Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 178 : Menikmati Senja


__ADS_3

Di perjalanan kami menikmati suasana kapal Hasasi terus menggenggam erat tanganku bahkan sampai tanganku berkeringatpun Hasasi terus menggenggamnya dengan erat. Walaupun kami berdua berjalan beberapa jam lamanya Hasasi terus menggandeng tanganku dan berjalan bersamaku


"Bentar Hasasi tanganku berkeringat"


"Gak apa - apa"


"Ihhh gak enak tahu kalau berkeringat seperti ini" gumamku


"Tidak apa"


"Tidak nyaman tahu"


"Aku biasa aja kok" gumam Hasasi terus menggenggam erat tanganku


"Hmmm terserah kamu aja deh Hasasi" desahku mengalah


"Kamu gak capek apa Hasasi dari tadi kita berjalan berjam - jam hanya muter - muter kapal aja"


"La kamu maunya muter - muter kemana?"


"Gak tahu sih, tapi maksudku kamu emang gak capek apa?"


"Enggak, kan jalan - jalannya sama kamu"


"Apa bedanya?"


"Ya bedalah, namanya juga jalan - jalan sendiri dengan jalan - jalan sama istri"


"Mmmm ya sih Hasasi, gak tahu kenapa aku juga tidak capek. Tapi kelihatannya kolam renang tadi tuh menyenangkan loh besok kita berenang yuk"


"Gak bisa"


"Kenapa?"


"Karena kita harus segera pulang"


"Oh begitu ya" desahku


" Udah jangan sedih nanti kamu bisa berenang di rumah"


"Iya Hasasi" desahku


"Oh ya Fifiyan nanti saat lelang kamu memakai gaun yang satu lagi ya"


"Ya aku tahu"


"Dan nanti kalau aku membelikanmu sesuatu kamu harus menerima jangan menolak seperti dulu, mengerti!!"


"Gak mau"


"Harus mau"


"Gak mau"


"Harus mau"


"Gak mau pokoknya gak mau"


"Harus mau, walaupun kamu gak mau aku akan tetap membelinya"


"Iiih keras kepala"


"Biarin, aku juga ingin membahagiakan istriku"


"Aku bersamamu saja sudah bahagia Hasasi"


"Ya aku tahu tapi aku tidak mau menghabiskan uangmu apalagi katanya lelang kali ini akan lebih mahal harganya"


"Tidak kok, tenang saja Fifiyan"


"Hmmm ya deh tapi satu barang aja ya"


"Sesukaku lah"


"Gak mau, satu barang saja"


"Hmmm baiklah, terserah kamu. Tapi kamu yang harus meminta ya"


"Iya nanti aku yang minta. Mmmm ... Tumben kamu mengajakku jalan - jalan ini kan udah hampir malam"


"Ini masih sore tahu" gumam Hasasi menatapku


"hampir malam lah kan masih pukul 4 sore"


"Pukul 4 sore itu masih sore"


"Hapir malam lah"


"Masih sore loh, matahari kan masih belum terbenam"


"Tapi kan sama aja hampir malam"


"Beda lah kalau hampir malam itu matahari sudah terbenam"


"Hmmm... Ya deh sore deh sore" gumamku mengalah


"Hahaha"

__ADS_1


"Malah ketawa?" gerutuku


"Aku merasa lucu aja kita malam memperdebatkan masih sore dan hampir malam"


"Ya tapi kan masih sore dan hampir malam itu sama tahu"


"Beda"


"Iihh sama tau"


"Beda loh beda"


"Hmmm iya deh beda, udah ah jangan berdebat masalah gak penting" gumamku


"Ya kamu yang memulai" protes Hasasi


"Hmmm ya - ya aku yang salah, jadi kenapa kamu mengajakku jalan - jalan?"


"Aku sebenarnya hanya ingin jalan - jalan santai aja, apalagi kepalaku puyeng kebanyakan mikir"


"Emang kamu mikir apa?"


"Mikir banyak hal"


"Jangan terlalu kebanyakan berfikir nanti banyak uban loh"


"Enggak lah, emang aku punya uban?"


"Mmmm..." gumamku menatap rambut Hasasi


"Tidak ada sih, cuma kan nanti beruban gimana"


"Ya tinggal di semir lah"


"gak perlu di semir, kalau beruban biar beruban"


"Kenapa gak boleh disemir?"


"Karena biar aku bisa mengejekmu si tua" ucapku tertawa kencang


"Dasar ya kamu, mentang - mentang masih muda ya" gerutu Hasasi mencubit hidungku


"Aduuuh kamu suka banget sih cubit hidungku"


"Ya karena hidungmu gemes"


"Ihh tau gitu dulu aku operasi plastik aja ya sekalian biar gak dicubitin mulu"


"Kamu mau?"


"Gak ah, males"


"Sakit tahu, kalau dulu bukan karena kulitku mengendur gara - gara langsung kurus aku gak mau operasi plastik tahu"


"Emang sakit ya? Padahal banyak loh yang mau banget di operasi plastik"


"Gak mau, udah gini aja kamu udah seneng. Kalau aku tambah cantik terus banyak yang suka nanti kamu galau lagi"


"Mmm bener juga sih, ya udah gak usah" gumam Hasasi


"Hahaha takut ya?"


"Ya takut lah" gumam Hasasi menatapku, namun tiba - tiba Hasasi melepaskan genggaman tangannya dan berganti memegang pinggulku dengan tatapan dingin


"Ada apa Hasasi?" tanyaku bingung namun Hasasi hanya diam dengan tatapan dinginnya


Tiba - tiba datang seorang perempuan cantik dan laki - laki tampan di  depan kami. Ternyata perempuan itu adalah Cindy Wu dengan pasangannya yang aku tidak kenal tapi emang benar - benar laki - laki yang tampan jika di pandang


"Hay Hasasi" sapa laki - laki tampan itu


"Hi" gumam Hasasi mempererat genggaman tangannya di pinggulku


"Kamu ada disini juga?"


"Ya, kenapa kalian disini?"


"Ya aku hanya ingin mengikuti lelang itu" gumam laki - laki itu santai


"Ngomong - ngomong ini ya calon istrimu itu?" tanya laki - laki itu menatap Hasasi


"Bukan"


"Lalu dia?" tanya laki - laki itu menatapku


"Dia istriku"


"Oh ya? Sejak kapan kalian menikah?" tanya laki - laki itu kaget


"Nanti kalian akan mendapatkan undangannya" gumam Hasasi melangkahkan kakinya menjauhi dua orang itu


"Oh ya Hasasi, maaf ya" ucap laki - laki itu yang membuat langkah kaki Hasasi terhenti


"Minta maaf untuk apa?"


"Ya sekarang Cindy jadi pacarku, jadi aku..."


"Buat apa kamu minta maaf denganku, mau Cindy dengan siapapun terserah dia. Bukan urusanku lagi" gumam Hasasi

__ADS_1


"Kamu tidak marah?"


"Buat apa aku marah, aku sudah punya istri sekarang. Jadi terserah kalian" gumam Hasasi berjalan kembali meninggalkan mereka berdua


"Hasasi aku minta maaf atas semua kesalahanku" gumam Cindy sedih tapi Hasasi tidak memperdulikannya


Aku menatap Hasasi yang terlihat sedikit kesal, aku melepaskan genggaman tangan Hasasi di pinggulku dan menggenggam tangannya dengan erat. Selama kami berjalan Hasasi hanya diam tanpa kata, tatapannya kosong dan terlihat sangat sedih. Tapi Hasasi seperti berusaha utuk menahan kesedihannya itu


"Indah ya matahari yang akan tenggelam itu" gumamku menatap indahnya matahari yang akan tenggelam dengan dihiasi air laut yang tenang membuat bayangan matahari sangat terlihat jelas di permukaan air laut, sedangkan Hasasi tetap diam tanpa kata di sampingku


"Kalau kamu ingin menangis, menangislah jangan kamu tahan seperti itu" gumamku dan Hasasi menatapku kaget


"Tidak, aku tidak sedih kok" gumam Hasasi


"Hasasi apapun yang kamu sembunyikan dariku aku tahu kok, aku istrimu Hasasi jadi aku tahu segala tentangmu" gumamku melepaskan ganggaman tanganku dan bersandar di pagar kapal sambil menikmati senja yang indah


"Hmmm... Ya emang kamu tidak bisa di bohongi Fifiyan" desah Hasasi mengalah


"Aku hidup denganmu bertahun - tahun Hasasi, jadi aku tahu apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan"


"Baiklah aku akan berkata jujur kepadamu..." desah Hasasi menatapku


"Hmmm ya sejujurnya aku sedih aja Cindy berpacaran dengan pria itu"


"Emang siapa pria itu?"


"Temanku sekolah, kami dulu saat sekolah sering memperebutkan Cindy tapi dia kalah taruhan denganku dan Cindy menjadi pacarku waktu itu" gumam Hasasi


"Jadi kamu sedih?"


"Tidak sedih sih cuma agak gimana gitu, tapi udah lah tidak perlu kamu pikirkan sayang" gumam Hasasi


"Hasasi ... Apa kamu masih punya rasa dengan Cindy?" tanyaku serius sambil menikmati indahnya matahari yang hampir tenggelam


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" ucap Hasasi menatapku


"Ya aku hanya bertanya saja Hasasi. Tapi benarkan ucapanku?"gumamku dan Hasasi hanya menundukkan kepalanya dan terdiam


"Benarkan Hasasi?"


"Hmmm iya, memang benar. Aku masih punya rasa kepada Cindy" gumam Hasasi lirih


"Oh ..." desahku menatap matahari yang beranjak turun


"Sebenarnya Fifiyan, ada alasanku khusus kenapa selalu menunda pernikahan kita" gumam Hasasi menatapku


"Aku tahu kok alasanmu"


"Kamu tahu?"


"Ya, aku tahu di hatimu masih belum rela kan berpisah dengan Cindy dan kamu juga masih punya rasa dengan Cindy kan"


"Hmmm maafkan aku Fifiyan"


"Kenapa kamu meminta maaf?"


"Aku meminta maaf tentang hatiku ini, tapi walaupun begitu aku bersumpah sayang kepadamu Fifiyan dan aku juga sungguh - sungguh tidak mau kehilangan kamu lagi"


"Ya aku tahu kok Hasasi"


"Kamu tidak kecewa Fifiyan?"


"Kecewa ya? Hmmm kalau kecewa sih masih terasa dan membuat hatiku sedikit sakit tapi tidak terlalu mengecewakan kok" gumamku tersenyum


"Aku sudah membuatmu kecewa tapi kenapa kamu tetap tersenyum Fifiyan?"


"Ya, aku sudah biasa merasakan kekecewaan kok Hasasi dan masalah kamu masih punya rasa kepada Cindy juga tidak mengagetkanku sama sekali"


"Hmmm, apakah Kamu tidak marah aku telah mengecewakanmu?" tanya Hasasi menatapku


"Tidak. Buat apa aku marah"


"Masa kamu tidak punya rasa marah sama sekali?"


"Matahari aja akan terbenam masih menunjukkan sinarnya yang terang walaupun bulan dan bintang sudah sangat terlihat di langit, jadi buat apa aku marah karena masalah sepele itu "


"Itukan bukan masalah sepele Fifiyan"


"Ya itu kalau menurut orang lain tapi menurutku itu masalah sepele" gumamku


"Dan juga aku tahu kok melupakan seseorang yang telah bersama kita selama bertahun - tahun itu tidaklah mudah butuh waktu yang panjang, seperti saat aku kehilangan Kwan Liang dulu. Aku bisa melupakannya setelah hampir empat tahun lamanya dan itupun dibantu dengan aku hidup bersama denganmu dan setiap hari bertemu denganmu baru aku bisa melupakan Kwan Liang"


"Tapi Fifiyan..."


"Hasasi, dengar ya aku akan terus menunggumu sampai kamu benar - benar bisa menerimaku sepenuhnya" ucapku menatap Hasasi sambil tersenyum


"Terimakasih Fifiyan, aku sangat bersyukur memilikimu" gumam Hasasi meneteskan air matanya


"Kamu menangis?"


"Tidak, aku hanya terharu mendengarkan perkataanmu Fifiyan" gumam Hasasi mengusap pipinya


"Perkataan yang mana?"


"Ya semua perkataanmu Fifiyan, tapi aku berjanji kepadamu Fifiyan aku akan berusaha untuk melupakan Cindy dan mempercepat pernikahan kita" gumam Hasasi memegang tanganku dengan erat


"Oh ya? Oke Hasasi, aku tunggu janjimu" ucapku tersenyum

__ADS_1


"Iya Fifiyan, aku akan membahagiakanmu dan menjagamu apapun yang terjadi" gumam Hasasi serius sambil menatap matahari tenggelam


__ADS_2