun itu?" tanyaku serius.
"Hmmm Alan Khun itu saudara tiriku dan saudara tiri Fiyoni."
"Eehhh apa? Kenapa bisa?" tanyaku terkejut.
"Ya... dulu ayah pernah bermain dengan seorang wanita dan hamil Alan Khun itu, saat wanita itu meminta pertanggung jawaban ayah menolak dan tidak mengakui Alan sebagai anaknya karena saat itu aku juga masih kecil dan harus berpindah ke Australia demi akademiku."
"Oh lalu?" tanyaku penasaran, aku membaringkan tubuh Hasasi dan berbaring di sebelahnya.
"Ya karena ibunya Alan selalu meminta pertanggung jawaban membuat ayah kesal dan membantai seluruh keluarga Khun dan hanya tersisa beberapa orang yang termasuk Alan dan Fiyoni saja."
"Lalu, apa Alan juga ketua mafia?" tanyaku penasaran.
"Ya dia ketua mafia yang bermusuhan denganku dan dengan Fiyoni, Fiyoni terluka parah karena bertarung dengan Alan. Entah karena apa tapi mereka bertarung sampai mereka benar-benar terluka parah."
"Oh begitu ya..." desahku membenamkan wajahku di pakaiannya.
"Beritahu aku Fifiyan, apa yang di ceritakan Lisa!" ucap Hasasi serius.
"Besok saja, aku mengantuk..."
"Hmmm baiklah, maaf setiap hari aku benar-benar merepotkanmu sayang..." gumam Hasasi mengusap lembut rambutku.
"Tidak apa kok sayang, jangan khawatir..." gumamku pelan. "Aduh bagaimana aku jelaskan kepada Hasasi kalau Hasasi saja masih belum sembuh seperti ini..." gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku sebenarnya tidak tega bercerita kepada Hasasi tapi dia kakaknya, kalau Lisa ada apa-apa dan Hasasi tidak diberitahukan terlebih dahulu takutnya Hasasi akan sangat marah seperti dulu. Sepertinya aku harus mencari situasi yang nyaman untuk berbicara dengannya.