
Kepalaku dan dadaku terasa sangat sakit, oksigen terasa sangat susah untuk masuk ke dalam paru – paruku. Apakah aku sudah mati? Tapi kenapa aku merasakan seluruh badanku sangat lemas, dan dimana surganya aku tidak melihatnya, yang aku lihat hanyalah warna hitam pekat.
Lama kelamaan akupun tersadar dan membuka mataku secara perlahan – lahan, dan aku melihat Hasasi sedang tidur di samping tempat tidurku sambil memegang tanganku
“Hasasi” ucapku lirih sambil mengusap kepalanya dengan lembut
Hasasi menegakkan kepala dan menatapku senang lalu dia memelukku dengan erat
“Ada apa Hasasi” tanyaku
“Tidak ... aku melihatmu sudah sadar saja udah seneng” ucap Hasasi
“Emang berapa hari aku gak sadar?”
“Udah 5 hari “
“Sebegitu lama kah?”
“Iya, sampai – sampai aku khawatir denganmu”
“Terus siapa yang menemaniku disini?”
“Aku lah siapa lagi”
“Aku kira Lisa”
“Aku melarang Lisa menunggumu”
“Kenapa?”
“Kalau ada apa – apa denganmu bagaimana?” protes Hasasi
“Terus rapat – rapatmu gimana?” tanyaku
“Ya aku tunda sampai kamu sadar”
“Maafin aku ya Hasasi udah membuatmu khawatir...” ucapku lirih
“Tidak kok, aku yang minta maaf karena tidak menjagamu dengan baik”
“Udah jangan salahkan diri sendiri” ucapku
“Kamu mau makan?”
“Ntar aja”
“Pokok sekarang makan”
“Iya deh dikit tapi ya”
“Oke” ucap Hasasi dan mulai menyuapiku dengan bubur
“Dimana kamu beli bubur ini?”
“Beli? ... aku bikin sendiri tau” ketus Hasasi
“Masa sih?”
“Tuh liat” ucap Hasasi sambil menunjuk ke arah dapur yang ada di dalam ruangan ini
Di dapur mini tersebut aku melihat panci besar yang berada di atas kompor dan juga bungkus bubur instan yang berserakan dimana – mana
“I ... ini kamu yang masak sendiri? ... berantakan banget” ejekku
“Ih... malah diejek” ucap Hasasi sambil mencubit hidungku
“Tapi gak apa – apa sih, udah bagus cwo sedingin kamu bisa masak” ejekku lagi
“Iya dong, suami siapa”
“Hmm ... ke PD an”
“Udah ah makan dulu” ucap Hasasi dan terus menyuapiku sampai habis
“Makasih ya Hasasi”
“Makasih buat apa?”
“Iya buat semuanya”
“Apa sih yang enggak buatmu” ucap Hasasi lalu mencium keningku
“Oh ya Hasasi, kapan aku boleh keluar dari sini?”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Iya pengen pulang aja”
“Iya paling 3 hari kamu boleh pulang”
“Benarkah?”
“Iya ... udah kamu istirahat dulu ya” ucap Hasasi
“Kamu mau kemana?”
“Mau tidur juga”
“Ya udah kita tidur kalau gitu” ucapku
Kamipun sama – sama tidur namun Hasasi tidur seperti posisi saat aku sadar tadi. Dia duduk di kursi dan tidur di ranjangku sedangkan aku tidur diranjang empukku
Beberapa jam kemudian aku terbangun dari tidurku dan aku melihat Hasasi sedang merapikan barang – barang yang ada di ruangan.
“Kamu mau kemana?”
“Kita akan pulang”
“Kenapa?... kata kamu 3 hari lagi” ucapku
“Kata dokter pokok kamu udah siuman dan makan dengan baik udah boleh pulang” jelas Hasasi
Tidak beberapa lama suster datang dan melepaskan infus dari tanganku, setelah Hasasi mengurus semuanya kami pun pulang ke rumah Hasasi menggunakan mobil pribadi Hasasi. Setelah beberapa menit berkendara kami sampai di rumah dan ternyata Lisa sudah menunggu kedatangan kami di depan pintu rumah
“Kak Fifiyan...” teriak Lisa dengan senang
“Hei Lisa ... gimana kabarnya?” tanyaku
“Baik .. kakak udah sehat?”
“Udah kok tenang saja”
“Lisa khawatir tau kak” ucap Lisa sedih
“Tenang, aku tidak apa – apa”
“Ya udah ayo masuk, kakak istirahat aja dulu” ucap Lisa dan aku diantarkan oleh Lisa menuju kamar
Saat berada di kamar Lisa mendekatiku dengan menggunakan kursi rodanya
“Iya Lisa”
“Pokok jangan, soalnya kakakku saat tau kakak hampir mati di tangan Sari Lie dia murka. Dia langsung menemui ayah Sari Lie dan membuat perhitungan dengannya. Tapi ya kayak anaknya, dia sangat keras kepala jadi gak tau apa yang kakakku lakukan kalau kedapatan Sari Lie melakukan hal itu lagi” jelas Lisa
“Emang kamu tau dari mana?” tanyaku
“Tau lah kak”
“Pokok jangan sampai hampir di bunuh lagi, soalnya kalau kakakku udah marah di ujung tanduk dia tidak segan – segan membunuh Sari Lie secara langsung” jelas Lisa kemudian
“Emang gimana cara Hasasi membunuh Sari?” tanyaku penasaran
“Jangan salah kak, namanya CEO kemanapun akan membawa pistol. Apalagi kakakkuu CEO nomor 1 di dunia, pistolnya gak main – main dan banyak mata – mata yang berada di belakang kakakku... ya apalagi kakak termasuk ketua pembunuh darah dingin sebelum jadi CEO yang sekarang, dan sampai sekarang kakakku menjadi ketuanya” jelas Lisa lagi
“Ketua pembunuh darah dingin?” tanyaku
“Iya, pasti kakak pernah dengar ya”
“Iya, sepertinya ... dan seingatku seseorang yang berada di anggota itu kemampuannya jauh lebih baik dari anggota pembunuh yang lain ... dan pembunuh darah dingin sangat ditakuti oleh semua orang yang ada di dunia”
“Yups bener sekali, dan markasnya emang berada di rumah ini”
“Oh ya? ... aku seama tinggal disini tidak pernah tau hal itu” ucapku kaget
“Iya namanya juga markas pembunuh mana ada yang tau hal tu, aku sendiri juga tidak tau”
"Tapi ... aku tidak pernah tau Hasasi melakukan perkumpulan"
"Ya kan gak seresmi rapat yang lain kak, cuma kumpul biasa gitu namun mereka menggunakan kode yang menurut kita orang biasa adalah hal yang biasa tapi menurut mereka mencerminkan suatu kabar yang sangat penting" jelas Lisa
“Oh ya makasih infonya Lisa” ucapku sambil tersenyum
“Udah kakak tidur aja dulu” ucap Lisa lalu meninggalkan kamarku
Aku baru tahu kalau Hasasi adalah ketua pembunuh darah dingin. Perkumpulan pembunuh yang sangat kejam, dingin, dan tidak pilih – pilih siapa saja akan dibunuhnya.
Pada sore menjelang malam hari Hasasi datang ke kamarku dengan membawa makan malam untukku
“Fifiyan, makan dulu ya” ucap Hasasi lembut
“Oke” ucapku dan Hasasi dauduk di sebelahku dan menyuapiku sampai makanan tersebut habis
__ADS_1
“Oh ya Hasasi, bolehkah aku bertanya?”
“Boleh ... kamu mau tanya apa?”
“Apa kamu tau Pembunuh berdarah dingin?”
“Kenapa kamu tanya itu?”
“Iya aku pengen tau aja”
“Hmmm ...” gumam Hasasi lalu dia berjalan menuju jendelaku
“Iya ... aku tau perkumpulan itu” ucapnya sambil memendangi samudra lepas
“Siapa ketuanya?” tanyaku lagi
“Aku ketuanya”
“Are you serious?” tanyaku kaget, ternyata Lisa benar
“Seriuslah, kenapa kamu tanya – tanya masalah itu”
“Ti... tidak ... apa – apa”
“Apa ada yang bertanya?”
“Tidak, aku tanya atas kemauanku sendiri”
“Ya ... perkumpulan berdarah dingin itu adalah organisasiku dan aku ketuanya”
“Kenapa kamu membuat perkumpulan itu?”
“Ya ... ceritanya sangat panjang”
“Ceritakanlah”
“Gimana ya ... Hmmm ... baiklah ... aku membuat perkupulan ini dulu karena Sari Lie dan Kwan Liang juga, aku membuat perkumpulan ini untuk membalas dendam kepada mereka. Dulu sebelum perusahaanku nomor 1 didunia, aku sering diejek oleh Kwan Liang dan sering berusaha merebut Sari Lie bahkan apapun yang aku punya ...”
“Kenapa dia merebutnya?”
“Karena dulu perusahaan keluarga Liang yang terkenal dan merasa mereka paling berkuasa sehingga sering menindas orang yang lemah, tapi karena perlakuan mereka ... kakek Kwan Liang dipenjara dan saham perusahaan mereka anjlok sehingga posisi perusahaan berada di rangking ke 20, namun ayahnya berusaha membangkitkan lagi perusahaan dan bertahan di rangking ke 3 sampai sekarang ...”
“Terus?”
“Ya itu karena dulu Kwan Liang merasa terkaya dan merasa dia bosnya membuatku marah dan aku berusaha keras untuk menjadi kuat, aku dan teman – teman yang tidak suka dengan Kwan Liang membuat perkumpulan pembunuh berdarah dingin, jadi kami akan membunuh tanpa ragu orang – orang yang sombong ataupun yang membuat kami
marah ... saat aku di Australia kemarin sebenernya ingin membunuh Kwan Liang namun gagal karena sesuatu hal dan malah bertemu denganmu ...”
“Terus kenapa kalau bertemu denganku?”
“Ya ... gak tau kenapa hatiku sangat benci terhadap wanita dan tidak peduli akan cinta lama – lama hatiku luluh dengan kehadiranmu” ucap Hasasi dan dia melangkah mendekatiku
“Oh ya ... padahal aku dulu gendut jelek”
“Iya ... tapikan sekarang enggak”
“Kenapa kamu membantuku menguruskan berat badan?”
“Ya karena dulu aku berpikirnya itu menjadi salah satu cara untuk membayarmu karena telah membuat adikku senang tapi malah aku sekarang cinta sama kamu” jelas Hasasi
“Terus apa kamu akan tetap menjalankan misimu sebagai ketua pembunuh berdarah dingin?” tanyaku
“Ya ... tapi aku tidak melakukannya secara terang – terangan didepanmu”
“Kenapa, kan aku ingin mengetahui secara langsung?” protesku
“Karena kamu harta yang paling berharga dan aku tidak mau sampai kamu tau seseorang mati dengan mengenaskan” jelas Hasasi
“Jadi Dennis Sin itu?”
“Iya Dennis itu adalah wakil ketua perkumpulan ini”
“Oh begitu ...”
“Apa kamu sekarang takut tinggal bersamaku?” tanya Hasasi cemas
“Tidak ...kenapa takut, kan ada kamu?” ucapku
“Okelah, kamu cepat istirahat udah malam ... besok aku ajak kamu jalan – jalan”
“Kemana?”
“Nanti kamu bakal tau sendiri” ucap Hasasi dan meninggalkan aku sendiri di kamar
Sejujurnya aku ada perasaan takut dan senang, takut kalau Hasasi marah dan tiba – tiba membunuhku dan senang karena Hasasi selalu melindungiku. Tapi aku masih bingung apakah Hasasi benar – benar mencintaiku atau tidak, karena perkumpulan pembunuh berdarah dingin itu tidak percaya apa itu cinta dan yang mereka mengerti hanyalah membunuh atau dibunuh
__ADS_1