Tuan Muda Tampan

Tuan Muda Tampan
Episode 155 : Perkataan Menyakitkan


__ADS_3

Dengan memakai gaun hitam dari Hasasi aku mengikuti Hasasi dan keluarganya ke pesta salah satu keluarga Stun. Di sepanjang langlahku banyak orang yang menatapku agak aneh apalagi berjalan bersama dengan hasasi. Berasa diri ini orang yang terdampar di suatu pulau terpencil, tidak tahu siapapun dan tidak kenal siapapun


Aku menggenggam erat tangan Hasasi dan Hasasi menyadari itu, dia menatapku bingung


"Ada apa Fifiyan?" tanya Hasasi bingung


"Lagi merasa tidak enak"


"Kamu sakit?"


"No... tatapan keluarga besarmu sangat aneh"


"Ohh.. tidak ada apa - apa... hal itu biasa" gumam Hasasi


"Biasa bagaimana?" tanyaku bingung


"Ya mungkin mereka kaget aku membawa wanita di pesta keluarga, apalagi aku swlama ini tidak pernah datang dengan seorang wanita" gumam Hasasi


"Ohh... tapi aku merasa tidak enak Hasasi"


"Temang... kamu akan terbiasa" gumam Hasasi terus menggandengku masuk ke dalam aula pernikahan.


"Aku harus berbuat apa Hasasi?"


"Ya bersikap biasa aja"


"Hmm baiklah" desahku


"Oh ya nanti kalau ada beberapa orang yang kepo jangan dihiraukan ya... di keluarga besarku ada beberapa yang tukang gosip dan omongannya gak bisa diatur"


"Oh ya??.. kok bisa?"


"Ya itu udah dari sananya mungkin"


"Iya Hasasi, tenang aja" gumamku


"Baguslah... aku takut kamu nanti aakit hati dengar perkataan mereka"


"Iya aku usahakan biasa aja" gumamku meyakinkan Hasasi


Saat aku dan Hasasi sampai di dalam aula, tiba - tiba ada beberapa orang yang berjalan menghampiri kami


"Tuh mereka datang!!!!" gumam Hasasi kesal


"Siapa?" tanyaku bingung


"Yang aku katakan tadi... tukang gosip datang" gumam Hasasi dan aku mencoba bersikap biasa saja

__ADS_1


"Ehheemm... tumben nih si ganteng bawa wanita!!" ejek salah satu wanita muda berbaju merah di depan kami


"Ya mungkin takut di ejek belum nikah - nikah mungkin... Hahaha" tawa wanita berbaju biru sebelahnya


"Cerewet" gumam Hasasi dingin


"Hei jangan kayak gitu Hasasi, itupun dia wanita yang menyukaimu loh sampai sekarang" ucap wanita separuh baya di sebelahku


"Ihhh gak sudi sama wanita seperti dia" gumam Hasasi kesal


"Hahaha... jangan gitu Hasasi, aku sakit hati loh Hasasi" gumam wanita itu


"Bodo amat" protes Hasasi


"Kamu selalu seperti itu kepadaku Hasasi!!!"


"Aku bilang bodo amat" guamm Hasasi kesal


"Udah ah kalian seperti anak kecil" gumam wanita separuh baya yang baru mendatangi kami


"Oh ya... siapa namamu nak" gumam wanita itu merangkul bahuku


"Emm... saya Fifiyan "


"Oh Fifiyan... Aku Nina Stun, panggil aku tante Nina saja"


"Huusstt... kamu selalu seperti itu, maafkan anakku ya nak... mulutnya dia agak susah di kontrol"


"Baik tante, tidak apa - apa" gumamku tersenyum


"Kamu siapanya Hasasi?" tanya Nyonya Nina Stun menatapku


"Sa... saya..."


"Dia calon istriku" ucap Hasasi memotong perkataanku


"Calon istrimu?... hmmm ternyata kamu pinter juga ya nyari calon istri seperti ini, udah cantik, pendiem, sopan lagi" gumam Nyonya Nina mengelus rambutku dan aku hanya diam tanpa kata karena aku bingung mau melakukan apa. Tiba - tiba Tuan Stun dan Nyonya Stun menghampiri kami dari belakang


"Waahh... ada acara apa nih tumben pada ngumpul" ucap Nyonya Stun


"Ini... lagi ngeliat calon istri Hasasi... tumben Hasasi pintar nyari calon istri yang benar seperti ini bahkan bisa meluluhkan Hasasi yang dingin kayak gini" gumam Nyonya Nina


"Ya pastilah... siapa dulu orang tuanya" gumam Tuan Stun bangga


"Ya... Fifiyan ini wanita yang cocok dengan Hasasi, udah pintar masak, pintar berkebun, pintar mengatur uang, bahkan pintar jadi sekretaris pribadi Hasasi" ucap nyonya Stun bangga


"Tapi kan tidak secantik aku" gumam wanita berbaju merah dengan ketus

__ADS_1


"Masih cantikan Fifiyan lah" prites Hasasi kesal


"Udah ah kalian berdua berantem mulu" desah Nyonya Nina menggeleng - gelengkan kepala


"Hasasi nih yang mulai" protes wanita itu


"Kenapa aku... aku diem aja dari tadi" protes Hasasi


"Udahlah Hasasi... kamu juga gak mau ngalah sama cewek" gumamku


"Tuh dimarahin wanitamu tuh" ejek wanita itu


"Sayaaaang..." protes Hasasi manja dan yang lain malah tertawa terbahak - bahak


"Oh ya... namaku Claudya Stun dan dia Sintya Stun... salam kenal" gumam wanita berbaju merah tersebut dengan ramah


"Namaku Fifiyan Shinju... salam kenal juga" ucapku ramah


"Mmm Shinju, sepertinya pernah dengar" gumam Sintya memejamkan matanya


"Iya... aku juga pernah dengar, mmm bukannya keluarga yang dibunuh oleh Tuan Stun itu ya" gumam Claudya yang menatapku dan aku hanya diam tanpa kata


Aku mencoba bersabar dengan perkataan mereka tentang keluargaku, aku menganggap kematian keluargaku adalah takdir dari Tuhan tapi kenapa malah keluarga besar Hasasi membahas hal itu


"Yeah betul... aku baru ingat, tidak disangka anaknya Tuan Shinju malah menjadi calon istri dari anaknya Tuan Stun yang tidak lain orang yang membunuh keluarga besarnya" ucap wanita separuh baya sebelah Nyonya Nina sedangkan aku hanya diam dan tertunduk


"Husstt kalian jaga omongan kalian" ucap Nyonya Nina terkejut


"Ya kan itu benar kan, kalau aku jadi dia aku pasti sudah balas dendam" ucap Claudya dengan keras dan Nyonya Nina langsung memukul Claudya


"Huussst diam kamu Claudya" protes Nyonya Nina memarahi Claudya


"Itu realitanya, bisa - bisanya tetap mau menikahi pembunuh keluarganya... kalau aku pribadi sih malu setengah mati dengan keluargaku kalau menikah dengan anak pembunuh keluarga sendiri" gumam Sintya sombong dan hal tersebut membuatku sakit hati dengan kata - kata mereka


Aku menggenggam tanganku dengan erat dan melepas nafasku yang sangat berat ini. Aku mengatur nafasku dan menundukkan kepalaku dan menahan air mataku yang akan jatuh membasahi pipiku


"Jangan dengarkan mereka Fifiyan" gumam Hasasi menatapku


"Ya harus dengarkan lah... aku wanita dan dia juga wanita, aku juga tahu apa yang dia rasakan saat ini, sudah kehilangan keluarga malah sekarang harus menyerahkan seumur hidupnya untuk pembunuh keluarganya... kalau aku sih ogah mending nikah sama orang lain" ucap Claudya dan ucapannya menyakitkan hatiku, lama kelamaan telingaku dan hatiku tidak kuat mendengarkan perkataan mereka


"Permisi..." gumamku pelan berlari keluar dari aula pernikahan tersebut


"Fifiyan... mau kemana?" ucap Hasasi kaget dan mengejarku dari belakang


"Kalian itu ya bisa gak untuk tidak mengganggu hidup orang" protes Nyonya Stun memarahi Claudya, Sintya dan wanita paruh baya yang ada di depannya


Aku berlari menjauhi keluarga besar Stun, aku tidak ingin membahas tentang keluargaku saat ini tapi kenapa keluarga besar Stun tahu tentang pembantaian itu dan perkataan mereka seolah - oleh menyalahkanku menikah dengan Hasasi. Hatiku sangat sakit mendengar perkataan mereka, apalagi mereka membicarakan pembantaian keluargaku beberapa tahun yang lalu

__ADS_1


__ADS_2