Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 25 : Senja Di Pantai


__ADS_3

Menunggu terlalu lama itu adalah hal yang sangat membosankan, aku sendiri tidak tahu aku akan melakukan apa di dalam kamar mewah ini. Siaran TV juga membosankan begitu juga game di handphoneku, saking bosannya akhirnya aku kelur kamar untuk jalan – jalan melihat markas milik Hasasi ini.


“Siapa kamu?” ucap seseorang dengan tatapan dingin yang sedang bersandar di tembok


“A...aku Fifiyan” ucapku terbata – bata


“Kenapa kamu bisa masuk di ruangan ini?”


“A ... Aku”


“Kamu penyusup ya?”


“Penyusup harus mati...” ucap pemuda tersebut dan bergerak menuju ke arahku dengan membawa samurai panjang


“Ja ... jangan...” ucapku terbata – bata


Saat samurai itu hampir menebas di tubuhku, tanpa disangka Hasasi menangkis samurai tersebut sampai samurai itu jatuh ke tanah


"Tu ... tuan"


“Kamu ... apa yang kamu lakukan?” teriak Hasasi marah


“Tu... tuan, disini ada penyusup ja ... jadi...”


“Dia bukan penyusup, dia isriku ... kamu mau membunuh calon istriku, aku cabik - cabik tubuhmu" teriak Hasasi dingin dan wajah agak marah


“Ma ... maafkan aku tuan, ampuni hamba ... aku siap mendapatkan hukuman dari tuan” ucap pemuda tersbut sampai sujud ke lantai


“Aku akan menghukummu...” teriak Hasasi


“Sudahlah Hasasi, tidak apa... ini cuma salah paham” ucapku menenangkan Hasasi


“Hmm baiklah kalau kamu yang minta”


“Sudah pergi dari sini” ucap Hasasi dan pemuda itu pergi dari hadapan kami


“Jangan marah – marah nanti cepat tua loh” ejekku


“Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu” ucap Hasasi sambil mencium keningku


“Iya ... gak akan ada kok, kan ada kamu” ucapku


“Ya udah ayo ke suatu tempat”


“Kemana?”


“Pulau pribadiku”


“Waw serius?”


“Iya... makanya ayo” ucap Hasasi dan menarikku menuju ke mobil mewahnya


Selama perjalanan aku menatapi Hasasi yang sedag fokus mengendarai mobil


“Kenapa kamu menatapku terus” protes Hasasi


“Kamu kok ada di belakangku tadi?”


“Waktu kapan?”


“Waktu aku hampir di tebas”

__ADS_1


“Hatiku ada di hatimu, jadi aku bisa merasakan kalau kamu sedang kesulitan”


“Ih seriusan”


“Aku serius, paham?” ucap Hasasi dingin, aku paham kalau Hasasi bersungguh – sungguh dia akan memasang muka dingin


“I ... iya aku paham” jawabku terbata – bata, tatapannya menakutkan


Selama beberapa menit aku kembali canggung dan diam disebelah Hasasi, tatapannya sangat menakutkan seperti hewan buas yang akan mencabik – cabik mangsanya. Selama perjalanan aku melihat dinding jalan ini seperti di dalam laut, tapi tidak yakin karena tidak mungkin jalan raya dibangun di dalam laut. Setelah beberapa lama berada di jalan aneh tersebut, aku melihat pantai yang sangat indah dengan pasir pantai yang putih di padukan dengan laut yang biru sangat menenangkan hatiku


“Indah sekali...” gumamku kagum


“Kamu suka?” tanya Hasasi


“Suka sekali ... tapi dimana pulau pribadimu?” tanyaku


“Ini pulau pribadiku”


“Heeh... ini kan masih belum menyeberangi laut” gumamku


“kamu gak ingat tadi kita masuk ke lorong kecil”


“Iya aku ingat”


“Itu kita lewat di bawah laut” ucap Hasasi santai


“Ada jalan di bawah laut” teriakku kaget


“Jangan teriak lah, sakit kupingku” protes Hasasi


“Em ... maaf, aku kaget”


“Aku kira itu tadi hiasan ... hehehe” ucapku cengengesan


“Duduk disini aja yuk” ajakku


“Di pasir pantai?”


“Iya lah, kenapa kamu takut kotor ... dasar alay” gumamku dan tiba – tiba Hasasi duduk di sebelahku


“Tumben mau kotor – kotoran, gak takut kotor” ejekku


“Kalau kamu gak takut kenapa aku harus takut” ucap Hasasi santai


“Bagus ya senja hari ini” ucap Hasasi kagum


“Ya ... aku paling suka pantai dan juga senja di pantai, sangat menengkan hati” gumamku, aku jadi keingat keluargaku yang suka mengajakku ke pantai dan juga keingat keluarga Liang masih menjadi pengganggu hidupku


"Oh ya Hasasi, misalkan ada yang akan membunuhku bagaimana?" tanyaku dengan tatapan serius


"Kenapa kamu ngomong gitu?"


"Ya aku hanya bertanya" ucapku lirih dan tangan Hasasi memegang daguku


"Dengarkan aku, aku bersumpah siapapun tidak boleh ada yang menyentuhmu bahkan menyakitimu, kalau ada yang berani menyakiti orang yang ku cinta. Langkahi mayatku dulu, jadi kamu tenang saja kalau aku masih hidup" ucap Hasasi tegas


"Makasih ya Hasasi, tapi kenapa kamu mau melindungiku" ucapku


"Karena kamu orang yang terpenting dalam hidupku" ucapnya dan tanpa sengaja kami saling bertatapan lumayan lama


Matahari bersinar cerah, hari ini cuaca tidak terlalu mendung jadi masih bisa menikmati sunset yang sangat indah ini. Tiba – tiba wajah Hasasi mendekati wajahku dan tiba – tiba dia mencium bibirku

__ADS_1


“Mmmm... ka ... kamu mengambil first kiss ku” protesku sambil mendorong Hasasi


“Hehehe ... biarkan aku seorang yang mengambil first kiss mu itu” ucap Hasasi dengan tatapan senang


“Dasar ...” gumamku kesal


"Aku tidak mengijinkan siapapun menyentuhmu" ucap Hasasi dingin


"I ... iya ... ta ... tatapanmu menakutkan" ucapku terbata - bata


“Udah tenanglah sayang, kamu itu adalah milikku sekarang “ ucap Hasasi dan dia merangkul tubuhku


“Siapa bilang?” protesku


“Aku lah” ucapnya dengan percaya diri


“Iiih ... PD” gumamku


“Hei kamu udah menerima aku loh” protes Hasasi


“Iya – iya aku tau” gumamku kesal


“Mmm Hari ini ada agenda?” tanyaku


“Iya... kan aku udah bilang”


“Kapan?”


“Malam ini”


“Ada acara apa?”


“Musuhku dan bisa dibilang temanku mengadakan pesta dan aku diundang”


“Jadi...?” tanyaku bingung


“Jadi kita akan kesana”


"Kita? Kenapa harus kita?”


“Iya, kamu istriku masa aku tidak mengajakmu!!"


"Hmmm, emang kita menghadiri acara apa?"


"Acara ulang tahun dia, namanya Octa"


“Oh baiklah, tapi maksudnya musuhmu tapi juga temanmu bagaimana maksudnya?”


“Maksudku, dia teman baikku tapi juga musuhku dalam bisnis”


“Oh ... aku kira apa”


“Ya udah siap – siap sana”


“Siap – siap? ... kita kan pulang dulu”


“Enggak usah, kamu ganti disini aja” gumam Hasasi memberikanku gaun


“Di... disini?” ucapku kaget saat melihat sebuah rumah kayu di pinggir pantai ini


“Iya, itu di gubuk milikku” ucapnya santai

__ADS_1


“Sejak kapan ada rumah disini?” tanyaku heran


“Emang udah ada disini lah, kamu paling yang tidak melihatnya ... udah sana ganti baju” ucap Hasasi dan aku langsung masuk rumah yang terbuat dari kayu tersebut, rumah mungil yang terbuat kayu ini dia anggap sebagai gubuk. Padahal namanya gubuk tidak semewah ini bentuk bangunanya


__ADS_2